8

1200 Kata
Hal pertama yang Aria lihat ialah lukisan manusia bersayap yang tengah memegang mahkota mawar. Kemudian rasa pening mulai mendera; seolah ada ribuan jarum yang menusuk kepala Aria, benar-benar sakit. Aria membutuhkan beberapa detik untuk mengumpulkan tenaga. Tenggorokkan Aria terasa kering dan suara yang keluar pun benar-benar lirih. “Di mana aku?” tanyanya. “Kau ada di istana,” jawab Claudia.  Aneh, pikir Aria. Sesaat yang lalu dia berada di tempat lain, lalu detik berikutnya dia melompat ke ruang baru. Istana. Tempat yang hanya pernah muncul sebagai sebuah bayangan di kepala Aria.  Aria meraba tekstur lembut yang menyentuh ujung jemarinya. Terbaring di atas ranjang, Aria mencoba memilah-milah kenangan yang membenam dalam kepala; kilasan yang datang sebagai sebuah memori yang menunggu untuk diterjemahkan dalam bentuk realitas.  Tidak.  Aria terlalu lemah.  Claudia menangkap rasa resah yang diperlihatkan Aria. Dia mulai mengambil kain dan membenamkannya ke dalam baskom yang terletak di atas nakas. Setelah memeras kain tersebut, dia membersihkan keringat yang bermunculan di kening Aria.  “Ringga tidak bisa menemuimu.” Diam. Aria tidak ingin berkata apa pun. Setidaknya untuk saat ini. Aria memejamkan mata. Berat. Ringga. Tentu saja, pemuda itulah kunci jawaban dari segala tanya yang muncul di kepala Aria. Ketika Aria sudah memiliki cukup tenaga untuk bangkit, dia akan mencari Ringga. Harus. Tapi sungguh, rasa sakit dan letih yang menyerang ini benar-benar memuakkan.  Reruntuhan Rea. Tempat terkutuk itu sama sekali tidak menjawab segala misteri; siapa Aran sejatinya? Siapa Ringga sebenarnya? Dan alasan elixer bernama Sin itu begitu getol mengejar Aria? Tidak. Aria harus berhenti berpikir. “Aku akan keluar,” kata Claudia. “Beristirahatlah.” Aria bisa mendengar suara langkah kaki Claudia yang kian meredup serta derak pintu yang menutup. Lelah.  Ada baiknya jika ia terpejam dan menyambut mimpi. Lelap. Seorang diri. *** Malam ini bulan bersinar terang di langit sana. Beberapa kerlip bintang mulai menghiasi kanvas hitam dengan aneka warna terang. Duduk di balkon, Ringga mencoba menikmati kesunyiaan. Memejamkan mata, dia mulai mendengar angin yang berembus lembut. Tercium wangi mawar yang tumbuh di sekitar taman. Ringga kembali membuka mata dan menatap kumpulan mawar yang merambat di sekitar dinding.  Inilah saat yang ditunggu Ringga, saat di mana dia bisa menjauh dari keramaian dan menjadi dirinya sendiri. Mendengar kabar bahwa Aria sudah berhasil melewati masa kritis benar-benar membuat Ringga bisa bernapas dengan lega. Asal Aria selamat, itu sudah lebih dari cukup. Ringga tidak membutuhkan apa pun.  Dari awal Ringga memang berniat memulangkan Aria kepada sang nenek. Sesederhana itu. Kalaupun ada keinginan lain yang mulai muncul selama perjalanan, perlahan-lahan Ringga mencoba mematikan segala rasa yang ada; memakai topeng dan menyembunyikan segala emosi yang tersamar di bawah kepalsuan yang Ringga perlihatkan kepada siapa pun yang ada di sekitar pemuda itu.  Selalu seperti itu; tidak pernah menunjukkan apa yang sebenarnya ada di hati dan hanya menampakkan apa yang menurut Ringga pantas diperlihatkan. Menahan sepi yang kadang menyapa dan membiarkan kesendirian sebagai hal yang pantas untuk dijalani. Pelan tetapi pasti.  Ringga mulai menghancurkan dirinya sendiri. Menyedihkan. Memandang dunia sebagai selimut kelam yang dipenuhi dengan tipu muslihat.  Hingga dia bertemu Aria. Gadis itu benar-benar merubah segala konsep yang Ringga ciptakan. Dinding tak kasat mata yang memisahkan Ringga dengan dunia luar dan segala hal yang ingin ia hindari pun mulai hancur. Kadang Ringga merasa seperti bukan dirinya sendiri. Hal itu terbukti ketika dia berada di Reruntuhan Rea. Saat di mana dia berjumpa dengan Sin. Miris. Dahulu mungkin dia akan langsung mencari kesempatan untuk melenyapkan Sin. Tapi nyatanya, keinginan itu seolah menguap, atau mungkin Ringga memang tidak memahami dirinya sendiri. Ke mana pun kaki melangkah, yang dirasakan Ringga hanyalah kehampaan yang tak berdasar. Tidak ada hal baik yang ingin Ringga lihat. Dia hanya menginginkan kesendirian. Dia pun tidak berharap keajaiban bersedia datang. Ringga sadar, dalam hidupnya yang singkat ini, mendapatkan sebuah pengharapan itu seperti nyala lilin; mungil dan mungkin bisa padam. Sendiri. Benarkah itu yang dibutuhkan Ringga? Dia pun tidak memahami hal tersebut; rasa sepi yang menyelinap di relung hati Ringga, menebar pilu dan mematikan pengharapan yang ada. Tiada seorang pun yang sanggup memahami kegelapan yang ada dalam diri mereka. Karena terbiasa dengan cahaya dunia yang memabukkan, perlahan-lahan manusia pun lupa pada bagian tergelap yang menyertai mereka. Tapi tidak dengan Ringga. Pemuda itu tahu dan paham bahwa ada sisi lain yang ingin dihindarinya. Sisi yang membawanya ke realitas dan membanting segala asa yang ada. Menyedihkan. Menggelengkan kepala. Ringga berusaha mengusir segala asumsi.  Fokus. Dia harus menemukan sebuah penjelasan. Ada beberapa hal yang akhir-akhir ini mengusik Ringga; semisal kalung yang dihancurkan Aysun. Walau tak paham, Ringga yakin benda itu tidak didapat Aria dengan percuma, pasti ada alasan di balik kepemilikan tersebut. Tapi yang lebih membuat Ringga penasaran adalah alasan sosok bernama Aysun merasuki Aria. Aria. Pasti ada suatu alasan mengapa Ringga dipertemukan dengan Aria. Apa pun itu. Pasti bukan sebuah kebetulan Ringga berjumpa dengan Aria. Jika memang mereka berdua—Ringga dan Aria—memang ditakdirkan untuk dipertemukan, maka bisa jadi Aria akan menjadi bayangan dalam kehidupan Ringga. Ada begitu banyak tanya.  Ringga membutuhkan jawaban. Tapi siapa yang bisa memberikan penjelasan tanpa menyembunyikan fakta? *** Mir akhirnya bisa menghela napas. Lega. Berdiri di sisi lain taman, elixer itu tengah mengamati Ringga yang duduk di pinggir balkon. Menyebalkan. Pemuda itu bahkan tidak ingat pada satu rekan yang juga membutuhkan pertolongan. Mir hampir bisa dipastikan mendapat sorot curiga dari para manusia yang ada di istana. Elixer itu bahkan sangat yakin bahwa ia tengah ditargetkan menjadi salah satu bahan perburuan yang sangat menarik untuk menghabiskan malam pekam yang biasa dijalani para Penjelajah.  Tidak bisakah para Penjelajah itu menganggap Mir sebagai tamu besar? Tentu saja tidak. Mir adalah elixer. Siapa juga yang akan peduli padanya? Sebuah jawab terdengar, tidak ada. “Apa yang sedang kaulakukan?” tanya sebuah suara. Berbalik. Mir menatap sosok yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya. “Kau?” Claudia. Gadis itu tampak bingung dengan gelagat Mir. Dia bisa melihat alis Mir yang mulai bertaut.  Tidak peduli dengan keterkejutan Mir, Claudia pun berkata, “Aku kebetulan lewat. Lalu aku melihatmu tengah...,” Claudia memandang ke arah balkon. “Memandang.” Seumur hidup, Mir tidak pernah mengalami suasana canggung yang membuatnya ingin melarikan diri. Namun kini, elixer itu tiba-tiba merasa sungkan dan malu bukan kepalang. Dan itu semua hanya karena kehadiran sesosok manusia. Astaga. Semoga saja ini hanya bersifat sementara.  “Siapa namamu?” tanya Mir.  Tidak baik. Mir mengucapkan hal yang ingin hatinya ketahui. Mengerutkan kening, Claudia pun menjawab, “Claudia.” “Aku Mir.” Elixer itu langsung menyodorkan tangan kanannya.  “Aku tidak pernah berjumpa elixer seramah dirimu,” ungkap Claudia. Gadis itu menyambut tangan Mir dan menggenggam pelan. Seulas senyum menghias wajahnya. Dalam satu detik, Mir merasa ada sesuatu yang menyengat d**a. Andai saja Amara ada di sini, mungkin gadis itu akan menertawai sikap Mir. Pasti akan seperti itu.  “Wah,” ungkap Mir, “kau belum bertemu adikku. Dia lebih ramah dariku.” “Benarkah?” Claudia melepaskan genggaman tangannya. Mir merasa sedikit kecewa. Yah, keluhnya dalam hati, cepat sekali. “Aku harus pergi,” kata Claudia. “Semoga malammu menyenangkan.” Walau Mir ingin menghentikan Claudia dan mengunci waktu agar membiarkan Mir bersama Claudia walau untuk sesaat, pada akhirnya pemuda itu membiarkan sang gadis pergi. Menatap rembulan, Mir pun bergumam, “Astaga, aku butuh tabib.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN