Keegoisanmu membuatku ragu
Apa benar aku yang salah dan kau selalu benar?
***
"Katanya nggak mau nyanyi, tapi ternyata malah yang paling semangat," Rama menertawakan Bella, membuat wajah perempuan itu memerah karena malu.
"Kan kamu yang maksa-maksa," ucap Bella kesal. Tapi sebenarnya ia cukup senang berada di game center karena mereka puas bermain disana. Hampir semua permainan mereka coba. Jika saja mereka tidak dikejar waktu, pasti Bella akan meminta untuk tetap disana lebih lama lagi. Sekarang mereka sedang berjalan meninggalkan arena game center untuk pergi ke tempat parkir.
"Sekarang tinggal makan siang, terus berangkat kerja," ucap Rama sambil meregangkan tubuhnya. Dalam hati ia merasa senang karena Bella kembali menjadi ceria.
"Dimana?"
"Rahasia!"
Rama membuat Bella penasaran. Tapi kemanapun itu, pasti tempat yang menyenangkan, pikir Bella. Entah kenapa Rama bisa membawa Bella ke tempat-tempat yang membuat Bella senang. Sepertinya tidak ada orang yang pernah melakukan hal itu kepada dirinya. Hanya Rama seorang.
Bella dan Rama sampai di sebuah restoran yang ada di atap sebuah apartemen. Membuat Bella menatap Rama bingung. Karena ini kali pertamanya Rama mengajaknya ke restoran.
"Kita makan disini?"
"Iya. Yuk duduk," Rama menarik kursi untuk Bella, mempersilahkan gadis itu duduk layaknya seorang pria sejati.
Meski masih bingung, akhirnya Bella tetap duduk. Rama memutari meja dan duduk di hadapan Bella.
"Kok tiba-tiba mau makan disini?" Tanya Bella yang masih penasaran.
"Abisnya Lo udah dandan cantik gini, masa makannya di pinggir jalan?"
Perkataan Rama membuat Bella tersipu malu. Rama tersenyum melihat wajah memerah Bella itu.
"Pilih aja mau makan apa. Biar gue traktir," ucap Rama saat buku menu sudah diantarkan ke meja mereka. Ia mulai membolak-balik buku menu itu untuk mencari makanan yang ingin ia santap.
"Nggak papa Ram. Biar aku bayar sendiri aja," tolak Bella.
"Kan Lo sering bawain gue makanan. Terus Lo juga udah pernah traktir gue ikan bakar, sekarang giliran gue yang traktir."
"Tapi kan harganya jauh beda Ram. Makanan disini mahal-mahal banget. Kamu juga belum gajian lagi," Bella masih merasa sungkan.
Rama tertawa mendengar perkataan Bella, "ngapain juga Lo mikirin itu Bel? Tenang aja, gue bisa kok traktir Lo makan disini. Gue pernah kerja disini, jadi gue kenal sama karyawan disini. Gue bisa minta diskon karyawan mereka. Hehehe..."
"Kamu pernah kerja disini? Jangan bilang kamu juga pernah kerja di game center tadi?"
"Iya, pernah," kata Rama sambil menyengir, "kan Lo lihat tadi karyawannya nyapa gue."
Bella menatap Rama tak percaya. Ternyata ceritanya tentang pernah bekerja di berbagai tempat itu benar adanya. Pantas saja Rama bisa mengajak Bella ke berbagai tempat hari ini meski dalam waktu yang singkat. Ternyata Rama sudah terbiasa mengatur waktu dengan tepat dan teliti.
"Buruan pilih Bel. Nanti kita telat kerja lho," Rama mengingatkan Bella untuk segera memilih menu yang ia inginkan. Bella menghela napas karena masih merasa sungkan namun ia terpaksa mengikuti perkataan Rama karena tidak tahu caranya menolak lagi.
"Kapan-kapan, Lo lagi yang traktir," kata Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu. Namun sekilas ia melirik ke arah Bella yang tersenyum senang mendengar perkataan dari Rama. Bella benar-benar bukan orang yang suka menyusahkan orang lain atau memanfaatkan orang lain.
Bella melihat sekeliling kota dari restoran itu setelah memesan makanan. Pemandangan kota jadi terlihat indah dari atas atap apartemen itu. Hal itu membuat Bella tak henti-hentinya tersenyum. Rasanya Rama sangat senang melihat Bella yang terlihat bahagia hari ini. Jikalau mungkin ia ingin mempertahankan senyuman manis gadis di hadapannya itu agar selalu ada setiap hari.
"Angle nya bagus dari sini. Biar gue fotoin," Rama menawarkan. Tangannya sudah siap untuk memposisikan smartphone-nya demi menangkap gambar yang bagus atas sosok Bella.
"Tunggu, aku nggak tahu harus pose kayak mana," kata Bella panik. Ia merasa ia tidak jago untuk berpose di hadapan kamera. Makanya di sosial medianya pun tidak ada fotonya sendirian. Jika foto bersama ia hanya perlu tersenyum saja tanpa perlu pusing memikirkan harus berpose bagaimana.
"Pura-pura nggak tahu aja, candid gitu," saran Rama.
"Hah?" Justru karena disuruh Bella malah tidak bisa berpura-pura tidak sadar kalau akan difoto. Namun Rama tidak kehabisan akal. Ia tiba-tiba menunjuk sesuatu dan menyuruh Bella melihatnya.
"Apaan tuh?"
Bella segera melihat ke arah yang ditunjuk Rama. Dan dengan sigap Rama mengambil foto pertama Bella. Bella yang sadar dibohongi pun kembali menatap Rama dan tertawa. Lagi-lagi Rama tidak melewatkan ekspresi natural dari Bella dan mengambil foto Bella sebanyak-banyaknya.
"Ram, udah ah. Aku malu," kata Bella sambil menutup mukanya.
"Baru sedikit lho. Sini ikut gue, kita ke spot yang lebih bagus," ucap Rama sambil beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke tepi balkon restoran. Bella tidak dapat menghentikan Rama dan hanya bisa pasrah mengikuti Rama dari belakang.
"Nah berdiri disini. Tangan Lo senderin ke balkon, terus lihat pemandangan di bawah. Jangan lupa senyum sedikit," Rama memberi arahan. Bella pun menuruti Rama.
"Sekarang badan Lo nyender ke balkon, sikunya bertumpu di atas balkon, sambil lihat ke atas menatap masa depan."
Bella tertawa mendengar arahan gaya dari Rama. Tapi segera dihentikannya tawanya agar ekspresinya bisa sesuai dengan yang Rama katakan.
"Oke sekarang lihat ke kamera terus senyum lebar."
Bella nampaknya sudah tidak memperdulikan rasa malunya. Ia menatap ke arah kamera sambil tersenyum seperti yang Rama arahkan. Sejenak Rama terpesona dengan senyuman itu. Gadis idamannya yang hari ini berdandan sangat cantik, tersenyum ke arahnya dengan tulus. Angin yang berhembus menggoyangkan ujung rambut yang ada di sisi kiri dan kanan yang terjuntai tak ikut terikat dalam sanggul.
Rama berhasil memotret sebelum ia makin tenggelam dalam rasa ketersimaannya. Bella menatap Rama, menanti intruksi selanjutnya.
"Terakhir ya. Lo lihat ke depan, badannya rileks aja. Gue fotoin dari belakang."
Bella mengangguk dan melakukan apa yang Rama suruh. Setelah jepretan terakhir itu, Rama pun menyudahi aksi menjadi fotografer dadakan hari itu.
"Gue kirimin fotonya ya," ucap Rama. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, foto-foto tersebut sudah terkirim semua ke handphone Bella.
Bella segera mengecek foto-foto tersebut dan merasa sangat kagum dengan hasilnya.
"Gimana? Bagus kan?" Tanya Rama.
"Iya. Kamu dulu juga pernah jadi fotografer ya?"
Rama tertawa, "enggak kok. Dulu gue sering fotoin orang. Jadi udah terbiasa."
"Ooh gitu," Bella manggut-manggut.
"Sosok secantik di foto itu yang selalu gue lihat dari diri Lo Bel."
Bella terdiam mendengar perkataan Rama. Ia yakin wajahnya sangat merah sekarang. Ia pun menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Dan Rama malah menertawakannya.
"Lo lucu banget sih kalau lagi malu-malu gitu."
Bella menggerutu karena ditertawakan. Tapi ia tak bisa lama-lama merajuk karena handphone nya berbunyi. Ada sebuah panggilan video, dari Ari.
"Ram, bentar ya aku terima video call dulu," ucap Bella seraya pergi menjauh dari Rama. Rama pun memutuskan untuk kembali ke kursi mereka sambil menunggu Bella dan hidangan datang.
"Hai Ri. Kenapa? Kamu masih belum berangkat?" Tanya Bella setelah ia mengangkat video call itu.
"Belum. Sebentar lagi."
"Ooh gitu. Barang-barang kamu udah lengkap semua?"
"Udah. Kamu lagi dimana?" Tanya Ari tanpa mau berbasa-basi lebih lama lagi.
"Aku lagi di restoran, mau makan siang," jawab Bella.
"Sama siapa?"
"Sama... Rama."
"Berdua aja?"
"I...ya," Bella menjawab dengan ragu-ragu karena ia punya firasat bahwa Ari akan marah sebentar lagi.
"Bel, aku pikir kamu kemarin minta maaf karena kamu udah paham tentang apa yang buat aku marah."
"Ri, kan kamu tahu kalau aku cuma temenan sama Rama. Emang nggak boleh ya makan siang sama teman?"
"Dia cowok Bel!"
"Tapi kamu kan juga punya teman cewek Ri. Dan aku nggak pernah mempermasalahkan kalau kamu main bareng dia. Karena aku percaya sama kamu."
"Maksud kamu Cinta?"
"Salah satunya."
"Ya udah, mulai sekarang aku jauhin Cinta, dan kamu jauhin Rama."
Bella menatap Ari tak percaya, "lho, kok gitu sih Ri? Cinta kan teman kamu dari SMP. Kenapa harus kamu jauhin? Dia nggak tahu apa-apa kenapa ikut keseret dalam masalah kita?"
"Tadi kamu duluan yang ungkit-ungkit Cinta kan?"
"Bukan gitu maksud aku Ri. Aku tu percaya sama kamu makanya aku nggak mempermasalahkan kamu bergaul dengan siapa aja. Tapi kenapa giliran aku, kamu malah nggak percaya?"
"Aku bukannya nggak percaya sama kamu Bel. Aku nggak percaya sama Rama!"
"Emangnya Rama kenapa? Dia nggak macam-macam kok sama aku."
"Kamu nggak tahu laki-laki Bel!"
"Bella?" Terdengar suara Rama memanggil Bella dari belakang, membuat Bella secara tak sengaja memutuskan video call nya dengan Ari karena kaget.
"Makanannya udah datang. Lo udah selesai? Soalnya kita bentar lagi kan mau kerja," kata Rama lagi.
"Udah kok. Yuk," Bella menyembunyikan ekspresi kesalnya karena perkataan Ari tadi. Ia dan Rama pun kembali ke kursi tempat pesanan mereka dihidangkan.
Percakapannya dengan Ari tadi membuat Bella menjadi diam saja selama makan siang. Bahkan Bella yang tadi terlihat ceria kini kembali berubah murung lagi. Hal itu membuat Rama khawatir. Ia mencoba memberikan lelucon, namun Bella hanya tersenyum samar.
"Sebenarnya tadi siapa ya yang video call Bella?" Tanya Rama dalam hati.
***
Hari pertama semester baru kuliah sudah dimulai. Namun nampaknya Ari tidak hadir ini, membuat perasaan Bella lega. Ia memang belum mau bertemu dengan Ari, meskipun mereka sudah tidak bertemu selama sebulan. Bahkan Bella tidak lagi menghubungi Ari setelah ia tak sengaja memutuskan hubungan video call mereka kemarin.
Berbeda dengan Bella yang terlihat lega, Cinta yang duduk di sampingnya terlihat gelisah. Ia terus-terusan melihat ke pintu kelas, menantikan kehadiran Ari.
"Bel, Ari nggak datang ya?" Tanya Cinta dengan suara berbisik saat kelas sudah dimulai 30 menit.
"Nggak tahu," jawab Bella yang juga berbisik.
"Kok nggak tahu?" Tanya Cinta bingung.
"Nanti aku ceritain abis kelas ya."
Cinta mengangguk. Ia kemudian memutuskan untuk tak lagi melihat ke arah pintu dan beralih memperhatikan dosen yang ada di depan kelas.
"Apa Ari nggak datang gara-gara berantem sama Bella ya?" Tanya Cinta dalam hati. Jika hal itu benar, berarti rencana Cinta untuk membuat Bella dan Ari kembali berkelahi berhasil. Diam-diam ia pun tersenyum senang.
Ternyata benar dugaan Cinta. Setelah kelas pertama, Bella menceritakan semuanya. Wajah Bella terlihat frustasi, membuat Cinta mati-matian menyembunyikan ekspresi senangnya dan berpura-pura bersimpati.
"Emangnya salah ya aku berteman sama Rama? Cuma karena dia cowok? Padahal Ari sendiri juga punya teman cewek. Kenapa dia ngatur aku untuk bergaul dengan siapa? Sementara aku nggak pernah ngatur dia."
"Memang deh si Ari seenaknya dia aja. Kan nggak mungkin kamu cuma temenan sama orang yang itu-itu aja. Harus bergaul sama orang baru dong biar berkembang. Nggak open minded banget sih dia. Hari gini masih cemburu sama temennya pacar," Cinta bersikap sangat mendukung Bella. Tentu saja ia harus mendukung Bella agar rencananya membuat hubungan Bella dan Ari berakhir menjadi berhasil.
"Terus dia bilang kalau dia bukannya nggak percaya sama aku. Tapi dia nggak percaya sama Rama. Dan katanya aku nggak tahu laki-laki. Memangnya laki-laki gimana kalau berteman sama perempuan? Rama biasa aja kok, kayak teman yang semestinya. Kalau Ari gimana sama teman-teman ceweknya? Apa dia macam-macam? Sampai dia ngira Rama juga macam-macam?" Kata Bella sedikit emosi.
Mulut Cinta sudah gatal ingin mengiyakan asumsi Bella. Namun ia mencoba mengontrol dirinya. Ia tak mau nantinya akan dikira menghasut Bella. Sebisa mungkin ia mengeluarkan perkataan bijak yang aman bagi dirinya.
"Kalau itu aku nggak tahu sih. Tapi kalau sama aku, kan kamu tahu, Ari nggak macam-macam."
"Iya Cin, aku tahu. Hubungan aku dengan Rama itu sama dengan hubungan kamu dengan Ari. Murni pertemanan. Tapi kenapa Ari nggak mau ngerti sih?"
"Ya udah, gini aja Bel. Kamu tunggu aja Ari merenungi kesalahannya dan minta maaf sama kamu. Jangan kayak kemaren. Malah kamu yang minta maaf. Kamu nggak salah. Yang salah itu Ari."
Bella mendesah, "tapi Cin, Ari itu keras kepala. Kemaren waktu libur aku udah tunggu seminggu, tapi dia nggak minta maaf. Makanya aku inisiatif untuk bicara duluan."
"Sabar aja dulu Bel. Jangan ngalah terus. Nanti yang ada si Ari malah kebiasaan. Dia bikin salah, tapi kamu yang harus minta maaf. Kan aneh," Cinta tidak menyerah untuk meyakinkan Bella.
"Aku nggak tahu Cin. Lihat aja nanti gimana."
Cinta melingkarkan lengan kanannya di balik punggung Bella dan mengelus-elus lengan Bella dengan tangannya. Ia tersenyum seolah ingin memberikan Bella semangat.
"Yang sabar ya."
Bella mengangguk, "iya, makasih Cin udah mau dengerin cerita aku."
Cinta makin melebarkan senyumnya, memberi tanda bahwa ia sangat senang bisa ada untuk Bella dan mendengarkan cerita Bella. Tentu saja ia senang, karena rencananya sejauh ini berjalan lancar. Ia berharap semoga hubungan Bella dan Ari akan semakin memiliki banyak konflik lagi dan segera berakhir agar Cinta bisa merebut Ari dari Bella.
***
Siang berganti malam. Namun pikiran Bella masih juga dipenuhi kesalahpahaman Ari dengannya kemarin. Bella bahkan sampai melewatkan makan malamnya karena terus-terusan kepikiran tentang hal itu.
Sudah waktunya untuk pulang. Bella mengikuti Rama ke tempat parkir, dan sudah bersiap menghidupkan mesin motornya. Namun tiba-tiba celetukan Rama membuyarkan lamunannya.
"Laper nih."
Bella menatap Rama. Cowok itu tidak biasanya berkata seperti itu saat pulang kerja. Tapi ia tidak memperhatikan apakah Rama tadi sudah makan malam atau belum.
"Makan bakso yuk?" Kata Rama kemudian. Ia menatap Bella dengan penuh pengharapan.
"Deket arah jalan kita mau pulang ada tuh yang jual bakso," Rama masih tidak menyerah untuk mengajak Bella.
"Boleh," akhirnya Bella menyetujui ajakan Rama.
"Yes!" Rama mengepalkan tangannya karena senang. Bella tertawa bingung melihat reaksi Rama itu.
"Emang kamu belum makan ya?" Tanya Bella.
"Udah, tapi sekarang lagi ngidam bakso."
Bella kembali tertawa mendengar perkataan Rama. Biasanya yang hobi bilang sedang ngidam makanan itu perempuan, tapi sekarang Bella mendengar omongan itu dari seorang cowok.
"Oke, yuk berangkat!"
Bella dan Rama memacu sepeda motor mereka menuju warung bakso yang Rama maksud. Warung tersebut cukup ramai, namun untungnya masih ada tempat tersisa untuk mereka.
"Ini pesanannya Mas, Mbak," kata pelayan yang mengantarkan bakso.
"Makasih Mas," ucap Bella dan Rama. Kemudian mereka berdua mulai menyantap bakso mereka.
Rama yang baru menghabiskan setengah mangkok baksonya menghentikan suapannya. Ia menopangkan dagunya sambil tersenyum dan melihat ke arah Bella yang makan dengan cukup lahap. Sepertinya Bella benar-benar kelaparan.
Bella perlahan mengarahkan pandangannya ke Rama. Ia jadi merasa malu karena diperhatikan seperti itu.
"Kok berhenti makan sih? Udah kenyang?" Tanya Bella yang kini juga berhenti makan.
Rama meringis, "enggak kok," ucapnya yang kemudian kembali melanjutkan makannya.
"Maaf ya gue sebenernya bohong," kata Rama kemudian.
Bella bingung dengan ucapan Rama, "maksudnya?"
"Gue sebenernya nggak lagi ngidam bakso sih. Tapi gue lihat tadi Lo belum makan malam. Makanya gue ajak makan sekarang. Untunglah Lo mau makan sekarang."
Seketika wajah Bella memerah. Rama benar-benar memberikan kejutan yang tak diduga-duga. Perhatian kecilnya itu membuat Bella merasa menjadi orang yang begitu spesial.
"Ya ampun Ram. Kamu nggak perlu sampai maksain untuk makan lagi cuma gara-gara aku," kata Bella tak enakan.
"Hahaha... Santai. Gue mah udah biasa makan malamnya lebih dari sekali. Tengah malam juga gue sering makan," jelas Rama.
"Ya ampun," Bella geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Rama. Memang cowok tidak seribet itu dalam urusan makan. Beda dengan perempuan yang sangat menjaga pola makannya.
"Udah, lanjut makan sana," Rama meminta Bella untuk melanjutkan makannya.
"Iya..." Bella menuruti Rama. Ia kembali melahap baksonya. Namun saat baksonya hampir habis, ia teringat sesuatu.
"Ya ampun, belum kabarin mama!" Bella menepuk jidatnya lalu segera meraih HP-nya dan menelpon mamanya.
"Duh, sorry Bel. Gue lupa ngingetin Lo untuk ngabarin nyokap," kata Rama merasa bersalah setelah Bella selesai menelpon mamanya.
"Nggak papa Ram. Mama nggak marah kok," ucap Bella santai. Ia tersenyum lalu kembali menyuap baksonya.
"Tapi kayaknya enak juga ya kalau orang tuanya di luar kota kayak kamu. Jadi kalau pulangnya telat, nggak perlu takut lupa ngabarin orang tua," kata Bella lagi.
Seketika wajah Rama berubah murung. Bella jadi merasa bersalah sudah berbicara seperti tadi.
"Sorry Ram. Bicaraku kelewatan. Padahal kamu pasti kangen banget kan sama orang tua kamu," ucap Bella sedih. Padahal Rama sudah sebaik itu mau merubah suasana hati Bella yang tadinya galau menjadi senang, tapi Bella malah merusak suasana.
Rama sudah menghabiskan semua bakso yang ada di mangkoknya. Setelah meminum air, Rama mulai berbicara.
"Sebenarnya gue juga bohong soal orang tua gue Bel. Mereka nggak di luar kota."
Bella menatap Rama bingung. Ia masih belum mengerti dengan apa yang barusan Rama katakan.
"Jadi mereka tinggal di kota ini? Terus kenapa kamu nggak tinggal bareng mereka?" Tanya Bella.
"Gue... diusir waktu gue lulus SMP," jawab Rama sambil tersenyum miris.
"Hah? Kenapa?" Bella kaget mendengar pengakuan dari Rama tersebut.
"Orang tua gue sering berantem di rumah. Nyokap gue hampir tiap hari dipukulin sama bokap gue, dan nyokap gue malah lampiasin amarahnya ke gue. Gue nggak ngerti kenapa cuma gue yang dipukulin, sementara Abang dan Kakak gue nggak pernah dipukulin. Gue pikir karena gue kurang pintar, gue nggak punya bakat. Jadi gue berusaha keras untuk belajar giat, biar orang tua gue sayang sama gue. Gue selalu berusaha jadi anak yang baik, anak yang penurut. Tapi tetap aja, sikap mereka nggak berubah. Bahkan, Abang gue bilang kalau penyebab perkelahian orang tua kami itu gara-gara gue. Dia bilang gue anak pembawa sial."
Bella menatap Rama iba. Ia tak menyangka orang seceria Rama ternyata memiliki rumah yang tidak harmonis.
"Setelah gue tamat SMP, gue baru tahu. Ternyata dulu nyokap gue pernah selingkuh dengan mantan pacarnya. Makanya bokap gue sering curiga ke nyokap dan ujung-ujungnya selalu marahin nyokap sampai mukulin. Terus pas bokap tahu kalau nyokap punya anak dengan selingkuhannya itu, dia tambah membabi buta mukulin nyokap. Bokap juga mukulin gue, terus dia ngusir gue, karena katanya gue ini anak dari selingkuhan nyokap. Bukan anak kandungnya."
Bella menutup mulutnya karena kaget mendengar cerita Rama. Tapi ia juga merasa bersalah karena tidak tahu harus melakukan apa selain memandang Rama dengan tatapan prihatin.
"Setelah itu gue baru paham kenapa Abang gue bilang kalau gue penyebab orang tua kami sering berantem, kenapa nyokap gue cuma mukulin gue, itu semua karena gue memang anak pembawa s**l di keluarga gue. Gue cuma anak haram yang nggak diinginkan keberadaannya, dan cuma bikin suasana rumah jadi kacau."
"Ram, jangan ngomong gitu!" Bella tidak sanggup mendengar Rama menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa keluarganya. Padahal Rama hanyalah korban, ia tidak tahu apa-apa tapi malah ia yang disalahkan, "keluarga kamu nggak seharusnya memperlakukan kamu kayak gitu. Itu semua bukan salah kamu. Kenapa mereka setega itu?" Bella hampir menangis karena tidak tega dengan Rama.
Rama menyentuh lengan Bella, "udah, nggak usah mellow gitu. Sorry gue malah jadi curcol," kata Rama sambil tertawa miris.
"Ram, kamu yang sabar ya," kata Bella yang masih tidak bisa menghilangkan rasa prihatinnya.
"Iya Bel. Nyokap gue pernah ngontak gue kok, setidaknya dia masih ingat sama anaknya. Itu aja udah bikin gue senang."
Bella tersenyum lega mendengar hal itu. Tanpa sadar ia menyentuh tangan Rama dan menatap mata Rama, untuk memberikan dukungan moril. Tatapan kaget Rama karena sentuhan dari Bella itu menyadarkan Bella. Buru-buru ia menarik tangannya dan berusaha mati-matian untuk bersikap biasa saja.
"Sebenarnya gue penasaran..."
"Penasaran apa?" Bella memotong perkataan Rama. Ia takut Rama berpikiran yang aneh-aneh tentang dirinya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri tadi.
"Sejak makan siang kemarin, Lo kelihatan murung. Memang lagi ada masalah apa sih?"
"Ooh..." Bella bernapas lega karena Rama tidak menanyakan hal yang aneh-aneh. Tapi tetap saja, ia merasa agak sungkan untuk membahas hal tersebut. Karena masalahnya bukan apa-apa dibandingkan dengan Rama.
"Nggak papa Ram, aku cuma berantem aja sama Ari. Nggak penting banget kan masalah aku," kata Bella sambil pura-pura tertawa.
"Gue harap masalah kalian cepat selesai ya. Soalnya gue jadi ikutan sedih kalau ngelihat Lo sedih."
"Apaan sih Ram?" Bella mengalihkan wajahnya yang memerah. Ia jadi benar-benar tertawa karena mendengar omongan Rama itu. Rama juga ikut tertawa, sehingga Bella kembali menatap Rama, karena ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat Rama yang ceria. Rasanya hati Bella tenang saat mendengar tawa dari cowok di sampingnya itu. Rama benar-benar teman yang baik dan bisa diandalkan, yang senantiasa membuat suasana hati Bella menjadi damai bila ada di dekatnya. Perlahan Bella mencoba untuk menghilangkan kemarahannya dengan Ari dan bertekad untuk menghubunginya nanti.
***
Suara musik yang gaduh di sebuah kelab malam membuat pengunjung terhanyut dalam tarian. Bau alkohol dan asap rokok menjadi satu di ruangan itu. Semua tampak tak memiliki beban, mereka tertawa dan menikmati malam itu. Tampak seorang lelaki yang mengenakan kemeja flanel duduk bersama dua orang perempuan seksi. Ia merangkul pundak mereka, dan salah satu dari perempuan itu menyuguhkan minuman kepada lelaki itu. Setelah meminum minuman itu, lelaki itu tertawa bersama dua perempuan itu, sehingga wajahnya yang manis jadi semakin memikat.
Di lantai dansa, tampak Cinta yang tak sengaja melihat ke arah lelaki itu. Ia kaget melihat kondisi lelaki itu, yang ternyata ia kenal. Segera ditariknya dirinya dari kerumunan orang yang sedang menari dengan semangat, dan berjalan mendekati lelaki itu. Dikeluarkannya HP-nya dan ia mengambil foto lelaki itu bersama dua perempuan itu. Lelaki itu sadar akan kedatangan Cinta dan tahu kalau Cinta mengambil fotonya. Ia pun langsung memarahi Cinta.
"Apaan sih Cinta? Hapus nggak?!" bentak lelaki itu. Ia berusaha untuk berdiri dari duduknya, tapi kepalanya terlalu pusing.
"Ari... Ari... Nggak nyangka ya kamu masih suka begini. Mana tadi bolos kuliah. Kirain sama Bella bakal berubah," ucap Cinta sinis. Disimpannya HP-nya ke dalam tas selempang kecilnya.
"Kesiniin HP-nya!" perintah Ari lagi. Kini ia benar-benar berdiri dari duduknya. Tapi baru sedetik ia tegakkan tubuhnya, ia malah jatuh tersungkur.
"Ari!" dua perempuan yang tadi menemani Ari berusaha membantu Ari kembali ke tempatnya. Tapi Cinta melarang mereka berdua.
"Pergi kalian! Biar gue yang urus!" kata Cinta ketus. Dua perempuan itu nampak tidak ingin mendapat amukan dari Cinta dan segera menuruti perintah Cinta. Mereka segera pergi meninggalkan Ari bersama Cinta.
Cinta berjongkok mendekati Ari. Di genggamnya kedua lengan Ari, mencoba membantu lelaki itu berdiri.
"Ayo cepat berdiri. Kita pulang," kata Cinta kepada Ari.
Ari pun berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dengan bantuan Cinta. Cinta lalu memapah Ari keluar dengan susah payah.
"Fotonya hapus," pinta Ari di pertengahan jalan.
"Nggak akan aku kasih liat ke Bella kok," Cinta memastikan agar Ari bisa tenang. Ari hanya pasrah dan berusaha mempercayai Cinta.
"Kamu kesini diantar Pak Wahyu?" tanya Cinta kemudian. Ia menghentikan langkahnya dan membawa Ari duduk di sebuah bangku panjang, untuk menentukan cara membawa Ari pulang. Setelah itu ia melepaskan rangkulan Ari.
"Nggak. Naik taxi," jawab Ari. Ia menyenderkan kepalanya ke dinding, masih merasa pusing.
"Ini pasti papa mama kamu lagi nggak di rumah. Mentang-mentang mereka nggak di rumah, kamu malah kelayaban ya. Pergi naik taxi lagi biar pak Wahyu nggak ngadu," omel Cinta.
"Apaan sih? Emang aku anak kecil? Mau ada papa mama aku pun di rumah ya terserah aku mau kemana aja."
"Nggak mungkin mereka biarin kamu mabuk-mabukan kayak gini. Mereka kan jadi super protective abis kamu kecelakaan," ejek Cinta. Ari Andriza Wijaya, seorang calon penerus perusahaan properti yang cukup sukses, yang senantiasa diarahkan kedua orangtuanya untuk dapat mengurus perusahaan orangtuanya di masa depan, karena ia adalah anak satu-satunya dari Bapak dan Ibu Wijaya. Apapun akan dilakukan orangtuanya agar Ari selalu dalam keadaan yang aman dan berkecukupan. Hanya saja Ari tak suka diatur-atur oleh orangtuanya dan gemar membuat masalah, salah satunya ngebut-ngebutan dengan mobil mewahnya saat ia tengah mabuk sehingga ia mengalami kecelakaan yang sangat parah setahun yang lalu. Kecelakaan yang membuat mobil mewahnya ringsek dan rusak parah serta hampir merenggut nyawanya hingga ia mengalami trauma yang cukup besar untuk kembali mengendarai mobil.
Ari hanya mengabaikan Cinta. Ditutupnya matanya seolah ingin tertidur.
Cinta membiarkan Ari melakukan hal sesukanya. Ia mulai merogoh tas kecilnya untuk mengambil HP-nya, lantas memesan taxi untuk membawa Ari pulang.
Cinta meminta tolong supir taxi yang baru datang untuk membantu membawa Ari ke dalam taxi. Setelah itu ia ikut masuk ke taxi dan duduk di samping Ari. Ari langsung tertidur saat taxi baru mulai berjalan. Tidurnya sangat pulas hingga Cinta puas memandanginya dari samping. Mereka dulu selalu berdua, melakukan hal-hal konyol berdua, membuat masalah berdua, menangis berdua, tapi bagi Ari itu hanya persahabatan, sementara Cinta jatuh lebih dalam dari itu. Ia yang merasa bergantung dengan Ari, ia yang merasa Ari adalah rumahnya, ingin selalu Ari ada di sisinya.
HP Ari berbunyi dan Ari tetap tidak terbangun. Cinta pun mengambil HP itu dari saku jaket Ari. Ia melihat nama di layar HP itu. Ternyata Bella yang menelpon.
"Baru sehari udah nelpon? Yang benar aja sih Bel," batin Cinta. Tanpa pikir panjang Cinta langsung menolak panggilan itu.
Bella, orang yang sudah merebut perhatian Ari. Sehingga Ari tak lagi sepeduli itu dengan Cinta. Tak lagi berbagi suka dan duka dengan Cinta. Tak lagi bisa menjadi tempat Cinta bersandar di kala ia bersedih. Cinta tak bisa menjadi baik-baik saja dengan hubungan antara Ari dan Bella. Ia tak bisa melepaskan Ari untuk Bella.
***
Ubin putih yang terhampar di koridor kelas fakultas ekonomi ditapaki Bella yang mengenakan setelan cardigan rajut dan celana jeans. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah Ari akan datang hari ini? Tadi malam setelah sampai di rumah, Bella melaksanakan niatnya untuk menghubungi Ari. Selain karena Rama sudah berhasil memperbaiki mood-nya kemarin, ia juga tak ingin Ari terus-terusan bolos kuliah hanya karena sedang berkelahi dengan Bella. Namun Bella merasa menyesal melakukan hal itu karena Ari menolak panggilan darinya. Rasanya percuma untuk khawatir.
Tak terasa langkah Bella telah membawanya sampai ke pintu kelas. Di belakangnya sudah ada dosennya yang juga akan masuk kelas. Bella memang sengaja datang saat kelas sudah mau dimulai agar bila Ari datang, ia tak perlu bingung harus melakukan apa dan bisa langsung fokus ke dosen.
Di kelas para mahasiswa sudah berada di bangku yang mereka pilih. Nampak Cinta yang duduk di samping kiri Ari melambaikan tangan kepada Cinta, menunjuk kursi di samping kanan Ari agar Bella duduk disana. Tapi Bella menggeleng dan menunjuk kursi yang jauh dari mereka berdua, mengisyaratkan bahwa ia akan duduk disana. Hal itu membuat Ari terlihat tak senang. Tapi Bella tak peduli. Bukankah Ari yang memulai pertengkaran ini? Pikir Bella.
Ari tak bisa diam saja melihat sikap Bella. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Bella, menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar.
"Ari apaan sih?!" Bella berbisik dengan nada kesal. Tapi Ari tidak memperdulikan komplainan.
"Berdiri!" perintah Ari yang juga berbisik.
Bella terpaksa mengikuti perintah Ari. Ia mengangkat tangannya dan permisi keluar dengan dosen yang sudah siap untuk memulai kelas. Sang dosen nampak tak begitu peduli dan hanya mengangguk.
"Kelas udah dimulai. Kalau mau bicara kan bisa nanti?" gerutu Bella saat ia dan Ari sudah berada di luar kelas.
"Aku nggak bisa nunggu lagi. Dari kemarin kamu kemana aja? Matiin video call gitu aja dan nggak ngehubungin aku dua hari," Ari bertanya dengan penuh emosi.
Bella memandang Ari tak percaya, "nggak ngehubungin kamu? Harusnya aku yang nanya ke kamu. Kenapa kamu reject telepon dari aku tadi malam? Memangnya kamu ngapain kemarin?"
Ari bingung dengan pernyataan Bella. Seingatnya ia tidak mendapat telepon dari Bella kemarin, apalagi sampai menolak panggilan itu.
"Kenapa kamu diam? Kamu mau ngeles kalau bukan kamu yang reject telepon aku? Terus siapa? Siapa yang pegang HP kamu tadi malam?"
Ari kembali diam karena ia benar-benar tidak tahu ada yang memegang HP nya tadi malam. Saat ia hendak mengeluarkan HP nya untuk memeriksa daftar panggilan tadi malam, Bella malah meninggalkannya.
"Udahlah, aku nggak mau ribut sekarang. Kuliah lebih penting. Aku balik," ucap Bella sebelum pergi.
Ari tidak menahan Bella dan memilih untuk mengecek HP nya. Dan benar saja, ada panggilan dari Bella tadi malam. Ari langsung teringat satu nama, orang yang tadi malam bersamanya, dan bisa lancang melakukan hal itu, pasti itu Cinta.
Ari mengerang kesal. Dikirimnya pesan kepada Cinta, menyuruh gadis itu untuk keluar dari kelas. Tapi sudah sepuluh menit Ari menunggu, Cinta tak kunjung datang. Ia pun memutuskan kembali ke kelas dengan perasaan kesal.
Jam terasa begitu lama bergerak bagi Ari. Rasanya sia-sia saja dia datang ke kampus. Karena tak sedikitpun pelajaran yang masuk ke otaknya saat ini. Cinta yang berada di sampingnya pura-pura tidak tahu apa-apa dan sok fokus belajar. Dan saat kelas telah usai, ia baru mengecek handphonenya.
"Sorry aku tadi nggak tahu kamu ngechat. Kenapa nyuruh aku keluar Ri?" tanya Cinta. Ia memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas selempangnya.
"Kamu tadi malam pegang HP aku?" pertanyaan yang dari tadi membuatnya penasaran akhirnya dilontarkan juga ke Cinta.
"Oh, cuma mau nanya itu? Iya, pas di taxi HP kamu bunyi. Taunya itu telepon dari Bella. Kalau aku angkat nanti Bella mikir macam-macam lho karena aku lagi sama kamu malam-malam gitu. Kalau aku biarin teleponnya nanti malah bikin ribut, soalnya kamu lagi tidur. Ya udah aku reject aja," jelas Cinta tanpa merasa bersalah.
"Harusnya kamu bangunin aku dong," Ari tidak bisa menerima alasan dari Cinta. Cinta hanya mengangkat bahu.
"Nggak kepikiran," ucapnya asal. Lantas ia langsung beranjak dari kursinya agar Ari tidak memperpanjang masalah itu dan menghampiri Bella.
"Bel kok kamu nggak mau duduk dekat aku sama Ari?" tanya Cinta sedikit manja. Ditatapnya Bella dengan mata bagai anak anjing.
"Sorry Cin. Kan kamu tahu aku lagi berantem sama Ari," jelas Bella. Sebenarnya ia merasa bersalah karena ia harus ikut menjauh dari Cinta karena Cinta berada di dekat Ari.
"Jadi Ari masih belum minta maaf sama kamu? Memang deh ya si Ari. Ya udah Bel, kelas selanjutnya kita berdua aja ya, nggak usah ajak-ajak Ari."
Bella mengangguk. Saat ia sudah selesai mengemasi barang-barangnya, Cinta langsung mengajaknya pergi dari kelas. Sesaat sebelum mereka melewati pintu kelas, Cinta menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Ari. Ia tersenyum mencemooh, karena telah berhasil membuat Bella dan Ari berjauhan, walau ia tak terlibat terlalu jauh. Ari membalas dengan tatapan sinis, namun hal itu tak membuat Cinta ciut. Ia dan Bella telah menghilang dibalik pintu meninggalkan Ari yang hatinya sangat kesal.
***