Bab 14 Kedatangan Orang tua Sandra

1011 Kata
Setelah mendengar kabar dari orang suruhannya, kedua orang tua Sandra memutuskan kembali ke negara x. Kini mereka dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Mayer. Nyonya Rasya dan suaminya menyambut ke datangan tamunya sekaligus teman lamanya. "Lisna, bagaimana kabarmu sekarang? " tanya nyonya Rasya dengan baik. "Aku baik Ras begitu juga suamiku. " jawabnya dengan ramah. Mereka memberitahu kedatangan mereka pada Nyonya Rasya dan suaminya. Nyonya Rasya tentu saja terkejut dan kebingungan, siapa anak yang mereka maksud. "Putri Kami Sandra Aulia, gadis nakal itu kabur dari rumah karena trauma kehilangan Sania. " nyonya Lisna mengatakan kebenaran nya pada kedua sahabatnya itu. Nyonya Rasya tentu saja terkejut, dia ikut kasihan mendengar permasalahan yang terjadi dalam keluarga Hugo. Kedua pihak saling merundingkan masalah ini, nyonya Rasya langsung menghubungi Diego untuk mengajak Sandra ke sini. Tak lama dua orang yang mereka tunggu akhirnya datang, Sandra terkejut melihat kehadiran orang tuanya. Nyonya Lisna langsung bangkit, dia memeluk erat putrinya sambil menangis. Sandra membalas pelukan sang ibu, mengumamkan kata maaf pada orang tuanya. Diego yang kebingungan meminta penjelasan pada orang tuanya, Nyonya Rasya langsung menjelaskan secara singkat. "Sandra sayang, kenapa kamu enggak jujur perihal orang tua kamu nak? " tanya Nyonya Rasya dengan lembut. "Enggak papa tante, selama ini banyak masalah yang aku sebabkan hingga membuat mommy dan daddy malu. Hingga hal itu membuatku memutuskan menyembunyikan identitasku yang sebenarnya. " ucap Sandra dengan senyuman getirnya. Gadis itu belum bisa melupakan kejadian di mana sang mommy dulu menyalahkan dirinya atas kematian Sania. Nyonya Lisna begitu tersentil akan pernyataan putrinya barusan, dia kerasa bersalah pada Sandra akan sikapnya dulu hingga membuat putrinya kabur. Sandra seakan menjaga jarak dari orang tuanya, hal itu di sadari oleh Nyonya Lisna sendiri. "Maafkan mommy nak, ayo kita pulang ke rumah sayang. Sudah cukup lama kamu di negara x nak, keluarga kita ada di negara Y! "Enggak mom, tempat tinggal ku ada di sini, lagipula sebentar lagi aku akan menikah! "Maksud kamu? " Diego menyela obrolan anak dan ibu itu, dia menjelaskan rencananya yang akan menikahi Sandra besok. Tentu saja orang tus Sandra terkejut mendengarnya, yang pasti mereka belum setuju. Dengan terang terangan Sandra mengaku jika dirinya dan Diego telah berhubungan lebih dari ciuman. "Ya Tuhan nak, bagaimana bisa kamu begitu mudah menyerahkan diri pada pria. Mommy tidak pernah mengajari kamu bersikap murahan seperti itu, seandainya Sania.. " "Hentikan, jangan bandingkan aku dengan Sania yang telah pergi ke surga mommy. " sentak Sandra emosi. Nyonya Lisna tersentak mendengar bentakan putrinya, Daddy Brama sempat menegurnya namun di hiraukan Sandra. "Hentikan perdebatan ini, Lisna seharusnya kamu tak perlu menyebut putrimu seperti tadi. Jika Sandra salah cukup berikan nasehat, lagipula mereka besok akan menikah. Satu hal yang aku tak suka darimu, suka membandingkan hal apapun termasuk satu putrimu dengan putrimu yang lain. " ujar nyonya Rasya dengan bijak. Nyonya Lisna mengatupkan bibirnya rapat, dia menatap putrinya yang memalingkan wajahnya kearah lain. Mendengar sendiri bagaimana penolakan Sandra barusan membuatnya sakit hati. Dia menyadari kesalahannya tadi, namun sepertinya Sandra terlanjur kecewa padanya. "Aku akan menikah meski tanpa restu mommy dan Daddy, w************n seperti aku tak pantas masuk dalam keluarga Hugo begitukah menurutmu nyonya Lisna? " raut wajah Sandra begitu datar, ada kekecewaan di kedua matanya. "Nak maafkan mommy. " gumam Nyonya Lisna pada putrinya. Sandra hanya diam tanpa mengatakan apapun,banyak hal yang dia pendam sendiri selama ini. Diego langsung mendekat, memeluk calon istrinya dengan erat wanita itu meminta Diego untuk di antar ke kamarnya. Diego dan Sandra langsung meninggalkan ruang tengah begitu saja. Nyonya Lisna menatap nanar kepergian putrinya barusan. Tak lama Diego kembali sendirian, dia menjelaskan sebenarnya kejadian kemarin. Nyonya Lisna hanya mampu menyesali kesalahannya, bagaimana bisa dia menghina putrinya sendiri. "Kalau mau menyalahkan, salahkan saja saya tante karena saya yang memohon pada Lisna kemarin. " ujar Diego dengan sungguh sungguh. Nyonya Lisna menghela nafas panjang, dia meminta maaf pada Diego dan calon besannya. Dia pun memberikan restu nya, berharap Diego bisa menjaga Sandra dan membuatnya bahagia hanya itu harapannya. Sementara di dalam kamar, Sandra tampak melamun di balkon. Percakapan dengan ibunya tadi terus terngiang dalam kepalanya. Dia menghapus air matanya dengan kasar mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Grep Diego memeluknya dari belakang, dia tak mengatakan apapun pada Sandra. Dia paham jika kekasihnya masih terlihat marah dan kecewa pada ibunya. "Aku menyesal Die, kenapa tadi aku harus membentak mommy segala. " gumam Sandra dengan nada penyesalannya. "Lebih baik kamu tenangkan diri kamu dulu sayang, setelah tenang baru kamu menemui tante Lisna! Sandra mengangguk tanpa membalikkan tubuhnya, dia mengatakan masa kecilnya bersama mendiang Sania dulu pada calon suaminya. Wanita itu menghapus sudut matanya, dia menghela nafas panjang dan kembali menatap lurus ke depan. Sandra POV Aku hanya perlu waktu, hubunganku dengan mommy untuk saat ini biarkan seperti ini dulu. Aku belum bisa mengontrol emosiku yang justru nantinya akan menyakiti hati mommy Lisna. Mom, maafkan aku. Maaf karena aku telah membentak mommy tadi. Aku marah mom, bukan karena mommy menyebutku murahan namun mommy selalu membandingkan aku dengan Sania. Sania sudah pergi namun di mata mommy dia selalu sempurna sementara aku, hanya gadis pembawa masalah. "It' s Hurt, ternyata perbandingan itu sungguh menyakitkan apalagi sama saudara sendiri yang telah tiada. " gumam Sandra dengan lirih. "Sayang,bagaimana menurutmu apa mommy akan berlaku sama jika aku yang justru tewas dan Sania yang hidup? " tanya Sandra berandai andai. "Baby stop, aku enggak suka kamu berbicara seperti itu! Sandra tak lagi bicara, Diego membalik tubuh calon istrinya lalu memeluknya dengan erat. Dia berusaha menasehati wanitanya untuk tidak berbicara sembarangan, Sandra membalas pelukan sang kekasih. Wanita cantik itu hanya bisa terisak dalam pelukan calon suaminya. Sakit hati? Tentu saja putri mana yang tak sakit hati, menjadi bahan perbandingan antara dirinya dengan saudarinya yang telah tiada. Sandra belum siap untuk mengobrol dengan kedua orang tuanya saat ini. Dia perlu waktu untuk menenangkan dirinya. Diego sendiri hanya bisa memberikan dukungan untuk wanitanya. Beberapa saat berlalu, Diego melepaskan pelukannya. Pria tampan itu memperhatikan sang calon istri dengan lekat. "Tenangkan diri kamu sayang. " ucap Diego dengan lembut. Sandra membuang nafas berat, dia tersenyum tipis pada prianya itu. Wanita itu terdiam sejenak kemudian memeluk Diego lagi tanpa mengatakan apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN