Titah Ayah
Jam alarm berdering tepat 4.00 subuh. Subuh ini mata sulit untuk dibuka karena semalam tidur sudah larut malam. Alarm kembali berbunyi si bujang segera bangun ia harus berangkat kerja pagi - pagi sekali karena ia ada meeting proyek besarnya.
Si Bujang bergegas ke kamar mandi dan langsung mandi. Selesai mandi ia langsung mengambil sajadah dan mengerjakan kewajibannya sebagai muslim. Si bujang merupakan laki-laki yang taat beribadah dan cerdas. Ia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana tapi sangat taat dalam menjalankan agamanya. Sehingga si bujang tumbuh menjadi pribadi yang hebat. Meskipun ia tinggal di kota metropolitan dan memiliki banyak uang ia tidak pernah ikut pergaulan bebas. Ia lebih suka pulang kerja langsung ke rumah. Pada waktu sholat ia lebih sering sholat di masjid dan ikut kegiatan sosial.
Banyak teman-teman rekan bisnis mengajak keluar malam untuk pergi karoakean atau ke diskotik. Si bujang selalu menolak dengan halus. Karena baginya hidup itu hanya sekali, ia takut jika mati dalam kondisi bermaksiat.
Selesai sholat ia langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Karena ia tidak mempunyai asisten rumah tangga. Ia selalu menyempatkan membuat sarapan karena tidak suka sarapan diluar. Meskipun tidak memiliki ART kondisi dapur begitu tertata rapi dan bersih. Kitchen set semua terlihat kinclong. Jangan salah meskipun sudah sukses Si bujang membersihkan rumahnya sendiri. Kebiasaannya sebelum tidur semuanya harus dalam kondisi bersih dan rapi.
Saat dia sedang menyantap sarapan hpnya berdering. Ayah.. si bujang langsung menjawab telpon ayah. Assalammualaikum ayah.. waalakumsalam bujang.. ayah dan ibu apo kabar? bujang rindu. Ayah sihat. Waang ba kabanyo? bujang alhamdulillah sehat dan baik. Jika rindu pulanglah nak. Ayah nio waang mencari bini urang kampung awak. Bia tacalik kampung satiok taun, tasilau urang tuo jo urang kampung. Iko lah 10 tahun bujang indak pulang kampung. Iyo yah. Bujang waang harus segera pulang. Ibu waang sakik. Apo yah? ibu sakik?