Ajak Pulang

1001 Kata
Jingga baru saja mengisi formulir untuk mengikuti kelas ekstrakulikuler Marcing Band. Sebenarnya dia tidak ada keahlian namun berhubung tubuhnya yang tinggi, jadi ini bisa jadi alasannya untuk ikut kelas ini pada mamanya. Soal penyakitnya, itu bisa dipikirkan nanti saja apa yang harus ia lakukan. Jam istirahat pertama adalah kelas pertamanya untuk ekstra dan dia tidak mau melewatkan itu. Sudah saatnya dia bersikap dengan semestinya anak remaja lakukan bukan jadi anak gadis yang lemah. “Lo terlalu nekat sih, Ga.” “Bodolah. Yang penting gue bisa nikmati kesempatan ini dengan baik.” Dewa menggelengkan kepalanya. Malas sekali ngomong sama Jingga yang tak pernah mau nurut. Yang dia mau adalah keinginannya bukan hal lain. “Tapi kalau Chiko tahu lo nekat kayak gini, yakin lo sama nyokap lo gak akan ada masalah apa pun?” tanya Dewa. Sedikit aneh kekhawatirannya ini semacam ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Tapi ia yakini ini bukan perasaan cinta atau sejenisnya. Dewa yakin, ini hanya sebuah perasaan iba pada seorang sahabat yang sedang sakit atau- ah, Dewa menggelengkan kepalanya cepat. Mikir apa sih kamu wa? “Lo nggak usah bawa-bawa Chiko. Gue tahu lo yang khawatir bukan Chiko. Tapi lo nggak usah panik, gue nggak apa-apa kok.” “Siapa juga yang panik gara-gara lo? Lo kenapa-kenapa pun, gue nggak peduli.” “Yakin?” tanya Jingga menggoda Dewa. Duduk di dekat Dewa yang terasa menjauhinya. Ah, apakah Dewa sedang mengatur degup jantungnya sendiri? “Iya, gue yakin. Gak usah geer deh lo!” “Siapa yang geer coba? Gue cuma mau bilang jangan biarin lo jatuh cinta sama gue karena lo kan tahu sendiri gue siapa.” Jingga tidak mau menjalin hubungan dengan siapa-siapa karena dia tahu, umurnya sudah tak akan lama lagi. Maka dari itu, dia mau cepat-cepat move on dari Biru agar cowok itu juga bisa melupakannya dengan cara dia membencinya. menjauh adalah pilihan tepat kan? "Lo manusia kan?” Jingga berdecak. Orang juga tahu kalau dia manusia. Maksud Jingga, Dewa tahu kan dia manusia lemah yang tak bisa apa-apa? Membanggakan orang tua asuhnya saja dia tidak bisa apalagi dia harus membuat cowok apalagi orang lain? Semakin tak bisa. “Lo pikir gue setan?” decak Jingga. Semakin kesal lagi ketika Biru tak sengaja lewat di depannya dengan temannya. Teman Biru menatap ke arah Jingga namun dengan cepat dilirik oleh Dewa membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Ngapain diem disitu?” tanya Dewa ketus. “Ada masalah?” Biru diam saja. Namun sorot matanya tetap ke arah Jingga. Dia tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh cowok berkaus dalam warna hitam itu sekarang. Namun sepertinya, banyak pertanyaan yang sebenarnya perlu jawaban di otak Biru. “Gu–“ Tiba-tiba saja Biru jadi gagu. Kosa katanya yang biasanya pedas seolah hilang begitu saja di tenggorokan. “Apa? Kayak orang gagu aja nggak bisa ngomong lancar.” “Ru, lo kenapa? Cemburu liat Jingga sama cowok atau gimana sih? Kok jadi gue yang bingung.” Biru menggelengkan kepalanya cepat. “Kita balik.” Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka ke arah kelas. Dalam diam, Biru masih terus berpikir kalau Jingga benar-benar ada hubungan dengan Dewa lebih dari sebatas teman. Apalagi ketika melihat cara Dewa menatap Jingga yang begitu peduli bahkan sering terlihat marah kalau Jingga melakukan sesuatu hal yang tak bisa ia jelaskan. Dewa terlihat ada something. Dewa yang biasanya memang angkuh dan sombong, entah kenapa suka sekali marah pada hal sepele pada Jingga. Contohnya saja kemarin. Dewa khawatir ketika Jingga naik bis sendiri ketika melihat mereka ingin adu jotos di sekolah. Bagaimana mungkin Biru tak akan curiga? Semua sudah seperti terpampang jelas kalau Dewa menyukai Jingga. “Lo masih saja mikirin Jingga. Udah jelas kan sekarang kalau Dewa emang pacaran sama Jingga? Udahlah, sama Aurora aja.” Bersama Aurora sedangkan otaknya terus berpikir soal Jingga? Dia tidak bisa berpikir dengan jelas sekarang. “Gue-gak tahu harus gimana.” “Mending perbaiki hubungan lo sama Aurora.” “Harusnya gue yang perbaiki hubungan gue sama Jingga. Karena Aurora yang nggak nyapa Jingga bukan Jingga yang jauhin Aurora. Lo ngga boleh bilang kalau Jingga itu jahat.” Arga, teman Biru hanya menggelengkan kepalanya. Susah sekali bilang sama orang yang otaknya sudah dipenuhi dengan obsesi mendapat sahabat kecil yang sekarang saja malas ngomong sama dia. “Terserah lo, deh. Gue cuma mau ingetin kalau lo jangan nyesel Aurora pergi dari hidup lo.” ••• “Yuk pulang!” ajak Dewa mengaitkan tangan keduanya lalu beriringan keluar dari kelas. “Jingga, pulang sama gue ya. Lo ikut gue dan nanti–“ Dewa menepis tangan Biru. “Kan lo udah tahu kalau Jingga sama gue? Mending lo pulang duluan sana!” “Gak bisa. Jingga mau ajarin adik gue. Jadi, Jingga bareng gue.” “Gue pacarnya. Lo tau kan?” Biru menggeleng. Dia mencoba untuk bersikap biasa saja tapi percayalah kalau dia benar-benar tidak akan bisa bersikap baik-baik saja setelah ini. Dia terlalu cemburu pada Dewa meskipun dia tahu kalau mereka memang ada hubungan. “Gak bisa.” “Udah stop!” lerai Jingga mulai jengah. “Kalian bisa tidak gak usah berantem? Gue capek!” “Bi-bisa.” “Bagus. Gue mau ke Putih–sama Dewa. Dan Lo Biru, anterin Aurora pulang sana. Gue bisa ke rumah lo bareng Dewa.” “Tap-“ “Lo harusnya denger dong apa kata Jingga. Karena lo kan ga budeg?” Biru mendengus. Dia tahu kalau Jingga masih terus menjauhinya tapi dia juga tidak mau menyerah begitu saja hanya karena dia merasa kalau Jingga menyukai Dewa dan di kamus Biru tak bisa semua cewek langsung membencinya sebelum dia sempat membuatnya jatuh cinta. “Wa, ke telur gulung dulu ya.” “Telur gulung?” tanya Dewa mengernyit. “Sejak kapan lo makan itu?” “Kan emang gue suka semua hal.” “Lo bener-bener aneh sih sumpah.” “Aneh dari mananya coba? Gue suka Telur Gulung salahnya di mana? Kan gue orang Indonesia.” “Iya maksud gue, sejak kapan lo suka jajanan non modern kayak gitu?” tanya Dewa mulai kesal. “Otak lo belum di upgrade deh kayaknya, Ga.” Jingga menepuk pundak Dewa dari atas motor. “Lo nggak usah heran. Gue tetep orang Indonesia bukan orang manca negara. Gak perlu keheranan juga kalau gue suka Telur gulung.” Dewa mengendikkan bahunya. Tererahlah. Sepertinya memang otak Jingga perlu diupdate. "Oke. gue kita beli. puas anda?!" Jingga tersenyum. menarik kedua sudut bibirnya. "Thank you, Dewa." ••• TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN