Oke, kali ini mereka tengah berada di sebuah Warung lesehan seorang kakek yang menjual telur gulung. Ah, ya, memang seperti ini. Bentukan warungnya sedikit lebih sempit namun bisa diduduki sudah syukur.
“Mau beli telur gulung Nak?” tanya seorang kakek pada Jingga yang celingak-celinguk di depan warungnya.
Jingga terperanjat. “Ah, iya, Kek. Ada?”
Kakek itu mengangguk. “Tentu saja ada Nak.”
Jingga mengangguk dan duduk di tepi warung itu. Hanya sebuah kursi plastik namun nyaman. Setidaknya tidak duduk di bawah harusnya bersyukur kan?
“Seragam kamu kok sama kayak anak SMA yang beli tadi malam di warung sini ya nak? Apa kamu kenal? Dia sama pacarnya kalau nggak salah naik motor laki-laki warna merah.”
Motor biru? Pikiran Jingga seketika tertuju ke arah Biru. Namun masa iya mereka belinya di tempat ini dan tempatnya sama?
“Ciri-ciri orangnya gimana, Kek?” tanya Jingga penasaran.
“Lo apa-apaan sih! Itu pasti bukan Biru kali.”
“Lo diem!”
“Kakek inget. Dia pakai jaket warna abu-abu dan yang cewek tingginya itu di bahu kamu.”
“Aurora?” pikir Jingga. Apa benar itu Aurora dan Biru yang membeli telur gulungnya untukku?
“Ah, sepertinya saya kenal, Kek. Terima kasih ya atas informasinya.”
Setelah pesanannya selesai, Jingga langsung pergi meninggalkan warung itu dan membayarnya. “Ini kek uangnya.”
“Wah banyak sekali.”
“Tak apa. Buat kakek saja ya.”
“Wah, terima kasih, Nak.”
•••
Jingga masih berpikir itu adalah Biru dan Aurora. Tapi dia juga tidak begitu yakin karena memang Biru pasti tidak akan mau makan apalagi berhenti di tengah jalan begitu saja. Namun pada kenyataannya Aurora bisa membuat Biru yang orangnya keras jadi luluh seperti ini.
“Gue pulang ya. Nanti gue mau ke arena balap ada urusan.”
“Mau ngebut-ngebutan lagi?” pelotot Jingga membuat Dewa yang sudah mau memasang helmnya jadi urung. Dia tahu Jingga tidak suka dengan caranya yang seperti ini. Namun dia adalah anak laki-laki satu-satunya yang ada di keluarganya jadi Dewa harus menjadi orang yang bisa berguna selanjutnya.
Chiko sama Dewa itu sama-sama anak laki-laki satu-satunya. Jadi, dia harus menjadi orang yang keras.
“Bukan. Tapi kemungkinan besar.”
“Kurang ajar!” Jingga mencubit perut rata milik seorang manusia gila di depannya.
“Sakit Ga! Lo apa-apaan sih!”
“Lo yang apa-apaan! Ngapain lo kayak gitu?”
“Kayak gimana?” tanya Dewa sok tidak tahu padahal dia benar-benar mengerti maksud Jingga.
“Gue cuma ngikutin mereka doang. Lo tenang aja.”
Mereka?
•••
“Assalamualaikum...” Jingga mencium tangan maminya Biru lalu memeluknya. “Halo, Tante.”
“Waalaikumsalam.”
Mereka duduk di ruang TV. Ya, mereka duduk di ruangan itu sambil menunggu Putih yang belum pulang dari belajar kelompok.
“Kamu nggak ada les?” tanya Maminya Biru.
Sedangkan Biru terlihat sedang tidak ada di rumah. Mungkin sedang mengantar Aurora. Kan katanya Aurora selalu diantar dan dijemput Biru.
“Besok sih biasanya. Tapi sekarang udah ganti ke hari Minggu.”
“Kenapa?” tanya Maminya Biru lagi.
“Soalnya aku takutnya kecapekan. Makanya diundur hari Minggu dan Sabtu.”
“Oh iya juga. Kamu kan nggak boleh kecapean ya.”
Jingga mengangguk setelah beberapa detik kemudian pintu rumah dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Putih.
“Halo, Mi.” Putih mencium pipi ibunya lalu meninggalkan kedua orang itu dengan tanpa sepatah katapun.
Dalam hati, Jingga benar-benar tak enak dengan Putih. Mungkin Putih tidak mau diajari oleh Jingga karena Putih sudah sering bersama Aurora. Dia paham dan maklum saja pada gadis itu. Namun rasanya akan aneh saja kalau dia tiba-tiba di sini. Bersama orang asing yang ia temui kemarin setelah beberapa tahun tak bertemu lagi.
“Putih? Mau ke mana? Ini Jingga masih ada di sini. Kamu nggak mau belajar?” tanya Maminya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Putih.
“Tugas Putih udah selesai.”
Ha? Kan benar. Putih tak menyukainya jadinya dia pikir ini akan bermasalah antara aku dan Putih apalagi kalau aku memaksa Putih suka Jingga.
Dia tahu kalau Putih merasa kecewa dengan sikap Biru yang mengacuhkan Aurora demi Jingga yang memang tak sebaik Aurora pada keluarga mereka. Namun Jingga juga manusia yang pernah mengalami kesalahan dan dia juga butuh orang untuk memaafkannya. Tapi kenapa Putih membencinya sampai seperti ini?
“Tap-“
“PUTIH SIBUK!”
•••
Baiklah, sabarkan Jingga kali ini, Tuhan!
Jingga duduk di tempat yang sama dengan orang yang sama. Berhubung Jingga tidak ada Biru dan Papi Biru, jadi mereka diam di sini. Sambil menunggu orang yang menjemputnya. Dia tidak enak kalau pulang sama seseorang yang tidak dia kenal sekarang. Dia juga tidak mengenal orang-orang yang bisa ia pintai tolong. Dia hanya bisa menelepon Mamanya dan dua sahabat gilanya. Tapi katanya Dewa mereka sedang berada di arena balap. Atau jangan-jangan, Biru juga tidak pulang karena ada di sana?
Astaga. Mengingat mereka ada di sana saja sudah membuatnya seolah kepalanya hampir pecah. Apalagi beneran dan mereka berantem memperebutkannya lagi?
Dengan cepat Jingga menelepon Dewa namun tak diangkat. Dia juga menghubungi Chiko namun sama saja. Lalu terakhir dia menghubungi Biru dan sama halnya yang lain tidak jawaban.
Haruskah ia minta tolong pada Aurora lagi?
Dia enggan. Karena dia tahu kalau Aurora akan sama saja. Dan mungkin saja akan mengabaikan telfon darinya?
“Kamu kenapa?” tanya Maminya Biru.
Jingga menggeleng. “Tidak apa-apa.”
“Kamu tunggu Biru pulang ya kalau mau pulang. Nanti pasti Biru anter kamu kok.”
Jingga mengangguk. “Iya, Tante.”
“Tante juga minta maaf sama kamu soal Putih. Nggak biasanya dia kayak gitu. Tapi kamu jangan benci Putih ya. Dia nggak akan kayak gitu terus kok. Nanti Tante bilangin ke Putih.”
Jingga hanya mengangguk saja. Dia juga sebenarnya tidak marah pada Putih. Itu wajar. Mungkin Putih sudah terlalu sayang sama Aurora makanya dengan kehadirannya di sini mungkin saja takut kalau Biru akan memilih Jingga daripada Aurora.
Tapi itu wajar bukan?
“Aku maklumi kok,” jawab Jingga tersenyum. Dia harus kuat karena tidak ada orang lemah akan menang begitu saja. Jingga harus bertahan demi dekat dengan Biru dengan caranya sendiri.
“Kamu sabar ya.”
“Iya,” sahut Jingga lalu kemudian tersenyum. “Tante, bisa tidak kalau Tante anterin aku ke suatu tempat?”
“Ke mana?” tanya Putih tiba-tiba keluar dari kamar.
“Ke arena balap.”
“Apa?!” pekik keduanya.
Ini yang dia takutkan. Kalau mereka tahu Biru juga ada di sana, bisa gawat.
“Iy-iya.”
“Di sana kamu ngapain? Bahaya!”
“Ak-aku, mau ketemu seseorang.”
•••
TBC.