Dengannya aku ragu,
padahal denganmu aku bisa menjadi baik-baik saja.
***
Kepala Ari terasa masih berat tapi alarmnya telah berbunyi. Dengan berat hati ia berusaha bangun dari tidurnya dan tangannya menjangkau jam mejanya untuk mematikan suara alarm. Ia tak langsung bangkit dari tempat tidurnya, melainkan duduk sambil berusaha mengingat kejadian tadi malam. Hal terakhir yang ia ingat saat masih sadar adalah ia mengabaikan Bella yang melarangnya untuk meminum wine terlalu banyak. Ia lupa bagaimana caranya ia bisa sampai di rumah.
Ia meraih HP-nya yang ada di atas meja, dan segera menelpon Bella. Tapi kekasihnya itu tak menjawab panggilan itu. Ia menelpon sekali lagi tapi hasilnya tetap sama.
"Apa Bella sampai di rumah dengan aman?" tanya Ari dalam hati. Ia pun memutuskan untuk keluar kamar dan mencari pembantunya.
"Udah bangun mas Ari?" bik Surti menyapa anak dari majikannya itu yang baru turun dari lantai dua.
"Bik, kemaren malam siapa yang antarin aku?" tanya Ari tanpa menjawab pertanyaan bik Surti.
"Oh kemaren yang anterin mbak Bella sama mbak Cinta," jelas bik Surti.
"Cinta?"
"Iya mas. Sama satu lagi ada yang nunggu di mobil. Tapi gak tau siapa. Cewek juga."
"Oh mungkin sepupunya Cinta," kata Ari.
"Mas gimana keadaannya? Bibik buatin teh anget mau?" tanya bik Surti kemudian.
"Boleh Bik. Anter ke kamar aja ya!" pinta Ari. Kemudian ia kembali ke kamar dan meraih ponselnya lagi, mencoba menghubungi Cinta.
"Halo?" sapa Cinta.
"Cin, tadi malam kamu kenapa bisa anterin aku pulang? Kamu ke club?" tanya Ari to the point.
"Iya. Kenapa?"
"Makasih ya udah anterin aku pulang. Bella gimana? Kamu anterin pulang juga?"
"Iya," jawab Cinta singkat.
"Syukurlah. Soalnya aku khawatir banget, dia nggak angkat telpon aku," jelas Ari tanpa Cinta minta.
"Yah mungkin dia bete karena pacarnya bilang cewek lain cantik di depan dia," kata Cinta sambil tertawa mengejek.
"Hmm???" Ari tidak mengerti dengan maksud Cinta.
"Tadi malam di club kamu bilang aku cantik Ri," jelas Cinta. Ari hanya bisa terdiam.
"Lagian emang kamu berhak khawatirin Bella sekarang? Yang udah bikin dia terjebak di club kan kamu. Untung aja ada aku. Kalau nggak ada, sama siapa dong Bella minta tolong bawa kamu pulang? Hmm... Mungkin Rama kali ya? Kan Rama satu-satunya teman cowok Bella," kata Cinta yang masih tertawa mengejek. Ari merasa kesal mendengar perkataan dari Cinta itu. Segera dimatikannya telepon itu tanpa berbicara apapun. Di hempaskannya HP-nya ke atas kasur dengan kasar. Bik Surti yang baru masuk sambil membawa teh hangat sampai terkaget.
"Maaf Mas, lupa ketuk. Ini teh nya. Saya permisi dulu," ucap bik Surti sambil meletakkan teh yang dibawanya ke atas meja yang ada di samping kasur Ari. Setelah itu ia segera berlalu pergi sebelum menjadi sasaran kemarahan Ari.
Ari membiarkan teh itu tetap di mejanya. Ia mengambil handuk dan bergegas mandi untuk berangkat ke kampus. Ia ingin meminta maaf atas apa yang terjadi kemarin sebelum Bella kembali marah dan mendiamkannya lagi seperti Minggu lalu.
***
Bella melangkah ke kelas dengan gontai. Sebenarnya ia ingin bolos hari ini, tapi ia merasa bersalah kalau tidak kuliah hanya karena kelelahan sehabis berkencan. Rasanya ia benar-benar kesal dengan Ari. Tapi ia juga menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa dengan tegas menolak permintaan Ari untuk pergi ke klub malam.
Ari dan Cinta sudah ada di kelas. Sepertinya mereka sedang terlibat percakapan, namun langsung berhenti saat Bella datang. Ari menyuruh Bella duduk di samping kirinya. Bella hanya menurut begitu saja.
"Kamu kok nggak angkat telpon aku Bel?" tanya Ari setelah Bella meletakkan tasnya.
"Aku lagi mandi tadi," jawab Bella seadanya. Ari menyadari bahwa Bella kesal dengannya. Ia pun kemudian meminta maaf.
"Maaf ya Bel, tadi malam aku udah kelewatan."
Bella menghela nafas. Sebenarnya ia ingin marah-marah kepada Ari, tapi ia tak yakin bisa melakukannya.
"Iya Ri. Tapi ke depannya aku harap kamu mau dengerin aku ya," Bella akhirnya memutuskan untuk memaafkan Ari saja agar tidak memperpanjang masalah. Ari pun mengangguk.
"Kamu udah bilang makasih ke Cinta?" tanya Bella kemudian.
"Udah, iya kan Cin?" Ari menoleh kepada Cinta yang ada di samping kanannya.
"Iya Bel. Kamu tenang aja, mungkin mulai hari ini Ari bakal berubah jadi anak yang baik," kata Cinta sambil melirik Ari jahil. Ari balas menatap dengan mata sinis.
Bella hanya bisa terdiam mendengar perkataan Cinta. Ya, Cinta memang berhak menyindirnya dan Ari. Padahal Cinta sudah berusaha membuka pikiran Bella untuk melihat betapa tidak cocoknya Bella dan Ari. Tapi Bella malah bersikeras untuk tetap bersama Ari. Pikiran Bella bertambah dengan perkataan Shana tadi malam yang bilang kalau Cinta menyukai Ari. Walau Cinta menampik hal itu, tapi Bella tersadar bahwa sebenarnya Ari lebih baik bersama Cinta. Karena Cinta sangat mengerti Ari, sangat perhatian dengan Ari.
***
"Lo sakit Bel?" suara Rama menyadarkan Bella dari lamunannya. Dari tadi Bella tak berhenti memikirkan tentang Cinta dan Ari. Ditambah kondisinya yang masih kelelahan. Pekerjaan yang dilakukannya juga menjadi kacau. Sudah dua kali ia salah membawa pesanan pelanggan. Dan ia juga hampir saja menjatuhkan pesanan pelanggan. Untungnya Rama dengan sigap membantu Bella menyeimbangkan diri tadi.
"Nggak Ram. Cuma kecapean aja," jawab Bella.
"Mending lo istirahat bentar Bel. Kerjaan biar gue handle sendiri dulu. Gue bisa kok," Rama memberikan saran. Tapi Bella menolaknya karena merasa tidak enak.
"Nggak usah Ram. Aku masih bisa kerja kok," kata Bella.
"Udah Bel nggak papa. Istirahat dulu ya," Rama mendorong pelan Bella menuju ruangan karyawan. Bella pun mau tak mau jadi mengikuti Rama. Setelah sampai di ruangan itu, Rama menyatukan beberapa kursi sehingga kursi itu bisa digunakan untuk berbaring bagi satu orang.
"Lo tidur aja dulu disini. Nanti kalau udah enakan baru kerja lagi," kata Rama sambil tersenyum.
"Makasih ya Ram," Bella membalas senyuman Rama.
Rama mengangguk dan pergi keluar meninggalkan Bella sendiri untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu Bella pun membaringkan tubuhnya di atas susunan kursi tadi. Ia berencana untuk berbaring sebentar dan kembali bekerja. Tapi tanpa sadar ia malah tertidur.
Bella tersentak dari tidurnya. Ia kaget karena ia tertidur. Segera ia bangkit dari susunan kursi yang digunakannya untuk tidur dan melirik jam tangannya. Sudah jam setengah sepuluh malam. Itu berarti waktu pulang tinggal tiga puluh menit lagi. Bella merasa panik. Ia menyesal tidak memasang alarm di handphone-nya. Tapi tak ada gunanya ia menyesal. Segera dirapikannya sedikit penampilannya, dan keluar dari ruangan itu.
"Ram, kok kamu nggak bangunin aku?" tanya Bella kepada Rama yang baru selesai mengantarkan pesanan pelanggan.
"Eh udah bangun Bel? Lo tadi pules banget tidurnya. Jadi gue nggak tega ganggunya. Hehehe..." jelas Rama sambil cengengesan.
"Duh aku kan nggak enak sama bos dan karyawan lain," ucap Bella merasa bersalah.
"Bel, nggak usah overthinking gitu. Yang lain pada maklum kok. Kan memang lo tadi kelihatan nggak fit."
Bella menghela nafas, "ya udah. Kalau gitu sekarang gantian. Biar aku aja yang kerja. Kamu duduk aja."
"Duuuh..." Rama tertawa kecil karena gemas dengan tingkah Bella, "ya udah. Semangat ya kerjanya," kata Rama sambil mengacak-acak rambut Bella.
"Ram, rambut aku baru aku rapiin tadi," Bella menggerutu sambil merapikan kembali rambutnya. Rama kembali tertawa melihat reaksi Bella dan segera berlalu masuk ke ruang kasir untuk menumpang duduk disana, sekalian melihat Bella bekerja.
Tapi Bella malah menjadi canggung karena Rama memperhatikannya. Ia menghadiahi Rama dengan tatapan sewot lalu berlalu ke meja pelanggan yang baru saja pergi untuk mengambil piring dan gelas kotor mereka. Rama tak tahan untuk tertawa terpingkal.
"Nggak usah salting gitu dong," goda Rama saat Bella berjalan menuju pantry. Bella meruncingkan bibirnya dan segera berlalu begitu saja. Tapi dalam hati entah kenapa ia merasa senang. Mungkin karena Rama membuatnya merasa nyaman bersikap apa adanya.
Tiga puluh menit berlalu begitu cepat. Kini Rama kembali bekerja merapikan kursi serta mengelap meja. Sementara Bella menyapu lantai cafe. Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, Bella dan Rama segera bergegas pulang bersama karyawan yang lain. Seperti hari-hari sebelumnya, Rama mengiringi Bella dari belakang dengan sepeda motornya. Namun di tengah-tengah perjalanan, Rama tiba-tiba mensejajarkan sepeda motornya di samping sepeda motor Bella.
"Bel," Rama memanggil Bella dari atas sepeda motornya. Bella pun menoleh.
"Ke tepi bentar yok," kata Rama lagi.
Bella bingung dengan permintaan Rama yang tiba-tiba menyuruhnya menepikan sepeda motor. Sekilas ia membayangkan hal yang tidak-tidak, karena kejadian di club malam kemarin dimana seorang lelaki asing ingin melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Tapi segera ditepisnya pikirannya itu. Entah kenapa ia lebih memilih untuk mempercayai Rama. Ia pun mengendarai sepeda motornya ke tepi jalan dan berhenti, diikuti Rama.
"Kenapa Ram?" tanya Bella. Ia menduga ada sesuatu yang terjadi dengan sepeda motor Rama sehingga Rama meminta mereka berhenti. Namun dugaannya salah.
"Mau kesitu?" Rama menunjuk pasar malam yang tepat berada di dekat mereka berhenti. Hal itu membuat Bella bingung.
"Kok tiba-tiba ngajak kesini?" tanya Bella.
"Ya abisnya gue perhatiin lo sering ngeliat ke tempat ini pas kita lewat sini."
Bella terperangah mendengar penjelasan Rama. Ternyata selama ini Rama memperhatikannya. Entah kenapa ia malah jadi merasa malu. Seperti habis tertangkap basah melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Tapi di satu sisi ia juga merasa senang dengan perhatian Rama itu.
"Kan lo tadi juga udah istirahat. Pasti udah ada tenaga dong untuk main di tempat ini. Lagian tadi si mbak Ica, mbak Winda, mas Hendrik sama mas Danu bilang mau kesini. Jadi kita ikut aja biar tambah rame," lanjut Rama lagi.
"Kalau nggak mau nggak papa sih. Kita lanjut jalan lagi yok!" kata Rama lagi setelah Bella tak kunjung memberikan respon. Ia sudah bersiap untuk menghidupkan mesin motornya lagi. Tapi Bella tiba-tiba menyetujui ajakan Rama.
"Ram, mau banget..." kata Bella bersemangat. Matanya berbinar sambil melihat bianglala yang kelihatan dari luar pasar malam.
Rama tersenyum senang melihat reaksi Bella. Ia pun mengajak Bella untuk memarkirkan sepeda motor mereka terlebih dahulu, lalu berjalan kaki untuk masuk ke pasar malam. Dan benar kata Rama, teman kerja mereka ada di pasar malam itu. Bella dan Rama pun bergabung bersama mereka.
"Katanya tadi nggak mau ikut?" Tanya Winda.
"Ya tiba-tiba pengen," jawab Rama sambil menyengir.
"Ooh..." Winda dan yang lainnya mencoba mempercayai Rama.
"Kemana dulu nih?" tanya Rama kemudian kepada teman-temannya.
"Bianglala!" seru Ica bersemangat.
"Ah, itu terakhir. Bianglala itu bak acara puncak!" Winda memberikan pendapat.
"Ayunan putar noh," Danu menunjukkan wahana ayunan putar yang belum beroperasi karena menunggu kursi penuh.
"Udah ayok sikat!" ucap Hendrik yang langsung berjalan ke arah wahana tersebut bagai pemimpin dari perkumpulan mereka. Teman-temannya pun segera mengikuti dari belakang.
Setelah membeli tiket, mereka langsung duduk di kursi ayunan tersebut. Kehadiran mereka membuat wahana itu langsung penuh sehingga mereka tak perlu menunggu terlalu lama untuk menikmati wahana itu.
Selanjutnya mereka lagi-lagi mencoba wahana yang mengocok isi perut mereka. Kora-kora dan ombak banyu.
"Aaaah.... Gue mau muntah," Danu berjalan sempoyongan sambil memegang perutnya.
"Sama.…" celetuk Ica.
"Tapi seru kok," kata Bella. Walaupun kepalanya terasa pusing sekarang.
"Kita main yang nggak ekstrim yok. Itu tuh, lempar gelang," kata Winda.
"Wah, ini gue jago nih!" kata Hendrik percaya diri.
"Ayo kita buktiin!" tantang Rama.
"Oke!"
Hendrik lagi-lagi berjalan paling depan membimbing teman-temannya menuju area lempar gelang. Setelah sampai satu per satu dari mereka mencoba.
"Duh, aku nggak bisa," kata Bella sedih setelah mencoba beberapa kali dan selalu gagal. Padahal ia ingin mendapatkan boneka.
"Coba gue," Rama sudah siap dengan beberapa gelang yang siap dilempar. Percobaan pertama gagal. Yang kedua pun sama. Tapi Bella tetap memberikan dukungan kepada Rama.
"Ayo Rama. Kamu pasti bisa!" kata Bella sambil bertepuk tangan.
"Iya Ram. Kalahin tuh mas Hendrik!" Danu ikut memberikan semangat karena ia kesal dikalahkan oleh Hendrik yang dengan mudah mendapatkan banyak hadiah.
Rama pun kembali melempar gelangnya dan tanpa disangka-sangka ternyata gelang itu berhasil masuk ke tempat jackpot. Semuanya pun bersorak senang.
"Wah, dapat hadiah utama!" seru Ica senang.
"Teddy bear gede!" Winda juga merasa sangat bersemangat.
Penjaga wahana segera memberikan hadiah berupa Teddy bear besar kepada Rama. Tampak para perempuan ingin sekali mendapatkan Teddy bear itu. Tapi Rama tidak memberikannya kepada siapapun dan membawa teddy bear itu kemanapun mereka pergi.
Setelah mencoba beberapa wahana, Bella, Rama dan teman-teman mereka mencoba jajanan yang ada disana. Mereka mencoba terlalu banyak sehingga mereka menjadi kekenyangan.
"Kalau udah kenyang gini ngantuk deh gue," kata Hendrik.
"Jangan ngantuk dulu! Kita belum naik bianglala!" Ica mengingatkan.
"Ya udah. Habis naik bianglala kita pulang ya," saran Danu.
"Oke!" seru semuanya.
Mereka berenam lalu membeli tiket untuk naik bianglala. Rama mengajak Bella untuk masuk ke gondola yang sama dengannya. Bella pun menyetujuinya.
"Seneng ya Bel?" tanya Rama setelah bianglala sudah berputar.
"Iya, seneng banget. Soalnya baru kali ini aku main bareng karyawan lain," kata Bella sambil tersenyum. Rama pun ikut tersenyum.
"Udah lama aku nggak ke pasar malam. Terakhir kali waktu SD bareng papa. Jadi kangen sama papa," kata Bella lagi. Matanya mengarah ke luar gondala, mengenang masa lalunya yang manis bersama almarhum papanya.
"Bel, yang sabar ya. Gue harap lo bisa berhenti untuk nyalahin diri lo atas kematian papa lo," kata Rama. Bella pun mengalihkan pandangannya ke Rama dan menatap Rama heran.
"Waktu gue ke rumah lo, nyokap lo ceritain semuanya. Dan gue jadi paham kenapa malam itu lo jadi kayak gitu," Rama menjelaskan.
"Gue juga kehilangan orang yang gue sayangi. Namanya Citra. Dia cinta pertama gue. Dan gue juga sedih banget karena kehilangan dia. Rasanya gue pengen ikutan mati aja. Karena dia orang yang bikin hidup gue terasa bahagia dan bermakna. Kepergian dia ngebuat gue nggak punya semangat hidup lagi. Tapi lama kelamaan gue jadi sadar, nggak ada gunanya gue berlarut dalam kesedihan setiap hari. Karena memang takdirnya gue dan dia nggak bisa bersama, mau apapun yang gue lakuin untuk mencegah perpisahan dengan dia, tetap aja Tuhan punya rencananya sendiri," lanjut Rama.
Bella tertegun. Ternyata Rama juga memiliki kisah sedih seperti dirinya. Orang yang dikunjungi Rama di taman pemakaman waktu itu, itu pasti Citra, pikir Bella.
"Kematian papa lo juga Bel, itu bukan salah lo. Mau lo dikejar perampok waktu itu atau enggak, kalau memang Tuhan udah berencana, lo nggak bisa ngelakuin apapun untuk mencegah kejadian buruk itu terjadi. Makanya, lo berhenti nyalahin diri lo dan ikhlasin semuanya ya," Rama mencoba memberikan semangat kepada Bella. Bella menghela napas, lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo kita bangkit sama-sama," kata Rama lagi sambil mengacungkan kelingkingnya saat gondola mereka berada di puncak. Bella pun menyambut dengan kelingkingnya juga.
"Iya..." kata Bella bersemangat. Malam itu mereka berdua berjanji untuk bangkit dari kesedihan mereka bersama-sama. Rasanya Bella sedikit lega. Bebannya selama bertahun-tahun terasa menghilang setelah mendengarkan kata-kata dari Rama. Rama benar, Bella tak perlu terus berlarut dalam kesedihan dan rasa bersalah. Malam itu, di atas bianglala yang merupakan wahana favoritnya dengan papanya, ia memutuskan untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi kepada papanya.
"Papa jangan khawatir lagi ya Pa. Bella udah ikhlas atas kepergian papa. Semoga papa tenang disana," ucap Bella dalam hati sambil menatap langit. Kemudian ia kembali menatap Rama dan memberikan senyuman yang begitu lepas.
***