Bab 9 Mantan Kekasih Diego

1001 Kata
Satu minggu kemudian Seorang wanita berada di bandara, penampilan wanita itu cukup elegan dan seksi. Sopir datang menjemputnya, wanita itu langsung memarahi sang sopir akan keterlambatannya. Dia Nadira Dealova,seorang model ternama yang cukup populer di kalangan media. Sepanjang perjalanan, wanita berusia 25 tahun itu tengah berbicara dengan sang manager melalui video call. Mereka saat ini tengah membahas kontrak yang di tawarkan pada Nadira. Nadira tentu saja merasa berat, dia tak ingin terlalu sibuk dalam urusan modelingnya. "Antar aku ke apartemen sekarang. " ucapnya pada sopir setelah mematikan sambungannya. Wanita itu menyimpan ponselnya dalam saku, menikmati perjalanan pulangnya setelah sekian lama berada di negara lain. Sampai di apartemen Nadira langsung turun dan masuk ke dalam apartemen sambil menarik kopernya. Dia meminta pelayan membereskan pakaiannya ke dalam lemari. Merasa lelah wanita itu lantas menuju ke kamarnya, untuk saat ini dia perlu berendam. Satu jam berlalu Nadira telah selesai berpakaian, saat ini dia tengah mengeringkan rambutnya yang basah. Dia langsung mencari ponselnya lalu membawanya ke atas ranjang, mencari nomor kontak yang dia kenal. "Apa Diego masih mengingat aku ya? " gumam Nadira dengan lirih. Dia merasa menyesal telah meninggalkan pria yang dia sayang itu dulu demi mengejar ambisinya sebagai seorang model. Keinginannya telah tercapai dan sekarang dia harus segera menemui Diego secepatnya. Wanita itu menghela nafas panjang, teringat kenangan mereka bersama dulu. Ada rasa penyesalan dalam dirinya karena telah meninggalkan sosok pria baik itu. Nadira POV Aku harap kamu tidak membenciku Diego, maaf karena keegoisanku dulu aku pergi meninggalkan kamu sayang. Aku harap kamu memaafkan aku dan mau menerimaku kembali, diriku tak sabar ingin segera bertemu dan melepaskan rinduku padamu. Huft aku merindukan saat saat bersama kamu seperti dulu Diego, aku harap kamu masih mengingatnya. Lagi lagi terdengar suara helaan nafas berat, Nadira memilih berbaring di atas ranjangnya sambil menatap langit langit kamarnya. Bosan wanita itu memilih ke luar dari kamar setelah mengambil ponselnya. Seorang gadis datang berkunjung ke apartemen Nadira, dia Alula. Gadis pirang itu membawakan banyak makanan dan buah untuk Nadira, keduanya sarapan bersama hari ini. "Kenapa kamu membelikan aku makanan manis juga Lula, kamu 'kan tahu aku tidak boleh sampai gemuk nantinya. " ujar Nadira sebal. Alula hanya meminta maaf padanya tanpa berkata apapun lagi pada Nadira. Nadira memang tipe wanita yang menjaga bentuk ideal tubuhnya agar tetap ramping selain itu dia juga belum siap menikah dan hamil. "Cuma karena makanan kamu ngomel Nad, toh enggak selamanya wanita akan tetap langsing. Kala para wanita telah menikah dan memiliki suami kelak juga mereka akan memiliki bayi. " cetus Alula dengan jengkel. Nadira hanya memutar bola matanya malas, dia sangat muak terus terusan mendengarkan kalimat yang sama untuk kesekian kalinya. Alula langsung bangkit, hari ini dia sangat malas jika harus berdebat dengan Nadira. Tanpa mau membantu Nadira menaruh buah buahan ke dalam kulkas, gadis cantik itu melenggang pergi begitu saja. Nadira hanya mampu menyumpah serapah kelakuan Alula barusan, selesai makan dia langsung menaruh buahnya ke dapur. Dering ponselnya menyita perhatian gadis itu, dia menekan tombol biru dalam layar ponselnya. Gadis itu tertegun mendengar umpatan dari sang manager mengenai keterabsenan dirinya dalam shooting produk di negara Y. "Aku pulang ke negara x dulu Chard, please aku juga butuh healing saat ini dan di sini aku ada urusan yang harus aku selesaikan. " tegas Nadira. "Kamu itu mau melanggar kontrak yang kita sepakati Nadira, kamu jangan seenaknya begitu dong. Kamu pergi dari sini dan kembali ke negara x tanpa memberitahu aku dan kru lainnya. " geram sang manager padanya. Nadira menghela nafas kasar, dia mengaku salah dan meminta maaf pada managernya itu. "Sekali lagi kamu melakukan kesalahan, aku tak segan segan melaporkan kamu ke kantor polisi Nadira Dealova. " ancam sang manager dengan amarah menggebunya. Nadira hendak bicara namun sambungan lebih dulu di putuskan ,sontak membuatnya uring uringan. "Sialan, kenapa hari pertama aku justru mendapat kesialan berkali kali. " gumamnya kesal. Nadira menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu, gadis itu benar benar kesal hari ini. Moodnya langsung down seketika, untuk hari ini sepertinya dia akan malas ke manapun termasuk bertemu dengan Diego. Hari ini benar benar hari yang buruk baginya, seharusnya dirinya bahagia telah sampai di negara asalnya namun semuanya kacau. Dia menyambar ponselnya, lalu menyuruh asistennya untuk mencari nomor ponsel Diego yang baru. Nadira bukan perempuan yang mudah menyerah begitu saja, dia harus mendapatkan apa yang dia mau meskipun dengan cara salah sekalipun. Terdengar egois memang namun Nadira tak peduli hal itu termasuk tak peduli dengan omongan orang lain. "Aku harap saat ini kamu masih sendiri Diego, jangan sampai kamu di miliki wanita lain. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan berusaha merebutmu dari wanita itu jika benar terjadi seperti itu. " batin Nadira penuh tekad. Dari jaman dulu Nadira memang tidak pernah ingin kalah dari siapapun, apa yang dia inginkan harus menjadi miliknya. Perempuan itu meneguk minuman kaleng di tangannya, lalu melemparnya ke sembarang arah. Dia akan membalas orang orang yang tidak suka padanya apalagi sampai memakainya. Nadira kembali berusaha menghubungi nomor Alula namun nomor sahabatnya itu tidak aktif sama sekali. Sepertinya perempuan itu benar benar marah padanya hingga menon aktifkan ponsel. "Dasar sahabat tidak berguna, apa dia lupa jika selama ini akulah yang menyokong kehidupannya yang mewah itu. " umpat Nadira kesal. Dia merasa menyesal telah membantu Alula, gadis yang tidak tahu diri itu. Tanpa dia sadari karena sikapnya sendiri membuat orang orang menjauhi dirinya. Sikap egois dan arogansinya membuat orang orang terdekatnya merasa di rendahkan. Namun sepertinya sang model cantik itu tidak menyadari kesalahannya, terlalu ambisius dan egois membuatnya gelap mata. Wanita itu terus mengumpati sikap tidak tahu diri dari Alula. Nadira begitu kesalahan marah pada gadis yang telah dia bantu selama ini. Dia kembali mendengus pelan, meraih ponselnya kemudian mengirim pesan lagi berisi ancaman untuk Alula. "Sepertinya aku perlu memberi Lupa pelajaran! " Nadira lekas bangkit, memilih pergi ke kamarnya. Dia melesat ke kamar mandi, memilih berendam supaya pikirannya jernih. Untuk urusan Alula, dia akan memikirkannya nanti. "Diego, sepertinya aku harus menemuinya. Dia pasti bisa membantu aku, bukankah Diego sangat mencintaiku dari dulu. " ucapnya penuh percaya diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN