21

1723 Kata

Livana, perempuan itu menatap takzim belasan angsa putih yang berenang di danau. Hangat matahari menampakkan kerlip butiran air yang membasahi rerumputan. Tak jauh dari danau, beberapa ekor menjangan merumput dan tampak aneka kupu-kupu yang kini menari di atas bunga-bunga musim panas. Angin pun berembus pelan, membawa pergi beberapa kelopak bunga yang telah tanggal dari singgasananya. “Apa kau mulai menikmati hadiah kecil dari Serenity ini?”  Tak jauh dari Livana, Aria duduk di pinggir danau. Ia memandang pantulan wajahnya di permukaan danau. Udara terasa hangat dan tiap kali Aria menghidu, ia bisa mencium aroma basah pucuk-pucuk pohon pinus dan aroma tanah yang lembab.  “Aku tidak mengerti,” jawab Aria tanpa mengalihkan pandang dari permukaan danau. “Sungguh, aku tak mengerti. Jika ini

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN