Perasaan Tak Lega

3236 Kata
Di saat ia membuat kita menjauh, di saat itu pula aku tak bisa berhenti peduli padamu. *** Cinta segera menjauh dari Bella dan Ari setelah kelas usai. Tampak ia mengeluarkan hp-nya dari dalam tas dan menghubungi seseorang sambil terus berjalan ke arah gerbang fakultas. "Halo?" Sapa seorang perempuan di seberang telepon. "Nanti malam jadi datang kan?" Tanya Cinta to the point. Perempuan itu tertawa, "iya, tenang aja. Gak mungkin gue nggak datang kalau ada Ari disana." "Oke." "Tapi gue jadi penasaran, sebenarnya kenapa sih Lo tiba-tiba ngajakin gue pergi bareng? Gue nggak ingat kita sedekat itu," perempuan itu masih berbicara sambil tertawa, membuat Cinta semakin muak dengannya. Tapi ia membutuhkan perempuan itu untuk menjalankan sebuah rencana. "Bella nggak bisa ikutan karena kerja. Kalau gue bareng Ari doang nggak enak, nggak ada ceweknya. Karena Lo mantannya Ari, dan gue sahabatnya Ari, jadi nggak ada salahnya kita pergi bareng kan?" Jelas Cinta. "Ooh... Iya deh yang sahabatnya Ari," terdengar sekali perempuan itu sedang mengejek Cinta. Cinta mendengus tanpa suara. Bagaimanapun ia harus bersabar agar rencananya bisa berjalan dengan mulus. Tasya, mantan pacar Ari yang juga teman sekelas mereka dulu, adalah orang yang paling tidak disukai Cinta. Dan Tasya tahu bahwa Cinta sebenarnya menyukai Ari, makanya ia suka mencemooh Cinta, membuat hubungan mereka tambah tidak akur. "Ya udah, sampai ketemu nanti malam," ucap Cinta ketus lantas langsung mematikan telepon. Ia memasukkan HP-nya kembali ke dalam tas lalu melipat kedua tangannya di depan d**a sambil menunggu jemputan dari Shana. Wajahnya masih memancarkan aura menakutkan, membuat orang-orang yang ada disana enggan untuk berjalan di sekitarnya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Cinta bergegas keluar dari rumah tantenya, yang sudah ia tempati sejak SMP, dan masuk ke sebuah Mini Cooper biru. Sang pengendara mobil menatap Cinta dari kepala hingga kaki. Cinta mengenakan riasan makeup soft grunge look, serta menggunakan tank top crop andalannya dengan oversized denim jacket sebagai luarannya serta hot pants jeans untuk bawahannya. Sneaker putih melengkapi penampilannya. Sang pengendara mobil tertawa terbahak. "Mau nyaingin gue ya?" Tanyanya. "Enggak tuh. Gue memang biasa kayak gini," jawab Cinta ketus. "Oooh... Sorry... Sorry... Gue lupa. Abis Lo keseringan bergaul sama anak cupu, jadi gue agak shock lihat penampilan lo. Tapi tetap aja, Lo gak se-seksi gue." "Ya terserah," ucap Cinta tak peduli. Baru semenit saja bertemu dengan Tasya, rasanya ia sudah muak. Kalau saja bukan untuk memanfaatkan gadis itu, Cinta tidak akan pernah sudi untuk bertemu dengan Tasya lagi. "Gue udah baik lho mau jemput Lo. Jangan judes gitu dong. Nggak pernah berubah deh Lo dari dulu," kata Tasya sambil menghidupkan mesin mobilnya. Namun Cinta tak menanggapi mantan teman sekelasnya itu. "Oh iya, jadi Ari gimana sekarang? Dia cuek banget sama gue, malah ngeblokir nomor gue." "Itu karena Lo terlalu bawel dan genit," ucap Cinta dalam hati sambil melirik Tasya sinis. "Emang sebucin itu ya dia sama Bella? Padahal Bella cupu begitu," lanjut Tasya. "Iya, memang sebucin itu," Cinta akhirnya menanggapi perkataan Tasya. Ia harus memanas-manasi Tasya. Ini adalah bagian dari rencananya. "Duh nggak ngerti deh gue sama Ari. Masa pengganti gue nggak ada apa-apanya," Tasya masih menyombongkan diri. Dikibasnya rambut panjangnya yang di blow dengan cantik. "Mungkin Ari mau sama cewek baik-baik biar nggak diselingkuhin lagi," ucap Cinta sambil tertawa terkekeh. Hal itu membuat Tasya meruncingkan bibirnya yang dipoles dengan lipstik berwarna Cherry Red dan lip gloss. "Well, lihat aja. Apa setelah ketemu gue, dia bakal setia sama ceweknya yang baik itu," kata Tasya kemudian. Cinta pun hanya tertawa meringis. Ia juga menantikan hal itu. Menantikan Ari yang tergoda dengan Tasya dan membuat Bella memutuskan hubungan mereka. Dan Ari tidak akan bisa menyalahkan Cinta jika memang hal itu terjadi. Karena tentu saja hal itu akan terlihat seperti kesalahan Ari sendiri. Ari dan teman se-gank-nya sudah berkumpul di sebuah arena bermain biliar. Mereka bermain dengan sangat seru sampai dua orang perempuan datang mendekati mereka. Siapa lagi kalau bukan Cinta dan Tasya. Melihat dua gadis cantik dan seksi datang, para lelaki langsung mengalihkan pandangannya kepada mereka berdua, bahkan salah satu dari mereka bersiul menggoda. Namun berbeda dengan yang lain, Ari nampak tidak senang dengan kedatangan dua perempuan itu. "Hai Boys...!" Sapa Tasya dengan gaya centilnya. Ia melambaikan tangannya, teman-teman Ari pun membalas lambaian tangan Tasya sambil tersenyum nakal. "Mantan sama TTM datang nih. s***s," ucap salah satu teman Ari setengah berbisik. "Apaan sih?" kata Ari keki. Ia lantas mendekati kedua perempuan itu, membuat teman-temannya bersorak dengan norak, penasaran apa yang akan dilakukan Ari. "Ngapain kamu bawa dia kesini?" tanya Ari kepada Cinta. Cinta pura-pura kaget mendengar pertanyaan Ari, "lho, emang kenapa? Kan lagi reuni?" "Ini cuma acara buat teman-teman dekat aku aja," jelas Ari masih dengan nada dingin. "Duh Ari, emangnya kita berdua bukan teman dekat kamu? Kita deket banget lho dulu pas SMA, lebih dekat daripada berandalan-berandalan di belakang kamu itu," ucap Tasya dengan suara manjanya yang genit. "Wuih, deket yang gimana tuh?" Teman Ari yang lain mulai menggoda dari belakang. Sementara yang lain tertawa mengolok. "Gue nggak ngomong sama Lo," ucap Ari sarkastik kepada Tasya. "Kok galak banget sih Ri? Masih dendam ya sama aku? Aku kan udah minta maaf dulu. Jangan galak lagi ya?" Pinta Tasya masih dengan suara manjanya. Ari hanya membuang muka, tak sudi menanggapi perempuan di hadapannya itu. "Ya udah kalau kamu nggak suka kita gabung, kita main berdua aja deh. Yok Sya," Cinta menarik tangan Tasya untuk menjauh dari Ari dan teman-temannya menuju meja biliar yang lain. Tasya awalnya tidak mau, tapi Cinta mengedipkan matanya, seolah memberi kode. Tasya tidak mengerti kode itu, tapi akhirnya ia mengikuti Cinta. "Ngapain sih Lo ngajak gue main berdua? Gue ogah tau?!" Kata Tasya kesal setelah mereka agak jauh dari Ari dan teman-temannya. "Lo kira gue juga mau main bareng Lo?" Kata Cinta tak kalah muak dengan Tasya. Tasya hanya menampakkan wajahnya yang cemberut. "Lo sabar aja. Liat nanti gimana. Nggak mungkin mereka bakal cuekin kita terus kan?" Kata Cinta berusaha meyakinkan Tasya. Tasya tampak berpikir sebentar, "maksud Lo mereka nanti bakal kesini gitu? Ari juga?" "Udah, lihat aja," ucap Cinta sambil menyusun bola dengan formasi wajik. Tasya pun terpaksa menuruti Cinta. "Ngomong-ngomong Lo kenapa mau ajak gue ketemu Ari? Lo mau nyomblangin gue sama Ari ya? Lagi berantem sama Bella?" tanya Tasya setelah mereka melakukan lagging untuk menentukan siapa pemain pertama yang akan memulai permainan. "Lo nggak perlu tahu tujuan gue. Yang penting kan sekarang Lo bisa ketemu Ari lagi," Cinta menolak untuk memberikan penjelasan. Kalau Tasya tahu bahwa Cinta hanya memanfaatkannya, yang ada nanti Tasya akan menggagalkan rencana Cinta. "Ya pasti ada apa-apa nih sama Bella," Tasya masih keuh-keuh dengan pendapatnya. Namun Cinta tak memperdulikan pendapat Tasya itu. Ia lebih memilih memulai pukulan break-nya karena bola Cue nya berada di posisi paling dekat dengan cushion bagian atas meja setelah mereka berdua melakukan lagging. Benar saja kata Cinta. Tak lama kemudian satu persatu teman Ari mulai datang ke tempat Cinta dan Tasya untuk melihat permainan Cinta dan Tasya. Tasya yang suka menjadi pusat perhatian menjadi bersemangat untuk bermain. Bahkan kini Cinta mempersilahkan salah satu teman Ari untuk bermain dengan Tasya setelah Tasya memenangkan pertandingannya dengan Cinta. Dan diam-diam Cinta beranjak pergi ke tempat Ari. "Main bareng yok! Udah lama kita nggak main," kata Cinta kepada Ari. Namun Ari tak memberikan respon. "Bella nggak bakal marah kalau kita main bareng kok," kata Cinta lagi. Ia memberi kode kepada lawan main Ari untuk memberikan stiknya kepada Cinta, dan lelaki itu hanya menurut. Ari tidak memberikan protes. Ia pun mulai bermain dengan Cinta. Cinta merasa sangat senang karena Ari terlihat sudah mencairkan dinginnya dinding yang dibuatnya untuk Cinta. Tak sia-sia akhir-akhir ini Cinta memutuskan untuk menahan diri mengganggu hubungan Ari dan Bella. Ari tampak sangat menikmati permainan mereka. Membuat Cinta jadi teringat dengan kedekatan mereka dulu, sebelum Ari mulai berpacaran dengan Bella. "Masih jago aja kamu mainnya," puji Ari sambil tersenyum. Senyum yang membuat hati Cinta merasa hangat. "Iya dong!" ucap Cinta bangga. Sebentar lagi ia akan memenangkan pertandingannya dengan Ari. Baru saja Cinta mendapatkan kebahagiaannya yang sudah lama hilang, tiba-tiba saja Tasya datang mendekati Cinta dan Ari. Ia duduk di atas meja biliar, menyilangkan kakinya yang dibalut kaus kaki hitam selutut dan ankle boots. Pahanya terbuka lebar karena ia mengenakan plaid pleated skirt yang super pendek. "Udah selesai mainnya? Gantian dong..." Rengek Tasya. Cinta menatap Tasya kesal. Tapi segera disembunyikannya wajah kesalnya saat Ari melihat ke arahnya. "Ya udah, nih," Cinta menyerahkan stiknya kepada Tasya setelah sodokan terakhirnya membuatnya memenangkan permainan. Tasya pun menerima stik itu dengan gembira seraya turun dari meja. "Cin," Ari memelototi Cinta. Tapi Cinta hanya tertawa meringis. "Udah lah Ri, main aja sekali sama Tasya. Aku juga mau main sama yang lain nih," ucap Cinta sambil berlalu meninggalkan Ari dan Tasya. Tasya menatap Ari dengan ekspresi penuh harap agar tidak ditinggalkan. Ari pun dengan terpaksa tetap disana dan meladeni Tasya. Tasya membungkukkan badannya yang dibalut dengan cropped knit cardigan lengan panjang saat menyodok bola cue-nya untuk break shoot karena mendapat urutan pertama setelah melakukan lagging. Bagian dadanya yang terbuka karena Tasya hanya mengancingkan dua kancing di tengah membuat belahan dadanya nampak, sehingga Ari mengalihkan pandangannya dari perempuan itu. "Ih, kenapa sih? Segitu bencinya sama aku ya? Udah setahun lho, lupain aja masa lalu," gerutu Tasya. "Baju Lo tuh," ucap Ari dingin. Tasya pun melirik bajunya. "Ya gimana, bajunya memang kayak gini. Atau kalau nggak, aku pinjam jaket kamu. Sini," ucap Tasya yang lantas mengulurkan tangan kanannya, menunggu Ari melepas jaketnya dan meminjamkan kepadanya. Ari terdiam sejenak, tak menyangka Tasya akan bereaksi seperti itu. Namun melihat Tasya yang menggerakkan jarinya meminta Ari untuk membuka jaketnya, membuat Ari mau tak mau menuruti permintaan gadis itu. Tasya tampak senang dipinjami jaket oleh mantan kekasihnya itu. Ia mengancingkan baseball jacket itu sampai atas agar seluruh tubuhnya terbungkus. "Nah, udah kan? Berarti kamu udah bisa main, buruan, giliran kamu," ucap Tasya. Saat memukul bola Cue untuk break shoot, ia langsung melakukan foul yang membuatnya harus menyerahkan giliran permainan kepada Ari. Ari lagi-lagi menuruti Tasya. Main bareng Tasya sepertinya gak ada yang salah. Toh ini acara reuni dengan teman dekat SMA, batin Ari. "Jadi gimana kamu sama Bella? Seru?" Tasya kembali membuka percakapan. "Seru-seru aja," jawab Ari setelah melakukan combination shoot. "Masa sih? Bella kan anaknya kaku, alim, emang kayak mana kalau pacaran?" Tanya Tasya penasaran. "Emang Lo maunya gimana?" Ari balik bertanya. Ia menghentikan gilirannya karena ia gagal memasukkan bola. "Pasti kalian pacarannya ke toko buku, perpustakaan, gitu-gitu kan?" Tasya terkekeh dengan leluconnya sendiri. "Malah nggak pernah," Ari memberikan klarifikasi. Membuat Tasya menatapnya tak percaya. "Wah, serius? Terus kemana dong? Atau Bella malah ngikutin kamu ya? Pasti udah nakal dia sekarang ya?" Tasya kembali tertawa, tapi tawanya segera reda saat Ari menghadiahinya dengan tatapan tak senang. "Iya... Iya... Maaf. Aku kan cuma bercanda," Tasya menampakkan wajah merasa bersalah agar Ari tidak jadi ngambek kepadanya. Lantas ia kembali ke permainan dan melakukan stop shoot. "Gue nggak bisa lama-lama. Satu jam lagi gue mau jemput Bella kerja," kata Ari kemudian. "Oh, kamu udah bisa bawa mobil?" "Belum. Masih sama sopir." "Ya ampun Ari. Kasian banget sih kamu. Tapi keadaan kamu udah baik-baik aja kan?" "Udah kok." "Duh, sayang banget aku nggak bisa ngerawat kamu waktu itu. Padahal kalau kita waktu itu masih pacaran, pasti aku yang tiap hari nemenin kamu sampai sembuh." Ari hanya tertawa meringis mendengar ucapan Tasya. "Kamu ingat nggak dulu pas kita masih sekolah waktu kamu masuk rumah sakit gara-gara berantem, aku tiap hari datang jenguk kamu. Kita sayang-sayangan berdua di atas kasur kamu, eh wali kelas ternyata datang jenguk kamu. Kita berdua malah jadi kena ceramah," kenang Tasya. Ia tertawa terbahak sampai memegangi perutnya. "Apaan sih masih ingat aja," Ari ikut tertawa geli mengenang kisah cinta mereka dulu. Ari dan Tasya malah jadi membahas masa lalu mereka ketimbang fokus dengan permainan. Mereka menertawai kisah mereka dulu, yang penuh dengan pasang surut. Tasya benar-benar membuat Ari bernostalgia dan jadi merindukan mereka yang dulu. Ari yang tadi bersikap dingin dengan Tasya pun kini sudah bisa menerima kehadiran Tasya disana. "Duh Ri, panas banget nih aku pakai cardigan rajut dilapis jaket," kata Tasya sambil mengibas-ngibaskan ujung jaket Ari yang ada di dekat lehernya. "Lah kan Lo tadi yang minta jaket gue." "Ya abisnya kamu sih tadi sok-sokan jadi anak baik." "Ya udah balikin jaketnya. Gue dingin nih," Ari berlagak kedinginan sambil memeluk tubuhnya yang hanya mengenakan kaos putih V neck. Tasya tersenyum lebar sambil menatap Ari genit, "nakal ya. Ya udah, ambil sendiri nih," Tasya bergegas mendekati Ari dan berhenti di hadapan lelaki itu dengan jarak yang sangat dekat sehingga Ari dapat mencium wangi bunga mawar dan melati yang dipadu dengan vanilla dari parfum yang dikenakan Tasya lebih jelas daripada sebelumnya. Ia merentangkan kedua tangannya, bersiap menunggu Ari membuka satu persatu kancing jaketnya. Ari menelan ludahnya, tak habis pikir dengan tindakan agresif Tasya. Tasya dari dulu tidak berubah. Selalu punya seribu ide untuk menggoda Ari. Dan kali ini pun Ari tidak mampu melawan godaan itu. Seketika ia melupakan pengkhianatan Tasya dulu dan memilih untuk mengikuti hawa nafsunya. *** Akhir-akhir ini suasana Coffee Time terasa berbeda. Tidak ada lagi canda dan tawa dari dua pelayanan cafe yang biasanya terlihat akrab. Padahal biasanya ada suara gerutuan Bella karena dijahili Rama. Atau mereka sekedar berbincang saat pengunjung cafe sepi. Sang kasir sangat menyadari adanya jarak diantara Bella dan Rama selama seminggu ini. Penasaran, ia pun langsung bertanya kepada Bella dan Rama. "Kalian berantem ya?" Bella dan Rama saling memandang setelah mendengar pertanyaan dari Hendrik. "Nggak kok. Emang kayak orang berantem ya?" tanya Rama sambil tertawa geli. Sementara Bella hanya bisa diam. Bagaimanapun juga, hal ini terjadi karena dirinya. Sejak Bella mengatakan bahwa mereka tak perlu lagi pulang bersama demi menghindari keposesifan Ari, Rama seperti menjaga jarak dari Bella. "Terus kenapa diam-diaman?" tanya Hendrik lagi, tak puas dengan jawaban Rama. "Nggak kok. Gue cuma berusaha menjadi cowok yang lebih kalem aja," jelas Rama mengarang alasan. Namun hal itu malah membuat Hendrik menatap Rama tak percaya. Tapi ia malas untuk menggali tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Aneh," Hendrik memutuskan untuk meninggalkan Bella dan Rama kembali ke ruangan kasir, menunggu pengunjung yang akan membayar menu yang sudah mereka santap. Kini hanya tinggal Bella dan Rama berdua saja di samping ruangan kasir. Mereka saling menunduk karena canggung. Rama memegang leher belakangnya seraya melirik Bella. "Gue lanjut kerja ya," kata Rama yang kemudian meninggalkan Bella sendirian dan mendekati pengunjung yang baru datang sambil membawa buku menu. Bella menghembuskan napasnya. Rasanya stres sendiri dengan apa yang terjadi. Ia menyayangkan kenapa ia dan Rama harus jadi seperti ini demi menjaga hati Ari. Tapi segera ditepisnya kegundahan hatinya itu. Dihembuskannya napasnya lagi untuk membuatnya membuang kekhawatirannya dan ia pun bergegas kembali bekerja. Malam telah menjelang. Semua karyawan cafe bergegas pulang, tapi tidak dengan Bella. Ia mendekati Rama yang tengah memakai jaketnya. "Ram..." Rama menoleh, "iya?" "Aku boleh pinjam satu kunci nggak? Soalnya tadi aku diantarin Ari, dan malam ini dia bakal jemput juga, jadi aku mau nunggu dia di dalam. Besok aku bakal datang cepet kok," tanya Bella. "Oh, boleh kok. Tapi Lo nunggu sendiri?" tanya Rama memastikan. "Iya. Biasanya Ari nggak lama kok kalau jemput. Tadi lagi ada urusan aja katanya bentar. Paling sebentar lagi dia sampai," Bella berusaha meyakinkan Rama. "Oh, ya udah," Rama meraba saku celananya dan mengeluarkan kunci-kunci yang tergabung dalam sebuah gantungan kunci. Ia lalu mengeluarkan salah satu kunci itu dari sana, "ini kunci depan ya," ucapnya sambil menyerahkan kunci itu kepada Bella. Bella menerima kunci itu, "makasih Ram. Hati-hati di jalan ya!" pesan Bella sambil tersenyum. Rama pun mengangguk dan membalas senyuman Bella, lantas bergegas meninggalkan Bella dan menuju tempat parkir. Bella duduk di salah satu kursi yang ada di cafe setelah mengunci pintu cafe dari dalam. Ia mengeluarkan smartphone-nya dan membuka berbagai aplikasi sambil menunggu Ari. Tapi lama-lama ia merasa bosan. Diliriknya jam di HP-nya, ternyata sudah satu jam berlalu. Bella menjadi khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Ari. Karena biasanya Ari tak pernah membuatnya menunggu selama ini. Ia pun bergegas menghubungi Ari. "Halo?" sapa Ari di seberang sana. "Halo Ri. Kamu udah dimana?" tanya Bella. "Duh Sayang, sorry aku lama. Ini aku lagi kesana. Kamu tunggu bentar lagi ya?" "Baru mau berangkat?" tanya Bella dalam hati. "Ya udah. Hati-hati ya," Bella memutuskan untuk tidak mempermasalahkan Ari yang terlambat datang. "Iya Bel. Maaf ya." "Iya." Bella segera memutuskan sambungan telepon. Ia merasa lelah dan mengantuk. Direbahkannya tubuhnya di atas meja, dan tanpa ia sadari ia pun tertidur. *** Dering suara HP membangunkan Bella dari tidurnya. Bella segera membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. Namun ia seketika kaget saat sadar tubuhnya tiba-tiba sudah diselimuti jaket. Tapi ditundanya dulu rasa penasarannya tentang jaket itu dan segera mengangkat telepon. "Halo?" "Bel, aku udah di luar ya." "Oh, oke. Tunggu ya, aku keluar." Bella mematikan hubungan telepon. Tapi sebelum keluar, ia melepas jaket dari punggungnya, untuk melihat itu milik siapa. Dan Bella ingat, itu jaket yang dipakai Rama tadi. Bella menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari Rama. Namun tidak ada siapa-siapa disana. Bella memutuskan untuk menyimpan jaket itu ke dalam tasnya, daripada nanti Ari melihatnya dan malah memancing perkelahian. Ia lantas keluar dari cafe agar Ari tidak menunggu lama. Sesampainya di luar, Bella kembali menoleh ke sekitar cafe untuk mencari Rama. Tapi ia tetap tidak menemukan lelaki itu. "Hei, aku disini," Ari tiba-tiba datang dan menepuk pundak Bella dari belakang. Membuat Bella sedikit kaget. "Udah dikunci pintunya?" tanya Ari kemudian karena Bella hanya diam, seperti memikirkan sesuatu. "Udah," jawab Bella. "Ya udah, kalau gitu sekarang kita pulang ya," ajak Ari. Bella mengangguk dan mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju mobil. Selama perjalanan Bella lebih banyak diam. Ia memikirkan tentang jaket Rama yang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Apa Rama tadi belum pulang? Apa dia nungguin aku? Tapi dimana? Batin Bella dalam hati. Diamnya Bella membuat Ari salah paham. Ia mengira Bella diam karena marah dengan Ari yang datang terlambat. Ia pun memutuskan untuk meminta maaf kepada Bella lagi. "Bel, maafin aku ya. Aku tahu aku salah karena udah telat hampir dua jam. Gara-gara keasyikan main sama teman-teman aku, aku jadi lupa waktu," ucap Ari memelas. Bella yang tadi mengarahkan pandangannya ke luar jendela mobil langsung mengalihkan pandangannya ke Ari. "Iya Ri. Nggak papa. Kamu kan udah lama nggak main bareng mereka." "Tapi kamu kok kelihatannya marah sama aku?" Tanya Ari penasaran. "Nggak kok, nggak marah." "Terus kenapa dari tadi diam aja?" Bella berpikir sejenak untuk mencari alasan, "aku ngantuk Ri. Tadi aku ketiduran pas nungguin kamu." Ari mendekap tubuh Bella dan memeluknya erat. Ia merasa sangat bersalah dengan Bella, "maaf ya. Padahal kamu pasti capek harus kerja habis kuliah. Tapi aku malah buang waktu istirahat kamu cuma untuk nungguin aku selesai main. Aku memang cowok yang nggak berguna." "Enggak Ri," Bella melepaskan pelukan Ari, lalu memegang kedua tangan Ari dengan lembut dan menatap wajah lelaki itu lekat, "aku kan kerja karena keinginan aku. Ini semua bukan salah kamu. Kemarin-kemarin kamu nggak pernah telat jemput aku. Cuma sekali ini aja kamu telat. Jadi nggak masalah Ri," Bella berusaha meyakinkan Ari. "Makasih ya Bel. Kamu memang pengertian banget sama aku." Bella tersenyum untuk membuat hati Ari lega. Padahal hatinya sendiri sedang bingung karena pikirannya sibuk mempertanyakan Rama saat ia sedang bersama Ari. Hatinya pun tak lega karena ia tak yakin kalau ia benar-benar tidak marah terhadap Ari. Seolah pikirannya terhadap Rama membuat Bella jadi tidak peduli dengan apa yang diperbuat Ari. Seolah Ari tak penting lagi dan ia hanya berpura-pura memaklumi Ari hanya untuk menghindari perkelahian yang membuatnya lelah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN