Jika getaran adalah tanda cinta,
maka bukankah aku tak mencinta padanya?
***
Cin, sorry ya aku matiin video call nya
Bella memutuskan untuk mengirim pesan permintaan maaf kepada Cinta. Karena ia merasa tidak enak Cinta jadi harus melihatnya berkelahi dengan Ari. Padahal Cinta bilang kalau ia menghubungi Bella dan Ari karena rindu, tapi Bella dan Ari malah mengacaukannya.
It's okay. Ari memang aneh, marah-marah gak jelas. Kapan-kapan kita berdua aja yang VC ya!
Bella lega melihat balasan dari Cinta. Untung Cinta pengertian, batinnya. Setelah membaca pesan dari Cinta, Bella memutuskan untuk mematikan HP nya agar Ari tidak bisa menghubunginya. Ia ingin Ari merenungi sikapnya dan meminta maaf kepada Bella karena sudah berpikir yang aneh-aneh, seolah menuduh Bella tidak akan setia.
Bella bergegas untuk bersiap berangkat kerja. Setelah berganti pakaian dan mengikat rambutnya, Bella pamit kepada mamanya untuk berangkat kerja, lalu keluar rumah dan mengendarai sepeda motornya untuk pergi ke cafe. Namun sepanjang perjalanan, Bella merenungi tentang hubungannya dengan Ari. Hingga detik ini Bella bahkan belum tahu apakah ia mencintai Ari atau tidak. Dulu Bella ragu untuk menerima Ari, karena tidak mengerti dengan perasaannya kepada Ari. Ia merasa daripada cinta, ia hanya menyayangi Ari sebagai sahabat. Tapi Ari membujuknya untuk mencoba menjalin kisah asmara dengannya. Bella pun akhirnya menyetujui permintaan Ari.
Orang bilang cinta itu ada ketika hati kita bergetar di kala melihat orang yang kita cintai. Dan tak pernah sekalipun Bella merasakan getaran itu saat bersama Ari. Namun Bella berusaha berfikir positif. Mungkin hubungan mereka yang baru menginjak usia 3 bulan masih terlalu singkat bagi Bella untuk merasakan getaran itu.
Tak terasa saat Bella sibuk sendiri dengan pikirannya, ia sudah sampai di cafe tempatnya bekerja. Sesudah memarkir sepeda motornya di tempat parkir khusus karyawan, Bella bergegas masuk Cafe melalui pintu yang juga khusus untuk karyawan. Tadi ia melihat sepeda motor Rama di tempat parkir karyawan. Rasanya ia masih belum terbiasa akan hal itu. Tapi hal itu membuatnya tak sabar untuk bertemu Rama. Ia tak sabar untuk bekerjasama dengan orang yang sejak awal cukup mencuri perhatiannya.
"Mencuri perhatian..." Bella sedikit terkejut dengan batinnya. Ia tak menyadari kalau selama ini Rama cukup mencuri perhatiannya, karena ia memiliki pasangan dan berpikir tidak mungkin ia memikirkan laki-laki lain. Tapi saat ia sudah sampai di dalam cafe, ia cukup terkesima dengan tampilan rapi Rama berseragam karyawan Coffee Time. Rambut panjangnya yang dicepol, serta apron dan sneaker, tidak membuat Rama terlihat buruk sama sekali. Malah sangat gagah.
Bella buru-buru menghilangkan keterkesimaannya terhadap Rama. Ia segera mendekati Rama dan menepuk pundak lelaki itu.
"Hai, udah dari tadi ya?" sapa Bella.
Rama yang tadi hendak berjalan menuju pantry menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia menemukan Bella yang menggunakan seragam yang sama dengannya tengah tersenyum manis.
"Wah udah datang Bel?" ucap Rama dengan ramah.
"Iya nih. Aku kesana ya. Kamu lanjut gih," kata Bella sambil menunjuk bagian samping kasir, tempat untuk menunggu tamu yang akan dilayani. Rama pun mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
Bella dan Rama bekerja dengan giat, hingga Bella tiba-tiba penasaran dengan apa yang dilakukan Rama dan melirik Rama. Tak disangka ternyata Rama juga melirik ke arah Bella. Mereka berdua pun sama-sama memalingkan pandangan. Wajah Bella memerah.
"Aku kenapa sih?" batinnya kesal.
***
Akhirnya waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu berarti pekerjaan hari ini bisa dihentikan. Semua karyawan Coffee Time yang sudah selesai membersihkan cafe bergegas untuk pulang. Termasuk Rama. Ada seseorang yang sudah menunggunya. Namun sebelum pulang, Rama mencari Bella. Ia menemukan Bella masih menyusun barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tasnya. Rama menepuk pundak Bella pelan.
"Bel, gue duluan ya. Hati-hati pulangnya," pamit Rama.
Bella menoleh ke belakang, "oh iya, kamu juga hati-hati ya," ucap Bella sambil tersenyum.
Rama mengangguk dan bergegas pergi menuju tempat parkir karyawan.
Akhirnya Bella selesai juga menyusun barang-barangnya. Ia memastikan tak ada yang tertinggal, dan ikut bergegas ke tempat parkir karyawan. Ternyata Rama sudah tidak ada disana. Karyawan terakhir yang mengunci pintu cafe pun baru saja pergi karena ia bilang harus buru-buru pulang. Kini hanya tinggal Bella sendiri di cafe.
Bella menghidupkan sepeda motornya. Tapi sepeda motor itu tak kunjung hidup. Ia mencoba lagi dan lagi, tapi tetap saja keadaannya masih sama.
"Duh, kok bisa-bisanya jam segini malah rusak?" desah Bella kesal. Ia menyerah untuk mencoba menghidupkan sepeda motornya lagi.
"Aku pesan ojek online aja deh," putus Bella. Ia pun segera memesan ojek online.
Sementara menunggu, Bella duduk di kursi yang ada di area outdoor cafe. Sesekali ia mengecek HP nya agar ada kegiatan saat menunggu. Tak lama terdengar suara sepeda motor yang mendekat. Tapi ternyata pengendaranya adalah Rama. Ia menghentikan sepeda motornya di samping Bella. Bella menatapnya heran.
"Kok balik lagi Ram?"
"Lo order ojek online?" Rama balik bertanya.
"Iya. Kok tahu?"
"Gue drivernya," jawab Rama.
"Lho kok bisa?" tanya Bella heran. Di ceknya aplikasinya tapi nama drivernya bukan Rama.
"Iya, gue bantuin temen. Dia nggak mau akunnya nggak aktif, tapi seminggu ini dia nggak bisa ngojek karena mau ke luar kota. Makanya minta gue yang gantiin," jelas Rama.
"Ooh gitu. Tapi emang kamu nggak capek?"
"Kan pagi gue bisa tidur."
"Tapi kan tetap aja capek kerja lebih dari 8 jam."
Rama tertawa meringis, "gue udah biasa Bel."
"Ya ampun," Bella hampir tak percaya ada orang yang memiliki pola hidup seperti itu.
"Jadi gimana nih? Lo nggak keberatan kan drivernya beda? Atau kalau keberatan cancel aja. Nggak papa kok," ucap Rama. Ia yang masih berada di atas sepeda motor bersiap untuk menghidupkan sepeda motornya kembali.
"Eh enggak. Aku nggak keberatan kok," kata Bella sebelum Rama benar-benar pergi.
"Oke. Yuk naik."
Bella mengangguk, dan kemudian segera duduk di jok belakang. Di pegangnya ujung jaket Rama saat sepeda motor itu sudah melaju.
"Tadi bukannya lo bawa motor ya?" Rama membuka percakapan di tengah perjalanan mereka.
"Iya. Tapi pas pulang motor aku nggak mau hidup. s**l banget deh hari ini. Hehe..." Bella menertawakan nasibnya sendiri.
"Ya nggak s**l banget lah. Kan seenggaknya masih bisa pulang sama cowok ganteng."
"Hahaha... Bisa aja kamu."
"Iya lho, bu Farah yang bilang."
Bella kembali tertawa mendengar perkataan Rama. Tapi dalam hati ia mengakui bahwa Rama memang tampan.
"Lo kalau pulang sendirian terus?" tanya Rama lagi.
"Iya. Tapi kadang Ari jemput sih. Cuma ya kadang banget."
"Lah dia kan cowok lo. Masak ngebiarin ceweknya pulang malam sendirian?"
"Aku juga nggak mau ngerepotin dia terus. Dia kan juga punya kegiatan sendiri. Lagi pula dia sebenarnya juga nggak suka kalau aku kerja."
"Ya udah. Urusan lo sama Ari gue nggak mau terlalu kepo nih. Tapi mulai besok biar gue iringin pulang ya," Rama menawarkan diri. Jika Bella tidak memiliki pacar, Rama dengan senang hati akan mengantarkan langsung Bella dengan sepeda motornya. Tapi Rama tahu Ari sebagai pacarnya Bella pasti tidak akan suka Bella dibonceng oleh laki-laki lain. Maka dari itu, mengiringi Bella pulang adalah cara terbaik untuk membantu Bella tanpa membuat Bella bertengkar dengan Ari.
"Nggak usah Ram. Ngerepotin kamu dong akunya," Bella sangat mengapresiasi kebaikan Rama. Tapi ia sungkan menyusahkan Rama.
"Gue pulang juga lewat sini kok. Jadi bisa sekalian iringin lo pulang kan? Udah lo santai aja sama gue. Kita kan teman. Hehehe..."
Sejujurnya Bella cukup takut untuk pulang malam sendirian. Tapi ia tak mau mengandalkan Ari terus, yang bahkan kemana-mana harus diantar supirnya. Tawaran Rama cukup menarik baginya. Karena Rama mengatakan jalan pulang mereka searah, sepertinya hal itu tidak akan terlalu menyusahkan Rama. Mungkin nanti Bella bisa membuat makanan enak sesekali untuk Rama sebagai ucapan terimakasih.
"Makasih ya Ram. Padahal kita baru kenal. Tapi kamu udah baik banget sama aku."
"Lo kan juga baik sama gue. Kita saling berbaik-baikan aja terus."
Bella tertawa mendengar ucapan Rama, "apaan tuh berbaik-baikan?"
Rama ikut tertawa.
Karena sering melihat ke belakang untuk mengobrol dengan Bella, tanpa Rama sadari ada polisi tidur. Ia yang tak sempat mengerem membuat sepeda motornya terguncang cukup kuat. Bella yang berada di belakang Rama refleks memeluk Rama dengan erat.
"Sorry Bel... Gara-gara keasyikan ngobrol gue jadi nggak merhatiin jalan. Nggak papa kan?" tanya Rama khawatir.
"Iya nggak papa Ram," Bella melepaskan pelukannya segera dari Rama. Jantungnya berdegup kencang. Entah karena kaget dengan guncang yang cukup kuat, atau karena tak sengaja memeluk Rama.
Rama sendiri cukup salah tingkah karena pelukan Bella tadi. Tanpa Bella sadari wajah Rama memerah.
"Andai Bella sendiri, mungkin dia bisa jadi tempat gue untuk move on," batin Rama.
***
Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Meskipun libur kuliah, Bella sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Tiba-tiba ia teringat dengan Ari. Setelah menghidupkan handphone nya untuk memesan ojek online, Bella kembali mematikan handphone nya agar Ari tidak menghubunginya dulu. Bahkan hingga sekarang pun hand phone nya masih belum menyala. Bella berpikir mungkin sudah cukup waktu bagi Ari untuk merenungi sikapnya kemarin. Seharusnya Ari sudah mengirimkan pesan permintaan maaf karena Bella tak bisa dihubungi, begitu pikir Bella. Namun saat Bella menghidupkan hand phone-nya, yang didapatnya bukanlah pesan permintaan maaf dari Ari.
Bel, kamu kenapa matiin HP?
Bel, kenapa sih marah Cuma gara-gara itu aja? Memangnya aku salah?
Bel?
Masa kamu nyuekin aku seharian Cuma gara-gara cowok gak jelas itu?
Ya udah, terserah kamu
Bella mendesah, ternyata harapannya terlalu tinggi. Ari masih saja merasa tak bersalah. Bella jadi bingung mau merespon bagaimana. Ia memutuskan untuk mengabaikan pesan Ari, dan memilih untuk menyiram tanaman. Namun di tengah kesibukannya menyiram tanaman, dering hand phone-nya tiba-tiba berbunyi. Ternyata Ari meneleponnya. Dengan setengah hati, Bella mengangkat panggilan itu.
"Halo?" ucapnya.
"Kamu kenapa nggak balas chat aku?" tanya Ari tanpa basa-basi.
"Memangnya aku harus balas apa? Semua yang aku bilang ujung-ujungnya pasti bakal salah di mata kamu," jawab Bella malas.
"Bel, kamu kenapa sih?"
"Kamu yang kenapa? Kenapa kemarin kamu marah pas tahu aku ngajak Rama kerja di tempat kerja aku? Emang salahnya dimana?"
"Ya aku nggak suka aja Bel. "
"Memangnya kenapa? Di tempat kerja ku juga ada karyawan laki-laki lainnya. Nggak sekalian aja kamu larang mereka untuk kerja bareng sama aku?"
Ari hanya bisa terdiam.
"Ya udah lah Ri, kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh. Udah ya, aku sibuk masih harus selesaiin kerjaan rumah," ucap Bella sambil mematikan hubungan telepon. Lagi-lagi Ari tidak meminta maaf, malah mengatakan hal yang tidak bisa diterima logika Bella. Rasanya moodnya untuk melanjutkan pekerjaan rumah jadi menghilang begitu saja.
Bella melirik jam dinding dan waktu masih menunjukkan pukul setengah Sembilan. Mungkin pergi ke suatu tempat sebelum bekerja bisa menjernihkan pikiran, begitu pikir Bella. Segera ia bergegas ke kamarnya dan menyiapkan baju kerjanya kemudian memasukkan ke dalam ransel mininya. Setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan kaos sweater berwarna baby blue dan high waist boyfriend jeans. Sneaker menjadi pilihannya untuk melengkapi penampilannya. Diraihnya ranselnya dan ia pun bergegas keluar dari rumah.
Sebenarnya ia bingung mau kemana karena hanya sendirian. Seandainya Cinta tidak ke luar kota, mungkin ia akan minta ditemani oleh Cinta. Dan Cinta akan tahu mau membawa Bella kemana.
Setelah Bella berpikir beberapa saat, ia berpendapat mungkin toko buku adalah tempat yang membuatnya tidak aneh jika hanya datang sendirian. Segera ia memesan ojek online menuju toko buku yang cukup besar dan lengkap.
Suasana toko buku yang baru saja buka itu sangat lengang. Rasanya hanya Bella sendiri pengunjung yang datang kesana. Tapi hal itu malah membuatnya senang karena ia bisa menyendiri dengan leluasa. Jiwa introvert-nya merasa sangat nyaman dengan suasana itu. Ia mulai meneliti buku-buku satu persatu, membaca banyak sinopsis dari berbagai buku yang ada disana, dan memilih beberapa yang menurutnya menarik untuk dimasukkan ke tas belanja. Setelah berputar selama satu jam di area buku dan membayar buku pilihannya, ia menuju area alat tulis. Rasanya melihat jajaran pena warna-warni yang tertata rapi membuat pikirannya menjadi tenang. Ia pun membeli beberapa alat tulis untuk stok saat kuliah dimulai nanti.
Saat keluar dari area alat tulis, Bella melewati area alat musik. Ia mendengar suara keyboard yang dimainkan seorang pengunjung terdengar indah sekali. Namun ia kaget saat mengetahui siapa orang yang tengah mencoba memainkan keyboard yang dipajang di toko buku itu. Ia tak menyangka orang tersebut akan datang ke toko buku, padahal ia sedang cuti kuliah.
"Rama?" Bella menyapa Rama yang tengah fokus dengan keyboard di hadapannya. Rama pun mengalihkan pandangannya untuk melihat orang yang memanggil namanya.
"Eh, Bella?" Rama sampai menghentikan permainannya karena tak menyangka akan bertemu Bella secara tak sengaja lagi.
"Wah, nggak nyangka ketemu disini," ucap Bella setelah berjalan mendekati Rama.
"Hehehe... Iya gue juga nggak nyangka. Gue lagi iseng-iseng nyobain keyboard ini aja," kata Rama.
"Nggak beli," katanya lagi dengan berbisik. Lalu ia dan Bella pun tertawa.
"Tapi tadi kamu jago banget lho mainnya," puji Bella.
"Hahaha... Biasa aja kok," ucap Rama merendah.
"Oh iya, bukannya kamu bilang kalau pagi kamu tidur ya?" Tanya Bella kemudian.
"Iya gue jam sembilan udah bangun, langsung kesini, hehehe..." Jawab Rama sambil tertawa.
"Rajin banget ke toko buku pagi-pagi?"
"Lo juga."
Bella dan Rama pun kembali tertawa lagi.
"Lo sama siapa kesini?" Tanya Rama kemudian.
"Sendirian aja sih. Soalnya lagi libur semester, jadi temen aku lagi ke luar kota, kalau Ari juga lagi gak disini," jelas Bella, "kalau kamu?"
"Gue bareng Toni sama Hana. Mereka lagi sibuk hunting novel fantasi best seller itu, apa ya judulnya gue lupa. Makanya mereka bela-belain pagi-pagi ke toko buku, biar nggak kehabisan. Tapi karena gue nggak nyambung makanya gue kabur kesini."
Penjelasan Rama menjawab rasa penasaran Bella tentang kenapa Rama bisa sampai ada di toko buku sekarang. Bella jadi kagum dengan persahabatan Rama, Toni dan Hana. Mereka dari awal kelihatan saling ada untuk satu sama lain. Contohnya saat Rama dirawat di rumah sakit pasca kecelakaan, Toni dan Hana setia menemani Rama. Dan sekarang, walaupun Rama tidak tertarik dengan novel yang ingin dibeli Toni dan Hana, namun ia tetap setia menemani mereka ke toko buku.
Tiba-tiba dering HP Rama berbunyi. Rama meminta izin sebentar kepada Bella untuk mengangkatnya.
"Halo Ton?"
"Ram. Urgent!" Kata Toni di seberang telepon.
"Urgent kenapa?" Rama menjadi khawatir mendengar perkataan Toni tersebut. Bella yang mendengar kekhawatiran Rama pun jadi ikut khawatir juga.
"Gue sama Hana..."
"Kenapa?!"
"Kami harus buru-buru pulang soalnya kami harus baca novelnya!"
Seketika Rama merasa sia-sia untuk khawatir.
"Ya elah gue kirain kenapa."
"Hehehe... Biar Lo tegang aja. Lo ikut pulang nggak? Kita udah di parkiran nih. Apa Lo langsung mau pergi ke tempat kerja?" Tanya Toni.
"Males ah pulang, bolak-balik. Kalian pulang aja berdua ya."
"Ya udah kalau gitu. Bye bye!"
"Iya... Iya..." Rama memutuskan hubungan telepon.
"Kenapa Ram. Kamu ditinggal?" Tanya Bella penasaran.
"Iya nih. Mereka mau buru-buru pulang gara-gara nggak sabar baca novelnya."
"Hahaha... Ya ampun," Bella tertawa geli mendengar tingkah teman-teman Rama itu.
"Oh iya tadi Lo kesini naik apa? Motor Lo kan masih di cafe?" Tanya Rama kemudian.
"Iya masih di cafe. Aku tadi naik ojek."
"Ya udah, kita ke cafe sekarang yok. Biar bisa bawa motor Lo ke bengkel," ajak Rama.
"Eh, nggak usah Ram. Biar aku sendiri aja yang bawa," tolak Bella. Ia merasa sungkan untuk menyusahkan Rama.
"Nggak papa Bel. Sama gue mah santai aja. Kita kan udah jadi teman. Jadi Lo bisa ngandelin gue kapanpun. Lagian gue juga gabut nunggu jam kerja," Rama berusaha meyakinkan Bella.
Bella menggigit bibirnya dan kemudian melirik Rama. Lelaki itu tersenyum sambil mengangguk, Bella pun akhirnya ikut mengangguk.
"Oke, kalau gitu Lo ikut gue ke parkiran ya," ajak Rama.
"I... Iya," Bella hanya menurut saja. Kemudian ia pun berjalan beriringan dengan Rama menuju tempat parkir.
"Nggak masalah kan gue bonceng?" Tanya Rama setelah mereka sampai di tempat parkir. Ia menyerahkan helm kepada Bella.
"Iya, nggak papa kok Ram," jawab Bella seraya menerima helm itu.
Bella dan Rama akhirnya sampai di coffee time. Cafe itu masih sepi karena masih dua jam lagi baru akan dibuka. Bella dan Rama turun dari sepeda motor Rama, lalu Rama segera mendekati sepeda motor Bella.
"Lo tahu bengkel deket sini?" Tanya Rama.
"Tahu sih. Tapi nggak terlalu dekat juga," jawab Bella.
"Ya udah tunjukin aja gue jalannya. Lo bawa motor gue, biar gue dorong motor Lo."
Bella menatap motor Rama yang merupakan sebuah motor retro keluaran Kawasaki, "aku nggak bisa bawa motor kamu Ram."
"Hahaha... Gue bercanda. Lo tunggu aja disini, biar gue sendiri yang ke bengkel."
"Tapi kamu kan nggak tahu bengkelnya?"
"Tinggal tanya ke orang, gampang itu mah. Ya udah, gue pergi dulu ya," Rama mulai mendorong motor skuter milik Bella. Namun Bella menghentikannya.
"Ram, aku ikut," ucap Bella. Ia menyentuh bagian belakang motornya dan bersiap ikut mendorong. Hal itu membuat Rama kembali tertawa.
"Gue bisa sendiri Bel. Ya udah kalau mau ikut, di samping gue aja. Tunjukin jalan."
"Beneran nggak papa kamu dorong sendiri?" Tanya Bella sungkan.
"Iya. Kan tadi udah gue bilang kalau sama gue santai aja. Oke?"
Bella mengangguk perlahan kemudian mulai berjalan. Rama terkekeh melihat tingkah Bella yang lucu tersebut. Ia kemudian ikut menyamakan langkahnya dengan Bella sambil mendorong motor.
"Lo pasti nggak mau tinggal sendiri karena takut diganggu hantu kan?" Rama meledek Bella di tengah perjalanan mereka menuju bengkel.
"Emang aku anak kecil?"
"Ooh... Nggak takut hantu? Berarti takut kehilangan gue?"
"Hahaha... Apaan sih Ram?" Bella tertawa geli mendengar Rama yang narsis. Rama ikut tertawa.
"Gue butuh ketawa Lo biar energi gue bertambah untuk dorong motor," ucap Rama di tengah tawanya. Namun yang ada malah Bella yang merasa jadi bersemangat mendengar suara tawa Rama yang begitu renyah.
"Lah sekarang malah bengong," ucap Rama saat Bella hanya diam karena terkesima.
"Aaa... Eum... Enggak kok. Aku lagi ingat-ingat jalannya," ucap Bella gelagapan, "oh iya, bentar lagi belok kiri ya," katanya kemudian.
"Oke."
"Kamu nggak capek Ram?" Tanya Bella saat mereka sudah berbelok.
"Ini mah nggak seberapa. Tubuh gue udah biasa kerja keras. Dulu gue pernah punya kerjaan dua sampai lima macam dalam sehari," mata Rama menerawang ke depan, ia tersenyum geli sendiri mengingat perjuangannya waktu dulu.
Bella kaget mendengar pengakuan dari Rama, "banyak banget? Itu buat kuliah?"
"Ya sebagian kecil iya. Tapi yang paling utama yang bikin gue kerja mati-matian itu karena gue butuh uangnya untuk biaya pengobatan seseorang. Cuma kayaknya dia nggak tega ngeliat gue kerja sekeras itu, dan mutusin untuk pergi cepat," Rama tersenyum pahit. Tapi cepat-cepat ia tertawa meringis, agar suasana tidak menjadi canggung.
Bella tertegun menatap Rama. Lagi-lagi cowok itu menyembunyikan kesedihannya. Sama seperti waktu mereka bertemu di pemakaman tiga hari yang lalu. Seandainya Bella bisa tahu tentang kisah Rama, mungkin ia bisa menemukan cara untuk menghibur Rama, sebagaimana Rama selalu berupaya membuat suasana tidak menjadi canggung saat mereka sedang berdua. Tapi Bella bukan lah orang yang akan banyak bertanya kepada orang lain, ia lebih memilih orang lain mengatakan apa pun yang ingin mereka ceritakan tanpa memaksa mereka untuk mengutarakan rahasia-rahasia mereka hanya demi kepuasan keingintahuan Bella. Ia adalah tipe pendengar yang akan menghargai orang yang bercerita kepadanya walaupun hanya menceritakan masalah di permukaan saja. Karena Bella tahu, menceritakan kebenaran terkadang akan membuka luka.
"Tetap semangat ya Ram. Kamu udah ngelakuin hal yang kamu bisa. Aku harap kesedihan kamu karena kehilangan orang itu bisa segera pulih," hanya kata-kata penyemangat yang bisa Bella utarakan sekarang. Rama yang tadi melihat ke depan pun mengalihkan pandangannya ke Bella, ia menghela napas dan tersenyum. Menghargai Bella yang mencoba menyemangatinya.
"Iya, makasih ya Bel. Udah, nggak usah serius-serius gitu ngomongnya," ucap Rama sambil terkekeh. Hal itu membuat Bella jadi tersenyum masam.
"Yah, jangan ngambek gitu dong. Aura bidadarinya hilang lho."
Bella menatap Rama kesal. Bisa-bisanya dia terus memancing Bella untuk mengeluarkan sisinya yang lain, yang bukan hanya kaku dan bicara seperlunya saja seperti yang ia lakukan terhadap orang lain, tapi juga ingin membalas kata-kata Rama agar cowok itu juga kesal digoda.
"Ya kan aku memang cuma manusia," ucap Bella pura-pura sinis dan berjalan lebih cepat meninggalkan Rama. Namun setelah itu ia tertawa. Rama yang ditinggalkan Bella pun jadi sedikit berlari sambil terus mendorong motor Bella agar langkahnya bisa kembali sama dengan Bella.
"Eh Bel, tunggu!" Seru Rama.
Bella tidak memperdulikan Rama. Kini ia malah berlari meninggalkan Rama. Rama menerima tantangan Bella itu dan ia pun juga ikut berlari.
Akhirnya mereka sampai juga di bengkel. Bella berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Tapi tampaknya kondisi Rama lebih parah lagi. Hal itu membuat Bella jadi merasa bersalah.
"Ngapain kamu ikutan aku lari?" Tanya Bella nyaris terpekik.
Rama yang menumpukan kedua telapak tangannya ke lututnya berusaha menjawab pertanyaan Bella dengan napas tersengal, "kan... gue... nggak tahu... tempatnya..."
Bella menepuk jidatnya seraya memejamkan matanya sesaat, "ya maaf. Tapi tadi kamu bilang bisa nanya ke orang kan tempatnya?"
"Ya tapi nanti... Kalau Lo hilang gimana?"
Bella mengerutkan keningnya, membuat tawa Rama pecah.
"Ih apaan sih? Hobi kamu ketawa ya? Dari tadi ketawa mulu, ngetawain hal receh pula," ucap Bella sambil tertawa mengejek.
"Lo juga ketawa tuh dari tadi," tawa Rama masih belum juga usai.
"Udah ah, sini motornya. Biar aku kasih ke Abang bengkelnya," kata Bella kemudian setelah mereka berhenti tertawa.
"Biar gue," Rama masih tidak mau menyerahkan sepeda motor Bella. Ia kembali mendorong sepeda motor Bella masuk ke dalam bengkel. Bella mengikuti dari belakang dan mulai menyebutkan kendala apa yang terjadi dengan sepeda motornya kepada karyawan bengkel.
"Sambil nunggu motor, kita makan yok. Udah deket jam makan siang soalnya. Abis itu langsung kerja," kata Rama.
"Boleh. Aku traktir deh! Kamu mau makan apa?" Tanya Bella.
"Wah, beneran?"
"Iya. Kan kamu udah kecapean dorong motor aku. Jadi biar energinya balik, harus ditraktir."
"Hmm... Baik banget ibu bidadari ini."
"Mana ada ibu bidadari. Adanya ibu peri, atau bidadari aja nggak pakai ibu."
"Hahaha... Ya nggak papa dong, itu kosa kata gue," ucap Rama ngawur, membuat Bella menaikkan sebelah alisnya sambil mendengus geli.
"Makan yang dekat sini aja yok. Itu ikan bakar baunya enak tuh," Rama menunjuk warung ikan bakar yang tak jauh dari bengkel tempat mereka berada sekarang.
"Suka ikan bakar?" Tanya Rama.
Bella mengangguk, "suka kok. Ya udah, kita kesana ya."
Bella dan Rama berjalan kaki menuju warung ikan bakar. Masih belum banyak pengunjung yang datang karena waktu masih menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Namun sudah ada saja pengamen yang memamerkan aksinya di warung itu demi mencari nafkah. Sebelum mengajak Bella duduk, Rama memesan makanan kepada penjaga warung untuk mereka berdua setelah sebelumnya bertanya apa yang Bella inginkan.
"Bang, ikan bakarnya dua pakai nasi ya. Makan disini. Minumnya teh es. Yang satu manis, yang satu dikit aja gulanya. Yang gulanya sedikit itu untuk saya, soalnya saya makan sama orang yang manis, takut diabetes entar."
Perkataan Rama membuat tawa Bella meledak. Sementara penjaga warung mengangguk sambil tersenyum menahan tawa.
"Apaan sih Ram? Kasian abangnya mau ketawa takut dosa," gelak Bella sambil menyikut lengan Rama pelan saat mereka menuju tempat duduk.
"Nggak papa, biar abangnya semangat kerja. Jadi harus dibikin happy," kata Rama. Kini mereka sudah duduk di kursi pilihan mereka.
"Iseng banget."
"Biarin."
Pengamen yang tadi bernyanyi sudah menyelesaikan satu lagu. Ia lalu berkeliling meminta saweran seikhlasnya dari pengunjung. Saat pengamen itu mendekati meja Bella dan Rama, Bella bersiap mencari uang kecil untuk diberikan. Namun tiba-tiba saja Rama terlihat protes kepada pengamen itu.
"Kita kan belum makan bang, kok udah dimintain uang aja?"
"Nggak papa Ram. Ini aku ada kok," kata Bella. Ia sedikit panik, takut akan terjadi adu mulut, atau bahkan yang lebih parah lagi adu fisik. Bella takut perkataan Rama menyinggung sang pengamen.
"Nggak bisa gitu Bel," Rama tetap teguh dengan pendapatnya, "gini aja bang, gue pinjam gitarnya. Gue nyanyiin satu lagu, nanti gue kasih lebih deh."
Sang pengamen nampak kebingungan dengan permintaan Rama, tapi ia tetap menuruti Rama. Sementara Bella yang duduk di hadapan Rama memandang cowok itu tak percaya. Padahal ia sudah ketakutan akan terjadinya perkelahian. Ternyata Rama lagi-lagi hanya iseng.
Bella memelototi Rama, namun cowok itu hanya meringis. Ia lalu berdiri dan menerima gitar yang dipinjamkan sang pengamen.
"Selamat siang semuanya. Nama saya Rama Aditya. Pada kesempatan kali ini, izinkan saya untuk menyanyikan sebuah lagu yang baru beberapa menit yang lalu saya ciptakan," Rama memberikan pengumuman kepada seluruh pengunjung warung dan menggenjreng gitarnya sekali.
"Lagu ini terinspirasi dari teman saya yang ada di hadapan saya sekarang. Judulnya, ibu bidadari," lanjut Rama.
Wajah Bella memerah malu karena Rama mengatakan ke semua pengunjung bahwa lagu itu terinspirasi darinya. Ia minder karena nanti semua perhatian akan tertuju padanya. Namun di sisi lain Bella tak bisa menahan tawanya setelah Rama mengucapkan judul lagu tersebut.
Rama tersenyum melihat tawa Bella sekaligus wajah malu-malunya. Ia lalu mulai memetik gitarnya dan bernyanyi.
"Bisa-bisanya ada orang baik
Di bumi ini, yang sering tak ramah
Pada hati-hati yang t'lah tercabik
Dicerca masalah
Bisa-bisanya ada orang cantik
Di semesta ini, yang kadang menakutkan
Membuat jiwa yang tercekik
Tak lagi tertekan
Dia lah si bidadari
Dia teman kerjaku
Jadi agar lebih formal
Aku panggil dia, ibu bidadari..."
Bella tertawa meringis mendengar lirik lagu yang dinyanyikan Rama. Ia pun tak habis pikir karena bisa-bisanya Rama membuat lagu secepat itu hanya dari ucapan ngawurnya beberapa menit yang lalu.
"Bagai Dewi dari khayangan
Baru kali ini kulihat wajah seindah itu
Apakah benar kau manusia?
Atau kah kau bidadari yang lupa jalan pulang?
Dia lah si bidadari
Dia teman kerjaku
Jadi agar lebih formal
Aku panggil dia, ibu bidadari..."
Rama menyudahi lagunya yang unik. Tanpa diduga ia mendapatkan tepuk tangan dari pengunjung disana. Suara Rama memang sangat bagus sekali, dan orang-orang juga terhibur dengan lirik konyol dari lagu ciptaan Rama tersebut.
"Ini gitarnya. Makasih ya bang," Rama menyerahkan kembali gitar milik sang pengamen. Tak lupa ia juga menyerahkan uang yang tadi dijanjikannya.
"Makasih juga mas," ucap sang pengamen. Setelah itu ia pun pergi dari warung ikan bakar itu untuk mengamen di tempat lain.
"Gimana lagunya? Suka?" Tanya Rama kepada Bella setelah ia kembali duduk.
"Lucu," jawab Bella sambil terkekeh.
"Berarti suka?"
Bella mengangguk sambil tersenyum.
"Yes!" Rama mengepalkan tangannya senang. Bella hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Rama itu.
"Permisi, ini pesanannya. Dua ikan bakar pakai nasi, satu teh es manis sama satu teh es yang gulanya sedikit," pelayan warung datang membawakan pesanan Bella dan Rama. Ia kemudian meletakkan makanan dan minuman tersebut ke atas meja Bella dan Rama.
"Makasih mbak," ucap Bella ramah.
"Sama-sama. Jangan kelamaan friend zone kalian. Cocok tahu. Jadian aja," kata pelayan warung itu lagi sebelum pergi. Bella membulatkan matanya karena kaget, sementara Rama tertawa terkikik.
"Kan kamu Ram. Orang kan jadi salah paham," wajah Bella merah padam saking malunya.
"Hahaha... Nggak papa lah. Kan nggak ada yang kenal sama kita disini."
"Maksudnya apa hah?" Bella berlagak marah ke Rama.
"Enggak... Enggak... Bercanda Bel. Udah, lupain aja. Mending kita makan sekarang. Ntar telat ke cafe," usul Rama. Bella pun menuruti Rama.
"Aku baru kali ini lho makan ikan bakar langsung di tempatnya," cerita Bella di tengah kegiatan makan siang mereka.
"Wah, yang bener?"
"Iya. Biasanya sih cuma pesan online aja kalau lagi kepengen makan ikan bakar."
"Jangan-jangan Lo nggak pernah makan di warung pinggir jalan?" Tebak Rama.
"Nggak ada yang ngajak," Bella memberi klarifikasi.
"Kasian banget," Ejek Rama, "ya udah besok kita makan bareng lagi ya? Kita cobain semua warung pinggir jalan."
"Hah?" Bella kaget dengan ajakan Rama.
"Biar gue bisa nyanyi buat Lo lagi. Kan cuma di warung pinggir jalan yang ada pengamennya," kata Rama sambil meringis.
"Ih, tapi jangan ngomong yang macam-macam lagi!" Pinta Bella.
"Siap bos!" Kata Rama patuh.
Bella dan Rama saling memandang sambil tersenyum jahil, kemudian melanjutkan makan siang mereka.
Bella bersyukur ia bertemu Rama hari ini. Semua rasa kesalnya dengan Ari jadi terlupakan begitu saja. Kini di hatinya hanya ada rasa suka cita. Ia berharap tidak akan ada yang merusak moodnya lagi hari ini.
***