Part 7

1217 Kata
Udara pagi ini terasa cukup dingin, meski matahari telah menampakkan dirinya tetapi suasananya membuat seorang gadis enggan meninggalkan ranjangnya. Alea, gadis itu masih betah memejamkan matanya sambil mengeratkan selimutnya. Entahlah ia lupa atau bagaimana padahal ini adalah hari pertamanya sekolah. Ia memang merupakan gadis yang cukup susah untuk bangun pagi, bahkan untuk membangunkannya pun memerlukan waktu dan usaha. Hingga beberapa saat terdengar suara dari depan pintu kamarnya. Tok tok tok "Non, non Alea?" Karena tidak ada sahutan dari dalam bi Sumi memutuskan untuk masuk ke dalam kamar nona mudanya itu. "Non bangun non, non Alea" panggil bi Sumi sambil menggoyangkan lengan Alea. Sementara gadis itu cukup terganggu dengan suara yang membangunkannya. Ia menggeliat sebentar kemudian membuka matanya. "Hmm, kenapa bi?" "Maaf non, tapi non Alea harus bangun. Inikan hari pertama non Sekolah". Alea mengangguk lalu bangun dari posisinya berbaringnya". Udah jam berapa bi?" "Jam setengah 7 non" jawab bi Sumi. "Yaudah bi, Lea mau siap-siap dulu". "Iya non bibi juga permisi" Alea hanya mengangguk. Setelah bi Sumi keluar Alea beranjak menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Setelah menghabiskan waktu 15 menit, Alea keluar dan berjalan menuju lemarinya untuk mengambil seragam yang telah di siapkan bi Sumi semalam. Ia bergegas mengenakan seragamnya, tidak lupa juga dia memakai celana levis hitamnya karena ia akan berangkat ke sekolah menggunakan motor. Dia memasukkan roknya ke dalam tas agar bisa diganti saat tiba di sekolah nanti, kemudian mendudukkan dirinya di depan meja rias. Alea sedikit memoles wajahnya dengan bedak kemudian menambahkan sedikit liptink ke bibirnya untuk menambah kesan segar ke wajahnya. Alea itu gadis yang cantik natural meski tanpa makeup sekalipun. Ramput panjang, kulit putih, hidung yang cukup mancung menambah kesan kecantikannya, ohh jangan lupakan bibir kecil merah alami miliknya. Setelah merasa semua sudah siap ia berjalan keluar kamarnya dan menuju lantai bawah untuk sarapan. "Sarapan dulu non" ucap bi Sumi setelah melihat Alea turun dari tangga. "Iya bi" Alea mendudukkan dirinya di kursi meja makan, kemudian mulai menyantap nasi goreng buatan bi Sumi. Setelah menghabiskan makanannya Alea berpamitan kepada bi Sumi untuk berangkat sekolah. "Bi Alea berangkat dulu ya" "Iya non hati-hati" "Iya bi, Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" Setelah berpamitan Alea bergegas mengeluarkan motornya dari garasi kemudian melajukan motornya itu menuju sekolah barunya. Sementara di SMA Atlaska lebih tepatnya di parkiran lima orang cowok sedang duduk di atas motor mereka masing-masing. "Kita nunggu siapa sih?" Tanya seorang cowok bermata sipit pada cowok di sampingnya. "Kagak tau gue, noh tanya Devara" jawab cowok yang duduk di samping cowok bermata sipit tadi sambil mengangkat kedua bahunya acuh. "Kita nunggu siapa si Dev?" Tanya kembali cowok bermata sipit itu. "Nunggu calon pacar gue!" "Hah? Siapa Dev? Raya?" Tanya cowok di samping Devara. "Ya bukan lah Kai, kan lo tau sendiri kalo kemaren Devara udah nolak Raya". Ucap cowok bermata sipit yang bernama Jino. "Oh iya ya, Terus siapa Dev?" Tanya Kai lagi sungguh ia sangat pasaran. "Kepo Lo pada, tungguin aja sih gak sabaran banget Lo". "Yeee, ehh tapi tunggu deh kalian ngerasa ada yang aneh gak sih?" "Apanya yang aneh Kai?" Tanya Jino sebab ia tak merasa ada yang aneh sedari tadi. "Kayak ada yang ilang gitu" ucap Kai. "Hah? Apaan yang ilang?" Tanya Devara, karena ia juga tak tau apa yang hilang. "Apa yang ilang Kai? Biar di cari dulu" ucap Rio Cowok yang duduk di samping Jino. Sementara Kai yang ditanya hanya menunjukkan wajah yang tampak sedang berfikir. Beberapa saat kemudian di berteriak dan berhasil mengagetkan teman-temannya. "AIII! Teriak Kai menggelar". Kemana tuh Anak?" Lanjutnya sambil menatap teman-temannya. "Ohh iya anjirr si Ai kemana? Pantesan dari tadi gak ada yang ngoceh kayak ibu-ibu yang gak dikasih uang bulanan". Ucap Jino sebab Ai itu memang cenderung cerewet dan tidak bisa diam. "Tapi kan tadi dia berangkat bareng kita". Ucap Devara sebab memang tadi Ai berangkat bersama mereka. "Kalian nyari Ai?" Tanya Rio, sementara teman-temannya yang lain mengangguk. "Nohh" tunjuk Rio menggunakan dagunya ke arah samping motornya. Serempak ketiga temannya menoleh kearah yang ditunjuk Rio. Terlihat Ai sedang tertidur di atas motor dengan mulut terbuka. "Pantesan gak ada yang berisik ternyata biangnya lagi bobo jelek". Ucap Devara sambil menatap Ai yang tertidur dengan mulut terbuka jangan lupakan air yang mengalir dari mulutnya. "Kok bobo jelek Dev? Bukannya bobo cantikya?" Tanya Jino karena yang sering dia dengar itu bobo cantik bukan bobo jelek. "Bobo jelek Jin, liat aja nohh ilernya udak kayak rucika mengalir sampai jauh". "Iiyyuuhhhh" ucap Kai bergidik menatap liur Ai yang sudah merembes ke motornya. "Kerjain yuk" ajak Jino, sementara teman-temannya yang lain mengangguk sambil tersenyum devil. Jino turun dari motornya dan berjalan mendekati Ai. Setibanya di depan motor Ai, ia berteriak di samping telinga cowok yang sedang tidur itu. "AIII, ADA JOTAA NYARIIN LO!" Terika Jino di samping kuping Ai. Sementara Ai yang mendengar teriakkan Jino langsung bangun dari tidurnya sambil berteriak juga. "HAH JOTA? MANA JOTA?" tanya Ai dengan mata tertutup, sepertinya kesadarannya belum terkumpul 100%. "HAHAHA JOTA NOHH DI BRAZIL". Ucap Jino sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti teman-temannya yang lain. "Ai, sadar woi Lo ndapain tidur di atas motor gitu". "Lo pada apaan sih ganggu gue tidur aja! Padahal baru aja gue mau tanda tangan kontrak Ama managernya Liverpool". Ucap Ai sambil memberenggut karena teman-temannya itu mengganggu mimpi indahnya. "Ngimpi Lo, sana cuci muka gak enak banget muka Lo diliatnya". Suruh Rio. "Iya iya, tungguin gue tapi" "Iya Sayang Abang tungguin kok tenang aja". Ujar Kai kepada Ai sambil mengedipkan matanya genit. "Janjiya bang tungguin dedek" "Iya dek, Abang tungguin kok. Sana cepetan cuci muka kamu bau jigong soalnya." "Oke Abang" ucap Ai lalu kemudian berjalan menuju toilet dekat parkiran, itu toilet khusus satpam tetapi karena dia Ai maka dia boleh-boleh saja menggunakan toilet itu karena dia adalah kesayangan para satpam. Ai itu terkenal di kalangan para satpam maupun penjual di kantin karena mulutnya yang suka ngegosip, membuat dia dekat dengan mereka karena suka bergosip bersama atau membicarakan tentang sepak bola. Ai adalah penggemar nomor satu Liverpool pemain favoritnya adalah Diogo Jota. "Gesrek lu berdua" ucap Rio setelah kepergian Ai. "Hehehe si Ai lucu sih kalo di gombalin gitu, dia ngegombal balik mukanya kayak banci lampu merah". Ucap Kai sambil terkikik. "Jahat amat Lo Ama si Ai". Ucap Jino sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Devara masih terus menatap gerbang berharap seseorang yang ditunggunya cepat datang. "Haloo guys Ai sudah datang dan sudah cuci muka, udah ganteng lagi dong". Ucap Ai dengan senyum lebar di wajahnya. "Perasaan sama aja waktu Lo belom cuci muka". Kata Jino pada Ai. "Wahh berarti gue tetep ganteng walaupun belom cuci muka ya Jin?" Tanya Ai dengan harapan Jino akan berkata iya. "Sama-sama jelek hahaha". Tawa Jino sedangkan Ai sudah menatap datar dirinya. Tawa Jino terhenti karena kedatangan motor sport hitam yang sangat familiar bagi mereka. Sedangkan Devara sudah tersenyum melihat kedatangan motor itu, ia tau itu motor siapa. Motor sport hitam itu berhenti tepat di sebelah motor kelima cowok yang sedang duduk di atas motor mereka. Penghuni sekolah yang masih ada di sekitar perkiraan berhenti untuk mencari tau siapa pemilik motor asing itu. Setelah motornya terparkir sempurna pengendara motor itu membuka helmnya membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya menatap tak percaya dirinya. Sementara keempat cowok disampingnya menatapnya dengan pandangan yang sama dengan orang-orang yang lain. Lain halnya dengan Devara ia turun dari motornya dan berjalan menuju pemilik motor sport hitam tersebut dan berhenti tepat di depannya. "Hai Alea"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN