Degub jantung bertalu, membuat d**a terasa sesak. Setiap helaan napas yang menyentuh kulit pun terasa bagai buluh perindu; pedih dan memberi sensasi remang ke seluruh tubuh. Aria tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Logika berkata pada Aria agar menolak pemuda yang kini tengah memberikan kecupan di sepanjang kulit leher milik Aria. Aria bisa merasakan degub jantung yang mulai menggila; memohon agar segala siksaan ini terhenti. “Jangan,” pinta Aria. Kedua tangannya mencoba mendorong Ringga. “Ringga, hentikan.” Alih-alih mendengarkan permintaan Aria, pangeran itu memilih untuk menggigit leher Aria. “Sakit,” pekik Aria. “Aku tidak akan menyerahkanmu pada Sin,” tutur Ringga. Kedua manik hijau yang biasa memandang Aria dengan keteduhan itu pun mengeruh; tampak segala emosi yang berp

