Ini benar-benar keterlaluan. Amara kecewa pada apa yang dipilih Ringga. Cinta atau bukan, tidakkah Ringga bisa melihat sejelas Amara mengenai gadis itu? Atau mungkin dia ingin mengulang tragedi sang kaisar besar yang menyeret beberapa pemain besar? Mungkin Ringga berniat memasukkan Amara dan kakaknya ke dalam kisah cinta berdarah?
Entahlah, Amara pun tidak mengerti.
Gadis itu berkuda menuju kediamannya yang terletak di sisi barat hutan akasia. Tempat yang jarang dipilih elixer untuk membangun rumah karena lokasinya yang terpisah dari istana besar. Amara lebih senang hidup terpisah dari elixer utama, gadis itu tidak terlalu menyukai keramaian di istana. Tempat itu, istana besar, hanya diisi elixer yang senang berdebat mengenai cara menguasai kerajaan lain, lalu mereka akan mulai saling mendebat pendapat masing-masing akan suatu hal. Benar-benar membosankan. Tidakkah mereka pernah merasa jenuh akan suatu hal?
Atau mungkin realitas telah berubah menjadi sebuah keharusan mengenai cara seseorang hidup?
Astaga. Amara harus segera menjernihkan pikiran yang mulai memburam.
Belum sampai beberapa meter dari kediamannya, Amara melihat kelebatan panji istana besar. Kain biru dengan lambang pedang dan mawar hitam tampak tak bergeming karena tiada angin yang mengembusnya.
Cemas. Amara pun memutuskan untuk menepi ke sebuah pohon terbesar yang bisa menyembunyikan keberadaannya serta kuda yang ia tunggangi. Mengintip, Amara pun bisa memastikan sejumlah besar pengawal istana tengah mengelilingi kediamannya. Beberapa pria mengubrak-abrik bagian luar kediaman; mengacak pot dan melemparkan beberapa barang milik Amara dan Mir ke luar tanpa peduli apakah sang pemilik membutuhkan barang tersebut. Andai Amara tidak paham situasi, mungkin dia sudah menghambur keluar dan mengacak seluruh pengawal yang ada di sana.
Lalu kemudian dia dipenjara.
Tidak. Amara masih waras dan bisa mengendalikan diri. Dia harus berpikir cerdik.
Aneh. Gerangan apa yang menyebabkan para pengawal kerajaan mendatangi kediaman Amara dan tanpa sopan santun mengacak-acak barang yang ada di sana?
Tentu saja Amara pun bisa menyimpulkan suatu hal: ada yang tidak beres.
Beruntung. Amara sempat melepaskan mahluk-mahluk peliharaannya. Jika tidak, mungkin mahluk-mahluk itu akan berakhir dengan keadaan tergeletak di atas tanah. Mati.
Menghela napas, Amara memutuskan untuk pergi.
Dia memang tidak beruntung.
***
“Kenapa aku yang harus mengetuk?”
Lagi-lagi Clay berada pada posisi yang tidak menyenangkan. Setelah bangsawan itu mengorbankan harta dan pengikutnya, kini elixer itu pun harus bersiap untuk merelakan nyawanya. Berdiri di depan kediaman Seva, Sin dan Tusk mendesak Clay untuk melakukan sebuah pengorbanan. Bukan rahasia meski Seva kelihatan tenang dan aman, elixer itu pun tak akan segan mematahkan leher siapa pun yang tidak disenanginya. Tidak masalah bagi Sin karena dia kuat. Pangeran itu bisa melindungi dirinya sendiri jika ada bahaya yang datang. Lalu Tusk? Oh yang benar saja, pemuda itu sepertinya memiliki bintang pelindung yang selalu menjauhkan Tusk dari marabahaya. Sementara Clay?
Baiklah. Tidak masalah. Bangsawan itu telah menuliskan sebuah wasiat yang berisi perihal peringatan untuk menjauhi dan jangan terlibat apa pun dengan keturunan Sin.
Sempurna. Clay siap menjemput maut.
Mengembuskan napas perlahan. Clay pun mulai mengangkat tangan dan bersiap mengetuk. Dua kali dan itu sudah cukup membuat Clay ingin mengubur diri.
Menunggu. Clay mulai merasa ingin menendang pintu yang ada di depannya.
“Ketuk lagi,” perintah Tusk.
Menyebalkan. Clay akan mencatat ini. Setelah segala hal berakhir, dia akan membalas perbuatan Tusk dan mengirim elixer itu ke lubang neraka. Pasti.
Sekali lagi, Clay mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, mereka pun mendengar suara langkah kaki. Terdengar suara engsel pintu yang bergerak dan ketika pintu itu benar-benar membuka, ketiga elixer itu pun langsung berwajah pias.
Tepat di belakang Seva, berdirilah kedua pangeran, yakni Kylian dan Nihuar.
“Kakak?” kata Sin. Terkejut.
Nihuar hanya mengangguk. “Masuk.”
Mereka pun langsung mengiakan ajakan Nihuar. Clay nampak paling semringah di antara mereka berenam. Mungkin karena bangsawan itu menganggap Nihuar dan Kylian sebagai sosok pelindung yang akan menjauhkan para elixer ini dari pertumpahan darah.
Begitu masuk, Clay langsung mencium aroma teh merah yang menguar di udara. Minuman yang sesuai untuk para elixer yang bertempramen tinggi. Teh merah mungkin sangat cocok dihidangkan ketika ada tamu sejenis Sin. Clay sungguh merindukan rumah, atau lebih tepat dikatakan bahwa bangsawan itu merindukan aset berharganya.
“Silakan,” ucap Seva menunjuk kursi yang melingkari sebuah meja magoni.
Clay langsung memilih duduk di dekat Nihuar. Dia sudah memperhitungkan pertumpahan darah yang mungkin terjadi, maka sebaiknya ia memilih elixer yang paling aman untuk didekati.
“Syukurlah,” kata Nihuar. Pemuda itu menatap langsung Sin yang duduk di seberang meja. “Kau selamat.”
Seva memutar mata. “Walau sepertinya sebagian dari dirinya ada yang terpotong.”
Sin hanya tersenyum sinis. Tidak peduli.
Kylian pun hanya diam mendengar kalimat sarkatis yang sahabatnya lontarkan. Wajah pangeran itu setenang biasanya; anggun, seolah setiap hal yang ada dalam dirinya adalah sebuah rahasia. Tidak ada satu pun elixer yang bisa membaca arti senyum yang ditampilkan Kylian. Pangeran itu seperti permukaan danau; hening namun memiliki kedalaman yang cukup untuk menenggelamkan mahluk apa pun yang abai akan keselamatan.
“Yah, tapi itu tidak penting,” lanjut Seva. “Rasa-rasanya ada hal penting yang ingin disampaikan Sin padamu.”
Beberapa detik digunakan Sin untuk menatap Nihuar. Kedua mata birunya mulai mengeruh, jelas Sin berusaha menahan dorongan untuk menusuk Kylian yang kini duduk di samping Nihuar.
“Nenek,” kata Sin dengan suara bergetar. “Melakukan sesuatu.”
“Ya,” sahut Seva. “Dan untungnya kau tidak perlu melihat apa yang wanita tua itu lakukan. Sungguh beruntung.”
Sin menatap tajam Seva, siap untuk menumpahkan darah elixer berambut merah itu sekarang juga.
Sadar bahwa sahabatnya sedang dalam keadaan siap menebas leher, Tusk pun segera bersuara, “Kami mendengar bahwa Ibu Suri telah melakukan kudeta.”
Kylian dan Nihuar saling pandang. Lalu Kylian pun berkata, “Kami berdua tidak bisa membawa Ayahanda. Namun aku yakin, Ibu Suri tidak akan melakukan apa pun. Setidaknya belum.”
Sin menunduk. Tidak ingin memberi tanggapan.
“Bagaimana cara kalian menemukan rumahku?” tanya Seva dengan nada penasaran.
“Aku tidak ingin menjelaskan,” jawab Clay. “Pokoknya aku tahu. Astaga,” Clay mengerang dan mulai mengacak rambut. “Tidak bisakah kita lewatkan hal seperti, dari mana kami mengetahui tempat Seva, atau bagaimana kabar kami, dan sebagainya? Lihatlah kami. Terkejut. Syok. Lelah. Penuh tekanan. Hancur. Perlu bukti? Perhatikan ketampananku yang kini mulai memudar. Aku muak dengan segala omong kosong ini. Jadi aku akan mengambil alih percakapan. Kami diburu, begitu pula dengan kalian. Tusk,” tunjuknya pada elixer berambut pirang. “Kawanku yang kolot ini berpendapat bahwa kami harus menemui kedua pangeran. Tidak paham? Kami harus berdamai dan mengikuti saran apa pun yang keluar dari para pangeran. Selesai.”
Semua mata terbelalak. Untuk pertama kalinya Clay berhasil memecahkan kebebalan yang ada di kepala masing-masing elixer. Dan untuk pertama kalinya juga dia bisa menyuarakan pendapat tanpa khawatir akan mendapat guncingan dari para pendengar. Bangsawan itu benar-benar mencairkan kebekuan yang ada dalam ruangan.
Yang pertama kali bereaksi setelah mendengar pidato Clay adalah Seva. Elixer itu tertawa sembari memukul pelan permukaan meja. “Kau benar sekali,” katanya. “Aku tidak pernah mendengar kalimat sebagus ini akan keluar dari sang elixer pesolek.”
“Hei!”
Tidak peduli dengan suara protes Clay, Seva pun berkata, “Kami sudah memutuskan untuk bergabung bersama fana.”
Hening. Sin menatap Seva dengan sorot terkejut. “Apa maksudmu?”
“Sin,” kata Kylian. “Kita harus bergabung bersama fana, sesuai dengan apa yang didambakan Kaisar Ruthven—hidup berdampingan bersama manusia.”
Hidup berdampingan bersama manusia?
Kalimat itu terasa asing di telingan Sin. Akhir-akhir ini dia pun tidak mengerti dengan keinginan yang melesat dalam hati. Sin terpikat pada seorang fana yang kini mungkin tengah bermesraan bersama Ringga. Lalu Sin yang kadang teringat dengan kilasan masa lalu yang ingin dilupakan.
Sekarang. Sin diminta berdamai dengan fana?
“Kakak,” kata Sin. “Jangan bilang kau pun berpikiran serupa?”
Nihuar mengangguk. “Sin, kita harus memprioritaskan keselamatan Ayahanda.”
“Tidak adakah cara lain,” tutur Sin. “Menghimpun elixer yang masih menjunjung adat. Atau kita pergi ke selatan, menemui sanak yang ada di sana.”
“Sin,” jelas Nihuar. “Ibu Suri bahkan bersedia mengangkat derajat elixer yang mau memenggal kepala kita. Tidak pahamkah kau? Kita adalah aset. Jalan pintas. Tidak lebih.”
Pias. Sin menyenderkan punggung pada senderan kursi.
“Dan,” sela Tusk. “Bagaimana cara kita menyuarakan keinginan kita pada para manusia itu?”
“Melalui Ringga,” jawab Kylian. “Dialah yang akan menyelesaikan kemelut di dalam istana besar.”
Sesak. Sin ingin menghambur keluar dari ruangan.
Tidak. Setelah Ringga membawa pergi gadis yang Sin inginkan, kini pemuda itu pun mengambil segala kesempatan yang terbentang di depan Sin.
Semesta pun seolah berpaling dari Sin; meninggalkannya sendirian di tengah selubung kegelapan.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa kalian yang hadir di ruangan ini sadar bahwa satu-satunya harapan kita mengambil alih takhta dan membereskan segala masalah hanyalah melalui Ringga,” ungkap Kylian. “Aku tahu, sebagian dari elixer pasti keberatan dengan hal ini, namun percayalah, akan lebih menyakitkan jika Ibu Suri menguasai Rea. Kita semua tidak akan pernah merasakan sentuhan cahaya matahari lagi. Bisa kupastikan, kegelapan adalah teman setia kita di akhir masa.”
Akan lebih menyakitkan, ungkap Sin dalam hati, melihat gadis yang kuinginkan bersanding dengan pemuda yang paling kubenci.