Saat aku tersadar bahwa ada orang lain yang mencintainya,
haruskah aku meyakini diriku sendiri tentang untuk siapa sebenarnya hatiku ingin berlabuh?
***
Hari yang ditunggu-tunggu Ari akhirnya tiba. Ia memperlihatkan senyum kemenangan kepada Cinta, karena sejak ia berbaikan dengan Bella, Bella kembali ramah kepadanya dan mau menuruti semua keinginannya. Ari pun juga sudah melakukan hal yang diminta Bella, yaitu berbaikan dengan Cinta. Ia melakukannya di hadapan Bella agar Bella percaya. Padahal di belakang Bella, Ari dan Cinta masih memiliki perseteruan.
Ari menggenggam tangan Bella saat kelas terakhir telah selesai, bersiap mengajak Bella untuk pergi ke parkiran.
"Yok Bel," Ari tersenyum senang bagaikan bocah yang baru dibelikan mainan.
"Langsung berangkat?" tanya Bella kaget.
"Iya..."
"Bukannya malam? Kan aku belum siap-siap," Bella tampak tak percaya diri dengan penampilannya saat ini untuk pergi berkencan. Kemeja putih dan celana highwaist kulot berwarna khaki, serta wajah polos yang hanya dipoles bedak tabur dan lip gloss, sepertinya begitu sederhana untuk dijadikan tampilan saat berkencan.
"Lho emangnya kenapa? Kan kamu cantik, mau pakai baju apapun, dandan ataupun gak dandan, tetap cantik," Ari berusaha meyakinkan Bella agar mau pergi bersamanya sekarang. Wajah Bella memerah mendengar perkataan Ari tersebut. Baginya Ari terlalu berlebihan dalam memujinya, tapi tetap saja hal itu membuat Bella sedikit percaya diri.
"Lagian kita udah lama gak jalan bareng dan bakal susah banget untuk cari waktu lain lagi, jadi kalau ada kesempatan, harus dipakai semaksimal mungkin dong?" Ari kembali mencoba membujuk Bella. Bella pun akhirnya menuruti kemauan Ari karena ia berpikir alasan Ari tidak ada salahnya.
"Ya udah oke," ucap Bella. Ia menampakkan senyumnya agar tidak terlihat seperti orang yang terpaksa. Hal itu membuat Ari sangat senang. Dibantunya Bella bangkit dari duduknya dan mereka pun bersiap untuk meninggalkan kelas.
"Duluan ya Cin!" ucap Ari sambil tersenyum mengejek. Cinta membalasnya dengan senyuman masam, tapi buru-buru dialihkannya senyuman manis ke Bella saat Bella juga pamit kepadanya.
Mall menjadi tujuan Ari untuk membawa Bella berkencan. Ia dan Bella menuju sebuah restoran Jepang yang ada di mall itu untuk menikmati makan siang.
"Abis ini mau kemana?" tanya Bella setelah selesai melahap chicken katsunya.
"Belanja yuk?" Ari memberi saran.
"Oke," Bella menuruti Ari begitu saja. Yang penting Ari senang dan hubungan mereka baik-baik saja, itulah prioritas Bella saat ini.
Bella dan Ari sudah sampai di salah satu butik yang ada di mall itu. Bella menatap Ari heran, tak menyangka belanja yang dimaksud Ari adalah belanja baju untuknya.
"Bukan ke toko baju cowok?" tanya Bella.
"Iya nanti, kamu dulu dong yang belanja," ucap Ari sambil tersenyum penuh semangat.
"Ri, aku belum gajian," kata Bella memberi alasan. Hal itu membuat Ari terpingkal.
"Yang nyuruh kamu bayar sendiri siapa? Kan aku yang beliin sayang," Ari menjelaskan dengan sabar. Bella jadi tak enak hati. Dari dulu dia memang sungkan kalau Ari membelikannya barang-barang.
"Nggak usah ah Ri. Ulang tahun aku masih lama," Bella lagi-lagi mencari alasan agar Ari tidak perlu repot-repot membelikannya baju.
"Ini buat dinner kita Bel. Emang kamu mau seharian pakai baju ini?" Ari masih berusaha membujuk Bella.
Bella hanya terdiam karena tak punya ide lagi untuk menolak keinginan Ari. Ari pun tertawa cengengesan, lantas menarik pelan Bella untuk masuk ke dalam, menganggap diamnya Bella pertanda ia setuju.
Setelah melihat-lihat, Ari mulai menunjuk beberapa baju yang ia rasa cocok untuk Bella. Bella menuruti Ari saat pacarnya itu memintanya untuk mencoba baju-baju itu.
Sebuah mini dress hitam dengan tali kecil di bahunya di lengkapi belt bewarna moka di pinggang menjadi baju pertama yang dicoba Bella. Rasanya ia benar-benar tidak percaya diri harus memakai pakaian yang terbuka begitu. Tapi lain halnya dengan Ari, ia malah tersenyum senang melihat gadisnya itu memakai dress pilihannya.
"Aku coba yang lain ya?" saran Bella sebelum Ari buru-buru menyuruhnya untuk membeli dress itu saja. Tanpa menunggu persetujuan Ari, Bella langsung kembali ke kamar ganti.
Baju kedua ada romper berwarna pink pastel. Walaupun berlengan panjang, tapi Bella yakin jika bawahannya terlalu pendek baginya. Dan benar saja, saat ia mematut diri di depan cermin, celana dari romper itu ada jauh di atas lututnya. Ia jadi menghabiskan waktu cukup lama karena sibuk berpikir harus keluar untuk memperlihatkannya kepada Ari atau langsung mencoba baju yang lain.
"Bel, udah?" Ari dari luar memanggil Bella. Akhirnya Bella mau tidak mau membuka pintu ruang fitting itu dan berjalan keluar perlahan karena malu.
"Kayaknya nggak yang ini deh Ri," kata Bella perlahan, takut Ari merasa tersinggung karena Bella sudah menolak dua baju.
"Bagus kok, tapi kalau kamu gak suka ya udah, coba yang lain dulu," kata Ari. Ia tidak kelihatan kesal, hal itu membuat Bella lega.
"Oke deh. Sorry lama ya," kata Bella lagi agak sungkan.
"It's okay. Take your time," Ari mencoba membuat Bella nyaman. Bella pun kembali masuk ke ruang fitting dan mengunci pintunya.
Bella melihat beberapa baju yang masih belum dicobanya. Nampak hampir semuanya terbuka, ada di bagian atas, ada di bagian bawah. Ada juga yang sangat ketat. Ia tak habis pikir kenapa Ari memilihkan jenis pakaian yang tidak pernah Bella pakai itu.
"Ini nggak harus dicobain semua kan?" tanya Bella dalam hati. Ia kembali melihat pakaian itu satu persatu, menentukan pakaian mana yang tidak terlalu membuatnya tak nyaman. Ternyata ia melewatkan satu pakaian yang tidak terlalu pendek, sebuah midi dress dengan panjang sedikit di bawah lutut berbahan chiffon dengan motif floral. Dress itu memiliki lengan panjang transparan namun berwarna navy yang gelap, hampir seperti warna hitam. Ia pun langsung mengganti romper yang masih dikenakannya dengan dress itu, dan tampak cukup puas. Dengan percaya diri ia pun keluar untuk memperlihatkannya kepada Ari.
"Ri, yang ini aja ya? Kayaknya lebih nyaman yang ini," Bella mengutarakan pendapatnya dengan penuh keyakinan.
"Bagus. Kamu ternyata pakai baju apa aja cocok kok," puji Ari.
"Yang lain nggak dicoba?" tanya Ari kemudian.
"Nggak usah Ri, nanti kebanyakan pilihan malah bingung. Aku suka banget kok sama yang ini," ucap Bella. Ia takut kalau ia mencoba semua, Ari malah menyarankannya memilih baju yang lain ketimbang yang sedang dikenakannya saat ini.
"Ya udah kalau kamu sukanya ini, kita bayar ya," kata Ari. Bella pun mengangguk.
Setelah membelikan Bella baju, Ari mengajak Bella ke toko sepatu. Ari menyuruh Bella langsung memakai dress yang dipilihnya tadi agar bisa menemukan sepatu yang cocok.
"Tapi aku pakai flat shoes aku aja nggak papa kok Ri," kata Bella. Ia tak ingin Ari terlalu royal padanya. Harga dress tadi menurutnya sudah cukup mahal.
"Bel, aku beliin kamu sekali-sekali lho. Jangan ditolak terus," kata Ari. Padahal para mantannya dulu sangat suka kalau Ari mengajak mereka belanja, dan tanpa sungkan-sungkan memilih pakaian dan sepatu yang mereka suka, tanpa peduli dengan harganya. Tapi kalau Bella selalu saja punya seribu satu alasan untuk menolak hal tersebut. Jadi karena sekarang Bella sudah melunak dan akhir-akhir ini selalu menuruti permintaan Ari, Ari pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Iya Ri, maaf. Bukan nolak, cuma takut ngabisin uang kamu," ucap Bella polos. Mendengar hal tersebut, Ari tertawa terkekeh. Ia mengacak rambut Bella dengan lembut, lalu menarik Bella masuk ke toko sepatu seolah tak peduli kekhawatiran Bella.
Setelah melihat-lihat dan berkonsultasi dengan SPG sepatu, akhirnya Ari membelikan sebuah ankle strap heels hitam untuk Bella. Bella hanya menurut saja walaupun ia tak yakin bahwa ia mampu memakai sepatu itu.
"Baju udah, sepatu udah, berarti sekarang ke salon," kata Ari setelah mereka keluar dari toko sepatu. Bella menatap Ari tak percaya. "Masih ada lagi?" batinnya dalam hati.
"Perasaan hari ini nggak ngerayain apa-apa deh Ri. Bukan tanggal jadian kita juga. Kenapa tiba-tiba nyuruh aku ke salon cuma buat makan malam?" tanya Bella bingung.
"Kalau ngerayain hari jadian kita bakal lebih spesial dari ini kok. Nggak kayak kemaren-kemaren. Janji," kata Ari.
"Ih, nggak gitu maksud aku Ri..."
"Hahaha.... Ya udah nggak papa lah kamu ke salon. Jam makan malam masih lama. Jadi sekalian nunggu ya ke salon aja," jelas Ari.
"Hmm... Iya juga sih," Bella lagi-lagi tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Ari. Ia pun mengikuti langkah Ari yang menggandeng tangannya, bersiap menuju salah satu salon yang ada di mall.
***
Bella dan Ari sudah tampil lebih modis dengan baju baru mereka. Jika Bella mengenakan midi dress, Ari mengenakan jaket trucker dengan kaos putih sebagai dalaman. Tadi saat di salon, Ari meninggalkan Bella sebentar untuk membeli pakaiannya. Kini mereka tengah menikmati makan malam mereka di sebuah restoran steak. Restoran itu memiliki interior yang cukup menawan. Ada beberapa lampu gantung hias dengan desain elegan yang menggelayut di beberapa titik langit-langit. Warna lampunya kekuningan dan sedikit remang untuk membuat kesan privat bagi pengunjung. Terdapat panel dinding 3D dengan motif bergelombang berwarna putih gading, dipadukan dengan panel dinding kayu di bawahnya. Tak ketinggalan lantainya dilapisi keramik granit motif marmer.
Selain interiornya, menunya pun tak kalah juara. Bella cukup menikmati suasana restoran dan menu disana.
"Steaknya enak ya Ri," Bella mencoba membuka percakapan, karena Ari terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya.
"He-em..." Ari hanya menanggapi seadanya. Tapi matanya tak lepas dari layar ponselnya itu.
"Makasih ya Ri buat hari ini," ucap Bella lagi, tak menyerah untuk membuat Ari berpaling ke arahnya.
Ari menatap Bella sekilas, lalu tersenyum, "iya," katanya. Tapi lagi-lagi matanya kembali ke layar ponselnya.
"Chat siapa sih dari tadi?" akhirnya Bella memberanikan diri untuk bertanya.
"Eh, sorry.... sorry Bel. Bukannya aku maksud nyuekin kamu. Chat grup teman SMA nih, anak-anak pada ngajakin ketemu. Mereka minta ide buat di share ke grup. Minta sponsor juga. Hahaha..." jelas Ari sambil terkekeh.
"Oooh.... Ya udah nggak papa. Lanjut aja," ucap Bella.
"Nggak kok. Aku udah kasih ide, udah setuju jadi salah satu sponsor juga. Sekarang aku bisa fokus sama kamu," kata Ari sambil menyimpan ponselnya. Ia mulai melahap steaknya dan menatap Bella sambil tersenyum senang.
"Kamu jangan boros-boros," Bella mengingatkan Ari. Walaupun Ari kaya, Bella tidak ingin Ari menghambur-hamburkan uangnya begitu saja. Ia ingin Ari lebih bijak dalam menggunakan uangnya. Terlebih, ia masih mengandalkan uang orang tuanya.
"Sekali-sekali doang Sayang. Lagian mereka yang pada keroyokan minta aku jadi sponsor. Masa aku nolak? Nggak enak lah," jelas Ari.
Bella tertawa kecil, "hahaha, dasar mereka. Bisa aja."
"Ya kan memang dari dulu gitu Bel. Kamu tahu sendiri mereka. Hahaha..." Ari ikut menertawakan teman-teman se-gengnya semasa SMA dulu.
Tak terasa hidangan makan malam Bella dan Ari sudah habis mereka lahap. Sekarang waktunya untuk pulang, pikir Bella. Ia benar-benar lelah seharian sudah jalan-jalan bersama Ari. Di ikutinya Ari keluar restoran, tapi bukannya pergi ke mobilnya, Ari malah menyetop taxi.
"Lho, kita nggak sama Pak Wahyu?" tanya Bella heran.
"Nggak. Pak Wahyu udah aku suruh pulang."
"Kok disuruh pulang? Kan kita belum selesai?" Bella masih membutuhkan penjelasan.
"Ya... Karena kita masih lama," kata Ari. Ia membukakan pintu taxi untuk Bella, mengisyaratkan Bella agar segera masuk. Bella yang masih bingung dengan penjelasan Ari mau tak mau masuk ke taxi. Ari mengikuti Bella dan duduk di samping Bella, serta menutup kembali pintu penumpang itu.
"Bloem club ya Pak," Ari menyebutkan tempat yang hendak ditujunya kepada supir taksi. Sang supir mengangguk dan segera menjalankan taxinya.
"Kita mau ke club?" Bella tampak terperangah. Ia berharap ia salah dengar. Tapi ternyata tidak.
"Iya Bel. Tempat terakhir, abis itu kita pulang. Oke?" jawab Ari enteng, seolah hal itu adalah hal yang biasa saja. Mungkin baginya iya, tapi tidak dengan Bella.
"Ri, aku nggak mau kesana. Kita pulang sekarang aja ya?" Bella kini tak mau menahan diri lagi untuk menolak Ari.
"Yaaaah... Jangan dong Bel. Kamu udah cantik gini, masa cuma buat makan malam aja? Aku tu masih mau bareng sama kamu. Kan mama kamu lagi nggak di rumah, jadi nggak papa lah pulang agak lama dikit," Ari membujuk Bella agar mau menuruti permintaannya lagi.
"Tapi jangan kesitu. Ke tempat lain aja ya?" pinta Bella.
"Nggak usah takut ah Bel. Kan kamu perginya sama aku. Lagian kita nggak bakal macem-macem kok disana," jelas Ari. Tapi Bella sudah keki duluan.
"Terserah deh," tubuh Bella yang sudah lelah membuatnya tak punya kekuatan lebih untuk beradu argumen dengan Ari.
"Jangan ngambek gitu dong. Pacar aku nanti cantiknya hilang," Ari menggoda Bella agar Bella tak lagi kesal terhadapnya. Tapi hal itu tak mempan dan bahkan selama perjalanan Bella hanya mendiamkan Ari.
"Udah sampai Bel. Turun yok,"ajak Ari. Bella hanya menuruti tanpa bicara apapun.
"Jangan gitu terus ah mukanya. Coba dulu kamu masuk, kalau nggak suka kita langsung pulang deh," kata Ari saat ia dan Bella berjalan bergandengan untuk masuk ke club.
"Iya..." kata Bella dengan terpaksa. Kini ia paham kenapa tadi Ari memilihkan baju-baju yang cukup seksi, karena memang tujuan utamanya adalah mengajak Bella ke club.
Suara musik dubstep memenuhi ruangan club. Bau alkohol dan rokok semerbak di berbagai sudut ruangan. Bella bergidik ngeri melihat tingkah laku orang-orang yang ada disana. Mereka bagaikan orang yang sudah kehilangan akal. Tertawa dan larut di lantai dansa oleh kencangnya suara musik. Ia membandingkan pakaiannya yang kelewat sopan jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan lain yang ada disana. Benar-benar tempat yang tak pernah ia bayangkan akan dikunjunginya.
Bella meninggalkan Ari di tengah kerumunan orang yang sedang menari di tengah-tengah club. Ia tak ingin berbaur dengan orang-orang itu. Ia memilih duduk di salah satu kursi yang ada disana sendirian. Tapi ia tak bisa berharap banyak di club itu. Baru beberapa menit saja ia menepikan diri dari kerumunan orang, tiba-tiba ada seorang lelaki yang mendekatinya.
"Hai cantik, sendirian aja?" lelaki bertubuh jangkung itu tanpa basa-basi langsung menggoda Bella.
"Nggak kok!" Bella berkata dengan ketus. Berharap sikapnya itu dapat membuat lelaki di hadapannya segera pergi. Tapi bukannya pergi, lelaki itu malah duduk di samping Bella tanpa izin.
"Sok jual mahal. Gue kan jadi tertantang," lelaki itu tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya. Rasanya Bella benar-benar ingin mengenyahkan wajah lelaki itu sekarang juga. Tapi yang dapat ia lakukan adalah beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi.
"Mau kemana? Seneng-seneng lah dulu," lelaki tadi tiba-tiba memegang pergelangan tangan Bella, sehingga Bella tak bisa melanjutkan langkahnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri tapi gagal.
"Lepasin!" perintah Bella sambil masih menarik tangannya dari lelaki itu. Tapi lelaki itu malah tertawa.
"Bella!" Ari yang tersadar atas hilangnya Bella akhirnya berhasil menemukan Bella. Amarahnya naik saat ada lelaki asing yang menggangu kekasihnya itu. Tanpa pikir panjang, Ari langsung melayangkan tinjunya ke pipi lelaki itu.
"Anj***!" lelaki itu memaki Ari. Ia hendak membalas pukulan Ari, tapi dengan sigap Ari menahan tangan lelaki itu. Dan tanpa menunggu detik berganti, Ari melanjutkan serangannya ke perut lelaki itu. Lelaki itu meringis kesakitan dan terbatuk. Ia segera menjaga jarak dari Ari dan Bella.
"Pesanan dia ternyata Lo!" kata laki-laki itu kepada Bella. Bella merasa tak terima dikatai seperti itu. Tapi ia tak bisa melakukan apapun.
"Dia bukan per*k, anj***! Dia cewek gue!" Ari balik memaki lelaki itu. Ia masih sangat berhasrat untuk menghabisi lelaki yang sudah bertindak laku dan mengatai Bella sembarangan seperti itu. Tapi buru-buru Bella menahannya.
"Udah Ri. Udah...." kata Bella sambil memegang tangan Ari.
Lelaki yang menggangu Bella tadi akhirnya pergi meskipun masih mengumpati Ari dan Bella. Rasanya Bella cukup lega atas kepergian lelaki itu. Ari pun juga akhirnya terpaksa membiarkan lelaki itu pergi.
"Kamu kenapa pergi dari aku Bel? Bahaya sendirian," Ari kini menatap Bella dengan cemas. Perkataan dan tingkah Ari itu malah membuat Bella geram.
"Kalau kamu tahu tempat ini bahaya, kenapa bawa aku kesini?!"
"Aku cuma mau ngehabisin waktu lebih lama aja sama kamu disini kok. Aku itu udah kangen banget sama kamu, kita nggak ketemu sebulan lho. Pokoknya kamu jangan jauh-jauh dari aku, pasti aman kok," Ari masih keuh-keuh dengan pendiriannya, membuat Bella tak habis pikir.
"Duh, nggak tahu deh!" Bella mencoba masa bodo dengan perkataan Ari. Ia kembali duduk di kursi tadi dan memasang wajah cemberut.
"Bel, jangan marah dong. Sorry banget. Mending kita minum aja dulu. Aku udah pesenin jus buat kamu. Nanti selesai minum kita langsung pulang," Ari coba membujuk Bella. Namun gadis itu hanya bergumam sedikit, terpaksa menuruti Ari.
Bella menyesal mempercayai Ari. Pulang apanya? Yang ada Bella malah tertahan disana, karena Ari terlalu banyak minum, dan sekarang ia sudah mabuk. Ia melirik jam tangannya. Pukul setengah satu malam. Untung saja mamanya sedang ke luar kota mengunjungi neneknya yang sakit. Jadi ia tak perlu membuat mamanya khawatir karena belum pulang juga sampai sekarang.
Bella merasa tak bisa berada disana lebih lama lagi. Ia berpikir apa ia memapah Ari saja untuk keluar?
"Ari, ayo pulang. Kamu masih bisa jalan kan?" tanya Bella.
"Hmm? Pulang? Jangan pulang dong sayang," Ari merengek seperti anak kecil. Dipeluknya Bella dari samping, seolah ingin membuat Bella tetap berada disana.
"Udah jam setengah satu Ri. Aku capek, mau istirahat," kata Bella sambil berusaha melepaskan pelukan Ari. Ia merasa tak nyaman dengan kondisi Ari saat ini.
Ari yang setengah sadar tidak menghiraukan ucapan Bella. Ia malah menyenderkan kepalanya ke bahu Bella.
"Aku cinta sama kamu," ucap Ari kemudian. Tapi hal itu tak membuat hati Bella bergetar sama sekali karena Ari mengucapkannya dalam keadaan mabuk.
"Kamu juga harus istirahat Ri. Ayo pulang sebelum kamu pingsan."
"Kamu nggak cinta sama aku?" Ari menegakkan tubuhnya dan memandang Bella penuh harap. Rasanya Bella sangat lelah menghadapi Ari sekarang ini.
Sementara Bella sibuk mengajak Ari untuk pulang, seorang perempuan berambut medium bob berjalan ke arah mereka. Ia mengehentikan kakinya yang dibalut boots martin hitam tepat di hadapan Bella dan Ari. Bella terperangah saat menyadari siapa yang menghampirinya dan Ari, bukan hanya karena pakaian perempuan itu yang terlalu seksi dengan tank top crop top dan rok leather high waist, tapi karena itu adalah Cinta.
"Aku kira aku salah lihat, tapi ternyata enggak. Aku nggak nyangka, seorang Bella ke club?" Cinta menyilangkan tangannya di depannya d**a, menatap Bella dengan miris.
Bella merasa malu tertangkap basah begitu. Tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Cinta, Ari yang maksa aku kesini," ucap Bella meski ia merasa tak yakin apa ia pantas membela diri.
"Kamu bilang kamu mau ngubah Ari untuk jadi orang yang lebih baik. Tapi kayaknya Ari deh yang bakal ngubah kamu," kata Cinta blak-blakan.
Perkataan Cinta itu membuat Bella tersentak. Ia merasa sangat besar mulut kepada Cinta waktu mengatakan akan mengubah Ari. Sekarang ia benar-benar ragu apakah ia bisa membuktikan kata-katanya itu.
"Hai Cinta. Kamu cantik banget sih. Heran, kok bisa secantik ini?" celetuk Ari tiba-tiba. Ia tertawa cengengesan sambil melihat Cinta dari atas ke bawah.
"Sorry Cinta, Ari lagi mabuk," Bella merasa tak enak karena Ari menggoda Cinta. Tapi Cinta tak bergeming sama sekali.
"Mending kalian pulang aja," kata Cinta kemudian.
"Aku memang mau pulang Cin. Tapi Ari nggak mau pulang," kata Bella putus asa.
"Ari, kamu jangan bikin susah Bella!" Cinta mengomeli Ari. Tapi Ari hanya tertawa.
"Bentar Bel," Cinta meninggalkan Bella dan Ari sesaat, lalu kembali lagi bersama Shana, sepupunya yang datang berdua dengannya ke club tersebut.
"Kalian pulang bareng kami ya? Sini aku bantu mapah Ari," Cinta menawarkan bantuan kepada Bella. Tanpa menunggu persetujuan Bella, Cinta langsung mendekati Ari dan mulai memapahnya. Bella pun segera mengikuti langkah Cinta.
"Padahal belum juga lama, udah pulang aja," Shana yang duduk di belakang setir menggerutu saat ia, Cinta, Bella dan Ari sudah berada di dalam mobilnya. Shana memang orang yang blak-blakan.
"Daripada gue tinggalin kayak kemaren?" kata Cinta sedikit keki. Saat ia memergoki Ari ada di club bersama dua perempuan, sebenarnya ia pergi dengan Shana. Tapi melihat kondisi Ari saat itu, ia langsung pergi mengantarkan Ari pulang tanpa bilang dulu ke Shana, yang menyebabkan Shana menjadi marah kepadanya.
"Ya nggak mau lah gue sendirian! Memang ya si Ari ini kalau nggak kuat minum ngapain juga ke club. Masih jam segini padahal. Dia memang selalu nyusahin lo ya Cin. Tapi lo bisa-bisanya suka sama dia," Shana masih mengeluarkan uneg-unegnya. Cinta segera menyikut Shana agar ia berhenti berbicara.
"Maksudnya gimana? Cinta, kamu suka sama Ari?" Bella yang duduk di belakang bersama Ari yang sedang tertidur kaget mendengar perkataan Shana. Cinta pun menghadiahi pelototan kepada Shana, namun setelah itu segera berpaling menatap Bella.
"Ya aku temenan sama orang yang aku sukain Bel. Aku juga suka sama kamu makanya aku jadi temen kamu. Gitu. Si Shana mah nggak usah didengerin kata-katanya. Suka ngelantur nih orang," Cinta mencari-cari alasan untuk membuat Bella tidak curiga. Walaupun sebenarnya jika Bella mengetahui perasaan Cinta yang sebenarnya kepada Ari, pasti Bella akan mundur dan mengalah untuk Cinta, tapi buat apa jika Ari tetap tidak mencintai Cinta dan ujung-ujungnya akan menyalahkan Cinta. Ia memilih untuk bersabar sedikit lagi, ia ingin membuat Ari benar-benar mencintainya dan berpaling dari Bella.
Bella hanya terdiam, tak tahu harus percaya dengan dugaannya atau perkataan Cinta. Tapi Cinta sampai menyelimuti Ari dengan cardigan rajut miliknya yang tadi ditinggalkannya di mobil, padahal Bella yakin kalau Cinta lebih membutuhkan cardigan itu. Apa benar Cinta menyukai Ari hanya sebatas suka berteman dengan Ari, atau Cinta menyukai Ari lebih daripada teman?
***