Biru Butuh Jingga

696 Kata
Malam ini Aurora tengah berada di sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Rumahnya yang sepi itu mampu membuat Aurora harus mau tak mau ke taman untuk mencari inspirasi. Dia tengah mengerjakan tugas Putih. Cewek itu chat pada Aurora untuk minta tolong mengerjakan tugas-tugasnya. Sebenarnya ini bukan hal yang begitu sulit namun sendiri adalah hal yang tak diinginkan olehnya. Dia sangat membenci kesendirian. Dering ponsel membuat Aurora menoleh ke arah ponselnya yang ternyata panggilan dari seseorang. Dia adalah cowok yang bertemu dengannya beberapa jam yang lalu. “Kenapa?” tanya Aurora ketus. “Gue sibuk.” “Gue ada informasi buat lo.” “Informasi apa?” tanya Aurora mengernyit. Aneh. Dia saja baru tahu cowok itu tadi sore kenapa malah dia ada informasi buatnya yang dia kenal Aurora saja masih baru. “Cowok lo, Biru, ‘kan?” Kata-kata dari cowok dengan suara serak itu mampu membuat cewek yang memakai Hoodie mengernyit dan menegakkan tubuhnya. “Lo tahu Biru?” “Tentu. Dia sekarang ada di Arena Balap. Seperti saat lo sama Jingga ke sini. Tahu kan?” Tentu saja Aurora tahu. Raut wajah Aurora tiba-tiba saja berubah menjadi kekhawatiran. Dia malas kalau sudah bilang soal Biru karena dia benar-benar takut Biru kenapa-kenapa lagi. Tapi buat apa Biru di sana? Kan Jingga di rumah cowok itu. Dengan gerakan cepat, Aurora menyelesaikan pekerjaannya dan merapikan semua buku-bukunya lalu memesan taksi online. Sambil menunggu, Aurora terus-terusan menghubungi Biru namun laki-laki itu tidak mengangkat teleponnya sama sekali. Ah, kenapa bisa dia harus bersikap bodoh seperti ini? Biru kan sendirian mana bisa melawan banyak orang. ‘Banyak orang?’ Sebentar. Apakah Biru ada musuh di sekolah lain? Atau ini menyangkut soal Jingga lagi? Tapi Jingga ada di rumahnya Biru. Putih sendiri yang bilang lalu kenapa Biru bisa-bisanya terpancing oleh orang yang hanya memanfaatkan kelemahannya? Aurora tahu kelemahan Biru saat ini adalah Jingga. Namun Biru harus tahu karena banyak orang yang membencinya dengan memperalat Jingga. Ponselnya berdering lagi dan kali ini dari Jingga. Dengan cepat dia melihatnya namun ia pikir itu Biru malahan bukan. Dia adalah Jingga. Mungkin Jingga baru menyadari satu hal kalau Biru belum pulang juga. Ah, ya. Kekhawatiran di antara mereka sama. Aurora memilih untuk mengabaikan dering itu. Dia mencoba untuk bersikap seolah hanya Aurora yang bisa mengkhawatirkan Biru bukan Jingga yang sebatas teman masa kecilnya. “Pak, ke arena balap ya.” “Loh buat apa Neng? Emangnya ada pacar Neng di sana?” tanya bapak sopir taksi itu pada Aurora. “Udah pak ke sana aja. Saya buru-buru.” “Baik Neng.” Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, akhirnya dia sudah sampai dan berhenti di tempat Parkir. Dia risih dengan suasana malam ini karena sepertinya tidak ada perempuan yang berkeliaran di permainan laki-laki ini. Ah, memang. Hanya Aurora yang nekat demi Biru. “Biru di mana ya?” Aurora celingak-celinguk ke arah manapun demi bertemu dengan Biru. Tapi nihil di parkiran tidak ada tentu saja mungkin Biru sudah ada di dalam arena. Ah, menyebalkan sekali. Menghubungi orang yang meneleponnya tadi. Ah, ya, dia hampir melupakan itu. Namun setelah ditelefon malah tidak ada jawaban. Aneh sekali. “Kenapa nggak diangkat sih?!” kesal Aurora menatap ke arah parkiran. Namun beberapa detik ketika Aurora memutuskan untuk masuk ke dalam, Jingga keluar dari taksi sendirian. Jingga tahu Biru di sini atau mau menemui pacarnya? “Jingga? Lo ngapain di sini lagi? Nanti kalau lo kenapa-kenapa gimana?” tanya Aurora menghampiri Jingga. Bahkan sampai sekarang pun Jingga tak butuh itu semua. Yang ia pikirkan adalah Biru jangan adu jotos sama Dewa. “Mau ketemu Dewa sama Biru.” “Lo tahu Biru di sini dari siapa?” tanya Aurora lagi. “Dewa ke sini makanya Biru nggak pulang sampai malam berarti langsung ke sini. Tongkrongannya Biru kan cuma di sini. Jingga kenapa hapal soal itu? Apakah Jingga benar-benar tahu semua hal soal Biru sudah sebelum mereka bertemu? “Oh. Kalau gitu, Lo aja yang ke dalam. Gue tunggu diluar.” Jingga mengernyit. Kenapa jadi begini? Apakah ada masalah? “Loh kenapa? Lo kan pacar Biru.” ‘Gue tahu.’ Batin Aurora berkata dengan perasaan menggebu-gebu. “Dia butuh lo. Gue baik-baik aja.” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN