Part 6

1247 Kata
Motor yang dikendarai Devara dan Alea berhenti di depan salah satu rumah Padang yang cukup terkenal. "Yuk masuk!" Ajak Devara kepada Alea yang sedang berdiri di dekatnya. Gadis itu hanya mengangguk dan berjalan masuk ke restoran, diikuti Devara di belakangnya. Sesampainya di dalam mereka berjalan menuju salah satu meja makan. Banyak pasang mata yang menatap mereka kagum, dan mungkin banyak juga yang menganggap mereka sepasang kekasih. "Lo mau makan apa?" Tanya Devara menatap gadis itu. Sementara Alea yang ditanya langsung menatap menu yang ada. "Sate Padang" Devara mengangguk kemudian mengangkat tangannya. "Mas!" Seorang pria yang sepertinya adalah pelayanan menghampiri mereka dengan membawa notebook kecil dan pulpen untuk mencatat pesanan mereka. "Iya mas, mau pesan apa?" "Sate Padangnya dua porsiya mas sama minumnya-" "Lo mau minum apa?" Tanya Devara pada Alea. "Es teh aja". "Minumnya es teh aja mas" "Baik, ditunggu sebentar ya Mas mba" "Iya" Setelah kepergian pelayanan tadi suasana kembali hening, Devara sebenarnya ingin mengobrol dengan cewek dihadapannya ini. Jujur saja ia tertarik dari pertama kali melihatnya. Ia tidak pernah seperti ini kala melihat seorang gadis. Melihat keberanian cewek itu ketika menyelamatkannya membuatnya mempunyai pandangan berbeda untuk gadis ini. Ia sudah terbiasa di dekati banyak cewek, ia juga sudah pernah pacaran bahkan bisa di bilang mantannya sudah banyak. Maka dari itu aneh rasanya melihat seorang cewek tidak tertarik dengannya, bahkan gadis di depannya ini tak pernah meliriknya barang sedikitpun dia sangat dingin dan irit bicara. Setidaknya itu yang dapat Devara simpulkan dari pertemuan mereka yang baru beberapa jam ini. "Jadi nama Lo siapa?" Tanya Devara sebab cewek itu memang belum memberitahukan namanya. Alea mengalihkan pandangannya dari ponselnya kearah cowok di depannya. Ya sedari tadi memang ia hanya bermain ponsel. "Alea" "Alea, nama yang bagus" "Lo sekolah dimana?" Alea kembali menatap cowok di depannya itu, sungguh ia sangat tidak menyukai orang yang banyak tanya. "SMA Atlaska" Ya SMA Atlaska adalah sekolah yang akan ditempati Alea untuk menimbah ilmu. Dia ingat Omanya mengatakan bahwa nama sekolah barunya adalah SMA Atlaska. "Wahh yang bener? Satu sekolah Ama gue dong! Lo anak kelas berapa kok gue gak pernah ngeliat Lo?" Tanya Devara menggebu-gebu. "Pindahan, besok hari pertama". "Ohh murid pindahan toh" "Gimana kalo besok gue ajakin Lo tur sekolah? Spesial buat Alea gue yang bakal jadi pemandunya. Mau gak?" "Gak, makasih" "Yah padahal ini buat Lo doang Lo" kata cowok itu lesu. Alea tidak menjawab, jujur saja cowok di depannya ini sangat berisik dan banyak tanya. Ia tidak terbiasa dengan orang yang sangat hype dan banyak bicara seperti cowok di depannya ini. "Alea" Alea kembali menatap Devara yang memanggil dirinya. "Lo gak nyaman ya ngobrol ama gue?" Tanya Devara sebab raut cewek itu seperti menunjukkan jika dia tidak nyaman dengan obrolan mereka. "Hah? E-engak kok" "Maaf deh kalo gue banyak tanya" Ucapnya lesu. Alea yang melihat cowok itu menundukkan wajahnya menjadi merasa bersalah. Jujur saja bukannya ia tidak nyaman hanya saja ia tidak terbiasa. "Devara" Mendengar panggilan itu Devara langsung mengangkat wajahnya lalu menatap cewek yang baru saja memanggilnya. "Nama Lo Devara kan?" "Iya" "Sorry, bukannya gue nggak nyaman ngobrol ama Lo gue cuman gak terbiasa". "Gapapa Alea gue ngerti kok" ucap Devara sambil tersenyum menampakkan kedua lesung pipinya. "Lo bilang Lo pindahan kan? Berarti Lo belum punya temen dong? Gimana kalo gue jadi temen pertama Lo? Mau gak? Lihatlah Devara ini, baru saja tadi ia menunduk lesu merasa bersalah karena terlalu banyak tanya dan berisik tetapi sekarang dia bertanya seolah melupakan kejadian tadi. Alea belum sempat menjawab karena kehadiran mas pelayanan yang tadi mencatat pesanan mereka. "Mas mba ini pesanannya selamat menikmati" "Makasih" ucap Alea setelah mas pelayanan itu melekatkan pesanan mereka di meja. "Alea gimana Lo mau kan jadi temen gue?" Tanya Devara menuntut. "Makan!" Devara mengerucutkan bibirnya tetapi tak ayal menuruti perintah Alea. Mereka makan dengan tenang sampai suapan terakhir mengakhiri acara makan mereka. "Gimana makannya Al? Tanya Devara,ia memanggil dua huruf depan nama Alea agar lebih akrab dengan gadis itu. "Enak" "Hehe, jadi gimana Sama pertanyaan gue tadi?" Alea pikir cowok di depannya ini sudah melupakan pertanyaannya tadi, tetapi ternyata tidak. "Hmm" "Hmm apa?" "Iya" "YESS,Upss" Devara berteriak kegirangan mendengar persetujuan Alea, sampai ia menyadari ia mengundang tatapan orang di sekitarnya ia langsung menutup mulutnya. "Berarti sekarang kita temenan dong?"tanyanya menuntut. "Hmm" "Asikk gue temenan Ama Alea hehe, biarin aja dulu temenan nanti juga bisalah lebih dari temen hihihi. Ayah bunda juga dulu temenan tapi sekarang udah nikah aja, semoga gue bisa ngikutin jejak ayah bunda, Aamiin." Monolog Devara di dalam hati sambil terkekeh ia bahkan mengaminkan ucapannya sendiri. "Lo kenapa?" Tanya Alea pasalnya cowok di hadapannya ini terus saja terkekeh sedari tadi. "E-ehh E-engak gapapa Al" ucapnya kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mau Cabut sekarang Al?" "Hmm" Mereka berdua berjalan keluar restoran setelah membayar makanan mereka. "Ayo gue anter pulang" ajak Alea. "Gak usah Al gue udah nelfon supir suruh jemput, Lo duluan aja". "Beneran?" "Iya" "Yaudah gue duluan" "Hmm hati-hati ya" Alea hanya mengangguk menanggapi Devara. Melihat Alea yang sudah menaiki motornya Devara melambaikan tangannya sambil berteriak. "SAMPAI KETEMU DI SEKOLAH ALEA" Alea yang mendengar itu hanya membunyikan klakson motornya kemudian melajukan motornya pulang menuju mansionnya. Sementara di tempat lain di sebuah rumah yang cukup megah terlihat pasangan suami istri yang sedang bersantai di ruang keluarga. "Usaha kamu gimana pah?" "Lancar mah, beberapa produk pengeluaran terbaru juga udah di ekspor ke beberapa negara". "Syukur deh kalo gitu, semoga semuanya lancar ya" "Aamiin" ucap sang suami sambil mengelus kepala istrinya yang bersandar di pundaknya. "Mama papa kok makin romantis aja sih?" Terdengar suara seorang gadis dari arah belakang mereka. Sepasang suami istri itu menoleh ke belakang melihat kehadiran putri mereka yang sedang berjalan menuruni tangga. "Sini sayang" panggil sang mama. Gadis itu kemudian berjalan menuju orang tuanya dan mendudukkan dirinya di sofa sebelah orang tuanya. "Apanya yang makin romantis Li?" Tanya sang papa. "Mama sama papa lah masa Lili" "Mama sama papa emang kayak gini kok tiap hari" "Enggak ahh papa tuh makin hari makin ngebucinin mama" "Yee kamu aja tu yang jomblo jadinya ngerasa papa makin bucin padahal mah papa bisa aja kok Ama mama" "Iyakan ma?" "Aaa mama, papa tuh ngatain Lili jomblo!" Adu Lili kepada sang mama. Sedangkan Sia hanya menatap anak dan suaminya yang sedang adu mulut itu dengan senyuman mengambang. Ia kemudian berpindah ke samping putrinya dan memeluknya dari samping. "Papa jangan ngatain anak mama, dia nggak jomblo loh kan ada Bara" Perkataan Sia mampu membuat sang putri menunduk malu dengan wajah memerah. "Ihh mama apaan sih Bara itukan cuman sahabatnya Lili" "Bener cuman sahabat?" Goda sang mama. "Mamaaaa, mama sama aja sama papa" "Li, bener kamu pacaran sama Bara? "Enggak pah kita cuman sahabatan" "Gak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan sayang" ucap sang mama. "Ya gimana ma, Bara gak pernah nembak Lili apa jangan-jangan Bara gak suka sama Lili ya ma?" Tanya Lili pada sang mama. "Mama yakin kok Li, Bara juga suka sama kamu orang dia sayang banget sama kamu." "Pokoknya Li, kalau kamu pacaran sama Bara kamu harus bawa dia ke papa. Mau papa latih militer biar bisa jadi mantu yang baik." "Papa jangan gitu, Bara jangan di persulit pah! pokoknya kalau sampai papa apa-apain Bara. Lili bakal nyuruh mama buat nyuruh papa tidur di luar" ancaman Lili pada papanya dengan wajah menantang. "Kamu berani ngelakuin itu, Gak papa nikahin sama Bara baru tau rasa kamu!" "Mama, papa mahh" ucap Lili mengadu pada sang mama. "Pahh" peringat sang mama dengan nada mengancam Setelah itu mereka kembali tertawa, mereka benar-benar keluarga kecil yang bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN