Kepergian Ari

3956 Kata
Aku menangis bersamamu Aku tertawa bersamamu Aku berjuang bersamamu Semua dan selamanya Ingin selalu bersamamu Namun aku tak kau lihat Aku tak kau dengar Aku tak kau rasa Karena hatimu hanya untuknya Sedihmu, bahagiamu, hidupmu hanya untuknya Hatiku menangis Hatiku bersedih Jika kau selalu bersamanya Lalu apakah artiku bagimu? *** Hujan yang tak begitu lebat itu akhirnya reda saat Bella dan Rama sudah sampai di rumah Bella. Saat Bella dan Rama membuka jas hujan mereka, mama Bella keluar dari dalam rumah. "Bella, Rama, kok dipaksain pulang pas hujan-hujanan?" Tanya mama Bella. Ia khawatir dengan keadaan putrinya. "Biar nggak kemalaman Tante. Hehehe..." Rama menjelaskan sambil terkekeh. "Ya kalau hujan nggak papa terlambat sedikit." "Nggak papa kok Ma. Tadi hujannya juga nggak terlalu lebat," kata Bella sambil tersenyum. Melihat anaknya baik-baik saja, mama Bella akhirnya lega. Ia memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hal ini lagi. "Ya udah kalau gitu. Rama kamu mau masuk dulu?" Tanya mama Bella. "Nggak usah Tante, saya langsung pulang aja. Biar Bella bisa langsung istirahat." "Ooh... Ya udah. Tapi bentar ya, jangan pulang dulu. Biar Tante bungkusin makanan," ucap mama Bella sambil berlalu masuk ke dalam rumah. "Wah, baik banget deh nyokap Lo," kata Rama kepada Bella. "Hehehe... Mama memang gitu," kata Bella sambil tersenyum malu. "Oh iya, ini..." Rama membuka sling bag nya dan mengeluarkan sesuatu, "kado buat Lo. Sekali lagi, selamat ulang tahun ya!" Rama menyerahkan kado itu kepada Bella. "Lho, bukannya tadi udah?" Tanya Bella bingung. "Ha? Yang mana? Yang tadi mah bukan kado, ini yang kado," kata Rama. Rama berpikir yang dimaksud Bella kado tadi adalah perayaan ulang tahunnya serta lagu yang diciptakannya untuk Bella. "Oh gitu," Bella masih bingung, tapi ia tetap menerima kado dari Rama itu, "makasih banyak ya Ram. Pokoknya makasih banget buat hari ini! Aku seneeeeeeng banget!" Ucap Bella tulus. "Iya, sama-sama," kata Rama. Ia ikut senang melihat Bella terlihat bahagia hari itu. Memang ia gagal menyatakan perasaannya hari ini, namun baginya itu yang terbaik. Karena kalau Bella menolak pernyataan cinta Rama hari ini, mungkin kebahagiaan Bella malah akan berubah menjadi kecanggungan dengan Rama. Lagipula Bella baru putus dua bulan yang lalu. Mungkin saja hati Bella masih butuh waktu untuk sembuh dari lukanya. Rama pulang tak lama setelah itu, dengan membawa makanan dari mama Bella. Sedangkan snack yang masih tersisa tadi Rama berikan kepada Bella. Untuk cemilan seminggu ke depan, ucap Rama kepada Bella. Rama sampai di kost bersamaan dengan Toni dan Hana. Dengan semangat, Rama menyapa mereka berdua. "Baru nyampe juga kalian? Gimana pestanya?" Tanya Rama. Toni dan Hana hanya diam. Mereka malah sibuk membuka helm masing-masing. "Gue bawa makanan lho. Masih bisa makan nggak?" Tanya Rama lagi. Tapi lagi-lagi Toni dan Hana tidak memberikan respon. Malah Hana pergi begitu saja. "Lho, kenapa sih? Kalian kenapa?" Tanya Rama kepada Toni. Toni masih tidak menjawab. Ia bergegas masuk ke dalam kost. Rama pun mengikuti dari belakang. "Lo lagi berantem sama Hana?" Tanya Rama saat mereka sudah sampai di dalam kamar kost mereka. "Ini bukan tentang gue dan Hana. Ini tentang Lo!" Ucap Toni sambil menunjuk d**a kiri Rama. Rama mengernyitkan dahi, "maksud Lo apaan sih? Emang gue kenapa?" "Lo memang nggak bisa pegang omongan Lo ya? Katanya Lo nggak mau ketemu Bella lagi? Tapi, apa buktinya?" "Hah?" "Lo tau? Rumah sepupunya Hana itu dekat dengan lokasi foodcourt kedua kita. Dan tadi Hana sempat kesana, ngelihat Lo dengan Bella." Rama terdiam sesaat. Ia masih bingung dengan apa yang dikatakan Toni. "Terus, masalahnya dimana?" "Ram, Lo udah nolak ajakan Hana demi orang yang baru Lo kenal! Hana itu sahabat kita lho. Lo malah milih pergi sama orang lain, yang notabene pacarnya orang, daripada datang ke undangannya sahabat Lo sendiri." "Tunggu... Tunggu... Tunggu... Biar gue lurusin beberapa hal yang keliru ya. Pertama, Bella itu bukan orang lain, Bella itu juga sahabat gue. Gue udah lama kenal sama dia. Yang kedua, Bella udah putus sejak dua bulan yang lalu. Dia sekarang lagi nggak pacaran sama siapapun. Jadi nggak masalah dong kalau gue deket sama dia? Yang ketiga, tadi itu Bella ulang tahun. Memangnya salah kalau gue rayain? Lagian Hana ngajak ke pesta sepupunya Ton. Kalau pestanya Hana sendiri, pasti gue bakal datang kok!" Toni nampak tidak peduli dengan penjelasan Rama. Ia memilih mengabaikan Rama dan memunggungi Rama lalu membuka jaketnya. "Ya udah, oke, besok gue bakal minta maaf sama Hana. Udah kan?" Kata Rama kemudian. Toni membalikkan badannya lalu mendorong Rama, "Lo jangan ngegampangin perasaannya Hana, Anj*ng!" "Lo kenapa sih Ton?" Rama hampir saja ikut emosi. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. "Lo bullshit banget bilang Hana suka sama gue. Hana tadi nangis lihat Lo sama Bella, tahu?! Betul kan yang gue bilang? Hana itu suka sama Lo!" Rama terdiam mendengar perkataan Toni. Ia tak menyangka kedekatannya dengan Bella malah membuat Hana menjadi sedih. Dan sekarang Toni malah marah kepadanya karena Hana yang bersedih itu. "Ton, sorry. Gue tahu Lo suka sama Hana. Gue bilang kalau Hana suka sama Lo biar Lo bisa percaya diri untuk ungkapin perasaan Lo ke Hana. Gue nggak bermaksud mempermainkan kalian berdua. Enggak Ton! Gue juga nggak nyangka kalau Hana beneran suka sama gue." "Basi Lo!" Toni kembali mengambil jaketnya yang tadi sudah dilepaskannya, lalu melangkah menuju pintu. "Lo mau kemana?" Tanya Rama. "Bukan urusan Lo!" Toni segera keluar dari kamar kost mereka, meninggalkan Rama sendirian disana. Rama mengusap rambutnya dengan kasar dan berteriak. Ia tak menyangka menolak ajakan Hana malah membuatnya berkelahi dengan sahabat-sahabatnya. Ia hanya ingin semuanya bahagia. Tapi malam ini, ia malah membuat dua sahabatnya terluka. *** Senyuman Bella tak kunjung hilang meskipun Rama sudah pergi dari rumahnya. Sambil bersenandung, Bella berjalan ke kamarnya. Rasanya ia tak sabar untuk membuka kado dari Rama. Bella duduk di atas kasurnya dan meletakkan tasnya di samping kirinya. Kado yang baru Rama berikan tadi masih dipegangnya, dan ia pun segera membukanya saking penasarannya. Sebuah jam tangan dengan tali kulit berwarna baby blue adalah isi kotak kado itu. Selain itu, ada secarik kertas juga di dalamnya. Bella membuka lipatan kertas itu dan membaca tulisan yang ada di dalamnya. Waktu, bukankah hal itu sangat berharga di dunia ini? Semoga jam tangan baru ini akan memutar waktu dimana hanya akan ada kenangan indah saja setiap harinya. Bella tersenyum membaca tulisan Rama tersebut. Tulisan tangan yang cukup rapi, dengan isi pesan yang sangat bermakna. Bella mendekapkan kertas dan jam tangan itu ke dadanya, lalu ia mencoba memakai jam tangan itu. Rasanya Bella tak akan pernah bosan untuk melihat pergelangan tangannya yang dibalut jam tangan dari Rama itu. Perhatian Bella kemudian tertuju ke tas selempang yang tadi dipakainya. Ia cukup penasaran dengan isi dari kado yang ia temukan tadi. Kenapa Rama memberikannya dua kado? Dan kenapa Rama bilang kalau itu bukan kado? Apa sebenarnya itu hanya kotak kado kosong yang Rama jadikan dekorasi? Agar ia tak terus bertanya-tanya dalam hati, Bella pun segera mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak kado yang ada di dalamnya. Saat Bella membuka kotak kado tersebut, Bella menemukan sebuah jam tangan lagi. Jam tangan rantai berwarna emas yang sangat cantik dan elegan. "Kok jam tangan lagi sih?" Tanya Bella bingung. Bella mengeluarkan jam tangan itu dari kotaknya, dan memperhatikan keseluruhan jam tangan itu. Jam tangan rantai ini terlihat lebih mahal daripada yang pertama dibuka Bella. Rasanya tidak mungkin kalau ini tidak disebut sebagai kado. Dan Bella pun tidak menemukan apa-apa di dalam kotak kado itu selain jam tangan. Di tengah kebingungannya, mama Bella tiba-tiba mengetuk pintu kamar Bella. Ia lalu masuk ke kamar Bella. "Bel, gimana tadi?" "Gimana apanya Ma?" Wajah Bella memerah karena mamanya tiba-tiba bertanya seperti itu. "Acara ulang tahun kamu lah." "Ya... Seru Ma," jawab Bella malu-malu. "Syukurlah. Ari tadi jadi datang?" Bella mengerutkan dahinya, "Ari?" "Iya. Tadi dia datang ke rumah. Tapi kan kamu udah pergi sama Rama. Makanya mama suruh dia gabung aja dengan acara kamu sama Rama. Jadi dia nggak datang ya?" Bella kaget mendengar perkataan mamanya. Ia tak menyangka Ari akan datang juga ke rumahnya. Ari pasti kecewa karena Bella tidak ada di rumah. "Enggak Ma. Tadi Ari nggak datang," ucap Bella lesu. "Duh, padahal mama udah kirim alamatnya. Kok dia nggak datang ya?" "Besok aku bakal minta maaf ke dia Ma," kata Bella merasa bersalah. Mama Bella mengusap rambut Bella dengan lembut, "kamu jangan terlalu merasa bersalah ya. Kan kamu nggak tahu dia mau datang. Ari pasti ngerti kok. Mungkin dia mau ngerayain ulang tahun kamu besok, makanya dia tadi nggak datang nyamperin kamu sama Rama tadi," mama Bella berusaha menenangkan Bella. "Iya Ma." Setelah mama Bella pergi, Bella kembali beralih ke jam tangan rantai yang tadi membuatnya bertanya-tanya. Diperhatikannya lagi jam tangan itu dengan seksama. "Apa jangan-jangan Ari tadi sebenarnya datang?" Bella tak mau terus bertanya-tanya sendiri. Ia memutuskan untuk mengambil HP-nya dan menghubungi Ari agar ia bisa menanyakannya langsung kepada Ari. Tapi ternyata nomor Ari malah tidak aktif. Hati Bella menjadi resah. Tapi ia tak bisa melakukan apapun selain menunggu hari esok agar bisa bertanya langsung kepada Ari di kampus. Bella tak bisa tidur nyenyak semalaman. Walaupun mamanya mengatakan kepada Bella untuk tidak terlalu merasa bersalah, namun Bella sangat sulit untuk mengontrol diri. Ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Ari dan meminta maaf. Setelah menunggu beberapa menit di kelas, akhirnya Ari datang juga. Bella langsung menghampiri cowok itu, dan mengajaknya berbicara di luar kelas. "Kenapa Bel?" Tanya Ari. "Ini dari kamu?" Bella menunjukkan jam tangan rantai yang kini tengah ia pakai. "Oh, ternyata kamu berhasil nemuin kado itu. Aku pikir kamu nggak akan nemuin kado itu. Happy late birthday ya Bella. Maaf aku baru bilang sekarang," kata Ari sambil tersenyum tipis. "Jadi benar ini dari kamu Ri? Kalau gitu, kenapa kamu nggak ngasih langsung ke aku? Kenapa kamu nggak nyamperin aku tadi malam?" "Aku nggak mau ganggu kamu Bel." "Ganggu apanya? Padahal kamu udah datang, tapi kenapa nggak nyamperin aku? Aku pikir kamu lupa sama ulang tahun aku," kata Bella sambil menunduk sedih. Ari tertawa meringis, "mana mungkin aku lupa Bel. Maaf ya, kemaren aku nggak ikut ngerayain ulang tahun kamu." Bella mendongakkan kepalanya, melihat Ari yang lebih tinggi dari dirinya, "aku yang minta maaf. Maaf aku nggak nungguin kamu datang. Maaf aku malah pergi sama Rama." "Nggak papa Bel. Apa yang Rama siapin untuk kamu itu lebih spesial daripada apa yang udah aku siapin. Kamu pantas dapat yang lebih baik. Aku lihat kamu kemaren bahagia banget kok. Dan itu udah ngebuat aku senang." "Ri..." Bella masih merasa tak enak hati dengan Ari. "Nggak papa Bel. Makasih ya kamu udah mau pakai kado dari aku." Bella hanya mengangguk lemas. Walaupun Ari bilang tidak apa-apa, tapi hati Bella masih tidak lega. "Oh iya Bel, ada yang pengen aku kasih tahu ke kamu. Semester depan, aku bakal pindah kuliah ke Australia." Bella menatap Ari dengan ekspresi kaget. Rasanya hal itu terlalu mendadak. Karena semester baru akan dimulai sebulan lagi. "Kok tiba-tiba pindah sih Ri?" "Aku udah disuruh papa sama om aku untuk pindah sejak semester kemarin Bel. Tapi akunya belum mau. Aku nggak mau jauh dari kamu." Bella hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ari. Padahal dulu perasaan Ari setulus itu. Namun entah kenapa semuanya jadi berubah begitu saja. Lagi-lagi, Bella menyalahkan dirinya. Ia berpikir Ari jadi seperti itu karena dirinya yang kurang perhatian kepada Ari waktu itu. "Sorry Bel. Omongan ku ngaco. Udah, kamu nggak usah pikirin. Kan kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Ya udah, yuk masuk. Bentar lagi kelas dimulai." Bella mengangguk dan mengikuti Ari dari belakang menuju kelas. Ia tak menyangka sebentar lagi ia akan berpisah dengan Ari. Padahal baru saja ia ingin memperbaiki hubungan persahabatannya dengan Ari. Saat masuk ke kelas, ia berpapasan dengan Cinta. Namun Cinta menatapnya kesal, dan memilih untuk duduk cukup jauh dari Bella. Bella menyimpulkan bahwa Cinta sudah mengetahui rencananya Ari untuk pindah. Dan Cinta pasti menyalahkan Bella. Lagi-lagi, Bella harus berusaha untuk membuat Cinta tidak marah lagi kepadanya. *** Rama mengetuk jendela kamar Hana, membuat gadis itu membuka tirai jendela kamarnya untuk melihat siapa orang yang ada disana. Rama memberikan senyum lebar sambil melambaikan tangan. Di tangannya sudah ada bungkusan berisi tiga kotak bubur ayam. Hana cukup terperangah melihat kedatangan Rama itu. Padahal ia sedang tidak ingin diganggu. "Eh Rama? Ngapain disitu?" Ibunda dari Hana memergoki Rama yang bersusah payah berdiri di depan jendela kamar putrinya, karena ada banyak pot tanaman di sekitar sana. Rama pun mengalihkan pandangannya kepada Bunda Hana. "Mau sarapan bareng Bun. Nih, aku bawa tiga bubur ayam. Satu untuk aku, satu untuk Bunda, satu lagi untuk Hana," ucap Rama sambil tersenyum sumringah. "Ih baiknya. Ya udah yuk masuk. Bunda panggilin Hana dulu." "Oke Bun!" Rama masuk ke dalam rumah Hana, dan menunggu Hana di ruang makan. Tak lama kemudian Bunda Hana datang bersama Hana yang tampak terpaksa untuk keluar dari kamarnya. "Bunda makannya depan tv ya! Mau nonton gosip," kata Bunda Hana sambil mengambil bubur ayam jatahnya. "Eh Bun?" Hana nampak keberatan ditinggal oleh Bundanya. "Kenapa sih ni anak dari tadi?" Bunda Hana keheranan dengan tingkah putrinya. Pasalnya tadi ia harus memaksa Hana untuk mau keluar dari kamar. Sekarang Hana malah tidak mau ditinggal berdua saja dengan Rama. "Eh Toni mana? Kok nggak diajak sekalian?" Tanya Bunda Hana. "Masih tidur Bun," jawab Rama bohong. "Ooh gitu. Ya udah Bunda pergi ya. Akur-akur kalian makannya," ucap Bunda Hana sambil berlalu. Hana nampak mendumel sendiri, tapi ia tetap duduk juga di hadapan Rama. Rama menggeser sekotak bubur ayam yang sudah ia bukakan terlebih dulu kedekat Hana, lalu mempersilahkan Hana untuk memakannya. "Yuk dimakan." "Ck," Hana masih terlihat kesal. Ia meraih sendok yang sudah ada di dalam kotak itu dan mengaduk-aduk buburnya dengan malas. Wajahnya masih juga ditekuk daritadi. "Han, maafin gue ya. Gue memang nggak peka banget jadi temen. Padahal Lo pengen banget gue ngisi acara di ulang tahun sepupu Lo, tapi gue malah nggak mau datang," kata Rama setelah ia memakan bubur ayamnya beberapa suap. "Iya," Hana menanggapi Rama dengan cuek. "Kemaren itu Bella ulang tahun. Bella itu sama kayak Lo Han. Dia juga sahabat gue. Makanya gue pengen banget ngerayain ulang tahunnya dengan spesial. Dan gue udah persiapin semuanya dari jauh-jauh hari." "Bukannya kalian cuma ketemu beberapa hari? Kenapa bisa jadi sahabatan?" Tanya Hana dengan tatapan tak suka. "Sebenarnya gue ketemu sama dia sebulan sesudah gue kecelakaan. Gue sempet kerja bareng sama dia di cafe. Makanya kami jadi dekat. Tapi gue nggak cerita aja ke kalian." "Oh," Hana pura-pura berusaha memaklumi lalu menyuap bubur ayamnya. "Terus bukannya Bella udah punya pacar ya? Kenapa harus kamu yang ngerayain ulang tahun dia dengan 'spesial?'" tanya Hana kemudian. "Bella udah putus sama pacarnya Han." "Oh," Hana lagi-lagi berpura-pura memaklumi. "Han, kan lo inget, waktu Lo ulang tahun juga gue sama Toni pasti selalu ngerayainnya dengan spesial. Karena Lo itu sahabat terbaik kami. Dan Bella juga sahabat terbaik gue. Jadi gue mau semua sahabat terbaik gue, gue perlakuin dengan spesial." "Iya... Iya..." Kata Hana malas, membuat Rama mendekatkan wajahnya ke wajah Hana. "Kok masih ngambek sih?" "Nggak, siapa yang ngambek?" "Masa Lo.... Jangan bilang lo cemburu?" Goda Rama. "Ih siapa yang cemburu? Kepedean!" Ucap Hana sambil membuang muka dari Rama. Rama bergerak mundur dan menyenderkan tubuhnya di senderan kursi, "ya udah kalau nggak cemburu jangan marah dong. Toni jadi ikutan marah sama gue. Dia sampai-sampai pergi tadi malam, belum balik sampai sekarang." "Hah?" Hana kaget mendengar perkataan Rama, "tapi tadi bukannya kamu bilang dia masih tidur?" "Enggak, gue bohong sama Bunda. Ribet juga nanti jelasinnya. Masa gue bilang, 'jadi gini Bun, Hana kan ngambek gara-gara cemburu, terus Toni jadi marah sama aku dan pergi dari tadi malam. Sampai sekarang belum balik.' Nanti yang ada panjang urusannya, Bunda pasti bakal nyidang kita." "Dibilangin aku nggak cemburu!" Ucap Hana sambil menatap Rama jengkel. Membuat Rama tertawa terpingkal. "Toni nya udah dihubungin belum?" "Udah. Tapi nomornya nggak aktif." "Ih kenapa sih malah nambah-nambah masalah aja?" Mood Hana jadi tambah memburuk. "Lo tenang aja. Abis selesai makan gue bakal nyariin dia kok!" "Aku ikut." "Oke." Setelah selesai sarapan, Rama dan Hana segera pergi ke garasi kost untuk mengambil motor Rama. Namun ternyata disana sudah ada motor Toni. "Eh, udah balik anaknya," kata Rama. "Fiuh, untung lah kita nggak perlu pusing-pusing nyari Toni. Ya udah, yuk cek di kamar," ucap Hana. Rama dan Hana segera bergegas ke kamar Rama dan Toni. Dan benar saja, Toni sudah ada disana, sedang memakan makanan dari mama Bella yang dibawa Rama tadi malam. Toni segera meletakkan sepotong kue yang tadi hendak dimakannya dan pura-pura tidak menyentuh makanan yang ada disana. "Toni, dari mana aja?" Tanya Hana sembari mendekati Toni. "Ng... nggak dari mana-mana kok." "Heh bohong! Jelas-jelas Lo kabur tadi malam," ucap Rama jengkel. "Ih apaan sih Lo pake ngadu ke Hana?" "Udah... Udah... Kok malah jadi berantem?" Hana berusaha menghentikan perseteruan antara Rama dan Toni. "Ton, kamu kok marah sama Rama sih? Orang aku nggak kenapa-napa. Aku baik-baik aja sama Rama. Tadi sarapan bareng." "Nah tuh denger Ton." Toni hanya menatap Rama dengan tatapan tak senang. "Ya udah aku balik. Nanti kena marah sama bunda kalau lama-lama disini. Kalian jangan berantem ya! Terus kamu Ton, jangan kabur-kaburan lagi. Aku nggak suka," ucap Hana segera pergi tanpa menunggu reaksi dari Toni. Rama berusaha bersikap biasa saja meski tadi Toni masih menatapnya sinis. Ia duduk di samping Toni, di hadapan meja dimana ada beberapa makanan di atasnya. Rama mengambil satu kotak berisi donat dan menyodorkannya kepada Toni. "Makan lagi nih," ucap Rama. Toni yang awalnya ragu, akhirnya mengambil sepotong donat di dalam kotak itu. Ia menggigit donat itu, lalu mulai berbicara setelah menelan donatnya. "Ram, sorry ya tadi malam gue kekanak-kanakan banget. Gue udah marah-marah nggak jelas." "Iya, gue paham kok sama perasaan Lo. Maaf juga kalau selama ini gue suka seenaknya sendiri, sibuk sendiri, gue kurang perhatian sama kalian." Toni menganggukkan kepalanya. "Tapi kan sebenarnya gue cuma mau ngasih waktu buat Lo bisa berduaan sama Hana. Makanya gue suka pergi sendiri. Hehehe..." "Halah, bilang aja Lo sibuk PDKT sama Bella." "Ya... Itu kan sekalian. Hahaha..." "Jadi Lo beneran nggak mau sama Hana?" "Lah apaan sih Lo nanyain gue sama Hana. Kan Lo suka sama Hana. Ya udah tembak dong. Jangan kelamaan PDKT. Lagian tadi Hana bilang dia nggak cemburu sama Bella kok. Berarti dia nggak suka gue kan?" "Ya nggak mungkin lah dia ngaku, Bambang. Gengsi dong!" "Hahaha..." Rama akhirnya dapat bernapas lega. Masalahnya dengan kedua sahabatnya berakhir dengan damai. Dalam hati ia berharap Toni dan Hana bisa segera jadian agar mereka berdua bisa bahagia bersama. *** Sebulan berlalu begitu cepat. Setiap harinya Cinta melaluinya dengan kesedihan karena tak bisa membayangkan kepergian Ari. Namun hari kepergian Ari datang tanpa bisa ditunda. Rasanya Cinta tidak ingin mempercayainya. Tapi jelas-jelas Ari mengatakan kepadanya kemarin bahwa hari ini ia akan benar-benar pergi. Jadwal keberangkatannya pukul dua siang. "Cin, Bella nelpon gue tadi. Dia nanya kok Lo nggak ke bandara? Bentar lagi Ari pergi lho," kata Shana yang baru saja masuk ke kamar Cinta. Ia mendapati sepupunya sedang telungkup sambil membenamkan wajah di atas bantal, terlihat begitu putus asa. "Cin, gue tahu Lo sedih banget karena Ari mau pergi. Tapi Lo nggak boleh gini terus dong. Masa sampai Ari mau berangkat aja Lo nggak mau nganterin? Australia itu deket kok. Kalau Lo kangen, Lo suruh aja Ari sering pulang, pasti dia nggak akan ada masalah," lanjut Shana. "Ck, apaan sih," Cinta menolak untuk mendengarkan perkataan Shana. "Lagian dia juga cuma kuliah aja disana. Nanti nggak berasa juga bakal wisuda kok. Terus dia balik lagi deh tinggal disini." "Nggak usah sok tahu! Orang dia mau buka bisnis disana." "Ah udah deh capek gue ngomong sama Lo! Pokoknya nanti jangan sampai nyesel ya gara-gara hari ini Lo nggak nganterin Ari dan ngebiarin Bella sendiri yang ada disana untuk dapat pelukan selamat tinggal," ucap Shana sembari meninggalkan Cinta dan keluar dari kamar Cinta. Cinta membiarkan Shana berlalu, dan kini perhatiannya tertuju pada HP-nya yang dari tadi berdering. Cinta meraih HP-nya dan mengabaikan belasan panggilan yang sengaja ia lewatkan dari Bella dan Ari. Ia lebih memilih di membaca pesan dari Ari. Cin, maaf ya aku udah bikin kamu sedih. Aku sayang banget sama kamu. Aku harap kamu mau datang ke bandara ya. Aku mau ketemu kamu sebelum pergi. Please. Hati Cinta jadi goyah membaca pesan dari Ari itu. Ia memutuskan untuk bangkit dari kasurnya, mengambil jaket dan pergi ke kamar Shana. Ia mengambil kunci mobil Shana tanpa meminta izin dulu dan langsung bergegas ke garasi. "Eh, gue mau pergi. Pesen taxi aja dong!" Teriak Shana. Namun Cinta tidak memperdulikan sepupunya itu. Ia segera memacu mobil milik Shana menuju garasi. Cinta melirik jam tangannya, ia masih bisa bertemu dengan Ari jika ia ngebut. Tanpa pikir panjang Cinta memacu mobil milik Shana dengan kecepatan penuh. Akhirnya Cinta sampai juga di bandara. Ia segera berlari mencari Ari. Dan untungnya Ari masih belum masuk ke waiting room. Segera dipeluknya lelaki yang ia cintai itu. Air mata yang daritadi ditahannya kini tumpah di d**a bidang Ari. "Cin..." Ari tak menyangka Cinta akhirnya datang juga. Ia pikir Cinta akan terus marah kepadanya. Ia menunduk melihat sahabatnya itu, menatap Cinta dengan sendu. Dielusnya rambut Cinta untuk menenangkan gadis itu. "Kamu benar-benar harus pergi Ri?" Tanya Cinta di tengah isakannya. Ari mengangguk, "iya Cin. Maaf karena aku egois. Tapi aku pikir ini yang terbaik." Cinta terus menangis dalam pelukan Ari. Walaupun setiap hari ia berdo'a agar Tuhan bisa membuat Ari membatalkan niatnya untuk pergi, namun nyatanya hari ini Ari akan benar-benar pergi. Cinta tidak akan bisa lagi untuk bertemu dengan lelaki yang dicintainya entah sampai berapa lama. "Udah ya Cin. Kamu jangan sedih terus. Kamu harus bisa ngejalanin hidup kamu tanpa aku. Aku yakin kamu bisa Cin. Kamu orang yang baik, perhatian dan menyenangkan. Pasti bakal banyak orang yang sayang sama kamu. Aku pasti bakal selalu kangen sama kamu. Jadi tolong izinin aku pergi ya!" Cinta melepaskan pelukannya dari Ari dan mendongakkan kepalanya, menatap Ari dengan wajah memelas. Ari menggerakkan tangannya ke wajah Cinta, lalu menghapus air mata Cinta dengan jarinya secara lembut. "Kamu baik-baik ya disini. Terus jalanin hidup kamu dengan ceria. Aku bakalan terus support kamu walaupun aku udah jauh dari kamu." Akhirnya Cinta hanya bisa mengangguk. Mau apapun yang ia katakan, hal itu tidak akan bisa mengubah keputusan Ari untuk pergi. Merelakan Ari mungkin satu-satunya hal yang harus ia terima saat ini. Bella yang sudah ada disana dari tadi hanya bisa menatap Ari dan Cinta dari jauh. Ia jadi merasa iba dengan Cinta. Ia yakin Cinta benar-benar mencintai Ari, tapi Cinta tidak pernah punya kesempatan untuk bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat dengan Ari. Malah saat ia belum berhasil mendapatkan cinta Ari, ia harus menerima takdir untuk tidak bisa bertemu Ari lagi. Andai saja saat itu yang ditembak Ari adalah Cinta. Andai saja waktu itu yang berpacaran dengan Ari adalah Cinta. Pasti tidak akan ada kisah sedih seperti hari ini. Bella menyesali dirinya yang terlambat untuk menyadari perasaan Cinta terhadap Ari. Bella menyadari bahwa Ari sudah harus pergi ke waiting room setelah mendengar pengumuman. Ia pun mendekati Ari dan Cinta. Ia ingin turut menenangkan Cinta saat Ari meninggalkan lobi. "Makasih ya Cin udah mau datang. Aku bakalan sering ngehubungin kamu kalau aku udah di Australia. Jadi kamu jangan sedih lagi," ucap Ari kepada Cinta. Ia lalu beralih ke Bella. "Bel, makasih juga ya udah datang. Maaf kalau selama ini aku banyak salah sama kamu. Tolong jaga Cinta ya," kata Ari kepada Bella. Bella mengangguk, "hati-hati di jalan ya Ri. Maafin aku juga. Semoga kamu selalu bahagia. Jangan lupa kabarin kami kalau udah sampai." "Pasti." Ari melambaikan tangannya kepada Bella dan Cinta, lalu menghampiri orang tuanya yang berada tidak jauh dari mereka untuk memberikan pelukan terakhir sebelum berangkat. Bella yang berdiri di samping Cinta beringsut merangkul Cinta, menemani sahabatnya itu melihat Ari yang terus berjalan menjauh dari mereka, hingga sosoknya tak nampak lagi. Bella lalu memeluk Cinta yang kembali menangis. Ia berharap kesedihan di hati Cinta bisa segera hilang. Ia berjanji akan terus menemani Cinta sampai Cinta berhasil bangkit dari kesedihannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN