Jangan Baper

1017 Kata
“Iya, tapi ini buat Jingga.” Biru mengernyit ketika tahu maksud Aurora. Tapi pemikiran Biru bukan ke arah Aurora baik untuk memberikan perhatiannya pada Jingga tapi dengan maksud lain. “Lo ngapain sih beli telur gulung? Lo mau mati atau sengaja mau racunin Jingga dengan telur gulung ini?” tuduh Biru lagi. Bersedekap d**a dan memutar bola matanya malas. Percayalah, ini bukan sekadar kecurigaan saja tapi ii sebuah firasat kalau Aurora tidak suka pada Jingga hingga berniat untuk mencelaki Jingga. “Aku nggak ada niat buat itu.” “Bohong,” seru Biru. Aurora menaikkan kedua bola matanya. Ini bukan hal sekali dua kali kalau Aurora dituduh ada sesuatu hal yang akan merugikan Biru maupun Jingga. Semacam sebuah firasat. Tapi Aurora bukan perempuan seperti itu. Dia perempuan baik-baik dan dia juga tidak akan tega melakukan hal seperti itu pada orang yang begitu berarti di hiup seseorang yang dia cintai. Contohnya saja Biru. Dia sayang Biru makanya dia tidak mau membuat Biru sedih begitu juga dengan dia tidak mau menyakiti Jingga karena dia tahu Biru sayang Jingga lebih dari Aurora menyayangi Biru. “Terserah kamulah.” Aurora membeli satu porsi telur gulung pada kakek-kakek penjual telur gulung itu. Dia seorang kakek yang usianya sudah senja namun harus dipaksa buat mencari rejeki untuk orang-orang yang ia tanggung hidupnya “Kek, beli telur gulungnya ya satu bungkus.” Kakek itu tersenyum sangat senang. Akhirnya setelah sekian lama dia berjualan malam ini, gadis dengan pakaian sergam SMA itu membeli jualannya. Meski tak seberapa, tapi rasanya dia cukup bersyukur. “Baik, Nak. Terima kasih ya sebelumnya. Silakan duduk, Nak.” Dengan raut bahagianya, sang kakek mempersilakan duduk pada Aurora. Aurora mengangguk. “Iya, Kek.” Dengan senyuman yang masih menempel di sudut bibirnya, Kakek itu mulai meracik pesanan Aurora. Sedangkan Biru berada tetap di atas motonya dengan kesal. “Kakek sudah lama jualan di sini?” tanya Aurora sambil menunggu pesanannya selesai. “Sudah sekitar tiga puluh tahun, Neng.” Kakek itu tersenyum ke arah Aurora yang tersenyum menatapnya dengan penuh penghargaan yang begitu besar. “Kakek jualan sendiri di sini?” tanya Aurora lagi.”Udah mau malam kakek masih jualan?” “Saya tinggal bersama anak saya. Tapi dia sedang bekerja proyek. Biasanya kalau sudah jam sembilan ke sini jemput kakek.” Aurora hanya mengangguk. Dia sebenarnya banyak yang ngin dia tanyakan tapi sara dari Biru bertepatan dengan pesanannya selesai membuat Aurora menghentikan acara wawancaranya dengan sang kakek. “Ini, Neng.” Aurora mengambilnya lalu membayar beberapa lembar uang dan mengucapkan terima kasih pada kakek itu. “Makasih ya kek.” “Harusnya kakek yang bilang makasih. Karena kamu sudah membeli jualannya kakek, ini jualan buat makan kakek sehari-hari dan kakek berterima kasih sama kamu ya nak.” Aurora hanya diam saja. Lalu ia berpamitan pada kakek itu dan menghampiri Biru. “Lo ngapain sih beli telur gulung? Lo kan alergi telur.” Biru berucap pada Aurora yang menatapnya dengan tatapan begitu lembut. “Ini kan aku beli buat Jingga.” “Jingga? Lo gila? Mau lo Jingga sakit perut karena makan makanan gak sehat kayk gini? Jangan samain Jingga sama lo. Jelas beda!” Aurora paham sikap Biru seperti ini namun dia juga cukup tu untuk tak terlihat lemah. “Iya, aku tahu.” Aurora memberikan bungkusan plastik itu pada Biru. “Kamu anterin in ya ke Jingga. Aku tahu, Jingga pasti akan terima ini. Jingga nggak sesombong itu sampai gak mau makan makanan sehat kayak gini.” *** Biru menggelengkan kepalanya ketika mengingat permintaan dari Aurora yang terlihat begitu memaksanya untuk menemui Jingga malam ini. Padahal hatinya belum siap untuk bertemu dengan gadis itu yang pastinya akan dengan banyak waktu dpat mengusirnya dalam tiap detiknya. Turun dari motornya lalu mengetuk pintu rumah gadis itu. Kira-kira apakah yang sedang dilakukan oleh gadis itu malam ini? “Loh? Biru?” Mamanya Jingga yang membuka pintunya bukan gadis itu. Biru mengangguk sembari tersenyum ke arah perempuan paruh baya itu. “Mau cari Jingga? Kebetulan Jingganya lagi belajar di kamarnya. Nanti tante panggilin ya.” Biru mengangguk lagi. “Baik, tan.” Biru duduk di sofa putih di ruang tamu sambil mamanya Jingga memanggil gadis itu untuk menemui Biru di sini. “Ada apa?” tanya Jingga ketus. Duduk di hadapan Biru di seberangnya. “Cepet ah, PR gue masih banyak.” “Sabar dong.” Jingga benar-benar tidak minat dengan Biru. Dia takut perasaannya semakin bertamah dan semakin sulit untuk dia lupain perasaannya pada Biru. s**l namanya itu. “Nih.” Biru memberikan sebungkus telur gulung ke hadapan Jingga. “Dari Aurora. Katanya kamu mau telur gulung kan?” Jingga mengernyit. Perasaan dia tidak pernah mengatakan apa-apa beberapa hari ini pada Aurora. Ah, apakah ini adalah salah satu trik Aurora untuk mendekatinya dengan Biru? Kenapa ini semakin menjadi? Bukankah Jingga sudah ada rencana sendiri untuk menjauh dari radar Biru? “Sampaikan tanda terima kasih buat Aurora nanti.” Biru mengangguk. “Iya.” “Lo suka?” tanya Biru. Biru benar-benar tidak tahu apa-apa. Setelah bertahun-tahun berpisah, Biru semakin asing dengan sikap Jingga yang kali ini benar-benar berubah. Jingga mengangguk. “Iya.” “Tahu gitu gue beli banyak aja sekalian.” “Iya, besok. Gue mau beli sama Dewa.” Biru mendengus. “Besok lo kan ke rumah gue. Jadi lo belinya sama gue.” “Ogah. Gue mau dianter Dewa.” Biru tahan. Sebenarnya dia malas sekali dengan Jingga selalu saja memanggil nama Dewa di depannya. Dia tahu mungkin saja Dewa ada hubungan dengan Jingga tapi tidak dengan mengatakannya secara blak-blakan juga. Apakah Jingga tidak memikirkan perasaannya? “Tap-“ “Ru, gue ngajarin Putih bukan lo. Jadi terserah gue dong mau apa.” Oke, kata-kata Jingga benar-benar menyadarkan dirinya kalau Biru bukan siapa-siapanya lagi. Sudah ada Chiko dan Dewa yang menjaga Jingga dan banyak orang yang juga menyayanginya. Tidak seperti dulu yang tidak memiliki siapa-siapa. “O-oke.” “Lo nggak usah baper juga.” “Hm, iya. Gue nggak baper sama lo kok.” Tapi gue yang baper, Ru. Batin dari Jingga mampu membuat Jingga merasa kalau Biru benar-benar masih ada rasa padanya padahal mereka sudah remaja. Kisah masa lalu itu sudah tidak penting lagi kan? “Besok gue masih ada tugas. Gue mau ke dalam dulu ya.” Biru terlonjak kaget. “Ah, iya.” “Lo masih mau di sini atau gimana?” tanya Jingga lagi. Biru menggeleng. “Gue mau pulang. Thank you sudah bisa ngobrol lagi sama lo. Jujur, gue kangen lo.” Jingga tahan. Dengan mata yang terlihat angkuh Jingga hanya menjawabnya singkat. “Hati-hati.” ••• TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN