Jadi suatu hari itu kita tersadar darimana awalnya cinta,
yaitu saat aku memandangmu,
dan kau pun balik menatapku.
***
Bella merasa benar-benar sudah baik-baik saja, dan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat ia di rawat kemarin. Kali ini ia akan bertemu dengan laki-laki yang kemarin sudah celaka oleh kecerobohannya. Ari bilang nama laki-laki itu Rama Aditya. Segera ia bergegas menuju kamar rawat inap Rama.
Mungkin karena terlalu tergesa-gesa, lagi-lagi Bella tidak hati-hati. Saat akan berbelok di sudut ruangan, dari arah berlawanan seorang laki-laki memacu kursi rodanya cukup cepat. Mereka berdua bertabrakan, dan Bella pun terjatuh.
"Maaf," laki-laki yang tadi nampaknya mengejar sesuatu mengalihkan pandangannya ke Bella dengan wajah merasa bersalah. Rasa bersalahnya makin bertambah karena ia tak bisa membantu Bella berdiri.
"Nggak papa. Aku yang nggak hati-hati," ucap Bella sambil berusaha berdiri.
"Rama, lo dari mana aja sih gue cariin?" terdengar seseorang tiba-tiba datang menghampiri laki-laki itu.
"Rama?" batin Bella dalam hati. Ia pun segera menatap laki-laki itu, benar saja, laki-laki berkursi roda itu mirip dengan laki-laki yang kemarin tertabrak mobil. Bella yakin ia adalah Rama yang Bella cari.
"Tadi gue lihat Citra Ton," Rama menjawab pertanyaan temannya itu.
Toni mengalihkan pandangannya ke gadis di hadapan Rama itu. Rambut poni dikuncir, wajah cantik yang natural, mata bulat dan bibir tipis yang dipoles lip balm, menggunakan blouse putih, regular fit jeans dan flat shoes. Wajah dan gayanya benar-benar sangat berbeda dengan Citra yang diingat Toni suka dengan style yang on point.
"Aduh jangan kumat lagi deh Lo. Mana mungkin ada Citra. Ini yang di hadapan Lo orang lain, bukan Citra," kata Toni keki. Diusapnya poni yang terjuntai di dahinya.
"Iya memang bukan mbak ini maksud gue, tapi tadi gue liat Citra pergi ke arah sana," Rama menunjuk ke arah pintu keluar.
Toni menghembuskan nafas kesal, ia mendekatkan dirinya ke telinga Rama dan berbisik, "Ram, Citra udah nggak ada."
Rama menutup matanya, ia berusaha membuat dirinya tenang, dan menghilangkan halusinasinya tadi. Lagi-lagi ia kembali menjadi dirinya yang dulu. Orang menyedihkan yang tidak bisa menerima takdir ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.
"Sorry Ton," ucap Rama pelan. Ia kembali membuka matanya.
Bella merasa canggung dengan keadaan di depannya. Tapi ia sudah bertemu dengan Rama, ia harus melaksanakan niatnya untuk menjenguk Rama dan mengucapkan permintaan maaf. Ia melambaikan tangannya di depan d**a untuk menarik perhatian dua orang di depannya.
"Hai," ucapnya sedikit ragu.
Rama dan Toni pun menatap Bella.
"Kok kayak pernah lihat ya?" gumam Rama, hampir kepada dirinya sendiri.
"Iya ini aku yang kemarin hampir kamu tabrak. Aku kesini mau jenguk kamu dan minta maaf sama kamu," ucap Bella. Ia senang karena akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf.
"Oh, Bella ya?" celetuk Toni.
Bella mengangguk, "iya. Ari udah cerita ya?"
"Iya. Lo udah baikan? Ari bilang kemarin Lo pingsan?"
"Iya, aku udah nggak papa kok," kata Bella sambil tersenyum.
"Ehem, kok gue dikacangin ya?" Protes Rama.
"Ck, apaan sih Ram? Ya udah yok kita ke kamar Lo biar enak ngobrolnya," Toni segera meraih pegangan kursi roda Rama.
"Yuk Bel, ikut kita," ajak Toni.
"Aku boleh ikut?" tanya Bella memastikan.
"Iya, tadi kan Lo bilang mau jenguk Rama. Boleh kan Ram?"
"Dia bawa pie. Gue suka banget makan pie," lanjut Toni sambil berbisik.
"Bikin malu aja Lo!" Balas Rama yang juga berbisik. Ia tahu bagaimanapun juga Bella bisa mendengar Toni karena mereka berdiri sangat dekat.
Bella tersenyum geli melihat tingkah Toni dan Rama. Ia juga menantikan izin dari Rama, apakah ia boleh ikut ke kamar rawat inap Rama atau tidak.
"Yok Bella, ikut aja," ajak Rama.
Toni tersenyum senang karena Rama mengizinkan Bella ikut bersama mereka. Ia mulai mendorong kursi roda Rama dengan semangat. Bella dari belakang menyusul. Mereka bertiga menyusuri koridor rumah sakit di lantai lima itu dan berhenti di depan sebuah kamar. Toni membuka pintu kamar itu dan mereka bertiga pun masuk. Ternyata di dalam sudah ada Hana yang dari tadi menunggu.
"Kalian dari mana?" tanya Hana.
"Eh Hana, udah nyampe? Kita tadi lagi nyari angin. Hehehe..." jawab Toni asal. Ia segera membantu Rama kembali ke tempat tidurnya.
"Itu siapa?" Hana kembali bertanya sambil menunjuk Bella. Seingatnya ia tidak pernah melihat Bella sebelumnya.
"Oh ini," Toni membalikkan badannya untuk melihat Bella, "dia Bella, yang kemarin hampir ditabrak Rama."
"Bella kenalin, itu Hana, sahabat gue dan Rama, sekaligus ibu kost kami. Oh iya gue lupa ngenalin diri gue sendiri. Gue Toni, brother nya Rama," Toni menjelaskan dengan sangat ramah.
"Ih, kok ibu kost?" Hana komplain dengan penjelasan Toni.
"Kan Lo sering gantiin bunda buat minta uang sewa bulanan," kata Toni sambil menyengir. Hana membalas dengan dengusan.
"Hai, Rama, Toni, dan Hana. Kenalin aku Bella," Bella ikut memperkenalkan diri setelah tersenyum kecil melihat tingkah Toni dan Hana, "dan aku kesini mau jenguk Rama sekaligus mau minta maaf ke Rama. Soalnya karena aku, Rama jadi ketabrak mobil. Aku benar-benar menyesal atas kejadian kemarin," lanjut Bella.
"Udah, santai aja. Jangan merasa bersalah. Namanya juga kecelakaan," sahut Rama.
"Iya Bel, Lo udah mau bantu bayarin biaya perawatan Rama aja udah bersyukur banget kita. Oh iya, sini yang Lo bawa biar ditarok di meja aja. Pegel ntar kalau ditenteng mulu," Toni ikut menanggapi perkataan Bella sambil menunjuk bungkusan yang dibawa Bella.
"Oh iya ini, dimakan ya. Sengaja aku bawa banyak biar yang jagain Rama juga bisa ikut makan," ucap Bella sambil menyerahkan pie dan buah yang dibawanya kepada Toni. Setelah itu mereka pun kembali berbincang, dan Bella sangat bersyukur karena Rama serta teman-temannya tidak menyalahkan Bella atas apa yang terjadi terhadap Rama. Malah mereka sangat ramah dan menyambut Bella sangat baik. Bella merasa seperti sudah berteman lama dengan mereka.
"Sebenarnya aku penasaran, waktu kamu diangkat ke mobil dan mata kita nggak sengaja ketemu, kenapa kamu senyum? Memangnya kamu nggak kesakitan ya?" tanya Bella kemudian kepada Rama.
"Siapa juga yang nggak bakal senyum liat bidadari secantik lo?" jawab Rama iseng. Hal itu membuat wajah Bella memerah.
"Woy, lo godain cewek orang lho," Toni mengingatkan.
"Gue bercanda Ton, ah serius amat," kata Rama sambil terkekeh. Sebenarnya ia tersenyum karena ia pikir ia bisa bertemu lagi dengan Citra. Tapi ternyata Tuhan masih menyelamatkan nyawanya. Dan lagi pula kalau ia mengatakan yang sebenarnya, pasti Toni lagi-lagi akan mengomelinya. Belum lagi Hana yang nanti jadi bersedih melihat Rama yang masih belum bisa bangkit dari keterpurukannya.
"Sorry ya Bel, ini mungkin gara-gara efek kepalanya kebentur. Kan lo liat sendiri, kepalanya sampai diperban gini," jelas Toni.
"I... Iya," kata Bella sambil tertawa canggung. Matanya tak sengaja melirik ke arah Hana yang wajahnya berubah menjadi tidak senang. Hal itu membuat Bella merasa menjadi tidak enak. Ia pun mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Dan sepuluh menit kemudian ia pamit agar Rama bisa beristirahat.
***
Hari ini adalah hari ke tiga Rama di rawat di rumah sakit. Kini ia hanya sendirian di kamar inapnya, karena ia melarang Toni dan Hana untuk bolos kuliah lagi. Ia hanya mengizinkan Toni dan Hana datang saat pagi dan siang hari, karena Toni dan Hana kuliah di malam hari.
Tanpa Rama duga, seseorang mengetuk pintu kamar inap Rama. Lalu sosok Bella muncul dari balik pintu dengan senyuman manisnya. Tangannya menjinjing bungkusan berisi roti dan buah. Rama yang tadi berbaring pun segera duduk.
"Hai Ram," sapa Bella ramah.
"Bella? Lo kesini lagi? Masuk aja," Rama menyuruh Bella masuk karena Bella hanya berdiri di depan pintu saja. Bella pun segera masuk dan meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja yang ada di samping ranjang Rama. Ia kemudian duduk di kursi yang ada disana.
"Repot-repot banget kesini," kata Rama. Tapi sebenarnya ia senang Bella datang, karena ia merasa bosan sendirian di ruangan itu.
"Nggak papa Ram. Aku dengar dari Toni kalau dia dan Hana kuliah malam. Jadi pasti mereka nggak bisa nemenin kamu kan setiap malam. Kebetulan juga aku free kalau malam. Makanya aku kesini," jelas Bella.
"Makasih ya Bel," ucap Rama. Bella pun mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya, kamu udah makan malam belum?" tanya Bella kemudian.
"Belum."
"Kok belum? Susternya belum anterin makanan?"
"Udah kok. Itu di samping makanan yang Lo bawa. Tadi gue belum lapar aja."
Bella segera mencari makan malam Rama di atas meja, dan langsung menemukannya, "oh iya ada, tadi aku nggak liat. Kalau sekarang kamu udah lapar?"
"Udah sih. Tapi gue tunggu Toni aja. Dia tidur disini kok nanti," jelas Rama. Ia merasa kesulitan kalau harus makan sendiri dengan kondisinya saat ini.
"Lho, kenapa harus tunggu Toni? Kan kamu laparnya sekarang? Biar aku bantuin ya?" kata Bella sambil mengambil makan malam Rama. Ia membuka plastik wrap yang membungkus piring itu.
Bella hendak menyerahkan piring itu kepada Rama, tapi melihat tangan Rama yang di gips, pasti Rama akan kesulitan untuk menyuap makanan sendiri. Sekarang ia baru paham kenapa Rama memilih untuk menunggu Toni saja. Tapi Bella sudah terlanjur membuka plastik pembungkus makan malam Rama. Dengan sedikit ragu, Bella menawarkan diri untuk menyuapi Rama.
"Boleh... aku suapin?" tanya Bella. Ia berharap Rama tidak berpikir kalau Bella terlalu lancang.
Rama kaget dengan tawaran Bella. Tapi ia juga tak tahu bagaimana caranya menolak.
"Bo... Boleh."
Rama tak menyangka Bella mau menawarkan bantuan seperti itu kepada orang yang baru dikenalnya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ada orang sebaik Bella. Ia sudah membayarkannya biaya rumah sakit Rama, menjenguk Rama, dan sekarang mau membantu Rama untuk makan malam.
Bella mulai menyuapi Rama. Meski awalnya keduanya canggung, namun lama kelamaan Rama berusaha bersikap biasa saja agar kesungkanan Bella menghilang.
"Enak lho," kata Rama berusaha mencairkan suasana.
"Masa sih? Bukannya banyak orang yang bilang kalau makanan rumah sakit nggak enak?" tanya Bella tak percaya.
"Nggak tahu juga ya. Mungkin karena Lo yang nyuapin jadi ada rasanya nih makanan," kata Rama sambil tertawa cengengesan. Hal itu membuat Bella jadi salah tingkah dan wajahnya yang putih pucat pun menjadi memerah.
Rama seketika terpesona dengan wajah malu-malu Bella. Wajahnya yang hampir tak mengenakan make up itu memancarkan kecantikan natural yang begitu memikat. Wajah yang bisa dikatakan sempurna. Walaupun gayanya cukup sederhana, tapi ia punya aura yang kuat. Membuat siapa saja tak mampu melepaskan pandangannya dari Bella.
Bella yang merasa ditatap oleh Rama, balik menatap Rama.
Dua mata dalam indah milik Rama memerangkap bola mata Bella, membuat Bella tak mampu berpaling dari lelaki berwajah tampan itu. Bahkan rambut Rama yang sedikit berantakan itu tak memudarkan kharismanya. Namun belum sempat Bella meneliti berbagai keindahan yang terpahat di tiap sudut wajah Rama, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari luar. Bella yang kaget pun secara tak sengaja menjatuhkan sendok yang masih berisi makanan ke atas bajunya.
"Eh, ada orang?" kata Toni, orang yang baru datang itu. Ia bergegas mendekati Rama dan Bella.
"Eum Ton, tolong lanjutin ya. Aku mau ke toilet dulu," ucap Bella sambil memberikan makanan Rama kepada Toni. Tanpa menunggu persetujuan Toni, Bella langsung berlalu ke toilet untuk membersihkan bajunya.
"Kenapa tuh Bella? Lo apain?" tanya Toni penuh selidik.
"Nggak gue apa-apain. Takut kali sama Lo," kata Rama asal.
"Enak aja. Emang gue serem?"
"Iya serem."
"Gue ini ganteng, nggak serem," kata Toni narsis.
"Gantengan gue," Rama tak mau kalah narsis.
"Iya deh Abang ganteng, nih makan lagi ya," kata Toni sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi.
"Mimpi apa Lo semalam sampai-sampai tadi bisa disuapin bidadari?" goda Toni.
"Apaan sih, kan Bella terpaksa nyuapin gue gara-gara tangan gue patah," kata Rama sambil memalingkan wajahnya dari Toni, menyembunyikan ekspresinya yang sedang salah tingkah. Sebenarnya tadi ia sempat merasa berdebar sesaat karena Bella.
"Ooh gitu. Lo sih gak sabaran nunggu gue. Kalau Bella jadi jatuh cinta gara-gara nyuapin Lo gimana? Kan Lo ganteng-ganteng gemesin gimana gitu," kata Toni sambil tertawa terkekeh.
"Ih, merinding gue denger Lo ngomong kayak gitu," Rama memasang ekspresi jijik. Tapi hal itu malah membuat tawa Toni makin kencang.
"Nggak usah ngomong macem-macem Lo, nanti Bella denger!" Omel Rama hampir berbisik.
"Iya... Iya..." ucap Toni sambil berusaha meredakan tawanya.
Sementara itu di dalam toilet, Bella masih merasa enggan untuk keluar. Rasanya ia begitu malu dan juga heran dengan dirinya sendiri yang entah kenapa berdebar saat saling bertatapan dengan Rama tadi. Ia butuh waktu untuk menormalkan detak jantungnya lagi. Tapi ia juga tidak ingin membuat Rama dan Toni menunggunya terlalu lama. Siap tak siap, Bella harus berusaha bersikap normal di hadapan dua sahabat itu.
Rama menangkap sosok Bella yang baru keluar dari toilet. Ia sekarang semakin menyadari bahwa Bella benar-benar cantik dan beraura lemah lembut. Mungkin waktu kecelakaan ia tak hanya tersenyum untuk Citra, tapi juga untuk Bella.
***
"Bel, ini udah lima hari lho. Aku rasa udah cukup deh kamu jenguk Ramanya," Ari mengutarakan protesnya kepada Bella. Sebenarnya ia tak suka Bella mengurusi Rama terus. Ia merasa Bella terlalu berlebihan. Ia bahkan tak yakin orang yang menabrak Rama juga menjenguk Rama setiap hari.
Mereka baru saja selesai kuliah. Dan Bella mengatakan ingin pergi ke rumah sakit lagi untuk menjenguk Rama.
"Tapi Rama belum pulih Ri. Kamu tahu nggak sih, tangannya itu patah. Aku kasian sama dia," jelas Bella.
Ari yang tadinya berjalan bersama Bella di koridor kelas menghentikan langkahnya. Ia menghadapkan wajahnya ke arah Bella.
"Aku tahu Bel. Tapi aku rasa kamu udah cukup bertanggung jawab. Kamu udah bayarin biaya rumah sakitnya, kamu juga udah minta maaf. Nggak mungkin kan kamu ngerawat dia sampai sembuh?"
Bella terdiam sejenak, dan hanya bisa menghela napas.
"Memang sampai kapan kamu mau terlibat terus dengan dia? Kalau udah tanggung jawab ya udah. Memangnya kamu mau ngurusin dia selamanya? Dan kamu bakal cuekin aku terus?" kata Ari lagi.
Kali ini Bella mengerti. Sebenarnya Ari hanya cemburu karena Bella memperhatikan laki-laki lain selain dirinya. Hati kecilnya pun mendesaknya untuk mengikuti kemauan Ari.
"Oke Ri. Tapi boleh kan hari ini aku kesana untuk yang terakhir kalinya aja. Aku mau pamit. Aku nggak mau tiba-tiba hilang gitu aja."
"Ya udah," Ari berusaha mengalah, "aku antar ya."
Bella mengangguk. Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan dan menuju tempat parkir. Supir Ari sudah setia menunggu disana. Menit kemudian mereka bertiga pun pergi meninggalkan kawasan kampus Bella dan Ari untuk menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Bella langsung membawa Ari menuju kamar inap Rama. Tapi saat melapor ke suster piket disana, suster tersebut mengatakan bahwa Rama sudah pulang.
"Mbak namanya Bella Adelina ya?" tanya suster itu. Bella mengangguk.
"Tadi Mas Rama titip pesan katanya kalau Mbak Bella kesini dia mau bilang terimakasih udah mau bantu bayar biaya perawatannya dan jenguk dia setiap hari."
"Saya boleh minta alamatnya sus? Atau nomor HP nya?" tanya Bella. Walaupun sudah lima hari berturut-turut menjenguk Rama, tapi ia dan Rama belum sempat bertukar nomor.
"Kalau itu maaf, saya nggak bisa kasih. Karena data pasien tidak bisa diberikan begitu saja ke orang lain. Dan lagi pula mas Rama bilang dia nggak mau nyusahin mbak Bella lagi. Jadi mbak Bella nggak papa kok nggak jenguk dia lagi," jelas suster itu lagi.
"Yaaaah, Ri..." Bella menatap Ari dengan wajah kecewa.
"Ya mau gimana lagi kan Bel? Dia pasti juga ngerasa nggak enak karena kamu jadi harus repot-repot jenguk dia tiap hari," kata Ari. Di sisi lain sebenarnya dia senang karena Rama sendiri yang menghilangkan dirinya dari hidup Bella. Sementara Bella hanya bisa cemberut.
"Oh iya mbak, mas Rama nitip bunga ini untuk mbak Bella. Katanya sebagai ucapan terimakasih," kata suster itu kemudian sambil menyuguhkan sebuah buket bunga mawar artificial. Bella pun menerima buket bunga itu. Setidaknya itu bisa menghiburnya sedikit.
"Makasih sus," ucap Bella sambil tersenyum.
"Sama-sama mbak," jawab suster itu.
"Ya udah kalau gitu makasih informasinya ya Sus," ucap Ari kemudian kepada suster piket.
"Sama-sama," jawab suster itu.
Ari mengajak Bella untuk kembali ke mobil agar mereka bisa pulang. Bella hanya mengangguk pasrah dan berjalan dengan tidak semangat. Hal itu membuat Ari menjadi heran.
"Kenapa segitunya sih? Dia kan bukan siapa-siapa," tanya Ari sedikit keki.
"Bukannya gitu Ri. Aku cuma masih ngerasa nggak enak aja sama Rama. Dia tinggal sendiri lho disini. Orang tuanya tinggal di kota lain. Siapa yang mau ngerawat dia di rumah sampai sembuh? Kenapa sih aku nyusahin orang lain terus?" Bella mengeluarkan semua hal yang membebani pikirannya. Rasa bersalah dan tidak enak kepada Rama masih juga belum bisa pergi dari hatinya.
"Kamu jangan merasa bersalah terus. Kan Rama sendiri yang pergi gitu aja. Itu berarti dia punya orang lain yang bisa bantuin dia. Kamu ini cuma orang asing bagi dia Bel. Nggak mungkin lah dia minta kamu rawat dia di rumahnya," Ari mencoba memberi penjelasan kepada Bella.
"Iya sih..."
"Ya udah, jangan cemberut lagi ya?" pinta Ari.
"Iya sayang," Bella berusaha memberikan senyuman manja kepada Ari.
"Ya udah, berarti habis ini aku bisa fokus cari kerjaan sambilan biar bisa bayar hutang aku ke kamu," kata Bella kemudian.
"Duh, kan udah aku bilang nggak usah. Kamu juga udah bayar setengah biaya perawatan Rama pakai tabungan kamu. Setengahnya lagi nggak papa aku bayarin," tolak Ari. Ia memprediksi kalau Bella sampai kerja sambilan, pasti waktunya bersama Bella akan semakin berkurang. Lagipula ia juga tidak mau mempermasalahkan uang yang dipinjamkannya ke Bella itu. Karena ia merasa tak terbebani sama sekali.
"Aku bilangnya ke kamu pinjam, bukan minta. Jadi harus aku balikin dong," Bella masih keuh-keuh dengan pendapatnya.
"Tapi nanti kuliah kamu terlantar gimana?" Ari masih berusaha menggagalkan niat Bella untuk mencari kerja sambilan.
"Aku yakin aku pasti bisa kok bagi waktu. Kamu tenang aja, nggak usah khawatir gitu."
"Ya udah," Ari lagi-lagi mencoba mengalah, "tapi jangan terlalu dipaksain. Kalau nggak dapat kerjaannya kamu fokus kuliah aja."
"Pasti dapat kok," ujar Bella optimis.
"Iya... Iya..." Ari hanya bisa membiarkan Bella. Dalam hati ia berharap Bella mengurungkan niatnya dan bisa lebih perhatian kepada dirinya.
***