Semua waktu yang kita habiskan perlahan menjadi sangat berarti bagiku
Bagai kenangan yang harus tersimpan di hati selamanya.
***
"F*ck it!"
Ari mengumpat seraya membanting HP nya di sofa berwarna hijau mint di ruang keluarga kediaman Om Farhan, pamannya. Ia merasa sangat kesal dengan respon Bella terhadapnya. Ia hanya ingin Bella menuruti permintaannya. Itu saja. Tapi Bella malah mengajak Ari berdebat. Dan Ari sangat tidak suka ditentang.
Sejujurnya ia sangat takut kehilangan Bella, ataupun Bella direbut orang lain. Ia ingat perlakuannya terhadap Bella saat mereka baru kenal memang tidak baik. Seorang siswi teladan yang dipilih wali kelas untuk menjadi ketua kelas, harus menghadapi siswa dan siswi pembuat onar seperti Ari dan Cinta. Tapi Bella tidak gentar sedikitpun dan berhasil menaklukkan Ari dan Cinta. Kesabarannya terhadap Ari dan Cinta, ketulusannya membimbing mereka berdua untuk bisa mendapatkan nilai yang bagus di sekolah dan bisa lulus masuk kampus yang sama dengan Bella, membuat Ari tanpa sadar menjadi jatuh hati kepada gadis itu. Ia suka dengan orang yang tidak menyerah terhadapnya.
Dan di saat Ari mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah yang membuatnya trauma untuk mengendarai mobil lagi, Bella hampir setiap hari datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ari. Bella memberikan perhatian penuh kepada Ari dan selalu menyemangati Ari hingga Ari pulih dan bisa keluar dari rumah sakit. Hal itu lah yang membuat Ari komplain saat Bella bersikeras ingin menjenguk Rama setiap hari saat ia kecelakaan motor. Ia takut Bella yang sangat baik itu dan juga memiliki perasaan bersalah kepada Rama memberikan perhatian yang juga penuh kepada Rama. Ari takut hal itu bisa membuat Rama menjadi jatuh cinta dengan Bella, dan merebut Bella dari Ari. Bagaimanapun juga, Rama telah menyelamatkan hidup Bella di awal pertemuan mereka. Sementara Ari, ia hanya membuat hidup Bella susah saat mereka pertama kali bertemu. Ari takut Bella akan luluh dengan segala kebaikan Rama dan jadi berpaling kepada Rama. Oleh karena itu, Ari bersikeras protes saat Bella membawa Rama masuk kembali ke dalam kehidupannya.
"Ari, makan yuk. Om kamu pulang nih. Ayo kita makan bareng," suara Tante Ana, istri dari paman Ari mengalihkan pikiran kesal Ari. Ia langsung membuang raut wajah kesalnya dan berusaha bersikap biasa.
"Iya tante," Ari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang makan agar dapat bergabung dengan keluarga pamannya untuk menikmati makan siang.
"Om, tumben makan siang di rumah?" Tanya Ari setelah ia sampai di ruang makan. Ia duduk di hadapan Om Farhan. Di samping Om Farhan ada Tante Ana yang dengan cekatan mengambilkan makanan untuk suaminya. Sementara di samping Ari ada Gerry, si bungsu di rumah itu. Kedua kakaknya masih berada di sekolah.
"Ada berkas yang harus om ambil. Dan udah jam segini juga, jadi sekalian makan siang aja," Jelas Om Farhan. Ari manggut-manggut karena paham.
Ari dan keluarga Om Farhan menikmati makan siang mereka sambil berbincang. Di tengah perbincangan, Om Farhan tiba-tiba bertanya mengenai tawarannya kepada Ari beberapa bulan yang lalu.
"Jadi gimana Ri? Kapan kamu mau pindah kesini? Ini udah mau masuk semester baru lho."
Ari tersenyum kaget, karena tiba-tiba ditanya tentang hal itu.
"Hmm... Kayaknya semester depannya lagi Om. Soalnya belum nyiapin berkas-berkasnya," jawab Ari beralasan. Sebenarnya ia tidak berminat untuk kuliah di luar negeri. Ke luar negeri lebih baik digunakannya untuk berlibur saja, begitu pikirnya.
"Ya memang kalau menyiapkan berkas itu perlu waktu sih. Ya udah habis liburan ini, kamu fokus mengurus semuanya. Om rasa satu semester cukup untuk selesaikan semuanya."
Ari mengangguk sambil tersenyum palsu, "iya Om."
"Bagus. Om itu senang lihat papa kamu yang semangat untuk buka usaha disini. Kalau kamu disini, kan kamu bisa bantu beliau untuk ngurus usahanya. Om yakin darah pengusaha papa kamu itu nurun ke kamu. Kamu juga pintar, walau nakal di sekolah tapi bisa dapat nilai bagus dan masuk kampus ternama," Om Farhan terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Itu kan karena Bella," ucap Ari dalam hati. Ia tak bisa membayangkan jika ia kuliah di luar negeri tanpa Bella. Siapa nanti yang akan membimbingnya belajar? Ia tak yakin ia punya niat untuk belajar jika sendirian.
"Jadi Om yakin nanti kalau kamu pindah kesini pasti nggak akan kesusahan untuk beradaptasi. Ditambah lagi nanti pengalaman kamu selama tinggal dan kuliah disini bisa kasih kamu ide untuk ngelakuin apa di usaha papa kamu nantinya," lanjut Om Farhan lagi.
"Iya Om," kata Ari. Ia berharap pamannya itu berhenti membicarakan hal itu karena ia tidak ada niatan sedikitpun untuk mengikuti kemauan papanya ataupun pamannya itu. Ia masih ingin bebas melakukan apapun yang ia mau, tanpa harus diberi tanggung jawab yang besar. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana masa depannya nanti. Baginya nikmati saja hidup hari ini dan bersenang-senanglah. Tidak perlu pusing memikirkan hal lain.
***
Jam masih menunjukkan pukul setengah sebelas siang, tapi Rama tampak sudah bersiap akan pergi. Yang anehnya lagi, Rama kelihatan sangat bersemangat. Ia bahkan bernyanyi-nyanyi kecil saat menyiapkan barang yang akan dibawanya. Toni yang dari tadi sibuk bermain game di HP-nya merasa heran dengan tingkah Rama itu dan memutuskan bertanya kepada Rama.
"Cepat banget berangkat kerjanya?"
"Gue mau makan siang dulu," jelas Rama sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum lebar.
"Semangat banget mau makan siang aja."
Rama mendekati Toni seraya memegang senderan kursi yang dipakai Toni dengan kedua tangannya.
"Ton, Lo tau nggak? Ternyata ada cewek cantik yang nggak keberatan diajak makan di pinggir jalan?"
"Emang ada?" Tanya Toni tak percaya. Ia mengalihkan pandangannya sesaat dari layar HP ke Rama yang berdiri di belakangnya.
"Ada! Perfect kan?"
"Hmm... Iya," jawab Toni tak yakin, "nih orang tipe ceweknya yang mau diajak hidup susah ya?" Batin Toni.
"Makanya Ton, Lo kerja. Jangan nganggur Mulu di kost main game doang," kata Rama.
"Gue cabut ya. Daaah..." Ucap Rama lagi sambil memutar kursi Toni, membuat sahabatnya itu hampir jatuh. Setelah itu ia pun bergegas pergi keluar kost sambil tertawa.
"Dasar k*****t!" Umpat Toni kesal. Ia membenarkan posisi duduknya kembali dengan hati kesal.
"Jadi si Rama lagi PDKT sama teman kerjanya ya? Bagus deh kalau dia udah move on, jadi nggak galau lagi karena ditinggal Citra," Toni berbicara sendiri.
Belum sampai semenit, Rama kembali lagi dan melongokkan kepalanya dari balik pintu.
"Selama janur kuning masih belum melengkung, gue masih boleh berjuang kan?"
Toni mengerutkan kening mendengar perkataan Rama itu, "Lo mau ngerebut cewek orang?"
Rama tidak menjawab. Ia hanya tertawa lalu kembali menutup pintu dan pergi. Toni yang kebingungan hanya bisa geleng-geleng kepala dan memilih untuk tidak ambil pusing.
"Daripada gue nyari kerja cuma demi dapat cewek, atau gebet cewek orang lain, mending gue telpon my lovely Hana. Kita modusin dulu bilang mau ngobrolin tentang novel," Toni tersenyum licik. Ia menghentikan permainan di HP-nya dan segera menghubungi Hana.
"Halo Han," sapa Toni bersemangat saat Hana mengangkat teleponnya.
"Halo Ton. Kenapa?"
"Lo udah selesai baca novelnya?" Tanya Toni.
"Oh, udah dong! Seru banget," kali ini Hana yang bersemangat. Ia memang penggila novel fantasi. Sementara Toni awalnya hanya ikut-ikutan Hana saja, agar bisa lebih mengerti Hana. Tapi ternyata ia merasa sangat menikmati cerita tersebut.
"Gue juga udah selesai," kata Toni.
"Wah, bagus dong! Pasti kamu nggak sabaran juga kan bacanya kayak aku?"
"Hahaha... Jelas dong!"
"Aku sampai kena omel Bunda gara-gara mangkir bantuin kateringnya Bunda demi bisa baca novelnya lho."
"Yah Bunda mah nggak pengertian sama anaknya sendiri," ucap Toni sambil tertawa kecil. Toni dan Rama memang memanggil ibu Hana dengan sebutan Bunda, sama seperti Hana, "oh iya, kita makan di luar yok. Kita harus bahas tuntas ceritanya!"
"Wah, boleh tuh! Tapi sejam aja ya. Soalnya ntar Bunda ngomel lagi kalau hari ini aku nggak bantuin lagi."
"Siap!"
"Rama ikut?"
"Rama udah pergi sih."
"Kok cepat banget? Bukannya dia berangkat kerja jam setengah satu ya?"
"Mau makan sama orang katanya."
"Ooh..." Hana terdengar agak kecewa mendengar perkataan Toni. Membuat Toni agak menyesal mengatakannya.
"Cuma makan di pinggir jalan aja kok dia. Lagian Rama mah mana ngerti obrolan kita nanti Han," Toni berusaha membuat Hana tidak begitu kecewa.
"Iya sih."
"Ya udah, jam dua belas gue jemput ya. Tempatnya Lo aja yang pilih. Gue yang traktir!"
"Oke!" Kata Hana kemudian mematikan sambungan telepon.
"Yes!" Toni bersorak senang karena ia berhasil mengajak Hana makan siang. Makan siang berduaan dengan Hana saja adalah momen yang sangat langka, karena biasanya ada Rama yang menggangu. Toni pun bergegas mengambil handuknya untuk mandi karena ia belum mandi dari tadi pagi. Ia bertekad untuk tampil sempurna saat makan siang dengan Hana nanti.
"Tunggu Oppa mu, Hana!"
***
"Tipe cewek Lo yang gimana Ram?" Tanya Toni.
Rama tampak berpikir sejenak, "hmm... Yang baik, cantik natural, tingkahnya nggak aneh-aneh, pintar, kalem, mandiri..."
"Udah... Udah.... Kebanyakan," Toni memotong perkataan Rama, "tapi semoga ketemu ya!"
Rama tertawa mengingat percakapannya dulu dengan Toni saat mereka awal-awal kenal di SMA. Saat itu Rama memang tidak menemukan gadis seperti yang ia deskripsikan itu. Bahkan Citra pun hampir bertolak belakang dengan tipe yang ia sebutkan. Citra memang baik dan cantik, tapi ia tidak bisa diam. Seringkali membawa Rama ke dalam masalah. Gayanya cukup nyentrik. Ia suka bergonta-ganti jenis make up dan pakaian. Sementara ia tidak cukup baik di bidang akademis. Tapi ia selalu kelihatan ceria dan enerjik. Awalnya Rama berusaha mati-matian untuk menghindari Citra, tapi lama kelamaan gadis itu malah membuat Rama cinta mati. Karena Citra sudah memberikan Rama dunia yang belum pernah Rama miliki seumur hidupnya. Dunia yang penuh warna, cinta dan kasih. Membuat Rama yang dulu dingin kini menjadi Rama yang selalu bersemangat dan ceria.
Namun Citra adalah masa lalu Rama, sesuatu yang indah yang tidak bisa Rama miliki selamanya. Kini Tuhan mengganti sesuatu yang indah itu dengan apa yang dulu Rama impikan. Tentu saja Rama harus berjuang mendapatkannya terlebih dahulu.
Padahal awalnya Rama tidak ingin berharap, oleh karena itu ia memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Bella. Namun Tuhan mempertemukannya lagi dengan gadis itu. Membuat Rama menjadi yakin kalau ia memang ditakdirkan untuk gadis itu. Ia hanya perlu menunggu, kalau-kalau Bella mengakhiri hubungannya dengan Ari. Ia yakin ia bisa bersabar.
Rama meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan tidak salah. Ia hanya memberi sedikit perhatian kepada Bella, layaknya seorang teman. Dan selama mereka berduaan pun, mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Benar-benar selayaknya teman. Biarlah perasaan Bella untuk Rama tumbuh sendiri perlahan-lahan, dan biarlah nanti gadis itu memilih siapa yang terbaik untuknya.
Tiiiiin.... Tiiiiin ....
Rama membunyikan klakson motornya saat ia sudah sampai di rumah Bella. Tampak Bella mengintip dari balik tirai jendela untuk melihat siapa yang datang. Wajahnya tampak sedikit kaget melihat kedatangan Rama. Rama tertawa kecil lalu melambaikan tangannya.
Bella menutup tirai jendelanya. Tak lama kemudian ia keluar dan mendekati Rama.
"Jadi kan?" Tanya Rama.
"Kok kamu nggak bilang dulu? Aku kan belum siap-siap," kata Bella. Ia tak menyangka Rama benar-benar datang untuk mengajaknya makan siang, karena Rama tidak mengabari lagi hari ini.
"Lho, kemaren bukannya udah sepakat?"
"Ya tapi kamu nggak bilang jam nya."
"Ya jam makan siang?"
Bella mendesah putus asa.
"Ya udah, kamu tunggu dulu ya. Duduk aja disana," Bella menunjuk kursi di terasnya.
"Oke!"
Bella meninggalkan Rama sendirian di teras rumahnya. Dengan tergesa dibereskannya peralatan pelnya karena tadi ia sedang mengepel lantai. Setelah mencuci tangan, ia ke kamar untuk menyiapkan tas dan mengganti baju. Sepuluh menit kemudian ia keluar rumah dan siap untuk pergi.
"Yuk!" Ucap Bella setelah mengunci pintunya.
"Nggak ada orang di rumah?" Tanya Rama. Karena ia berencana untuk pamit dan meminta izin membawa Bella.
"Nggak ada. Mamaku kerja, pulangnya sore."
"Ooh gitu. Kalau gitu langsung berangkat aja ya?"
"Oke..."
Rama dan Bella sudah ada di sepeda motor masing-masing. Bella mengikuti Rama dari belakang karena ia tak tahu tujuannya akan kemana. Ternyata kali ini Rama mengajaknya makan Nasi Padang.
Rama menepati janjinya. Saat dengan isengnya ia lagi-lagi meminjam gitar pengamen, ia tak lagi bicara yang macam-macam. Ia hanya meminta izin untuk bernyanyi kepada para pengunjung, dan menyanyikan lagu daerah Minang. Biar suasana makannya tambah nikmat, begitu katanya.
Bella tertawa melihat tingkah Rama. Lelaki itu tampak selalu bersemangat dan menularkan aura positif. Hal itu membuat Bella merasa nyaman terus ada di dekat Rama. Orang yang selalu membuat hati Bella selalu merasa gembira. Seandainya Ari pun bisa seperti itu, pasti ia dan Ari tidak akan bertengkar hingga sekarang.
"Yok Bel, ikutan nyanyi!" Rama membuyarkan lamunan Bella. Bella yang tiba-tiba ditawari bernyanyi pun jadi kaget.
"Aku nggak hapal liriknya," tolak Bella.
"Yang ujungnya aja deh. Ikutin aja gue," Rama masih tidak menyerah untuk mengajak Bella bernyanyi.
"Pagaruyuang Batusangka
Tampek bajalan urang Baso
Duduak tamanuang tiok sabanta
Oi takana juo,
Ay ay, ayam den lapeh..."
Rama mendekatkan tubuhnya ke wajah Bella, menunggu gadis itu ikut bernyanyi. Dengan terpaksa dan malu-malu Bella pun ikut menyanyikan bagian akhir lagu itu.
"Ay ay, Ayam den lapeh..."
Bella tertawa meringis karena tak percaya ia akan bernyanyi di warung makan. Ia yakin betul suaranya fals. Tapi untungnya Rama juga masih bernyanyi, jadi ketidaksempurnaan suara Bella lumayan bisa tertutupi.
Rama mengakhiri lagu dengan beberapa kali petikan gitar. Setelah ia mengucapkan terimakasih, ia mengembalikan gitar sang pengamen dan memberikan pengamen itu uang. Lalu ia kembali duduk di hadapan Bella.
"Kamu iseng banget sih. Aku kan malu," kata Bella kepada Rama. Hal itu membuat Rama tertawa.
"Tapi seru kan?"
Bella ingin pura-pura ngambek kepada Rama. Tapi sedetik kemudian ia malah tertawa.
Hari-hari berikutnya, makan siang bersama sebelum berangkat kerja menjadi rutinitas bagi Rama dan Bella. Hal itu juga semakin membuat mereka menjadi dekat dan lebih mengenal satu sama lain. Tanpa Bella sadari, makan siang bersama Rama menjadi hal yang selalu dinantikannya setiap hari.
***
"Surprise!!!!"
Bella terkejut saat membuka pintu rumahnya dan menemukan Cinta yang meledakkan party pooper di hadapan wajahnya. Tapi ia sangat senang melihat keberadaan Cinta yang sudah sebulan tidak bisa ia temui karena sahabatnya itu pergi liburan. Mereka berdua pun berpelukan dengan erat dan meneriakkan nama masing-masing.
"Kok nggak bilang-bilang udah balik?" Tanya Bella setelah mereka melepaskan pelukan.
"Kalau bilang-bilang bukan surprise namanya dear," jawab Cinta.
"Ayok... Ayok.... Kesini. Aku bawain kamu oleh-oleh," Cinta menarik Bella untuk duduk di sofa ruang tamu. Di mejanya sudah ada beberapa paper bag. Cinta mengambil salah satu paper bag itu dan mengeluarkan isinya.
"Kesukaan kamu, bakpia keju!"
"Waaaah... Udah lama banget nggak makan," mata Bella berbinar melihat bakpia yang ada di tangan Cinta, "makasih banget Cin!!!!" Bella mengambil kotak bakpia itu.
"Buka sekarang ya?"
"Buka dong," Cinta mempersilahkan.
Bella tersenyum lebar melihat susunan bakpia keju tersebut. Aroma menggoda semerbak saat Bella membuka tutupnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bella langsung mengambil sepotong bakpia itu dan memakannya.
"Tadi bareng siapa?" Tanya Cinta kemudian. Ia bersiap untuk membuka paper bag lainnya.
"Rama. Dia tiap hari memang ngiringin aku pulang kerja."
"Such a gentleman!"
"Iya, dia baik banget. Pas dia jadwal off juga gak absen ngiringin aku pulang. Beruntung banget aku punya teman kayak dia."
Cinta menaikkan sebelah alisnya, Bella beneran polos apa nggak peka? Batinnya dalam hati sambil mengeluarkan sebuah casual dress bermotif bunga-bunga.
"Wah, bagus banget!" Kata Bella bersemangat saat Cinta membentangkan dress itu di hadapan wajah Bella.
"Iya kan? Waktu aku pertama lihat langsung keinget sama kamu. Soalnya kamu kelihatan cocok banget pakai dress kayak gini," ucap Cinta sambil menyerahkan dress itu kepada Bella.
"Makasih banget Cin!!!" Bella menerima dress itu lalu memeluk Cinta.
"Aku juga beliin baju buat Tante lho," Cinta berseru ke mama Bella yang ada di dapur.
"Wah baiknya anak gadis satu ini," mama Bella datang dari dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh bunga Krisan lalu meletakkan ke atas meja, "makasih ya sayang."
"Sama-sama Tante! Oh iya, aku boleh ya nginep disini? Soalnya kangen banget sama Bella."
"Boleh dong! Lagian ini udah malam banget, bahaya kalau pulang sekarang."
"Thank you Tante!"
"Ya udah, Tante tinggal ya. Soalnya udah ngantuk. Besok masih kerja lagi. Diminum tehnya."
"Iya Tante. Ini bajunya, nanti di kamar langsung cobain ya!"
"Siap. Makasih lho!" Mama Bella menerima goodie bag yang diberikan Cinta lalu segera berlalu ke kamarnya.
"Oh, kamu mau nginap disini? Kalau gitu aku cancel aja acara sama Rama besok pagi," kata Bella kemudian. Ia meraih HP-nya dan bersiap mengirimkan pesan kepada Rama.
"Eh jangan," Cinta menahan Bella, "aku nggak lama-lama kok. Cuma numpang tidur aja. Paginya langsung balik, soalnya mau siap-siapin barang buat semester baru kan?" Cinta mencari alasan. Sebenarnya Cinta ingin menginap karena ingin mengorek tentang hubungan Bella dan Ari. Namun tampaknya ada hal yang lebih menarik lagi yang membuatnya langsung menyusun rencana.
"Oh, gitu?" Bella menghapus beberapa kata yang sudah diketiknya tadi.
"Memang mau kemana bareng Rama?" Tanya Cinta kemudian.
"Cuma jalan-jalan biasa sih, terus makan siang bareng. Kalau kemaren-kemaren kami cuma makan siang bareng aja, tapi karena besok hari terakhir aku libur, Rama ngajakin jalan-jalan dari pagi. Atau kamu mau ikut nggak? Biar kenalan sama Rama. Anaknya seru kok!"
Cinta sedikit panik karena tiba-tiba ditawari seperti itu. Karena ia ingin Bella pergi berdua saja dengan Rama, agar ia bisa menjalankan sebuah rencana yang bisa membuat Ari marah kepada Bella. Cinta pun kembali memberikan alasan, "nggak papa Bel, kamu berdua Rama aja. Kan aku mau siapin barang-barang buat kuliah. Mau beli alat tulis baru bareng Shana. Sama outfit kuliah baru biar ganti suasana. Hehehe..."
"Hmm... Iya juga ya."
"Tapi besok aku dandanin kamu ya?"
"Hah? Nggak usah ah. Kan cuma jalan biasa aja, bukan acara yang gimana-gimana. Nggak perlu dandan," tolak Bella.
"Nggak papa Bel. Kan besok hari terakhir kalian bisa makan siang bareng. Kamu pakai dress yang aku beliin ya! Please..." Cinta memohon sambil memperlihatkan matanya yang seolah berbinar. Bella pun tak kuasa untuk menolak lagi.
"Oke deh."
"Nah gitu dong!" Ujar Cinta senang. Ia kemudian mengangkat cangkir teh bunga Krisan miliknya dan meneguknya.
"Oh iya Cin, maaf aku nggak bisa ikutin saran kamu," kata Bella sambil tertunduk. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggesek kedua ibu jarinya karena merasa bersalah.
"Saran apa?" Cinta meletakkan kembali cangkirnya dan menatap Bella dengan wajah serius.
"Saran untuk nunggu Ari minta maaf duluan. Dia keras kepala banget, dan aku ngerasa nggak enak ada di hubungan yang dingin. Jadinya Minggu kemarin aku minta maaf ke dia."
Cinta menatap Bella tak percaya.
"Serius kamu yang minta maaf? Ya ampun Bel, kan yang salah Ari, bukan kamu? Kok malah kamu yang minta maaf?" Tanya Cinta tak sabaran. Ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak memperlihatkan kekesalannya. Pasalnya saat beberapa hari setelah Bella dan Ari bertengkar, Bella dan Cinta kembali melakukan video call berdua saja dan Cinta secara tak langsung menghasut Bella untuk terus bersikap dingin kepada Ari sampai lelaki itu meminta maaf. Tapi tampaknya hal itu gagal.
"Ya abis gimana? Aku sama Ari lagi dipisahin jarak selama sebulan. Masa kami nggak kontak-kontakan? Padahal kami pacaran. Rasanya aneh Cin."
"Aduh... Bella... Bella... Dimana-mana yang ada cowok yang ngalah, bahkan meskipun yang salah ceweknya. Lah kamu kebalikannya."
"Ya gimana Cin. Aku nggak bisa berantem lama-lama sama Ari," kata Bella putus asa.
"Dasar bucin."
Bella mendengus, "ih, nggak bucin."
Cinta tertawa untuk membuat Bella semakin merajuk. Padahal dalam hati ia merasa sangat kesal. Kalau Bella dan Ari tidak saling menghubungi selama sebulan kemungkinan bisa membuat hubungan Bella dan Ari berakhir. Tapi Bella malah mengacaukan semuanya. Dalam hati Cinta bertekad untuk kembali membuat hubungan Bella dan Ari diterpa badai dengan melakukan cara apapun, termasuk memanfaatkan orang yang tengah dekat dengan Bella yang bahkan ia tak tahu wajahnya seperti apa, Rama.
***
"Gimana, cantik kan?"
Bella melihat pantulan penampilannya dari cermin di kamarnya. Cinta benar-benar terlihat seniat itu untuk mendandani Bella. Mulai dari baju yang cantik, make up minimalis, hingga rambut yang disanggul di bagian bawah bak putri.
"Kamu yakin ini nggak berlebihan Cin?" Tanya Bella.
"Duh Bel. Kita itu dandan, jadi fashionable, untuk diri kita sendiri, untuk kepuasan kita sendiri. Bukan untuk orang lain. Jadi kamu nggak perlu takut di judge kalau kamu berlebihan. Ayo ngaku, sebenarnya kamu suka kan dandanan kayak gini?" Ujar Cinta. Dia harus benar-benar kelihatan cantik biar Rama makin kepincut dan rebut dia dari Ari, ucap Cinta dalam hati. Cinta sangat yakin kalau Rama sebenarnya memiliki perasaan kepada Bella, berdasarkan cerita yang Bella sebutkan kemarin malam.
"Iya, aku suka banget. Tapi kayaknya nggak terlalu cocok aja buat kegiatan yang mau aku lakuin nanti. Kesannya terlalu mewah," Bella masih saja khawatir.
Cinta tertawa meringis, "emang apa salahnya dandan kayak gini pas lagi main sama temen? Ini masih masuk kategori natural lho. Udah, kamu PD aja."
"Ya udah deh," Bella mencoba mengikuti perkataan Cinta.
"Nah gitu dong. Oke, karena aku udah selesai dandanin kamu, aku balik ya! Have fun!"
"Kamu juga ya! Sini, aku anterin sampai depan."
"Oke, aku sambil order taxi nih."
Cinta dan Bella berjalan keluar rumah Bella dan menunggu taxi yang dipesan Cinta di teras. Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk menunggu taxi itu. Cinta segera beranjak mendekati taxi itu diantar Bella.
"Makasih ya Cin udah dandanin aku. Hati-hati di jalan!" Pesan Bella kepada Cinta.
"Iya, sama-sama! Bye!" Ucap Cinta sambil melambaikan tangan.
"Bye!" Bella juga melambaikan tangan.
Tepat saat taxi Cinta pergi meninggalkan rumah Bella, Rama datang dengan sepeda motornya. Nampak dipunggungnya tersandang tas gitar. Lelaki itu membuka helmnya dan tak bisa berkata-kata saat melihat penampilan Bella. Ia sangat terpana.
"Bentar ya Ram, aku ambil tas sama motor dulu. Tadi aku abis anterin temen aku," kata Bella. Rama yang masih terpesona hanya bisa mengangguk.
Saat melangkah masuk ke dalam rumahnya, Bella bertanya-tanya dalam hati mengenai reaksi Rama yang hanya diam saja saat sampai. Biasanya Rama akan menyapa Bella dengan penuh semangat. Hal itu membuat Bella jadi merasa kalau penampilannya yang membuat Rama jadi seperti itu.
"Apa nggak cocok ya buat jalan-jalan biasa? Apa terlalu lebay. Duh Bel, stop over thinking!" Bella memarahi dirinya sendiri. Dengan kasarnya ia meraih tas selempangnya dan kembali keluar rumah, mencoba untuk bersikap biasa saja.
***