Aku ingin kau selalu merasakan kebahagiaan,
jangan sepertiku yang membuat-buatnya.
Atau, bisakah kita saling membahagiakan saja?
***
Rasa tak enak hati menyelimuti hati Bella karena ia sudah mengabaikan Ari selama tiga hari. Rasanya aneh memiliki hubungan dengan seseorang, tapi malah sedingin ini. Sebuah jalan keluar harus diambil Bella. Memperbaiki semuanya. Walaupun ia tak yakin apa masalah sebenarnya yang membuat mereka memiliki jarak. Walaupun ia tak tahu apakah ia yang memulai semua ini. Walaupun ia tak tahu apakah mengalah akan membuat semuanya jadi baik-baik saja.
"Cinta, apa aku minta maaf aja ke Ari?" tanya Bella kepada Cinta saat mereka ke kantin kampus untuk menunggu kelas selanjutnya.
Cinta yang tadinya sibuk dengan handphonenya seketika melemparkan tatapannya ke Bella.
"Minta maaf untuk?"
"Minta maaf... karena udah nyuekin dia," jawab Bella sedikit ragu.
Cinta meletakkan handphonenya dan mulai serius menanggapi Bella. Disangkutkannya rambutnya ke telinga kirinya.
"Emang kamu yang salah? Dia lho yang aneh duluan marah-marah nggak jelas gitu. Kan aku udah bilang, kalau kamu yang minta maaf kedepannya dia malah tambah egois. Karena dia tahu ujung-ujungnya kamu pasti bakal ngalah dan minta baikan lagi sama dia."
Bella terdiam sejenak merenungi perkataan Cinta.
"Iya sih. Tapi mau sampai kapan aku ngehindarin dia terus cuma karena masalah sepele?"
Cinta memutar bola matanya, "ya tunggu dia yang minta maaf dong. Masa' cewek sih yang ngalah? Cowok dong yang harusnya gerak duluan. Aku lihat selama tiga hari ini Ari nggak pernah berusaha minta maaf ke kamu. Dia cuma nyalah-nyalahin kamu terus. Buka mata kamu dong Bel," Cinta masih berusaha membuat Bella membatalkan niatnya bermediasi dengan Ari.
"Ya mungkin karena aku nggak ngasih dia kesempatan untuk ngomong. Makanya dia jadi nggak bisa minta maaf kan?"
"Minta maaf nggak mesti ngomong langsung. Chat kan juga bisa. Emang dia ada chat kamu untuk minta maaf?"
Bella menggeleng. Ari hanya terus-terusan bertanya kenapa Bella menjauhinya, tapi tidak ada satu kata maaf pun yang dituliskannya.
"Nah kan. Aku udah tau banget sifat Ari. Lagian ngapain sih kamu pacaran sama dia? Kalian berdua itu nggak cocok tau!" Cinta semakin menggebu untuk menghasut Bella.
"Nggak cocok gimana?" Bella bingung dengan pernyataan Cinta.
"Ya nggak cocoklah. Kamu pintar, baik, cantik, nah Ari, si pembuat masalah, kerjanya main mulu gak pernah fokus belajar."
"Tapi waktu awal aku jadian sama Ari kamu nggak komentar apa-apa Cin. Kenapa baru sekarang kamu bilang ini?"
"Waktu itu aku shock sampai otak ku nggak bisa mikir apa-apa. Aku nggak expect kamu mau pacaran sama Ari. Aku pikir kamu cuma anggap dia sebagai teman, karena kamu nggak pernah nunjukin kalau kamu punya perasaan sama dia," Cinta menjelaskan garis besar alasannya. Namun bila Cinta mau menceritakan yang sebenarnya, sejujurnya saat itu ia terlalu terpukul setelah mengetahui Ari dan Bella berpacaran. Sampai-sampai ia memilih menyendiri dan sering mengurung diri di kamarnya. Ia menangis tiap malam dan tak nafsu makan. Namun ia menyembunyikan semuanya dari Cinta dan Ari. Pernah ia mencoba untuk merelakan kedua sahabatnya menjalin asmara. Tapi ia merasa tak kuat. Hingga suatu hari ia memutuskan untuk merusak hubungan Bella dan Ari.
"Sebenarnya kamu beneran cinta sama Ari atau enggak sih Bel?" tanya Cinta kemudian.
"Aku sayang sama Ari, Cin. Waktu dia nembak aku, aku lihat kesungguhan dia. Dan aku nerima dia karena aku mau ngerubah dia jadi lebih baik lagi."
"Bel, jangan berharap seseorang bisa berubah setelah menjalani hubungan sama kamu. Bukannya dalam cinta itu harus menerima segala keburukan dan kekurangan pasangannya?"
"Oh, jadi gini cara main kamu ya Cin?" tiba-tiba suara Ari terdengar, membuat Bella dan Cinta sontak menoleh ke arahnya. Mereka berdua tak satupun menyadari bahwa Ari datang kesana.
"Kamu pengaruhin Bella biar dia nggak suka lagi sama aku? Kamu jelek-jelekin aku biar kami putus?" Ari kembali melanjutkan kata-katanya dengan penuh amarah. Hal itu membuat Bella merasa jadi tidak enak. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di samping Ari.
"Tenang dulu Ri, bukan gitu maksud Cinta. Dia cuma mau bantu nyelesaiin masalah kita aja kok," Bella mencoba meluruskan tuduhan Ari.
"Bantu darimana? Aku tadi dengar kok apa yang dibilang Cinta, dan aku paham arah pembicaraan dia kemana."
"Apaan sih Ri? Nggak jelas," Cinta bersikap masa bodo, seolah tak melakukan kesalahan apa pun.
"Udah... Udah... Mending kita pergi Ri, kita bicarain masalah kita baik-baik. Jangan bawa-bawa Cinta, dia nggak salah apa-apa," Bella berusaha menghindari pertengkaran antara Ari dan Cinta.
Amarah Ari kepada Cinta belum juga bisa reda. Tapi Bella menarik tangan Ari, menatapnya memohon. Ari pun tak tega dengan tatapan itu. Dibuangnya mukanya dari Cinta, dan ikut pergi sesuai arahan Bella.
Cinta menggeram kesal. Diremasnya tasnya dengan kasar, dan dilemparkannya di atas meja. Ia sangat tidak bisa menerima perlakuan Ari tadi. Ari dengan teganya memarahinya, di depan Bella. Sudah cukup hatinya sakit karena Ari lebih memilih Bella ketimbang dirinya, kini Ari malah secara semena-mena mempermalukan Cinta di hadapan Bella. Cinta merasa kalah berkali-kali. Cinta merasa tak berharga sama sekali di mata Ari. Dalam hati ia berjanji akan membuat hubungan Ari dan Bella tidak akan bahagia.
Sementara itu Bella dan Ari sudah sampai di taman kampus. Bella duduk di bangku panjang taman itu, diikuti Ari. Bella lalu menatap Ari, memastikan apakah Ari bisa diajak bicara sekarang. Lelaki itu nampaknya sudah meredakan emosinya tadi, dan bersiap mendengarkan apapun yang akan dikatakan Bella.
"Ari, maafin aku ya. Selama tiga hari ini aku udah nyuekin kamu, dan nggak pernah kasih kesempatan buat kamu untuk bisa ngomong sama aku. Padahal kita udah sebulan nggak ketemu," akhirnya Bella mengutarakan permintaan maafnya juga. Ditatapnya lelaki di hadapannya itu dengan wajah memelas. Berharap permintaan maafnya bisa mengakhiri perang dinginnya dengan kekasihnya itu. Namun Ari hanya diam.
"Ri?" Bella kembali memanggil Ari, berharap kekasihnya itu memberikan reaksi. Ia menggenggam tangan Ari, membuat Ari menatapnya kaget.
"Aku benar-benar minta maaf," ucap Bella lagi sambil menatap Ari dengan sungguh-sungguh. Ari tak menyangka Bella akan melakukan hal seperti itu. Meminta maaf kepadanya bahkan berulang kali, sampai berusaha membujuk Ari lewat sentuhan tangan dan tatapannya.
Ari terpana, rasanya ia sangat bahagia diperlakukan seperti itu oleh Bella.
"Ini beneran kamu Bel?" tanya Ari setengah tak percaya.
Mendengar perkataan Ari, Bella langsung melepaskan genggaman tangannya dan memalingkan wajah sambil cemberut.
"Lah kok berubah? Hei, Bel," Ari menarik kembali tangan Bella dengan lembut, lalu mengulurkan tangannya ke dagu Bella untuk membuat Bella kembali menatap ke arahnya.
"Ya abis kamu, aku minta maaf tapi responnya malah begitu," Bella masih memperlihatkan wajah tak senangnya. Tapi Ari malah tertawa, karena Bella jadi terlihat menggemaskan.
"Kan, sekarang malah ketawa," Bella tak terima dengan respon Ari. Padahal ia sudah mau mengalah untuk meminta maaf. Tapi Ari malah menertawakan kesungguhan Bella itu.
"Enggak, bukan begitu. Sorry, aku malah bikin kamu jadi marah lagi," Ari menghentikan tawanya. Diusapnya rambut Bella dan dibelai-belainya gadis yang ia cintai itu.
"Makasih ya, kamu udah mau minta maaf sama aku. Dan makasih kamu nggak dengerin kata-katanya Cinta."
"Duh Ri, udah aku bilang kan, Cinta cuma mau bantu nyelesaiin masalah kita berdua aja. Cinta itu temen kita lho, pasti dia pengen yang terbaik buat kita."
"Iya... Iya... Aku juga minta maaf ya kalau mungkin aku terlalu egois buat kamu."
Bella tersenyum mendengar permintaan maaf Ari, "jadi kita baikan ya?"
Ari mengangguk sambil ikut tersenyum.
"Tapi kamu juga baikan ya sama Cinta?" pinta Bella kemudian.
"Oke, tapi ada syaratnya," kata Ari setelah terdiam untuk berpikir sesaat.
"Ih kok pakek syarat sih? Kan Cinta sahabat kamu dari SMP?"
Ari terkekeh, "tenang aja, syaratnya gampang kok. Kamu mau ya malam ini jalan sama aku?"
Bella terlihat keberatan dengan syarat itu, "kan aku kerja Ri. Waktu aku off deh ya?"
Ari langsung cemberut mendengar alasan Bella. Tapi iya tahu iya tidak bisa memaksa.
"Ya udah. Berarti Minggu depan hari Selasa ya?" tanya Ari memastikan.
"Hari off aku udah ganti jadi Rabu."
"Yah tambah lama dong. Ini aja masih hari Kamis," keluh Ari.
"Ya kamu sabar dong," bujuk Bella.
"Maunya kita baikan kemaren aja kan ya?"
"Hahaha... Iya juga ya."
"Tapi kamu baikan sama Cintanya hari ini ya?" lanjut Bella kemudian.
Ari tersenyum sambil meringis, "masalah Cinta mah gampang. Kamu nggak usah terlalu pikirin. Dia pasti maafin aku kok," ucap Ari dengan percaya diri.
"Iya sih. Cinta kan baik ya. Beruntung banget ya kita punya sahabat kayak Cinta," Bella tersenyum sambil mengingat semua kebaikan yang sudah Cinta lakukan kepadanya dan Ari.
Ari ikut tersenyum dan merangkul Bella, mendekapkan tubuh Bella ke pelukannya. Rasanya ia sangat senang dapat membuat Bella kembali ramah kepada dirinya, kembali mau berbicara dengannya. Namun dalam hati ia juga berharap bahwa Bella tak akan pernah tahu tentang perasaan Cinta kepada Ari. Karena ia takut Bella akan merasa bersalah kepada Cinta dan memutuskan untuk meninggalkan Ari demi Cinta.
***
Rama melihat ada yang berbeda dari Bella hari ini. Gadis itu terlihat sangat ceria, tidak seperti beberapa hari belakangan dimana Bella terlihat murung dan sedih. Didekatinya Bella saat pengunjung cafe sepi, agar suasana tidak begitu sunyi.
"Hei Bel, kayaknya lagi seneng banget ya hari ini?" kata Rama.
Bella yang tersadar Rama sudah ada di sampingnya tertawa mendengar pernyataan Rama tersebut.
"Hahaha... Kelihatan banget ya?"
"Iya. Kemaren-kemaren kan muka lo serem banget, jadi takut gue ngajak ngomong," canda Rama.
"Ih apaan sih? Biasa aja kok aku kemaren," Bella tersenyum malu. Ia tak menyangka Rama memperhatikannya dan menyadari perubahan suasana hatinya.
"Gini aja terus, happy. Jangan galau-galau lagi. Lo lebih cantik kalau happy."
Wajah Bella memerah karena Rama memanggilnya cantik. Tapi cepat-cepat ia sembunyikan perasaan salah tingkahnya.
"Namanya hidup, kadang happy, kadang sedih Ram," ucap Bella kemudian.
"Iya sih. Tapi seandainya boleh memilih, gue pengen ngerasain happy aja setiap hari."
Bella menatap Rama bingung. Rama seperti mengatakan sesuatu yang tersirat.
"Tapi sejak awal kita ketemu kamu kelihatan happy terus kok Ram," Bella mencoba meyakinkan Rama bahwa Rama kelihatan selalu bahagia.
"Iya, harus happy dong," ucap Rama sambil tersenyum bersemangat, namun matanya menerawang ke atas. Seolah sedang mengenang sesuatu, sesuatu yang membuatnya memutuskan untuk terus selalu merasa bahagia.
Bella tiba-tiba teringat cerita Rama saat mereka makan bakso bersama beberapa hari yang lalu. Pasti sebenarnya Rama merasa sedih dengan hidupnya, karena Rama memiliki keluarga yang tidak harmonis. Namun Rama begitu kuat, ia bisa terus saja kelihatan ceria, seolah rasa sedih tidak pernah hadir di dalam hidupnya. Rasanya Bella ingin sekali mengetahui cerita lebih lanjut tentang Rama. Cerita bagaimana Rama bisa terus terlihat baik-baik saja. Bahkan di saat ia kecelakaan pun ia tersenyum kepada Bella. Tapi ia merasa sungkan untuk terlalu menggali tentang kehidupan Rama. Ia takut untuk memulai percakapan seperti itu, karena berpikir hal itu adalah privasi seseorang. Ia dan Rama juga baru saja kenal. Rasanya terlalu cepat untuk membahas tentang kehidupan pribadi dengan orang yang belum lama dikenal.
"Ada pengunjung, gue kesana ya," kata Rama saat satu grup perempuan baru masuk ke cafe, dan melihat sekeliling untuk menentukan tempat yang paling nyaman untuk mereka duduk. Bella mengangguk kepada Rama, dan Rama pun bergegas menghampiri 6 orang perempuan itu yang akhirnya sudah duduk di meja sudut tengah.
Perempuan-perempuan itu tampak senang atas kehadiran Rama. Mereka meminta Rama untuk menunggu saat Rama menyuguhkan buku menu, dan memberikan berbagai macam pertanyaan tentang menu-menu yang ada disana. Bahkan mereka sempat-sempatnya bercanda dan menggoda Rama. Namun Rama tetap ramah terhadap mereka. Lagi-lagi Bella terkagum dengan sikap Rama. Ia bahkan masih bisa menjadi orang yang menyenangkan di hadapan orang-orang yang menyebalkan.
Bella berhenti memperhatikan Rama saat pengunjung baru datang. Dengan sigap diraihnya buku menu dan segera menghampiri pengunjung yang merupakan sepasang kekasih. Bella juga ingin bekerja dengan baik dan penuh semangat seperti Rama.
Tak terasa waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu artinya waktu kerja karyawan Coffee Time sudah berakhir. Namun hujan turun dengan derasnya. Bella yang tidak membawa jas hujan jadi merasa bingung cara untuk pulang.
"Duluan ya!" Hendrik, sang kasir, pamit kepada Bella dan Ari. Ia sudah memakai jas hujannya, dan siap mengendarai sepeda motornya di tengah hujan.
"Iya Bro. Hati-hati," pesan Rama kepada Hendrik.
"Hati-hati Bang," ucap Bella juga.
Hendrik mengangguk dan meninggalkan Bella dan Rama. Tak lama kemudian karyawan bagian kitchen pun juga ikut pamit pulang. Sekarang yang tersisa hanya Bella dan Rama saja, yang baru selesai menyapu lantai dan mengelap meja.
"Jadi kita gimana? Pulang sekarang atau tunggu hujan reda?" tanya Rama kepada Bella. Tepat sebulan masa kerja Rama, ia dipercaya untuk memegang kunci cafe, sehingga ia pulang paling akhir setelah semua karyawan pulang.
"Aku lupa bawa jas hujan Ram. Tunggu hujan reda nggak papa kan ya?" tanya Bella ragu-ragu. Ia merasa tak enak harus membuat Rama pulang lebih lama. Padahal kalau tidak harus mengiringi Bella pulang, Rama bisa pulang sekarang.
"Oh, nggak papa kok," ucap Rama sambil tersenyum tulus. Hal itu membuat Bella menjadi lega. Setidaknya rasa bersalahnya menjadi berkurang karena Rama benar-benar kelihatan tidak keberatan.
"Gue tarok sapu sama lap dulu ya ke belakang. Lo duduk aja disana," kata Rama sambil menunjuk kursi yang biasa diduduki pengunjung.
"Biar aku aja Ram."
"Nggak papa, gue sekalian mau ke toilet juga," jelas Rama. Toilet memang berada di samping janitor.
"Oh, oke deh," Bella akhirnya membiarkan Rama mengembalikan sapu dan lap ke tempatnya. Ia lalu duduk saat Rama sudah pergi.
Hujan tampaknya masih enggan untuk reda. Bahkan suara gemuruh kini terdengar. Kilat menyambar-nyambar silih berganti, dan cahayanya berhasil masuk melalui dinding depan cafe yang terbuat dari kaca.
Rasa takut menjalari Bella. Ia gemetar. Jantungnya berdegup kencang tak karuan dan badannya terasa lemas. Suasana itu mengingatkannya dengan hari dimana rumahnya kerampokan, dan menyebabkan papanya tewas tertikam di hadapannya. Ia sangat panik, entah kenapa ia merasa dua perampok itu akan datang, masuk melalui pintu samping secara diam-diam untuk menangkapnya lagi.
Keadaan semakin memburuk karena tiba-tiba listrik padam. Dengan sisa-sisa tenaganya, Bella bergerak untuk menyembunyikan tubuhnya di bawah meja. Ia menutup mata dan telinganya. Ia menangis karena rasa traumanya membuatnya sangat tertekan saat itu. Walaupun sudah sekuat tenaga ia mengembalikan kewarasannya, tapi tetap saja perasaan campur aduknya antara tertekan, trauma, sedih dan merasa bersalah tak kunjung pergi. Ia berharap ada seseorang yang segera datang dan bisa menenangkannya.
Tak lama kemudian Rama datang dari arah pantry, sambil menerangi ruangan dengan senter dari HP nya. Sementara tangan satunya lagi membawa segelas teh hangat, yang sengaja ia buatkan untuk Bella. Tapi ia malah bingung karena tidak menemukan Bella di kursi manapun.
"Bel?" Rama mencoba memanggil Bella. Namun Bella tak kunjung menyahut. Di letakkannya teh yang tadi dibawanya di atas meja tempat Bella menunggu tadi dan ia pun melanjutkan untuk mencari Bella. Ia menyoroti sekeliling ruangan tapi masih tidak menemukan teman kerjanya itu. Hingga akhirnya ia tak sengaja menyorot senternya ke bawah meja, dan mendapati gadis itu tengah meringkuk sambil menangis. Rama langsung berjongkok menghampiri Bella ke bawah meja dengan sangat cemas.
"Bel, lo kenapa?!"
Bella tak kunjung menjawab, ia masih menangis sesenggukan.
"Lo sakit? Mau gue bawa ke rumah sakit? Gue panggilin taxi ya?"
Bella menggeleng. Hal itu membuat Rama menjadi bingung harus melakukan apa.
"Semuanya salah aku. Salah aku..." Bella bergumam sendiri dalam tangisannya. Rama hampir tidak bisa mendengar suara Bella karena suara hujan yang cukup lebat.
"Maksudnya gimana Bel?"
"Salah aku Ram...." tangisan Bella makin histeris. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rama yang masih bingung dengan kelakuan Bella hanya bisa berusaha menenangkan Bella dengan mengelus punggung gadis itu dengan lembut.
"Bel, lo tenang dulu ya. Sejujurnya gue nggak ngerti sama apa yang terjadi dengan lo. Tapi gue bakal ada disini sampai lo udah ngerasa enakan," ucap Rama. Rasanya ia tak tega melihat Bella yang tengah kalut dan bersedih. Tapi sebagai teman lawan jenisnya, hanya duduk di samping Bella dan menemani gadis itu yang bisa ia perbuat untuk membuat Bella sedikit tenang.
"Kita duduk di atas yok. Gue buatin lo teh tadi. Makanya agak lama. Sorry ya," kata Rama lagi setelah ia menyadari kalau tangisan Bella kini sudah mereda, bersamaan dengan hujan yang hanya tersisa gerimis.
Bella hanya menuruti Rama. Lelaki itu membantu Bella bangkit dan menuntunnya ke kursi. Lalu ia menyuguhkan teh yang sudah ada di atas meja. Bella meminum teh itu dan sekarang perasaannya jadi sedikit lebih tenang.
"Maaf Ram," Bella akhirnya sudah bisa mengendalikan diri. Diusapnya sisa-sisa air matanya.
"Nggak papa Bel," Rama tersenyum agar Bella tak merasa bersalah.
Tiba-tiba handphone Bella yang ada di atas meja berdering. Rama bisa melihat nama yang muncul dari layar HP itu. Itu adalah panggilan dari mama Bella. Tapi Bella nampaknya belum siap untuk berbicara.
"Boleh gue angkatin?" tanya Rama berinisiatif. Bella pun mengangguk.
Rama segera meraih HP Bella sebelum panggilan itu berakhir. Di ujung telepon terdengar suara mama Bella yang sangat cemas saat Rama menerima panggilan itu.
"Bella, kamu dimana? Masih di cafe?" tanya mama Bella.
"Hallo Tante. Maaf, saya Rama, teman kerjanya Bella."
"Bella dimana Rama?" mama Bella langsung melanjutkan pertanyaannya saking ia cemasnya.
"Tante tenang ya. Bella lagi sama saya. Tadi dia tiba-tiba nangis. Saya nggak tau kenapa. Tapi sekarang udah mulai tenang kok. Cuma kayaknya dia masih belum bisa ditanya-tanya," jelas Rama.
"Ya ampun Bella. Dari tadi tante telepon nggak bisa masuk Ram, karena jaringan hilang. Tante cemas dengan Bella, dia nggak bisa kalau ada hujan deras dan kilat."
Mendengar penjelasan mama Bella barusan, Rama sedikit bisa menyimpulkan penyebab kenapa Bella tadi menangis hingga sehisteris itu. Rama juga teringat sikap aneh Bella saat jalan-jalan di taman dengan Rama muncul saat hujan turun.
"Ya udah Tante, nggak usah cemas lagi. Saya antarin Bella pulang pakai taxi ya. Soalnya masih gerimis dan Bella nggak bawa jas hujan. Lagipula kondisi Bella juga nggak memungkinkan untuk bawa motor," Rama menawarkan diri untuk mengantar Bella.
"Nggak usah Ram. Nanti kamu repot. Biar tante aja yang jemput Bella pakai taxi," mama Bella merasa sungkan untuk menyusahkan Rama lagi.
"Nggak papa Tante, rumah saya juga searah kok. Saya bakal jagain Bella sampai rumah dengan aman. Saya janji," Rama berusaha meyakinkan mama Bella.
Mama Bella mendengar ada kesungguhan dari Rama. Walau hanya dari suara, tapi entah kenapa hal itu bisa membuatnya yakin bahwa Rama akan menepati janjinya. Ia pun menyetujui niat baik Rama tersebut.
"Makasih banyak ya Ram. Tante bakal tunggu kalian. Kalian berdua hati-hati di jalan," pesan Mama Bella.
"Iya Tante."
***
Sesampainya di rumah Bella, Rama langsung membantu Bella untuk turun dari mobil. Mama Bella yang dari tadi menunggu dengan cemas segera membukakan pintu.
"Bella..." mama Bella memeluk anak semata wayangnya itu. Bella menyambut pelukan itu dan merasa begitu nyaman.
"Rama, kamu masuk dulu ya. Tante udah buatin minuman untuk kamu."
"Iya Tante," Rama menuruti mama Bella. Diikutinya ibu dan anak itu ke dalam rumah.
"Tunggu sebentar disini ya Ram. Tante mau antar Bella ke kamar, biar dia bisa istirahat. Kamu silahkan duduk dulu. Diminum kopinya ya," kata mama Bella saat mereka sudah sampai di ruang tamu.
"Oke Tante."
"Makasih ya Ram," kata Bella dengan suara yang lemah. Namun ia benar-benar berterimakasih kepada Rama. Jika tidak ada Rama, entah apa yang akan terjadi padanya tadi.
Rama mengangguk sembari tersenyum.
Sambil menunggu mama Bella kembali, Rama meminum kopi yang ada di atas meja, lalu sekilas melihat sekeliling ruang tamu dari rumah yang cukup sederhana itu. Tak lama kemudian mama Bella kembali dan duduk di hadapan Rama.
"Terimakasih ya Ram, kamu udah banyak bantu Bella. Bella cerita, kalau dia punya teman kerja baru yang namanya Rama, yang ngiringin dia pulang setiap hari. Dan sekarang kamu juga bantu anterin dia pulang. Tante benar-benar berhutang budi sama kamu Ram," ucap mama Bella tulus.
"Sama-sama Tante. Bella juga baik banget sama saya, makanya saya juga mau balas kebaikan dia. Dan saya senang bisa bantu Bella kapanpun kok," kata Rama tak kalah tulus. Hal itu membuat mama Bella tersenyum lega.
"Tapi Tante, kalau boleh tahu apa Bella memang sering kayak tadi kalau hujan lagi lebat dan ada petir ya? Apa dia phobia hujan?" tanya Rama kemudian.
Mama Bella menghela nafas. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sedih.
"Waktu Bella kelas 2 SMP, rumah kami kerampokan. Waktu itu lagi hujan lebat, ada petir dan juga kilat. Mati lampu juga. Waktu itu Bella niatnya cuma mau ambil air putih ke dapur. Tapi dia malah jadi memergoki dua perampok itu. Bella langsung lari ke kamar Tante dan papanya. Waktu papanya keluar kamar, Bella udah ketangkap sama salah satu perampok itu. Papanya mau nyelamatin dia, tapi perampok satu lagi malah menghalangi papanya. Jadi mereka terlibat perkelahian, sampai akhirnya perampok itu menusuk d**a papa Bella. Dan papa Bella meninggal setelah itu," mama Bella menjelaskan kronologi beberapa tahun yang lalu. Peristiwa yang mengubah hidupnya terutama Bella.
Rama hampir tidak bisa berkata-kata mendengar cerita itu. Ia benar-benar kaget ternyata Bella memiliki masa lalu sekelam itu.
"Bella selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia selalu bilang kalau aja waktu itu dia nggak bangun, mungkin perampok itu nggak akan menangkap dia, dan papanya gak perlu sampai harus nyelamatin dia. Dia benar-benar terpukul dengan kejadian itu."
Mama Bella menghentikan ceritanya sesaat. Ia butuh sedikit kekuatan lagi untuk melanjutkan cerita itu. Ditariknya napasnya dalam-dalam dan dihembuskannya.
"Tante memutuskan untuk pindah rumah, dan memulai hidup yang baru dengan Bella. Tapi tetap aja, butuh waktu yang lama untuk Bella bisa pulih dari kesedihannya. Bahkan sampai sekarang pun, dia masih belum bisa mengikhlaskan kejadian itu."
Mama Bella nampaknya tak sanggup melanjutkan ceritanya. Ia menutup mulutnya dan mulai menitikkan air mata. Tapi cepat-cepat dihapusnya air matanya.
"Udah Tante. Ini terlalu berat buat Tante. Nggak usah dilanjutin lagi ceritanya," kata Rama. Ia menyuguhkan tissue yang ada di atas meja kepada mama Bella. Mama Bella menerima tissue itu dan mengelap ujung matanya.
Rama membiarkan mama Bella menenangkan diri. Setelah beberapa menit, wanita di hadapan Rama itu tampak sudah siap untuk berbicara lagi.
"Rama, tante mau minta tolong sama kamu. Tolong tante untuk jagain Bella ya?"
***