Hati yang Terluka

3596 Kata
Petang Menjelang Namun bulan dan bintang telah datang Yang ku tahu ada jutaan bintang di langit Tapi hari ini hanya ada satu bintang yang bersinar Bahkan saat petang berganti malam Bintang lain pun tak kunjung bersinar Bahkan aku pun tak bersinar di mata sang bulan Bulan itu hanya membutuhkan satu bintang Dan itu adalah dia, bukan aku *** Malam yang begitu gelap itu berhasil Rama sulap menjadi terang benderang dengan lampu-lampu yang ada di taman itu. Lampu tumblr yang bergantungan di tenda maupun melingkar di beberapa batang pohon berkelap-kelip bagai menggantikan indahnya kunang-kunang. Dua orang pengantar makanan datang menghampiri mereka. Yang satu membawakan sekotak pizza, dan yang satunya lagi membawakan kue ulang tahun Bella. "Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," ujar Rama bersemangat. Ia meletakkan kue tart dan pizza itu di hadapannya dan Bella, lalu membuka kotak kue tart. Ia kemudian menghidupkan lilin angka 20 yang sudah ia tancapkan di atas kue tart tersebut. "Make a wish dulu," ucap Rama kepada Bella sebelum Bella meniup lilin. Bella kemudian menutup matanya dan berdoa dengan sepenuh hati. Ia mengucapkan do'a yang sama seperti yang ia harapkan saat hendak meniup lilin dari kue ulang tahun yang diberikan Cinta. Aku berharap semoga aku bisa selalu bahagia dan menemukan orang yang tulus mencintaiku. Rama bertepuk tangan sambil bersorak dengan hebohnya setelah Bella berhasil memadamkan api di lilin-lilin tersebut. Bella tertawa geli melihat tingkah Rama itu. Rasanya tidak sedetikpun Rama membiarkan Bella merasa sedih, Rama senantiasa memberikan keceriaan untuk Bella hari itu. "Makasih ya Ram untuk kejutannya. Aku suka banget," kata Bella sambil menatap Rama dengan senyuman manisnya. "Iya, sama-sama," Rama membalas senyuman Bella itu, meski ia yakin senyumannya tidak seteduh senyuman Bella. "Makasih juga kamu udah repot-repot hias tempat ini buat aku, padahal tempat ini belum dibuka." "Iya Bel. Makasih mulu dari tadi," Rama tertawa karena Bella terus-terusan berterimakasih. "Ya terus aku mesti ngapain dong?" Bella jadi agak keki karena Rama menertawakannya. Padahal ia benar-benar tulus berterimakasih. "Lo mesti ngambek. Karena..." Rama mengoleskan krim dari kue tart ke wajah Bella dengan jarinya secara cepat. Setelah itu ia berlari menjauh sambil tertawa. "Ramaaaaa!!!!!" Bella berteriak kesal karena keisengan Rama itu. Tanpa pikir panjang ia ikut mencolek krim dari kue tart yang ada di hadapannya lalu berlari mengejar Rama. Ia ingin membalas kejahilan Rama tersebut. "Rama.... berhenti!!!" Teriak Bella sambil berlari. Namun Rama tidak menuruti perintah Bella tersebut dan malah berlari makin kencang dengan tawa yang belum juga hilang. "Dasar Rama nyebelin! Awas ya, aku pasti bisa balas kamu!" *** Tok... Tok... Tok... Ari mengetuk pintu rumah Bella. Di tangannya sudah ada buket bunga yang cantik, yang sengaja ia beli untuk Bella, serta kado yang sudah dibungkus dengan kertas kado. Ia pun sudah berpakaian dengan sangat rapi, mengenakan baju baru yang sengaja ia beli untuk hari ini. Hari ulang tahun dari orang yang sangat spesial baginya. Ari sudah menantikan Bella yang menyambutnya dengan senyuman ceria dari balik pintu rumahnya. Namun ternyata yang membukakan pintu malah mama Bella. "Eh, Ari?" "Malam Tante. Bella nya ada?" Tanya Ari sopan. "Duh, Bella pergi dari tadi sore sama Rama," ucap mama Bella. Ia merasa tak enak karena ia yakin Ari datang untuk merayakan ulang tahun putrinya, tapi putrinya malah tidak ada di rumah. Ari tampak kaget mendengar perkataan mama Bella. Ia tidak menyangka ternyata Bella kembali berhubungan dengan Rama setelah mereka berdua putus. Ia juga kecewa karena ia sudah keduluan Rama untuk mengajak Bella pergi. "Tadi siang Cinta kesini lho. Kenapa nggak bareng Cinta aja tadi? Bella mikirnya kamu lupa sama hari ulang tahunnya dia. Dan kebetulan Rama datang duluan sebelum kamu. Jadi dia pergi sama Rama," kata mama Bella lagi, berharap penjelasannya bisa membuat Ari mengerti. Meskipun ia yakin hal itu tidak akan bisa menghilangkan kekecewaan Ari. "Oh, gitu ya Tante," ucap Ari kemudian. Ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dari wajahnya. "Atau kamu mau tungguin dia? Masuk aja dulu, mana tau dia bentar lagi pulang," mama Bella yang tidak tega melihat Ari yang sudah meluangkan waktunya untuk Bella masih berusaha untuk membuat usaha Ari tidak sia-sia. Walaupun Bella dan Ari adalah mantan kekasih, tapi mereka masih tetap menjalin hubungan yang baik sebagai teman. Dan mama Bella tahu itu. Oleh karena itu, ia ingin semua teman Bella bisa ikut berbahagia bersama Bella hari ini di hari ulang tahun Bella. "Nggak papa Tante, nggak usah. Nanti aku ucapin lewat telepon aja. Nggak papa kok," Ari berusaha untuk terlihat tidak mempermasalahkan jika tidak bisa bertemu Bella hari ini. Padahal sebenarnya ia sangat ingin bertemu Bella hari ini dan mengajaknya pergi. Karena ia sudah memesan meja di sebuah restoran untuk merayakan ulang tahun Bella dan makan malam bersama Bella. "Atau kamu mau nyusulin Bella sama Rama? Pasti mereka nggak akan keberatan kalau kamu gabung. Bentar ya, Tante kirimin lokasinya. Tadi Rama udah kirim ke Tante soalnya," mama Bella segera mengeluarkan HP-nya dari saku roknya lalu mengirimkan lokasi tempat Bella dan Rama berada sekarang kepada Ari. "Nggak usah Tante, aku nggak papa kok." "Udah, itu udah Tante kirim. Kamu kesana aja." Ari hanya bisa tersenyum untuk menghargai usaha mama Bella. Bagaimanapun ia tak mungkin bergabung dengan Bella dan Rama, mengingat hubungannya dengan Rama tidak begitu baik. "Makasih ya Tante. Kalau gitu aku pamit dulu," ucap Ari kemudian. Ari kembali ke mobilnya dengan wajah lesu. Padahal ia ingin sekali bertemu Bella hari ini, mengucapkan selamat ulang tahun langsung kepada Bella. Tapi, rencananya malah tidak bisa berjalan sesuai harapannya. Selama perjalanan, ia terus memandangi alamat yang dikirimkan mama Bella. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi kesana. Karena ia sangat ingin melihat wajah Bella saat itu, walau hanya sebentar. Ari membawa kadonya dan berjalan masuk melewati pohon-pohon dan bunga-bunga yang tadi dilewati Bella dan Rama, yang kini sudah bertambah indah dengan sinar dari lampu tumblr. Semakin ia masuk ke dalam, samar-samar ia mendengar suara perempuan dan laki-laki. Ia pun berjalan mendekati sumber suara itu. "Hahaha.... Kena kamu!" Ari berdiri terpaku di tempat yang tidak cukup jauh dari Bella dan Rama berada. Ia melihat Bella tertawa girang sambil mengejar Rama. Dan kini mereka duduk di atas tikar piknik dengan berbagai makanan di atasnya. Tampak mereka berdua ngos-ngosan karena kelelahan berlari. "Wah, jago juga Lo ngejar gue. Gue nyerah deh!" Ucap Rama kepada Bella. "Kok nyerah sih?" Bella kembali mencolek krim dari kue tart nya dan mengoleskannya lagi ke wajah Rama. Rama tertawa lalu membalas Bella. "Hehehe... Lo jadi mirip badut," canda Rama. "Kamu juga," kata Bella tak mau kalah. "Iya ya? Coba kita foto dulu," ucap Rama sambil mengeluarkan HP-nya. Ia dan Bella pun berswa foto berdua, mengabadikan momen ketika wajah mereka sedang dipenuhi krim kue. Setelah selesai berfoto, mereka berdua tertawa geli melihat wajah satu sama lain. "Daripada kita main coret-coretan mulu, mending kita makan kuenya. Nanti kuenya tambah hancur, nggak bisa dimakan lagi deh," usul Rama. "Oke!" Bella dengan semangat mengambil pisau dan mulai memotong kue yang ada di hadapannya. Ia meletakkan sepotong kue itu di atas piring kertas. "Bersihin dulu dong mukanya," kata Rama sambil mengambil selembar tissue, lalu mulai mengelap wajah Bella dengan lembut. Bella yang kaget hampir saja menjatuhkan piring kertas berisi sepotong kue yang dipegangnya. Jantungnya berdebar karena tindakan Rama itu. Bella menghentikan tangan Rama, dan untuk menghilangkan rasa gugupnya, ia mengarahkan tangan Rama ke wajah Rama sendiri. "Muka kamu juga dibersihin dong," ucap Bella sambil membantu Rama menggerakkan tangannya yang memegang tissue, membuat Rama membersihkan wajahnya memakai tissue yang tadi dipakainya untuk membersihkan wajah Bella. "Ini muka gue bukannya jadi bersih, malah nambahin krim," kata Rama sambil tertawa. Bella pun ikut tertawa, lalu melepaskan tangan Rama, dan mengambil tissue yang baru untuk Rama. Ia menyodorkan tissue itu kepada Rama. Lalu mengambil tissue lagi untuk dirinya sendiri. Setelah itu, ia memberikan kue yang tadi sudah dipotongnya kepada Rama. "Buat gue?" Tanya Rama. "Ya, buat siapa lagi?" "Makasih ya," ucap Rama sambil mengacak-acak rambut Bella. "Ih, Rama! Kebiasaan..." Bella merajuk sambil merapikan rambutnya. Rama kembali tertawa lalu memakan kuenya. "Oh iya, minumnya belum gue keluarin nih. Bentar ya!" Rama mengambil dua gelas leher panjang yang ada di dalam keranjang, lalu menuangkan minuman soda ke masing-masing gelas itu saat Bella memotong kue untuk dirinya sendiri. Rama menyodorkan gelas kepada Bella. "Cheers to another year of success, happiness, and a fun-filled life for you," ucap Rama sambil menatap mata Bella dan memberikan senyuman yang tulus. Bella balik menatap mata Rama dan membalas senyuman Rama, lalu mereka pun mengadu gelas mereka. Ari hanya bisa melihat kebersamaan antara Bella dan Rama tanpa bisa berbuat apa-apa. Rasanya hatinya saat ini sangat sakit. Tapi ia bukan siapa-siapanya Bella sekarang. Ia hanya masa lalu Bella, yang Bella lupakan begitu saja. Ia pun tidak ingin datang mendekati mereka dan mengganggu acara mereka, karena ia melihat Bella sangat bahagia saat ini. Kebahagiaan yang tidak pernah diperlihatkan Bella di hadapan Ari selama ini. Jika Ari mendekati mereka, pasti ia hanya akan membuat suasana menjadi canggung. Ari memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Melihat Bella bersama Rama lebih lama lagi hanya akan membuatnya semakin terluka. Sebelum kembali ke mobil, Ari menatap kado yang dibawanya, lalu meninggalkan kado itu di tepi jalan masuk. *** Toni kebingungan sendiri karena tidak ada satu orang pun yang dikenalnya di pesta ulang tahun Zahra, sepupu dari Hana. Hana sendiri pun tidak tahu ada dimana. Padahal tadi ia masih ada di dekat Zahra, tapi sekarang Zahra malah bersama teman-temannya. Toni sudah berupaya untuk menelepon Hana, tapi gadis itu tidak mengangkat teleponnya. Akhirnya Toni memutuskan untuk bertanya kepada Zahra. "Zahra, Lo tau nggak Hana ada dimana?" "Tadi sih katanya mau keluar nyari angin. Emang dia nggak ngajakin Lo? Memang deh si Hana, ngajakin teman ke pesta gue, tapi malah ditinggal sendirian," Zahra mengomel sendiri. "Atau Lo mau gabung sama temen-temen gue? Biar gue kenalin? Itung-itung nambah teman," Zahra menawarkan. "I... Iya, tapi gue cari Hana dulu ya!" Kata Toni. "Ooh... Oke." Toni keluar dari pekarangan rumah Zahra. Ia melihat kanan dan kiri, berharap bisa menemukan Hana segera. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah tempat yang tidak asing baginya. "Itu kan tempat yang mau dibikin food court kedua. Kok lampunya hidup ya? Perasaan tempatnya belum dibuka," tanya Toni dalam hati. Karena penasaran, ia pun mendekati tempat itu. Saat sudah sampai, ia menemukan Hana disana. Ia yakin Hana sedang menangis. Namun gadis itu buru-buru mengusap air matanya dan berlari pergi dari tempat itu. "Hana, Lo kenapa? Tunggu!" Toni hendak mengejar Hana. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya. Ia mendekati sumber suara itu, dan menemukan Rama yang sedang bermain kembang api sparklers bersama Bella. Toni segera meninggalkan tempat itu dan kembali mengejar Hana. Ia yakin Hana menangis karena melihat Rama sedang bersama perempuan lain. Ternyata dugaan Toni selama ini benar. Hana memang benar-benar menyukai Rama. *** Cinta menemukan Ari saat ia membuka pintu rumahnya. Hal itu membuat Cinta kaget, karena tidak biasanya Ari datang secara tiba-tiba, apalagi dengan pakaian serapi ini. "Kenapa Ri?" "Kamu sibuk nggak? Ikut aku yuk?" "Nggak sibuk sih. Tapi mau kemana?" "Ke restoran. Kamu udah makan malam?" Cinta menggeleng, "belum. Oh, bareng Bella ya?" Tanya Cinta. Ia berpikir Ari mengajaknya untuk merayakan ulang tahun Bella bersama. "Tadi siang aku udah ke rumah Bella sih untuk ngerayain ulang tahunnya. Tapi kalau ngerayain lagi sih nggak papa, selama ada makanan gratis. Hehehe... Ya udah, kamu masuk dulu. Aku ganti baju bentar," ucap Cinta tanpa menunggu jawaban Ari. Cinta sudah selesai mengganti bajunya. Kini ia dan Ari sudah berada di dalam mobil Ari. Cinta pikir mereka akan pergi ke rumah Bella untuk menjemput Bella. Tapi ternyata mereka langsung pergi ke restoran. "Lho Ri, kita langsung kesini? Nggak jemput Bella dulu?" Tanya Cinta bingung. "Enggak," jawab Ari singkat. Ia lalu mengajak Cinta turun dan masuk ke restoran. "Bella udah di dalam?" Tanya Cinta lagi. Namun saat mereka sudah sampai di dalam restoran, Cinta tidak bisa menemukan Bella disana. "Yuk duduk aja," Ari mengajak Cinta untuk duduk di meja yang sudah dipesannya tanpa menjawab pertanyaan Cinta. Cinta yang masih kebingungan hanya menurut saja. Makanan datang tak lama setelah mereka duduk. Makanan itu memang sudah dipesan Ari saat melakukan booking tempat. Sehingga mereka tidak perlu menunggu lama untuk dapat menyantap makanan. "Yuk dimakan Cin," kata Ari. Cinta menatap Ari dengan penuh tanda tanya, "kita nggak nunggu Bella?" "Aku nggak ngajak Bella kesini Cin." "Hah?" Cinta tak percaya dengan apa yang didengarnya. Mana mungkin di hari ulang tahun Bella, Ari malah mengajaknya makan malam berdua saja. Kalaupun memang ingin mengajak Cinta makan malam berdua, kenapa harus di hari ulang tahun Bella? "Kamu nggak ingat kalau hari ini hari ulang tahun Bella?" Tanya Cinta memastikan. "Ingat kok." "Terus kamu nggak ngerayain gitu?" "Enggak. Bisa nggak, nggak usah bahas Bella?" Pinta Ari. Cinta bingung dengan sikap Ari itu. Seingatnya kemarin Ari dan Bella baik-baik saja. Tapi sekarang kenapa Ari tidak ingin membicarakan tentang Bella? "Kamu kenapa sih Ri?" "Nggak kenapa-napa. Makan dong," Ari meminta Cinta untuk memakan hidangan yang sudah dipesannya. Cinta pun memutuskan untuk menuruti Ari saja. "Enak banget deh steak nya. Kamu memang jagonya milih restoran yang enak deh Ri!" Puji Cinta saat ia sudah menghabiskan setengah makanannya. Ari hanya tersenyum mendengar pujian Cinta itu. "Abis ini kemana? Jangan langsung pulang ya? Main biliar yuk! Udah lama lho kita nggak main. Perasaan akhir-akhir ini kita jadi anak baik mulu. Nggak cocok ah!" Kata Cinta lagi sambil tertawa meringis. "Cin, ada yang pengen aku kasih tahu ke kamu." Cinta menghentikan tawanya dan menatap Ari penasaran karena wajah Ari menjadi serius. Ari yang tiba-tiba mengajak Cinta untuk makan malam berdua saja, lalu tiba-tiba bilang ingin mengatakan sesuatu, membuat Cinta berpikir bahwa Ari akan menyatakan perasaan. Membayangkan hal itu membuat wajah Cinta memerah. Ia merasa akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia. Namun ternyata Cinta hanya salah menduga. "Semester depan, aku bakal pindah kuliah ke Australia," ucap Ari. Tampak wajah Cinta sangat terkejut. Ia hampir saja menjatuhkan garpunya. Hal yang ingin didengarnya bukan itu. Ia merasa Ari begitu tega kepadanya. "Kenapa tiba-tiba Ri?!" Tanya Cinta tak terima. "Ini nggak tiba-tiba kok Cin. Papa aku sama Om aku udah nyuruh aku dari semester kemarin. Cuma aku belum yakin, makanya aku nggak bilang." "Terus sekarang udah yakin? Kenapa? Karena kamu mau move on dari Bella? Kenapa harus sampai pergi sejauh itu sih? Kamu nggak mikirin aku apa?!" Cinta begitu kecewa dengan Ari. Ia menahan air matanya sekuat mungkin. "Aku mikirin kamu Cinta. Makanya kamu orang pertama yang aku kasih tahu setelah keluarga aku." "Ya, karena kamu nganggap aku kayak keluarga kamu kan? Kamu nggak pernah ngertiin perasaan aku!" "Kenapa malah jadi bahas perasaan kamu sih Cin? Kamu dengerin penjelasan aku dulu!" Ari meraih tangan Cinta. Ia ingin menenangkan gadis itu agar mereka bisa berbicara dengan keadaan yang tenang. Namun tiba-tiba seorang pemain biola datang menghampiri mereka bersama seorang pelayan yang membawa kue ulang tahun. Pemain biola itu memainkan lagu Happy Birthday, lalu segera berlalu saat lagunya selesai. Ari lupa bahwa ia berkata kepada pihak restoran bahwa ia meminta pemain biola dan pelayan datang membawa kue saat Ari memegang tangan perempuan yang datang bersamanya. "Ini apa?" Tanya Cinta. "I... Ini..." "Kamu sebenarnya pesan ini untuk Bella kan? Terus kenapa cuma bawa aku? Atau sebenarnya kamu sama sekali nggak niat bawa aku? Bella kemana sebenarnya?" Cinta menuntut penjelasan. "Bella... Pergi sama Rama Cin," jawab Ari sambil tertunduk. Cinta memandang Ari tak percaya, "terus kamu bawa aku kesini untuk gantiin Bella? Keterlaluan kamu Ri. Kamu cuma datang ke aku waktu kamu lagi sedih aja. Tapi kalau kamu bahagia, kamu milih Bella. Waktu aku sedih, kamu nggak pernah ada buat aku. Aku selalu bukan prioritas buat kamu!" Ucap Cinta kecewa. Ia segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan Ari. "Cin, jangan pergi!" Cinta tidak memperdulikan Ari. Ia terus melangkah keluar dari restoran itu. Air mata yang daritadi ditahannya kini tak dapat dibendungnya lagi. Ia merasa hidup begitu tak adil baginya. Selalu saja orang lain yang bahagia. Sedangkan ia, tidak pernah mendapatkan kebahagiaan yang ia impi-impikan. Ari mengusap wajahnya dengan kasar. Padahal ia berharap Cinta bisa menemaninya malam ini untuk mengusir kesedihannya. Tapi ia malah membuat semuanya jadi berantakan. Malam itu lilin angka yang terus mencair karena tidak ada yang meniupnya menemani Ari yang membisu di tengah kegalauannya. Memang tidak ada kesempatan lagi baginya untuk kembali dengan Bella. *** Bella dan Rama berbaring di atas karpet piknik, melihat kembang api Peony yang sedang meledak di udara. Kembang api itu meletup dan meledak bagaikan bunga, dan warnanya yang bergradasi sangat indah sekali. Rama ingat waktu kecil saat ia bersedih, ia sering keluar di malam hari dan berbaring di atas rumput, melihat bintang-bintang untuk mengusir rasa sedihnya. Kini langit tak lagi menampakkan bintang-bintangnya, cukuplah kembang api yang meletup sesaat ini menggantikan bintang-bintang itu, bersama seseorang yang spesial yang kini tengah ia pandangi saat kembang api tak lagi menyala. Bella yang sadar lelaki yang berbaring di sampingnya tengah menatapnya, memberanikan diri untuk menatap Rama balik. Namun jarak mereka yang begitu dekat membuat Bella tak mampu mengontrol detak jantungnya. Ternyata kembang api tadi kalah indahnya dibanding lelaki yang begitu bersinar di samping Bella. Bella melihat tangan Rama mulai bergerak ke atas. Hal itu membuat Bella panik. Ia jadi berpikir yang tidak-tidak dan menutup matanya karena takut. Namun ternyata Rama hanya hendak melihat jam tangannya. "Wah, nggak kerasa udah jam setengah sembilan aja," kata Rama setelah melirik jam tangannya. Ia sudah berjanji kepada mama Bella untuk tidak mengantar Bella pulang terlalu malam, jadi ia ingin menepati janjinya. Bella membuka sebelah matanya, dan ia bisa memastikan Rama tidak bermaksud untuk melakukan hal-hal aneh seperti yang ada di pikirannya. Malah lelaki itu sudah beralih duduk, tidak berbaring lagi. Bella pun bernapas lega dan membuka kedua matanya dengan utuh. Ia merasa benar-benar bodoh selama beberapa detik tadi. "Yang bener Ram? Yampun, keasyikan makan sama main malah udah jam segini aja," Bella ikut bangkit dari tidurnya dan segera duduk. Ia lalu bergegas menyusun cemilan-cemilan yang belum dimakan, berberes sebelum pulang. "Biar gue aja," kata Rama. "Nggak papa. Berdua aja biar cepet." "Oke deh." Tak lama kemudian Bella dan Rama sudah selesai merapikan makanan-makanan yang ada disana. Mereka keluar dari sana setelah Rama mematikan lampu-lampu yang ada disana. Rama menyuruh Bella untuk menunggu di jalan masuk sembari ia mengambil sepeda motornya yang tak jauh dari sana. Bella melihat-lihat ke sekeliling tempat itu sebelum pergi dari sana. Masih ada lampu jalan yang membuat tempat itu masih memiliki penerangan. Ia membayangkan orang-orang pasti akan senang kesini jika tempat ini sudah dibuka. Tiba-tiba pandangan Bella tertuju pada sebuah kotak kado yang tergeletak di tepi jalan. Bella mendekati kotak kado yang cukup kecil itu dan mengangkatnya. "Ini punya siapa? Apa jangan-jangan Rama sengaja nyuruh aku untuk nunggu disini biar aku nemuin kado ini? Hahaha... Ada-ada aja Rama," ucap Bella sambil tersenyum geli. Ia kemudian memasukkan kotak kado itu ke dalam tasnya. Rama datang setelah itu. Ia menyuruh Bella untuk naik ke atas sepeda motornya dan mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba di tengah perjalanan, hujan perlahan turun. Rama segera menepikan sepeda motornya di depan sebuah minimarket agar mereka bisa berteduh di depan minimarket itu. "Lo nggak papa Bel?" Tanya Rama khawatir. Ia cemas jika Bella akan ketakutan seperti dulu. Bella tersenyum dan berusaha terlihat baik-baik saja. Karena ia sedang bersama Rama, entah kenapa rasa takutnya tidak begitu menghantuinya. Ia merasa aman ada di dekat lelaki itu. "Lo hebat Bel. Lo udah bisa mulai bangkit dari rasa takut Lo. Gue jadi bangga." "Hahaha... Apaan sih Ram." Rama tersenyum melihat gadis di sampingnya tertawa. Walaupun Bella terlihat baik-baik saja, Rama masih bisa menangkap sedikit rasa takut di wajah Bella. Ia memutuskan untuk menghibur Bella agar tak ada lagi rasa takut yang tersisa. "Coba lihat ke depan. Lihat hujan itu. Terus Lo tutup mata lo. Lo dengerin suara rintik hujan yang bikin tenang. Lo hirup udara hujan yang segar. Terus coba Lo bayangin kenangan-kenangan indah Lo waktu hujan turun. Di saat dulu Lo pernah bahagia waktu hujan turun." Bella mengikuti apa yang Rama katakan. Saat ia menutup mata, ia melihat dirinya ketika ia masih SD. Sedang sedih karena rencananya bersama orangtuanya untuk pergi ke pantai gagal akibat hujan yang tiba-tiba turun. Namun papanya tidak membiarkan Bella sedih terlalu lama. Papanya pergi keluar dengan riang dan memanggil Bella untuk mengikutinya bermain di bawah hujan. Mereka tertawa bersama, menari-nari bagai tak ada hal yang perlu dikhawatirkan di dunia. Papanya lalu menggendong Bella ke atas pundaknya, dan membuat Bella bisa menikmati hujan dari tempat yang lebih tinggi lagi. Papanya berlari-lari berkeliling membawa Bella kecil yang suasana hatinya menjadi berubah sangat ceria hari itu. Bella membuka matanya dan tersenyum. Ternyata bukan hanya kenangan buruk tentang papanya di saat hujan yang ia punya. Tapi kenangan indah pun juga ada, yang entah kenapa bisa ia lupakan begitu saja. Setelah ini, di saat hujan ia bertekad untuk mengingat kenangan manis itu. Bella maju selangkah dan mengulurkan tangannya, merasakan air hujan yang turun dengan tangannya. Hal itu membuat Rama tertegun, tak menyangka kata-katanya dapat membuat hati Bella beralih dari takut dengan hujan menjadi bisa menikmati hujan dengan tenang. "Tunggu bentar ya Bel," kata Rama kemudian. Bella menoleh ke Rama untuk mengetahui maksud Rama, ternyata Rama masuk ke dalam minimarket tersebut. Tak lama kemudian lelaki itu keluar sambil memamerkan sebuah jas hujan. "Udah berani buat kenangan indah yang baru dengan hujan kan?" Bella tersenyum terperangah, tak menyangka Rama akan melakukan hal itu. Bella mengangguk lalu menerima jas hujan yang Rama berikan. Hari ini, di hari ulang tahun Bella, hujan turun. Namun Bella sedang bersama seseorang yang spesial, yang membuat hujan tak lagi menakutkan. Di bawah rintik hujan, Rama membawa Bella dengan sepeda motornya. Dalam balutan jas hujan, mereka bernyanyi bersama dengan riang. Bella merentangkan tangannya dan kedua telapak tangannya merasakan air yang turun dari langit itu. Meskipun malam itu dingin, namun hatinya tetap hangat. Rama benar-benar memberikan kenangan indah yang baru di saat hujan turun untuk Bella. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN