Kefakiran dekat dengan Kekufuran

1211 Kata
Suara Zidan yang sedang murojaah hafalan Al - quran perlahan berhenti saat Zakia mendekatinya. "Kak, boleh nanya sesuatu gak?" Zakia menghampiri Zidan. "Boleh, nanya apa?" "Allah kenapa ya ngasih kita sedikit harta? sedangkan banyak orang lain di kasih kelebihan harta?" "Loh, bukannya sudah pernah diberi tahu sama Ummi?" "Iya, tapi saya mau tahu jawaban Kak Zidan." "Oh, gitu ya?" "He'em," Zakia mengangguk, dengan sabar menunggu Zidan memulai menjawab. "Karena Allah sayang sama kita," jawab Zidan "Kok, sayang sih? Kalau sayang bukannya malah di kasih banyak?" "Belum tentu, dek. Bisa jadi Allah menjaga kita dengan memberikan harta yang tak banyak seperti orang lain, dengan begitu kita terjaga dari perbuatan yang sia - sia atau perbuatan maksiat, paham belum?" terang Zidan. "Ehm, paham gak ya?" Zakia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Coba bayangkan kalo Zakia punya harta yang banyak, punya smartphone yang mahal lantas lupa mengerjakan sholat, lupa baca Al - Qur'an karena asyik bermain game. Zakia mau seperti itu?" "Ya enggak lah, Kak. Tapi berdo'a agar banyak rezeki boleh kan Kak?" "Ya pasti boleh dong!" Zidan mencubit hidung adiknya yang mancung dengan manja. "Tapi Za, bisa jadi kelebihan harta menjadi cobaan buat kita," tambah Zidan. " Maksudnya gimana Kak?" "Jika punya banyak uang atau harta, bisa jadi membawa kita ke neraka bisa pula membawa kita ke syurga. Jika kita lalai mengerjakan perintah Allah seperti mengulur-ulur waktu sholat, tidak baca Al-Quran karena sibuk dengan bermain HP tentu menjadi dosa, Za. Tapi Kalau dengan harta yang banyak kita bisa bersedekah atau berinfaq itu bisa jadi jalan kita ke syurga." Jelas Zidan, membuat Zakia mangut - mangut. "Jadi bagusan yang mana Kak, jadi kaya atau miskin?" "Bagusan kaya-lah, banyak kesempatan untuk bersedekah dan berbuat baik, apalagi fakir itu dekat dengan kekufuran." terang Zidan. "Jadi Kak Zidan, selalu berdoa agar jadi kaya ya?" tanya Zakia, menatap polos pada Kakaknya. "Kalau Kakak do'anya agar kita semua selalu diberikan kesehatan dan kesempatan untuk selalu beribadah, apa gunanya kaya kalau tak sempat berdzikir, sholat, puasa dan ibadah sunnah lainnya. Tapi Kakak juga berdoa, kok, agar kita selalu diberi rezeki yang berkah dan halal." "Benar juga ya, ehm - Kak Zidan, Kalau gak salah, kemarin saya lihat Ayah," suara Zakia setengah berbisik ke Zidan. "Huss," jari telunjuk diletakkan di depan bibirnya. "Loh, Kakak lihat juga kan?" tebak Zakia. "Pelankan suaramu, jangan sampai Ummi dengar." "Jadi benar? Kak Zidan juga lihat Ayah di mesjid tempat kajian kemarin?" "Kamu gak mau kan Ummi sedih lagi?" tambah Zidan. "Ya gak maulah?, kakak, sempat bicara sama Ayah?" Bisik Zakia lagi "Tidak, pelankan suaramu!" "Iya, Maaf. Kakak lihat dari dekat?" "Ayah gak lihat Kakak, saya juga pura-pura gak lihat. Sudah jangan dibahas, kasian Ummi," jelas Zidan. "Tapi, Kak. Zakia kangen Ayah," rengek Zakia, suaranya mulai memelas dan netranya mulai berembun. "Sini deh, dekat Kakak," Zakia menarik lengan adiknya untuk duduk lebih dekat. "Zakia, kita sudah biasa tanpa Ayah, semua baik - baik saja kan? apalagi kamu punya Kakak yang selalu ada untuk Zakia, juga masih punya Ummi, juga Kakek Nenek di kampung, jadi jangan pernah tanyakan ini sama Ummi!" Zidan mengusap pundak adiknya, menguatkannya dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja tanpa Ayah. Zakia terdiam, hanya mengganguk dan mematuhi perintah Kakaknya. "Kok, kita gak bisa sih seperti keluarga lain, yang Ayah dan Umminya tinggal bersama? Aku malu sama teman - teman, kadang diejek gak punya Ayah," nada suara Zakia terdengar manja, "Semua sudah takdir dari Allah, tugas kita hanya menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya," tegas Zidan. "Kalau kamu sudah besar, nanti juga ngerti," tambah Zidan. "Aku sudah besar, kok!" timpal Zakia. "Masih kecil gini, coba Kakak angkat. Sudah berat belum? kalau sudah berat berarti sudah besar," canda Zidan. Zakia tertawa mendengar ancaman Kakaknya yang tak suka diangkat dan cepat berkelit dari jangkauan remaja tanggung itu karena takut digelitik. Mereka tertawa bahagia, sejenak Zakia melupakan Ayahnya. "Ngobrol apa sih? kayaknya seru banget," tanya Ummi Roomesa membawa sebuah baki berisi teh dan kudapan hangat lalu diletakkan di meja. Ummi Roomesa pura-pura tak mendengar percakapan anak-anaknya, dalam hati ada haru dan bangga melihat Zidan yang bisa diandalkan namun juga sedih Zakia yang merindukan sosok Ayah yang seharusnya didampingi oleh Ayah dalam masa perkembangannya yang tak lama lagi akan menjadi remaja putri. "Kak Zidan janji ya ajarin adik bela diri?" Pinta Zakia. "Insya Allah, Kalo kakak sudah mulai sekolah, Kakak ajak Zakia ikut latihan beladiri Tapak Suci di SMK Penerbangan," janji Zidan pada adiknya. "Memang boleh kak?" alis Zakia bertaut menunggu jawaban Kakaknya. "Boleh banget, di sana orang dari sekolah luar pun boleh ikut latihan bela diri," ungkap Zidan. "Kenapa sih Zakia mau ikut latihan bela diri?" tanya Ummi Roomesa. "Biar bisa jaga Ummi, kalau ada orang jahat yang coba-coba ganggu maka Zakia akan mengeluarkan jurus, seperti ini, ciattt!" Cerocos Zakia sambil mengeluarkan jurus silat secara asal - asalan hingga hampir memecahkan gelas di meja. "Astaga, Zakia. Hampir saja! Itu isinya teh panas tahu!" tegur Zidan, namun Zakia malah terkekeh. "Permisi, Assalamu'alaikum," salam seseorang dari balik pintu, Roomesa dan anak - anaknya saling berpandangan tak biasanya mereka menerima tamu. Roomesa pun sejak tinggal di kontrakannya yang baru tak terlalu banyak bergaul dengan teman - temannya seperti saat lajang dulu, dia hanya fokus mengurus anak - anak dan usaha laundrynya. "Wa'alaikumussalam," Romeesa bergegas membuka pintu. "Bu RT, mari masuk Bu," Roomesa mempersilahkan tamunya masuk, sedangkan Zidan dan Zakia masuk ke kamar masing-masing. "Ummi Zidan, besok acara khitanan anak kami, datang ya, sekalian ikut pengajian di rumah," undang Bu RT dengan ramah. "Alhamdulillah, semoga lancar acara khitanan anakda besok, Insya Allah saya besok datang," jawab Roomesa, lalu menyuguhkan kudapan dan teh hangat yang sudah tersedia. "Umm, ehm gini - ehm ada lagi yang mau saya sampaikan, tapi saya khawatir nanti Ummi Romeesa tersinggung,"ujar Bu RT terbata dan ragu. "Insya Allah, jika itu untuk kebaikan saya gak akan tersinggung, mungkin memang ada sikap atau kelakuan saya yang kurang berkenan kepada warga di sini. Saya malah senang jika ada yang mengingatkan," jawab Romeesa sambil tersenyum. "Alhamdulillah, Umm. Maaf sebelumnya, Jadi gini saya lihat di kartu keluarga Ummi single parent ya?" "Iya, Bu seperti yang Itulah, apa ada yang salah Bu?" ucap Romeesa tersenyum hambar. "Tidak ada yang salah, namun apa Ummi Zidan punya rencana untuk berkeluarga lagi?" tanya Bu RT dengan pelan. "Maaf, Bu. Saya belum memikirkan hal itu, sekarang lebih fokus ke anak - anak," raut wajah Romeesa menjadi datar. "Begini, Umm. Ada yang nitip salam buat Umminya Zidan dan juga ingin kenal lebih dekat, istilahnya ngajak ta'aruf, jika Umm Zidan berkenan saya akan sampaikan." "Maaf Bu, seperti yang saya katakan tadi, saya akan lebih fokus ke anak - anak saya sekarang. Belum terpikirkan hal seperti itu. Kalau saya sih tidak ada niat lagi berumah tangga, tapi kan saya juga tak mau mendahului kehendak Allah, kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti," tolak Romeesa dengan halus tanpa menanyakan siapa lelaki itu. "Seperti itu ya, Umm." Romeesa hanya tersenyum, diusianya yang sudah kepala tiga dirinya memang terlihat awet muda. Wajah yang terawat dan badan yang masih langsing, tak kalah dengan gadis usia kepala dua. "Ya sudah, saya pamit dulu ya. Jangan lupa datang besok," ujar Bu RT. "Umm, apa gak dipikir - pikir la - " "Bu RT, hati - hati ya, Insya Allah besok saya datang," sela Romeesa yang sengaja memotong ucapan, Bu RT hanya tersenyum dan paham apa maksud Romeesa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN