Sementara di bandara Seokarno Hatta, pesawat tujuan Prancis-Indonesia baru saja mendarat dengan selamat. Seorang gadis cantik berjalan keluar dari bandara, ia menggeret koper besar miliknya. Dia adalah Alea, gadis itu baru saja tiba setelah 18 jam perjalanan jalur udara. Ia berhenti berjalan dan memperhatikan sekitar mencari untuk seseorang, setelah merasa menemukan orang yang ia cari langsung saja ia berjalan menuju orang itu.
"Selamat pagi nona, silahkan masuk".
Gadis itu hanya mengangguk ia memasuki mobil dan membiarkan supir suruhan omanya itu mengurus kopernya. Sungguh ia sangat lelah, entahlah padahal ia hanya duduk tetapi rasanya seperti habis bekerja keras.
"Nona mau makan dulu atau langsung ke mansion".
"Langsung saja pak".
"Baik nona".
Setelah perjalanan menuju ke mansion yang memakan waktu setengah jam, akhirnya Alea sampai di mansion keluarganya. Setelah keluar dari mobil ia terdiam menatrap mansion besar itu, ahh rasanya sudah sangat lama. Dulu ia sering kesini bersama mama dan papanya untuk mengunjungi sang oma.
Terakhir kali ia kesini setelah kejadian itu, omanya membawanya kesini, kemudian besoknya membawanya ke Prancis. Ia tersentak ketika ada seorang pelayan berdiri di sampingnya sambil memegang kopernya.
"Mari masuk non".
Alea mengangguk dan kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Suasananya masih sama seperti dulu hanya saja beberapa perabotan sudah diganti membuat mansion ini terkesan indah tetapi tidak meninggalkan kesan elegannya.
"Non mari saya antar ke kamar".
Lagi -lagi ia hanya mengangguk dan mengekori pelayan itu. Setibanya di lantai dua ia berjalan menyusuri lorong dan melewati beberapa pintu. Setelah beberapa saat berjalan ia berhenti di depan pintu bercat putih yang ia yakini adalah kamarnya.
"Ini kamar non Alea, kalau non butuh sesuatu non bisa memanggil saya menggunakan telepon rumah yang ada di dalam, telepon itu sudah terisi otomatis dengan nomor saya. Dan maaf sebelumnya kalau saya belum memperkenalka diri, nama saya Sumira non bisa memanggil saya Bi Sumi".
"Iya Bi Sumi,terimakasih".
"Iya non kalau begitu saya permisi".
Alea berjalan memasuki kamarnya, kesan pertama yang di lihatnya adalah indah, omanya benar-benar tau seleranya. Ia menidurkan dirinya dikasur empuk itu kemudian memejamkan matanya.
Drrttt
Ia kembali membuka matanya merasakan ponsel disakunya bergetar, ia mengeluarkan ponsel itu dan melihat sang penelpon. Ternyata sang oma yang menelpon langsung saja ia mengangkatnya.
"Halo oma".
"Halo sayang, kamu udah nyampe?"
"Iya oma ini lagi istrahat".
"Ohh syukur deh, oh iya oma mau kasi tau kalau besok kamu udah mulai sekolah. Oma udah nyuruh bibi buat ngurus baju sekolah sama perlengkapan kamu nanti dianterin ke kamar kamu".Jelas sang oma panjang lebar.
"Iya oma".
"Satu lagi, oma bakal pulang minggu depan".
"Oma mau ngapain?"
"Rahasia, ini bakalan jadi surprise buat kamu. Tunggu aja nanti".
"Yaudah terserah oma, Lea matiin ya Lea mau istrahat".
"Iya sayang".
Setelah telepon terputus Lea kembali memejamkan matanya, tetapi bukannya tertidur ia malah memikirkan papa dan mamanya, bagaimana keadaan mereka berdua? Ini sudah sebelas tahun lamanya apa mereka tidak merindukan dirinya? apa mereka tidak mencarinya?.
Huufftt
Ia menghelah nafasnya kalau omanya tau ia memikirkan hal itu omanya pasti akan marah besar. Pasalnya sang oma sangat tidak suka jika ia mengingat atau membicarakan orangtuanya.
"Bosen banget, gak bisa tidur juga apa gue keluar jalan-jalan aja kali ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia bergegas bangkit dari ranjang menuju toilet, ia ingin mandi terlebih dahulu karena badannya sangat lengket. Setelah menghabiskan beberapa saat untuk mandi, ia segera membuka kopernya untuk mengambil baju. Ia memilih sebuah celana levis hitam dengan kaos crop putih yang dipasangkan dengan jaket kulit hitam miliknya.
Alea menuruni tangga sambil memperhatikan sekitar terlihat bi Sumi sedang membersihkan ruang tamu.
"Bi"
"Iya non, non Lea butuh sesuatu?"
"Enggak kok bi, Lea cuman mau minta izin, Lea mau keluar sebentar".
"Gak makan dulu non? Bibi ambilin ya" tawar bi Sumi pasalnya sejak Alea datang ke mansion ini ia memang belum makan sama sekali.
"Gak usah Bi nanti Lea makan di luar aja".
"Tapi non-"
"Gapapa bi, Lea keluar ya bi. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, hati-hati non".
"Iya bi"
Setelah keluar dari mansion besar itu Alea bergegas ke garasi untuk mengambil motornya. Ia sangat menyayangi motornya ini, motor ini adalah hasil rengekannya kepada Omanya. Setelah menaiki motornya ia melajukannya dengan kecepatan sedang.
Susana siang ini sangat bagus, matahari tidak terlalu terik seolah mendukung gadis yang sedang dilanda kebosanan itu untuk jalan-jalan.
Sebenarnya suasana yang Alea rasakan sekarang cukup asing baginya yang tinggal lama di negara orang. Tetapi menurutnya ini cukup menyenangkan menaiki motor sambil melihat pedagang kaki lima di pinggir jalan, para pejalan kaki, meski hal ini cukup lumrah di temui tetapi baginya ini menyenangkan.
Bagaimana ia yang setiap harinya bertemu dengan orang-orang berwajah kebarat-baratan, Sekarang ia bertemu dengan orang berwajah lokal sama dengannya.
Sungguh Alea menikmati semua ini, sampai saat ia melihat seseorang yang sepertinya sedang dikejar oleh beberapa orang dibelakangnya. Mereka memasuki sebuah gang sempit.
Karena penasaran Alea mendekati gang itu dan melihat perkelahian sedang terjadi di sana. Terlihat orang yang di kejar tadi sedang kewalahan melawan 3 orang bertubuh cukup besar.
"Bisa mati tuh orang di keroyok tiga orang sekaligus, mana badannya gede-gede lagi" monolog Alea sambil menonton perkelahian itu.
"Gue tolong apa jangan ya? Tapi inikan bukan urusan gue, gue juga gak bisa berantem. Tapi kalo gak di tolongin yang ada mati tuh orang"
Setelah berperang batin cukup lama akhirnya Alea memutuskan untuk menolong orang itu. Tetapi karena dia tidak bisa bela diri jadilah dia memutuskan untuk menggunakan motornya sebagai senjata.
Alea mengambil ancang-ancang untuk melajukan motornya dengan cepat kearah perkelahian itu, dia tidak akan menabrak mereka hanya ingin memancing saja.
Alea menarik mundurkan gas motornya membuat suara yang cukup berisik membuat mereka yang sedang berkelahi memberhentikan kegiatan mereka dan menatap kearahnya.
Setelah melihat jika pancingannya berhasil langsung saja Alea melajukan motornya kearah mereka dan menggerakkan motornya melingkari mereka. Setelah itu ia menghentikan motornya dan memberikan kode kepada orang yang di keroyok tadi untuk naik ke jok belakang motornya.
Seakan mengerti kode yang di berikan orang yang tidak dikenalnya, pria itu langsung saja naik ke jok belakang motor orang yang tidak dikenalnya itu.
Setelah merasa misinya telah berhasil, Alea bergegas meninggalkan tempat itu bersama orang yang diselamatkannya. Sedangkan orang-orang yang mengeroyok tadi terlihat mengejar mereka dari belakang. Tetapi tetap saja mereka kalah cepat.
Setelah merasa mereka sudah cukup jauh dari tempat tadi Alea menghentikan laju motornya. Membuat orang yang ada di belakangnya langsung turun dari motor tersebut.
"Thanks udah nolong gue tadi". Kata cowok itu yang sedang menatap Alea.
Sedangkan Alea hanya mengangguk untuk membalas ucapan cowok itu. Setelah itu ia ingin melanjutkan perjalanannya tetapi cowok tadi menghentikannya.
"Ehh tunggu dulu, gue mau balas kebaikan Lo karena udah nolong gue. Oh iya kenalin nama gue Devara." Ucap Devara sambil menyodorkan tangannya di depan orang yang menyelamatkannya tadi.
Sedangkan Alea, ia hanya menatap tangan cowok bernama Devara itu kemudian berganti menatap wajah pria itu. Lalu tangannya terangkat untuk melepas helm yang sedari tadi dipakainya.
"Gak usah gue buru-buru". Ucapnya nada dengan datar.
Sementara Devara ia tercengang melihat pemandangan didepannya, ternyata yang menolongnya adalah seorang gadis.
Melihat tidak ada respon dari lawan bicaranya Alea kembali hendak memasang helmnya, membuat Devara tersadar dan segera menahan cewek itu.
"Eh tunggu tunggu, Please gue gak suka punya utang budi sama orang. Lo mauya gue traktir makan aja deh".
Awalnya Alea ingin menolak tawaran cowok di depannya, tetapi karena ia memang belum makan apa-apa sedari pagi dan juga ia tidak tau dimana tempat makan yang enak jadilah dia menerima tawaran cowok itu.
"Oke"
"YES"
"Hah?"
"Ehh maksud gue Ayo". Kata cowok itu dengan kikuk.
"Tapi gue yang boncengin Lo ya! Kan aneh kalo Lo yang ngeboncengin gue"
"Hmm" ucap Alea lalu memberikan kunci motornya Kepada cowok itu.
Setelah merasa Alea sudah duduk di jok belakang motor, Devara segera melajukan motor tersebut ke warung makan Padang favoritnya.