Takdir

2573 Kata
Ketika takdir sudah berkata, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi kita untuk bertemu lagi. Meski kau memutuskan untuk pergi, meski aku memutuskan untuk membiarkan. Tapi lagi-lagi aku bertanya, apakah pertemuan kita akan berakhir bahagia, tanpa melukai aku, kau, dan yang lainnya? *** Pagi yang hangat menjadi saksi dedaunan kering berjatuhan dari pohon. Seketika sebuah langkah membuat suara dari remukan daun-daun kering yang tertumpuk di atas tanah. Langkah itu terus menapak, menuju sebuah pusara. Lelaki si pemilik langkah lengkap dengan setelan hitam dan sepatu boots-nya segera meringkuk, sembari mengelus papan nisan putih di atas pusara itu. Ia merindukan orang itu. Sangat merindukan. Sampai-sampai hampir setiap malam ia memimpikan orang itu. Ditaburkannya kelopak bunga yang tadi dibawanya. Dan ia pun mulai mendo'akan orang yang dirindukannya itu. Orang yang selalu ia sebut namanya dalam do'a dimanapun ia berada. Ia sudah berjanji untuk tidak akan menangisi gadis itu lagi. Tapi, dadanya sudah terlalu sesak menahan rindu, melalui hari yang berat tanpa gadisnya. Ia tak bisa menahan air matanya lagi. Dipeluknya papan nisan bertuliskan nama gadis itu. "Maafin aku.... aku cuma rindu sama kamu," ucapnya lirih. Lagi-lagi ia terlihat menyedihkan. Lagi-lagi ia tak bisa menepati janjinya. Ia hanya ingin menumpahkan semua kesedihannya hari ini. Entah berapa lama ia menangis disana. Ia memutuskan untuk berhenti. Ia ingin menyudahi kesedihannya. Ia ingin melanjutkan hidupnya dengan baik, seperti harapan gadisnya. Lelaki itu bergegas berdiri, dan sekali lagi melihat makam itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Saat ia memutuskan untuk menyudahi kunjungannya dan menoleh ke depan, ia mendapati sesosok perempuan yang sedang mengunjungi makam yang tak jauh dari makam yang ia kunjungi. Insting perempuan itu merasa ada yang memperhatikannya, perempuan itu pun balik melihat kearah lelaki itu. "Rama?" Rama tak menyangka akan bertemu Bella disana. Bella memberi tanda agar Rama mau menunggunya. Rama pun menyanggupinya, lalu menunjuk tempat parkir, mengatakan bahwa ia akan menunggu disana. Bella pun mengangguk dan membiarkan Rama pergi. Lima menit kemudian Bella sudah menyusul Rama ke tempat parkir. Berbeda dengan Rama yang menggunakan pakaian serba hitam, Bella menggunakan pakaian serba putih. Rambut panjangnya ia biarkan jatuh terurai dan tertutup selendang. Meski masih ada sisa kesedihan di matanya, ia masih terlihat cantik. "Hai," Rama membuka percakapan agar tidak terlalu canggung. "Hai Ram," balas Bella sambil tersenyum. "Maaf gue tiba-tiba hilang," ucap Rama. Ia tahu tindakannya salah dan merasa tidak enak dengan Bella. Tapi ia juga tidak ingin Bella bertanggung jawab terlalu banyak untuk dirinya. Ia tidak ingin menyusahkan orang lain lagi. Selain itu, ia juga memiliki alasan lain. "Nggak papa Ram," ucap Bella maklum, "gimana keadaan kamu? Tangan kamu udah sembuh?" "Iya gue udah sembuh kok. Makanya gue udah bisa bawa motor lagi." "Syukurlah," ucap Bella senang. Selama ini Bella selalu kepikiran tentang Rama. Ia khawatir apa Rama bisa menjalani hari-harinya dengan baik-baik saja setelah kecelakaan yang menimpanya. Dan untungnya hari ini Bella sudah mengetahui keadaan Rama. Rasanya ia dapat bernapas lega sekarang. "Kabar Toni sama Hana gimana?" Tanya Bella kemudian. "Mereka baik-baik aja kok." Bella tersenyum mendengar perkataan Rama. "Aku habis ziarah ke makam papaku. Beliau meninggal lima tahun yang lalu," kata Bella kemudian. Rama menatap Bella prihatin, "pasti berat bagi anak perempuan kayak lo, harus ditinggal sosok ayah secepat itu. Yang sabar ya," Rama berusaha menguatkan Bella. Bella mengangguk. "Kamu juga yang kuat ya," Bella balik menyemangati Rama. Walau ia tidak tahu siapa yang dikunjungi Rama di taman makam ini, tapi melihat mata Rama yang sampai sembab begitu membuat Bella yakin orang itu adalah orang yang sangat berarti bagi Rama. Dan Rama begitu kehilangan orang itu. "Iya Bel," ucap Rama sedikit lirih. Ia berusaha membuang kesedihannya dan mengalihkan pembicaraan. "Lo abis ini mau kemana?" "Aku mau ke tempat kerja. Kamu?" "Gue mau cari kerja. Hehe..." jawab Rama. Selama sebulan masa penyembuhannya, ia berhenti bekerja dan hanya hidup dari uang tabungannya. Kini semua uang tabungannya sudah terkuras habis, dan ia harus mendapatkan pekerjaan baru untuk membiayai hidupnya. "Kamu cari kerjaan yang gimana?" tanya Bella. "Gue kerja apa aja oke sih. Lagi cuti kuliah juga, jadi jam berapa pun gue bisa kerja," jelas Rama. "Pas banget!" Bella menjentikkan jarinya, membuat Rama menoleh penasaran. "Cafe tempat aku kerja lagi butuh pelayan tambahan. Kalau kamu mau, aku bisa rekomendasiin kamu sama bos aku," ucap Bella dengan mata berbinar. Mungkin ini kesempatan baginya untuk membalas kebaikan Rama yang sudah secara tak langsung mengorbankan diri untuk Bella. "Wah yang benar?" Rama merasa bersemangat mendengar kabar dari Bella itu. Kebetulan sekali ia membutuhkan pekerjaan secepatnya, dan mungkin dengan bantuan Bella, ia bisa mendapatkan pekerjaan baru. "Iya. Kalau gitu gimana kalau kita pergi sekarang? Mumpung aku juga udah mau masuk kerja bentar lagi, jadi kita sekalian kesana." "Oke," ujar Rama. Mereka berdua pergi ke sepeda motor masing-masing, dan Rama pun mengikuti Bella dari belakang. *** "Rama Aditya. Hasil interview bagus, pengalaman kerja oke, tampang di atas rata-rata, jadi besok kamu suruh teman kamu langsung kerja aja ya. Datang jam satu," ucap Bu Farah, pemilik cafe Coffee Time tempat Bella bekerja, saat Bella hendak pulang ke rumah. Ia sangat senang karena bisa mendapatkan karyawan yang sangat sesuai dengan kriteria yang ia butuhkan. "Wah yang benar Bu? Jadi Rama diterima kerja disini? Makasih ya Bu!" Bella tak kalah senangnya dari Bu Farah. Akhirnya ia bisa menjadi berguna juga untuk Rama. "Iya. Tapi kamu bilang ke dia ya rambutnya harus dikuncir biar rapi," Bu Farah mengingatkan. "Iya Bu pasti. Kalau gitu saya pamit pulang ya Bu!" Bella meninggalkan coffee time dengan perasaan riang. Rasanya ia tak sabar untuk sampai ke rumah agar bisa menghubungi Rama secepatnya. Sesampainya di rumah, Bella langsung pergi menuju kamarnya. Dikeluarkannya HP-nya dan ia langsung menelepon Rama. Tadi ia dan Rama sudah saling bertukar nomor HP, karena Bella tidak mau kehilangan kontak dengan Rama lagi. Kalau Rama tidak diterima di cafe tempat ia bekerja, Bella berencana untuk terus membantu Rama mencari pekerjaan, dan memberikan info kepada Rama jika ia menemukan lowongan pekerjaan. "Halo?" sapa Rama setelah ia mengangkat teleponnya. "Halo, Ram. Aku ada kabar gembira! Bu Farah nerima kamu. Besok kamu disuruh datang jam satu," ucap Bella bersemangat. "Oh ya? Syukurlah..." Rama merasa sangat senang mendengar kabar itu, "makasih ya Bel, berkat lo, gue bisa dengan mudah dapetin pekerjaan," lanjut Rama. "Iya sama-sama. Aku juga seneng bisa bantu kamu, apalagi bisa satu tempat kerja sama kamu," kata Bella sambil tersenyum. Pertemuan singkatnya dengan Rama di rumah sakit sudah cukup membuat Bella yakin bahwa Rama adalah orang yang baik. Ia juga lucu dan tulus. Pasti akan sangat menyenangkan bisa menjadi teman Rama, pikir Bella. Rama ikut tersenyum mendengar perkataan Bella. "Tapi Ram," Bella kembali berbicara, "apa kamu berhenti dari pekerjaan kamu sebelumnya karena kecelakaan itu?" Rama terperangah. Ia tak menyangka Bella bisa menduga seperti itu. Tapi Rama tidak ingin membuat Bella merasa bersalah lagi. "Hahaha... Nggak kok. Gue memang mau berhenti dari tempat kerja lama. Abis bosnya rese," kata Rama. Ia berharap penjelasannya bisa membuat Bella percaya. Tapi ternyata tetap saja Bella merasa semua itu terjadi karena dirinya. "Maaf ya Ram. Gara-gara aku kamu jadi kesusahan," ucap Bella sedih. "Lo gak usah minta maaf terus. Lo nggak salah kok. Mantan bos gue tu yang salah," kata Rama sambil terkekeh. Bella pun akhirnya ikut tertawa. "Oke kalau gitu sampai ketemu besok ya," ucap Rama kemudian. "Iya Ram. Jangan lupa rambutnya dikuncir besok." "Haha... Siap!" Bella dan Rama mengakhiri telepon itu. Mereka berdua sama-sama bersemangat untuk hari esok. Rama bersemangat dengan pekerjaan barunya, sedangkan Bella bersemangat karena akan bekerjasama dengan Rama. Ia berharap semua akan berjalan baik-baik saja kedepannya. *** Cinta duduk di balkon sebuah villa. Ia mengamati penampilannya setelah sedikit berdandan dari layar kamera hand phone-nya dan merapikan rambut medium bobnya yang sedikit tertiup angin. Setelah dirasa cukup rapi, ia pun berpose untuk melakukan swa foto. Tidak ada siapa-siapa disana sehingga ia sangat nyaman melakukan apapun disana. Day 7. Tulisnya untuk keterangan foto yang baru saja di unggahnya. Ya, sudah seminggu Cinta menikmati liburan semesternya, dan ia menghabiskan masa liburannya di Jogja bersama Tante dan sepupu perempuannya, Shana. Sebenarnya ia tidak begitu suka kalau harus ke kota ini, karena kota ini menjadi tempat melarikan diri ibunya. Ibunya yang dengan tega meninggalkannya dengan ayahnya yang kejam sendirian, dan hanya membawa saudara perempuannya. Tapi toh kini mereka berdua sudah meninggal, dan Cinta pun juga sudah diselamatkan oleh Tantenya sehingga ia tak perlu tinggal lagi dengan ayahnya, yang sekarang malah dipenjara karena sudah menipu banyak orang. Cinta malah menganggap ayahnya sudah mati. Kini baginya keluarganya hanyalah tantenya dan juga suami serta anak tantenya. Namun sebelum tantenya menyelamatkannya, ada seseorang yang lebih dulu sudah dianggapnya rumah, tempat ia menumpahkan keluh kesah dan kesedihannya. Ia adalah Ari, sahabatnya sejak SMP. Mereka dulu selalu menghabiskan waktu berdua, melarikan diri dari dunia dan membuat banyak masalah, semata-mata hanya untuk merasakan kebahagiaan. Namun sekarang Ari hanya ada untuk Bella. Rasanya Cinta sangat sedih sekali. Padahal Cinta sudah menganggap Bella sebagai sahabat terbaiknya setelah Ari, tapi kini Cinta sangat kecewa dengan Bella. Sudah setengah jam berlalu dan foto yang diunggah Cinta sudah mendapatkan banyak komentar, bahkan banyak laki-laki yang mengirimkannya pesan. Tapi tak ada satupun yang ia gubris. Yang ia tunggu hanya respon dari Ari, yang sekarang tengah megunjungi pamannya di Sydney. Sejak hari pertama masa liburan, Ari tak pernah menghubunginya sama sekali. Padahal dulu sebelum berpacaran dengan Bella, Ari sering menghubungi Cinta saat ia liburan ke rumah pamannya yang sering berpindah-pindah negara untuk memanas-manasi Cinta yang punya impian liburan ke luar negeri tapi belum pernah kesampaian. Walaupun kesal namun hal itu bisa membuat kerinduannya dengan Ari sedikit terbayarkan. Cinta kemudian berpikir, mungkin sekarang yang Ari hubungi hanya Bella seorang. Rasanya ia sedih dan marah memikirkan hal itu. Namun tiba-tiba terlintas di benaknya untuk mencari celah mengganggu hubungan Ari dan Bella. Video call aja kali ya? Batinnya. Ia segera membuka aplikasi w******p dan memencet tombol video call grup yang beranggotakan dirinya, Ari dan Bella. Tak lama kemudian Bella sudah mengangkat video call tersebut, diikuti Ari. "Hai...." Sapa Cinta dengan ceria dan penuh semangat. "Hai Cin," sapa Ari balik. Ia tampak sedang ada di area outdoor sebuah restoran, mungkin baru saja selesai makan siang. Langitnya cukup cerah sehingga pesona Ari terpancarkan dengan sangat baik. Rambut ikalnya yang pendek, kulit sawo matang, wajah yang tampan dan manis, adalah hal lain yang membuat Cinta jatuh hati kepada Ari selain kenangannya dulu dengan Ari. "Hai Cin, tumben video call grup?" Tanya Bella. Sementara Bella sendiri tampak sedang ada di kamarnya. Meski tak mengenakan make up sama sekali, tapi ia tak kalah cantik dari Cinta. "Kangen sama kalian tahu..." Kata Cinta dengan nada manja. "Ya elah Cin, baru juga seminggu nggak ketemu," Ari menertawakan Cinta. Membuat Cinta menggerutu. Tapi dalam hati ia merasa senang bisa melihat tawa Ari. "Kamu bisa bilang gitu karena video call-an tiap hari sama Bella kan?" Sungut Cinta. "Nggak tiap hari kok. Baru juga sekali," Bella memberikan klarifikasi. "Hah? Masa sih? Gimana sih kamu jadi pacar Ri? Nggak perhatian banget," Cinta berlagak mengomeli Ari. Ari pun membela diri, "ya abis gimana? Bella sibuk kerja. Kalau dia udah selesai kerja kan harus istirahat. Nggak bisa dong aku gangguin. Lagian disini lebih cepat tiga jam, jadi aku udah ketiduran." "Ooh gitu. Susah juga ya," Cinta menimpali. "Ya memang. Lagian kamu Bel, udah aku bilang kamu nggak perlu kerja. Jadi berkurang kan waktu kita," omel Ari. "Kamu yang sabar dong Ri. Aku kan kerja cuma sampai hutang aku lunas aja," Bella tetap pada pendiriannya. Ari pun hanya melengos, sudah bosan dengan sifat keras kepala Bella. Sementara Cinta merasa senang karena ia sudah bisa melihat sedikit percikan masalah di antara kedua sahabatnya itu. Mungkin ia harus memancing lebih banyak lagi agar Ari dan Bella benar-benar berkelahi. "By the way, kamu udah mau siap-siap kerja Bel? Aku ganggu nggak nih?" Tanya Cinta kepada Bella. "Belum kok. Masih sejam lagi. Nggak papa kita masih bisa video call-an kok," jawab Bella. "Yes, asyik!" Cinta lagi-lagi memperlihatkan semangatnya. "Kamu kan udah sebulan kerja di cafe, si cowok penyelamat kamu itu pernah tiba-tiba ngopi nggak di cafe tempat kamu kerja? Ya mana tau kan, dunia sesempit itu," tanya Cinta kemudian. Ia sengaja membahas tentang Rama, karena hal itu pasti akan membuat Ari cemburu. "Nggak pernah. Tapi dunia memang sesempit itu sih. Kemarin aku nggak sengaja ketemu sama Rama lho!" Ucap Bella. Ari kaget mendengar hal itu. "Wah kok bisa?" Pucuk dicinta ulampun tiba. Rasanya Cinta senang sekali karena Bella bisa terpancing untuk membicarakan tentang Rama. Dan yang lebih membuat Cinta senang lagi, Bella bahkan benar-benar bertemu dengan Rama. "Iya, jadi kemaren itu aku ke makam papaku, dan nggak sengaja liat Rama lagi ngunjungin makam seseorang. Jadi abis itu kita ngobrol deh." "Wah bisa kebetulan gitu ya. Memang deh, dunia ini kecil banget ya. Terus apa aja yang kalian omongin?" Cinta terus berusaha untuk membuat Bella menceritakan lebih lanjut tentang pertemuan Bella dan Rama kemarin. "Apaan sih, video call malah bahas dia," ucap Ari malas. "Ih kan aku penasaran tahu! Ya udah ceritain dong Bel," pinta Cinta kepada Bella. "Iya kebetulan banget. Ternyata dia abis dari makam mau nyari kerjaan. Dan pas banget di Cafe lagi butuh orang. Jadi aku tawarin dia. Dan dia langsung diterima," kata Bella sambil tersenyum senang. Tapi sebaliknya, Ari merasa kesal mendengar hal itu. "Jadi kamu sama dia sekarang satu tempat kerja?" tanya Ari. Bella mengangguk, "iya," jawab Bella. "Wah, bakal ketemu tiap hari dong," kata Cinta sambil melirik Ari di sudut layar handphone-nya, untuk melihat reaksi Ari yang tengah kesal. Ia pun tersenyum karena rencananya berjalan baik sejauh ini. "Ya namanya juga satu kerajaan," tukas Bella. "Ngapain sih kamu ngajak dia kerja di tempat kerja kamu? Kamu kan bisa bantu cariin kerja di tempat lain," Ari tidak terima dengan tindakan Bella. Bella yang dari tadi lebih banyak berbicara dengan Cinta kini mengalihkan obrolan ke Ari, "kan di tempat aku kerja lagi butuh pelayan tambahan, jadi apa salahnya aku ajak Rama kerja disana? Biar dia juga bisa cepat dapat kerjaan. Aku tau dia berhenti kerja karena kecelakaan itu, tapi dia nggak mau ngaku. Makanya untuk menebus kesalahan aku, aku harus bantu dia cari kerjaan baru secepatnya," jelas Bella sedikit kesal. Ia menyayangkan sikap Ari yang selalu mempermasalahkan jika Bella berbuat sesuatu untuk Rama. Padahal ia hanya ingin bertanggung jawab atas keteledorannya waktu dulu. "Mau sampai kapan kamu ngurusin Rama terus? Nanti kalau Rama ada masalah baru, kamu ngaitin sama kesalahan kamu lagi? Udah lah Bel, urusan kamu sama Rama udah selesai sejak kamu bayarin biaya rumah sakitnya. Kalau sesudah itu dia masih kesusahan, itu bukan urusan kamu lagi, biarin aja dia usaha sendiri nyelesaiin masalahnya," Ari mengutarakan pendapatnya secara gamblang, karena ia ingin Bella menuruti perkataannya. Tapi hal itu malah membuat Bella kesal. "Kamu kenapa sih cemburu nggak jelas gitu? Aku baik sama orang kamu nggak suka. Dunia aku bukan cuma buat kamu aja tau?" kata Bella emosi. Dimatikannya hubungan video call itu saking kesalnya. Membuat Cinta menganga tak percaya. "Ya ampun, aku nggak pernah lho liat Bella marah demi seseorang kayak gitu," Cinta membuat suasana hati Ari menjadi lebih panas. Senyum licik menghiasi bibirnya. Ia merasa senang sekali melihat pertengkaran Bella dan Ari barusan. "Lagian sih kamu, aneh banget. Cemburu sama orang yang baru beberapa kali ketemu sama Bella. Emang kamu kalah keren ya dari Rama sampai-sampai ngira bakal ditikung Rama?" kata Cinta lagi sambil terkekeh. Ari merasa kesal karena sikap Bella yang melarikan diri begitu saja saat Ari mengutarakan pendapatnya. Ditambah Cinta yang malah mengoloknya. Ari pun memutuskan untuk ikut mematikan hubungan video call tersebut. Cinta tertawa terbahak karena peristiwa barusan. Rasanya ia senang sekali karena rencananya berjalan sesuai dengan ekspektasinya. "Cinta satu, Ari dan Bella Nol." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN