Semakin hari hatiku semakin jatuh padamu.
Tapi kau punya tugas untuk menjaga hatinya.
***
Langit malam begitu indah dengan bulan sabit dan beberapa bintang yang bertaburan. Bella dan Rama baru saja sampai di rumah Bella. Bella memasukkan sepeda motornya ke dalam halaman rumahnya dan kembali ke depan pagar untuk mengucapkan terima kasih kepada Rama.
"Dah Ram. Makasih ya buat hari ini," kata Bella sambil melambaikan tangan.
"Sama-sama. By the way ini," Rama mengambil teddy bear yang di dudukkan di bagian depan sepeda motornya dan menyodorkan kepada Bella, "buat lo."
Bella terperangah tak percaya. Segera dipastikannya apa ia tak salah dengar.
"Buat aku?"
Rama tersenyum, "iya Bel. Kalau gue kasih tadi di pasar malam pasti lo susah bawanya. Makanya gue kasih sekarang. Nyokap lo kan lagi di luar kota, jadi teddy bear ini buat nemenin lo biar nggak kesepian," jelas Rama.
Mata Bella membulat dan berbinar. Diambilnya teddy bear itu dan segera dipeluknya dengan gemas.
"Makasih ya Ram. Aku seneng banget," ucap Bella girang.
"Iya. Ya udah, gue lanjut pulang ya!" pamit Rama. Bella pun mengangguk. Ia melambaikan tangan teddy bear ke arah Rama.
"Hati-hati!" pesan Bella. Setelah Rama pergi, Bella segera menutup pagar rumahnya dan masuk ke dalam rumah bersama teddy bear barunya. Senyum masih menghiasi bibirnya selama perjalanannya menuju ke kamar.
"Aku pikir Rama mau kasih ke orang lain. Ternyata dia ngasih teddy bear ini ke aku," Bella berbicara sendiri. Di letakkannya teddy bear itu di samping buket bunga yang dulu pernah Rama titipkan kepada suster di rumah sakit. Lalu dielusnya kepala teddy bear itu dengan gemas.
Bella mencabut charger HP-nya setelah ia selesai mandi. Daritadi HP nya tidak hidup karena kehabisan baterai. Ia takut Ari marah karena ia tidak mengabari Ari malam ini. Dan benar saja, saat ia mengaktifkan HP-nya, ada panggilan yang terlewatkan dari Ari. Ari juga mengirimkan beberapa pesan yang menanyakan keberadaan Bella. Bella memilih untuk menelepon Ari langsung agar ia bisa menjelaskan apa yang terjadi malam ini.
"Halo?" sapa Ari di seberang telepon. Nadanya terdengar kesal.
"Halo, Ari. Maaf aku baru bisa hubungin sekarang," kata Bella takut-takut.
"Memangnya HP kamu kenapa? Kok nomor kamu nggak aktif dari tadi?" tanya Ari jengkel.
"Baterainya habis Ri."
"Jam kerja kamu udah lewat dua jam yang lalu. Memang harus selama itu ya nge-charge HP? Nggak bisa kamu hidupin bentar HP kamu untuk ngasih kabar ke aku?!" Ari tak terima dengan alasan Bella.
"Maaf Ri. Tadi aku nggak langsung pulang. Aku pergi ke pasar malam sama teman-teman cafe. Baru aja pulang makanya baru bisa nge-charge," Bella memberikan penjelasan, berharap Ari mau mengerti.
"Teman-teman cafe?"
"Iya Ri."
"Rame-rame atau cuma berdua Rama?"
Bella mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Ari, "kok tiba-tiba nuduh gitu sih? Aku kan bilang bareng teman-teman cafe. Berarti rame-rame dong!"
"Ya udah, kirimin fotonya!" perintah Ari.
"Kamu nggak percaya banget sih sama aku?" Bella mulai kesal dengan sikap Ari.
"Ya kalau nggak ada yang ditutupin nggak masalah kan kirim fotonya?" Ari tetap ngotot.
Bella mendengus kesal, "ya udah. Aku minta dulu fotonya sama Mba Ica. Tadi kami foto di HP nya dia."
"Oke."
Ari mematikan telepon begitu saja. Sikap Ari itu membuat Bella benar-benar tak habis pikir.
Setelah mendapatkan foto dari Ica, Bella segera meneruskannya ke Ari. Beberapa menit kemudian Ari pun menelepon Bella.
"Udah percaya sekarang?" tanya Bella.
"Kenapa Rama duduk di samping kamu?"
"Ya ampun Ari," Bella tak percaya Ari mempermasalahkan hal itu, "ya aku nggak tahu. Kami cuma pilih tempat duduk random aja. Kebetulan tadi Rama yang atur kameranya, dan aku ada di ujung. Pas kameranya udah pas, Rama ikut foto juga dan kebetulan tempat di samping aku yang kosong. Kita nggak sengaja duduk deketan kok!"
"Ya udah. Besok-besok nggak usah duduk dekat-dekat dia lagi."
"Ri, kamu kok selalu aja cemburu sama Rama gitu? Padahal disana ada Mas Hendrik sama Mas Danu juga. Aku anggap mereka semua sama, sama-sama teman kerja aku!" kata Bella muak.
"Kamu nggak ingat terakhir kali kita berantem gara-gara apa? Gara-gara dia lancang ngajak kamu makan siang berduaan aja kan? Terus kamu bilang aneh kalau aku cemburu?!"
"Ya ampun Ri, itu kan cuma makan siang sebelum berangkat kerja!"
"Ya udah lah, belain aja dia terus!" kata Ari sambil memutuskan hubungan telepon mereka.
"Apaan sih Ari?" Bella sangat kesal dengan kelakuan Ari. Ia memutuskan untuk menghubungi Ari lagi agar kesalahpahaman Ari tidak terus berlanjut. Tapi ternyata Ari menonaktifkan nomornya.
"Terserah deh! Capek aku!" Kata Bella.
Padahal baru saja ia merasa bahagia hari ini, tapi seketika kebahagiaan itu dirusak oleh kekasihnya sendiri. Di letakkannya HP nya di atas meja dan ia pun memutuskan untuk tidur saja, melupakan perkelahiannya dengan Ari.
***
Rama sudah sampai di sebuah kost putra, tempat dimana ia menetap sejak SMA. Setelah memarkir motornya di garasi, Rama bergegas ke kamarnya. Disana sudah ada Toni yang sedang bermain game di HP nya.
"Wah udah pulang Abang kita satu ini. Darimana aja?" sapa Toni tanpa mengalihkan pandangannya dari layar HP nya.
"Abis main," jawab Rama sambil menggantung jaketnya di balik pintu kamar. Lalu ia pun duduk di samping Toni.
"Ada makanan noh dari Hana. Untung Lo pulang sekarang, kalau enggak udah abis sama gue," kata Toni yang ternyata masih mengunyah makanan dari Hana di mulutnya. Rama pun beringsut ke meja yang ada di samping Toni, meraih makanan yang dimaksud sahabatnya itu.
"Apa nih?" tanya Rama penasaran.
"Pisang goreng coklat keju kesukaan Rama," jawab Toni dengan gaya centil.
"Lah tega Lo nyisain gue cuma segini," ucap Rama kecewa. Walaupun ia sudah banyak makan di pasar malam tadi, tapi tetap saja yang namanya laki-laki masih bisa untuk makan lagi. Apalagi ini adalah cemilan kesukaannya. Ia bisa menghabiskan sendiri tanpa bantuan Toni. Bahkan sepuluh kotak pun ia sanggup.
"Lumayan itu tiga biji."
Rama tak memperdulikan Toni dan segera melahap pisang goreng itu. Hana memang tahu selera Rama, pisang goreng dengan topping yang banyak. Ia memang sering membuatkannya untuk Rama dan Toni.
"Enak," kata Rama sambil meletakkan kotak pisang goreng yang sudah kosong itu ke depan layar HP Toni, iseng agar pandangan Toni terganggu. Kotak itu pun jatuh ke pangkuan Toni dan remah-remahnya bertebaran. Rama tertawa lalu ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk mandi.
"Ah elu ganggu konsentrasi gue aja. Kan kalah!" rengek Toni. Ia dengan terpaksa meletakkan kotak pisang goreng itu ke atas meja. Ia memutuskan untuk tidak bermain game lagi dan membersihkan remah-remah yang bertebaran.
"Tadi Hana nyariin Lo," kata Toni setelah ia selesai bersih-bersih, walaupun ia masih kesal.
"Kenapa?" tanya Rama dari dalam kamar mandi. Ia terdengar sudah selesai mandi karena air kerannya sudah mati.
"Ya mau ngasih pisang goreng."
"Kan bisa kasih ke Lo. Kenapa nyariin gue?"
"Soalnya pisang gorengnya buat Lo. Gue cuma disuruh bantu Lo makan aja Ram," kata Toni sedih.
Rama yang dibalut handuk keluar dari kamar mandi dan duduk di samping Toni, "sebenarnya Hana itu mau ngasih buat Lo. Tapi dia gengsi makanya bilang buat gue."
"Masa sih?" tanya Toni tak percaya.
"Bener. Namanya juga cewek, kalau ada perasaan sama cowok ya dia gak mau blak-blakan lah. Dia ngasih kode biar si cowok yang gerak duluan."
"Maksud Lo Hana suka sama gue?" tanya Toni lagi. Rama mengangguk.
"Ah ngarang Lo. Jelas-jelas Hana sukanya sama Lo. Hana nggak suka sama gue Ram."
"Emangnya Lo udah pernah nyatain perasaan Lo dan nanya perasaan dia ke Lo gimana?"
"Ya belum."
"Nah makanya, coba tanyain langsung ke Hana."
Toni menunduk sedih, "gue nggak berani Ram. Kalau ternyata dia nolak gue gimana? Hubungan pertemanan kita nanti nggak bakal kayak biasanya dong."
"Tapi cinta kan harus diperjuangkan Ton," kata Rama sambil menepuk bahu Toni.
"Iya sih. Tapi Lo bantuin gue dong! Lo kan tahu gue nggak punya pengalaman PDKT sama cewek."
"Gini nih punya temen jomblo sejak lahir," Rama meninggalkan Toni untuk memakai baju.
"Ya elah, bukannya bantuin malah ngatain!" Ucap Toni kesal.
"Iya... Iya... Gue pikirin dulu caranya ya. Soalnya gue lagi sibuk ngurusin masalah percintaan gue juga," kata Rama sambil tertawa terkekeh. Ia membuka lemarinya dan mengambil baju serta celana paling atas, lalu memakainya.
"Lagian Lo ngapain juga mau rebut cewek orang. Cari cewek itu yang single, biar Lo nggak pusing mikirin cara untuk ngedapetin dia."
"Gue sukanya sama dia Ton. Makanya gue berjuang, mana tau dalam waktu dekat ini dia putus, jadi gue nggak perlu waktu lama untuk PDKT sama dia karena dia udah gue buat nyaman duluan sebelum putus."
Toni geleng-geleng kepala mendengar perkataan Rama, "siapa sih tu cewek sampai Lo segitunya?"
"Ya... Ada lah," Rama memilih untuk merahasiakan tentang Bella. Ia tidak mau Toni menceramahinya lebih lama jika ia tahu bahwa perempuan yang disukai Rama itu adalah Bella.
"Nanti kalau gue berhasil jadian sama dia, baru gue kenalin sama Lo," lanjut Rama.
"Ya terserah Lo deh. Yang penting Lo bantuin gue biar bisa jadian sama Hana," kata Toni yang memilih masa bodo dengan rencana Rama. Ia hanya berharap Rama tidak begitu kecewa saat ia tidak bisa mendapatkan gadis pujaannya itu dan kembali menjalani kehidupannya dalam keterpurukan.
***
Rasanya Bella tidak bisa tidur nyenyak semalam. Setelah ia pikir-pikir lagi, sepertinya ia memang membuat kesalahan. Ia berada di gondola yang sama dengan Rama. Kalau Ari tahu, pasti Ari akan semakin marah dengan Bella. Kemarin ia tak sadar, ia menuruti permintaan Rama karena ia lebih dekat dengan Rama ketimbang karyawan yang lain, karena mereka juga sama-sama karyawan baru.
Bella bangkit dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Karena hari ini tidak ada kelas, ia bertekad untuk ke rumah Ari hari ini, membuatkannya makan siang dan meminta maaf.
Waktu berlalu begitu cepat, untungnya Bella sudah selesai dengan masakannya. Ia memasukkannya ke dua kotak bekal, satu untuk Ari, dan satu untuknya. Ia berencana memakannya di cafe setelah selesai dari rumah Ari.
Bella mengunci pintu rumahnya dan bergegas menghidupkan sepeda motornya. Setelah mengunci pagar, ia melanjutkan perjalanannya. Dalam hati ia berharap agar Ari mau memaafkannya.
Akhirnya Bella sampai di rumah Ari. Rumah bertingkat dua dengan desain modern klasik bernuansa putih yang cukup besar. Pembantu Ari meminta Bella menunggu sebentar di ruang tamu, lalu tak lama kemudian Ari pun datang menghampiri Bella.
"Tumben kesini," kata Ari dingin. Sekarang ia sedang duduk di hadapan Bella. Penampilannya sedikit kusut, sepertinya ia baru bangun tidur.
"Ri, aku kesini mau nyelesaiin masalah kita tadi malam. Aku nggak mau berantem lagi sama kamu," jelas Bella, berusaha untuk bersabar.
"Oke," Ari menanggapi seadanya.
"Dan aku juga kesini mau minta maaf sama kamu. Sebenarnya tadi malam itu..."
"Tadi malam kenapa?" sekarang Ari nampak mulai menanggapi Bella, seolah memiliki firasat bahwa Bella akan membuatnya semakin marah lagi.
"Tadi malam aku sama teman-teman cafe naik bianglala. Dan aku naik di gondola yang sama dengan Rama. Tapi sumpah aku sama dia nggak ngapa-ngapain Ri. Kami cuma cerita aja."
Mata Ari membelalak. Napasnya sedikit tersengal menahan amarah.
"Ada dua cewek yang ikut Bel. Kenapa harus sama Rama?" tanya Ari dengan nada tinggi.
Bella menunduk, tak kuasa melihat reaksi Ari, "maaf Ri. Aku nggak bermaksud untuk selingkuh atau khianatin kamu. Tapi aku sama Rama itu sama-sama karyawan baru. Jadi kami lebih dekat berdua daripada yang lain."
Ari diam, merasa tidak bisa menerima alasan dari Bella.
"Ri, kalau aku memang ada niatan untuk selingkuh, aku nggak akan ceritain ini ke kamu. Aku cuma anggap Rama teman, sama kayak kamu yang anggap Cinta teman."
"Ya udah, aku jauhin Cinta, kamu jauhin Rama," tukas Ari, tanpa berpikir lama. Hal itu membuat Bella kaget. Lagi-lagi Ari mengatakan hal itu.
"Ri, ya jangan sampai segitunya dong. Jangan libatin Cinta. Cinta itu sahabat kamu dari SMP. Masa kamu mau jauhin dia tiba-tiba cuma karena aku?"
"Ya nggak papa. Aku rela ngelakuin apa aja asal kamu mau jadi satu-satunya untuk aku."
"Ri, please. Jangan kayak gini dong. Mana mungkin kamu ngejauhin Cinta. Nggak boleh," Bella memohon kepada Ari sambil menunjukkan wajah memelas. Ia jadi merasa bersalah dengan Cinta. Seharusnya ia tidak menyebut nama Cinta tadi, karena memang akhir-akhir ini Bella merasa Ari sangat sensitif dengan Cinta.
"Terus kamu maunya gimana?" ucap Ari tak sabaran.
"Bisa nggak sih Ri hal kayak gini nggak usah dibesar-besarin? Aku kan udah ngaku salah, aku udah minta maaf. Terus kenapa kamu jadi memperkeruh keadaan?" tanya Bella bingung.
"Aku cuma minta kamu jauhin Rama! Dari awal kita berantem ya karena dia. Terus kenapa kamu ulangin terus untuk dekat-dekat sama dia?" tanya Ari.
Bella memejamkan matanya sesaat. Ia tak habis pikir kenapa Ari terus-terusan memintanya menjauhi Rama. Tapi kalau hal itu dapat membuat Ari tidak memancing perkelahian lagi, Bella pikir mengikuti keinginan Ari adalah pilihan satu-satunya saat ini.
"Oke. Aku bakal jauhin Rama. Aku cuma bakal ketemu Rama di cafe, dan sebelum kerja atau selesai kerja aku nggak bakal pergi kemanapun sama dia."
Ari menatap lekat mata Bella dan menggenggam tangan Bella dengan erat, seolah tak akan melepaskan Bella kepada siapapun.
"Kamu cuma punya aku Bel. Janji sama aku, kamu nggak akan pernah ninggalin aku."
Bella mengangguk dengan sedikit tak yakin. Bagaimanapun ia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia tak yakin apa hubungannya dengan Ari akan bertahan lama. Apa lagi akhir-akhir ini Ari sering membuatnya ragu.
"Berarti kita baikan ya?" tanya Bella kemudian.
"Iya..." Ari kini sudah melunak. Hal itu membuat Bella bisa bernapas lega.
"Ngomong-ngomong, aku bawa sesuatu untuk kamu Ri," Bella melepaskan tangannya dari Ari perlahan dan segera meraih tote bag yang dibawanya. Ia mengeluarkan satu kotak bekal.
"Ini, tadi aku masakin buat kamu," ucap Bella sambil menyodorkan kotak bekal itu kepada Ari.
Wajah Ari yang tadi dipenuhi amarah kini berubah menjadi senang. Ia tersenyum lebar dan menerima kotak bekal itu.
"Duh sayang, kamu kesini aja aku udah seneng. Ini pake bawa makanan untuk aku segala, kamu yang masakin lagi," Ari terlihat gembira atas perhatian yang diberikan Bella. Dielusnya kepala Bella setelah menerima kotak bekal itu.
"Kamu makan ya," kata Bella sambil tersenyum manis.
"Iya, aku makan sekarang nih. Temenin aku ya," pinta Ari sambil membuka kotak bekal itu. Bella pun mengangguk.
"Mau aku suapin?" Bella menawarkan diri.
"Ih kok genit banget?" goda Ari tersenyum jahil.
"Masa gitu doang dibilang genit sih?" ucap Bella sambil cemberut.
"Hahaha... Mau dong disuapin," ucap Ari sambil menyodorkan kotak bekal kembali kepada Bella, "tapi kamu disitu aja ya. Jangan dekat-dekat aku, aku belum mandi."
"Ya ampun Ari..."
"Ya abis kamu datangnya tiba-tiba sih," Ari mencari-cari alasan.
"Tapi ini kan udah hampir siang. Harusnya dari tadi kamu udah mandi," Bella berlagak mengomeli Ari sambil memberikan suapan pertama untuk Ari.
"Aku baru bangun sayang," kata Ari setelah menelan makanannya.
"Makanya kamu itu tidurnya cepat, biar bangunnya cepat juga. Atau tadi malam kamu ke club lagi ya?"
"Hehehe.... Iya."
"Duh Ri, kamu jangan ke club terus dong. Aku khawatir banget tahu. Nanti kalau kamu mabuk siapa yang bakal bantu kamu pulang?"
"Iya sayang. Maafin aku. Aku usahain ya?"
"Janji?"
"Iya, janji."
"Ya udah, makan lagi nih," ucap Bella sambil menyodorkan sendok yang berisi penuh nasi. Ari pun melahap nasi itu sambil tersenyum senang.
"Ari, seandainya kamu semanis ini setiap saat. Kenapa kamu sering mau menang sendiri, selalu yang pengen didengar, diturutin, dan sekarang malah jadi posesif?" batin Bella dalam hati. Rasanya ia merasa bersalah karena seperti tidak bisa menerima Ari apa adanya. Tapi beberapa sikap Ari membuatnya tidak nyaman. Bella menjadi bimbang, apakah sebuah hubungan bisa terus dijalani bila sudah ada perasaan tak nyaman?
***
Dari tadi Rama memperhatikan Bella yang sibuk mengaduk-aduk makanannya sambil menerawang. Padahal cafe akan segera dibuka, tapi Bella belum juga menghabiskan bekalnya. Rama yang iseng pun perlahan mendekati Bella, lalu dengan cepat mencomot udang goreng tepung yang ada di kotak bekal itu. Bella segera tersadar ada seseorang yang mencuri makanannya dan langsung menatap Rama kaget.
"Ramaaaa..." erang Bella, merasa tidak terima udangnya dicuri. Rama tertawa terpingkal sambil mengunyah udang itu.
"Fokus amat bengongnya sih," goda Rama. Kini ia duduk di hadapan Bella sambil menopang dagunya dengan telapak tangannya, agar bisa melihat wajah Bella dari dekat sehingga gadis itu menjadi malu.
Bella menundukkan wajahnya yang memerah. Dalam hati ia sibuk berpikir bagaimana cara untuk menjauh dari Rama di cafe kalau Rama adalah orang yang sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan Rama yang membuat Bella menjadi lebih dekat dengan karyawan lain, karena sebelumnya Bella masih merasa segan dengan karyawan senior yang ada disana yang sudah berpengalaman. Kalau ia berhenti berteman dengan Rama, bukan hanya mempersulit mereka untuk bekerja sama di cafe, tapi Bella juga tidak punya seseorang yang bisa membuatnya berbaur dengan karyawan lain.
"Lo marah ya? Sorry, bercanda gue kelewatan," kata Rama merasa bersalah, karena Bella tak kunjung berbicara.
Bella menegakkan kepalanya lagi, "enggak Ram. Aku cuma lagi kepikiran sesuatu aja," jelas Bella.
"Mikirin apa?" tanya Rama penasaran.
"Hmm..." Bella ragu untuk mengatakannya.
"Kalau nggak mau cerita juga nggak papa sih. Gue hargain privacy Lo," kata Rama kemudian. Ia tidak ingin memaksa Bella untuk bercerita.
"Nanti aja pas udah pulang aku kasih tahu ya. Aku mau habisin makanan aku dulu, biar bisa cepat siap-siap kerja," akhirnya Bella memutuskan untuk menunda penjelasannya.
"Oke. Yang semangat makannya," ucap Rama sambil mengacak rambut Bella. Ia lalu meninggalkan Bella dan menuju pantry.
Bella memegang kepalanya yang barusan disentuh Rama. Bagaimana mungkin bisa ia sanggup untuk menjauh dari orang yang sangat ramah dengannya, dan sangat pengertian kepada dirinya. Orang yang selalu tulus, dan selalu berusaha untuk membuat Bella merasa nyaman dan senang.
Bella menurunkan tangannya lagi dan menghela napas. Mau bagaimanapun juga, ia harus melakukan janji yang sudah ia katakan kepada Ari. Ini semua demi kebaikan hubungannya dengan Ari.
Bella melanjutkan makan siangnya dan melahap makanannya lebih cepat dari pada yang sebelumnya. Ia sudah bertekad untuk mengatakan segalanya ke Rama. Ia berharap Rama lagi-lagi mau mengerti.
Selama jam kerja Rama masih sama seperti yang kemarin. Selalu bersemangat dan ramah kepada pengunjung. Ia juga membantu karyawan lain saat ia sedang senggang. Hal itu selalu membuat Bella kagum dan tanpa sadar sering memperhatikan Rama.
Bella menghembuskan napas karena putus asa. Tak terasa jam kerja sudah berakhir. Itu artinya Bella harus memenuhi janjinya kepada Rama untuk menjelaskan mengenai hal yang dari tadi dipikirkannya.
"Ram," Bella memanggil nama Rama, membuat lelaki itu memalingkan pandangannya dari sepatu yang baru saja ia benarkan ikatan talinya. Ia segera berdiri di hadapan Bella.
"Iya Bel?"
"Mulai hari ini... aku pulang sendiri aja ya."
Rama mengernyitkan dahi tak mengerti, "maksudnya?"
"Ya aku bisa pulang sendiri Ram. Kamu nggak perlu repot-repot ngiringin aku pulang lagi," jelas Bella. Berharap Rama mau menerima alasannya.
"Gue nggak repot kok Bel. Kan Lo tau kita searah."
Bella menghembuskan napasnya lagi sambil mengalihkan pandangannya dari Rama. Merasa bingung harus mengatakan apa lagi.
"Gue ada salah sama Lo ya? Kalau iya, gue minta maaf Bel," ucap Rama kemudian. Wajahnya tampak sedih dan kebingungan, membuat Bella menjadi sangat merasa bersalah.
"Nggak Ram. Kamu nggak ada salah sama aku. Aku cuma... Ngelakuin ini untuk Ari."
Rama hanya bisa terdiam saat Bella menyebutkan nama Ari. Orang yang memiliki hati Bella, sehingga Rama tak memiliki kesempatan untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Bella. Sepertinya ia mengerti akan mengarah kemana pembicaraan mereka ini.
"Aku nggak mau Ari salah paham sama kamu Ram. Akhir-akhir ini dia jadi posesif banget, dia cemburu nggak jelas. Aku takut kalau kita pulang bareng terus, Ari jadi mikir aneh-aneh tentang kamu. Aku nggak mau orang lain jadi korban keposesifan Ari," jelas Bella lagi.
Rama tersenyum dan mengangguk. Dipegangnya kedua lengan Bella, "oke gue paham," katanya.
Rama lalu melepaskan tangannya dari lengan Bella dan melangkah pergi menuju ruangan karyawan. Sebelum terlalu jauh, ia membalikkan badannya, "duluan aja. Hati-hati ya," ucapnya. Lalu segera melanjutkan langkahnya.
Bella menatap punggung Rama dari belakang. Ada perasaan sedih yang entah mengapa merasuk di hatinya. Ia merasa seperti ditinggalkan sendirian. Padahal hanya Rama yang membuatnya merasa tak kesepian.
Setelah sosok Rama tak terlihat lagi di mata Bella, Bella memutuskan untuk segera keluar, menuju tempat parkir. Ia menghidupkan mesin motornya dan melajukannya menuju rumah. Tanpa sadar air matanya mengalir sendiri. Namun segera ia menghapus air mata itu. Ia meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang dilakukannya adalah untuk Ari, kekasihnya saat ini. Orang yang hatinya harus ia jaga.
***