Bagas akhirnya menutup laptopnya, dia tidak lagi punya konsentrasi dan minat untuk mengerjakan tugas akhirnya. Tidak setelah Andrea yang setengah jam lalu selesai meneleponnya dengan isak tangis yang begitu menyesakkan hati Bagas. Bagas membuang nafas kasar, dia begitu frustrasi sekarang. Dia ingin sekali pulang ke Indonesia jika bisa, dan memukul Calvin tepat di wajahnya. Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan frustrasi, hatinya benar-benar tidak tenang. “Si Brengsekk itu memang tidak tahu arti bersyukur!” Bagas memukul meja kerjanya. Tiba-tiba ponselnya kembali menyala, Bagas lalu melihat ponselnya dan menemukan ternyata ada pesan singkat dari Bian yang menanyakan kabar dan juga keadaan Bagas. Tidak seperti biasanya, hati Bagas terasa berat untuk membalas pesan itu. Bagas

