“Ngapain di sini sih?!” ketus Dewa ketika melihat Jingga ada i sini. Di arena balap antara Dewa dan Biru.
Dan anehnya, Jingga bersama Aurora. Bukankah Jingga ada di rumah Biru sejak tadi? Lalu apakah Aurora yang ada di rumah Biru juga?
“Nyamperin manusia bebal di depan gue.”
Dewa mendelik. Dia tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Jingga yang jelas dia sudah memenangkan pertandingan itu dan Biru kalah dari Dewa. Itu artinya, Biru tidak ada alasan lagi untuk menemui Jingga. Ya, walaupun orang tua mereka pasti masih ada cara agar mereka bersama. Tapi melihat Jingga yang menghindari Biru habis-habisan seolah memiliki celah untuk bersama lebih dari sekadar pacar pura-pura.
“Gue bisa pulang sendiri.”
“Terus gue pulang sama siapa dari rumah Biru? Lo mau gue harus boncengan sama Biru di saat gue mencoba lupain dia?!” sungut Jingga kesal. “Gue udah nyoba berbagai cara tapi gak ada satupun yang berhasil. Menurut lo emang gue yang belum rela atau memang takdr gue?!”
“Itu emang lo-nya aja masih ada perasaan gak rela. Coba deh lo lepasin dan ikhlasin Aurora masuk lagi ke hidup Biru. Ini belum terlambat!”
Benarkah? Apakah ini adalah alasan Dewa untuk mau membantunya? Kasihan pada Aurora? Apa Dewa suka Aurora?
Sebenarnya tidak masalah soal ini. Karena Aurora memang pantas untuk dicintai banyak orang termasuk sahabatnya sendiri.
Aurora baik dan dia mengakui itu.
“Lo suka Aurora ya?”
Pertanyaan dari Jingga, membuat Dewa yang menatap langit-langit malam menoleh cepat. Kenapa jadi berujung suka? Padahal di berkata seperti itu hanya karena takut Jingga jatuh semakin dalam pada perasaannya sendiri. Itu saja tidak ada yang lain.
“Ngawur lo!” balas Dewa. Naik ke atas motornya dan memakaikan helmnya.
Dewa memberikan helm satunya ke arah Jingga. “Nih pake!”
Jingga mengambilnya lalu memakinya. Kemudian dia naik ke atas motor bagian belakang milik Dewa.
Malam ini, Jingga menghabiskan waktunya bersama Dewa. Mulai makan di pinggir jalan, makan eskrim dan yang terakhir makan harum manis di dekat pasar malam. Hingga jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam mereka tiba di depan rumah Jingga.
“Thank you traktirannya. Gue tunggu traktiran selanjutnya.”
Jingga menepuk bahu Dewa dua kali.
Dewa hanya meliriknya. “Jadi orang nggak usah palsu. Giliran ada maunya sok manis.”
Cibiran dari Dewa membuat Jingga terkekeh. Bukannya tersindir, malah dia tersenyum geli. Sebenarnya sudah bukan hal yang begitu mengagetkan bagi Dewa kalau Jingga berubah manis padanya. Sudah pasti itu karena ada maunya.
“Lo pulang gih.”
“Lo ngusir gue?” seru Dewa mendelik.
“Emangnnya lo masih mau di sini? Besok juga bakal ketemu lagi. Jadi, jangan kangen.”
“Pede gila lo!”
Jingga terkekeh. “Ya udah sana pulang!”
***
“Makasih ya udah nganterin aku pulang.”
Biru hanya berdehem.
“Maaf ngerepotin.”
“Emang harusnya lo sadar dari tadi.”
Sahutan ketus dari Biru itu membuat Aurora yang semula menyunggingkan senyumnya menjadi mengurungkan niatnya untuk tersenyum ke arah Biru.
“Iya, maaf. Aku-“
“Udah, kan? Gue mau pulang.”
Biru menjalankan motornya lalu meninggalkan pekarangan rumah Aurora.
Gadis itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Biru ternyata berubah seratus delapan derajat lebih cepat dari dugaannya.
Padahal tadi Biru sedikit bersikap lebih manis dari sekarang. Tapi, itu tak masalah. Setidaknya Biru bisa membedakannya dan menyesuaikan keadaan sekitarnya.
“Selamat malam Biru.”
Kalimat terakhir sebelum Aurora menutup matanya dengan lampu kamar yang temaram malam ini.
***
Biru benar-benar masih tak percaya dengan jarak yang ada di antaranya dan Jingga. Dia tidak bodoh untuk ini. Dia benar-benar tidak bisa seperti ini dengan Jingga. Sahabat yang memang sudah sejak lama ia nantikan hadirnya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya mamanya ketika Biru dilihat sedang melamunkan sesuatu dan makanan yang ada di depannya dibiarkan begitu saja.
“Nggak apa-apa.”
“Bohong terus,” sahut Putih membuat laki-laki dengan hoodie abu-abunya mendelik.
“Anak kecil nggak usah ikut-ikutan.”
“Lah, kak Biru juga kayak anak kecil. Ada pacar malah nyariin sahabat yang nggak menganggap kak Biru sama sekali.”
Biru tahu gadis kecil di depannya ini mengatakan untuk siapa. Tentu saja, pasti Aurora sudah memberikan cap jelek Jingga pada Putih. Gadis itu!
“Nggak usah sok tahu!” sela Biru. “Aurora perempuan baik-baik.”
“Itu kan kata kak Biru. Kalau aku kan beda,” ucap Putih lagi.
Lain sisi, mama mereka pusing ketika melihat pertengkaran di antara mereka. Hanya soal pacar Biru atau sahabat Biru saja mereka bertengkar dengan pemahaman masing-masing. Tak ada satupun yang mau mengalah.
“Lo itu masih-“
“Udah stop! Kalian apa-apaan sih! Mama nyuruh kalian makan bukan bertengkar. Paham?!” sentak mama mereka membuat mereka yang sedari tadi bersitegang menjadi sibuk makan dan diam.
“Ma, Biru mau berangkat saja. Udah nggak nafsu lagi sama makanan ini.”
Biru berdiri dan salim tangan pada sang mama.
“Kamu mau ke mana? Belum makan loh kamu.”
“Makannya di kantin saja, Ma. Biru malas sama orang yang sok tahu tapi malah merasa benar.” Biru menyindir Putih. Sungguh! Dia malas sekali dengan orang yang menjelekkan orang baik seperti yang dilakukan oleh adiknya sendiri pada Jingga.
“Baperan.”
Tak menghiraukan apa yang disindir oleh Putih, Biru langsung pergi meninggalkan rumahnya dengan menaiki motor miliknya.
Dia sebenarnya tidak tahu mau ke mana karena tujuannya sekarang bukan sekolah langsung. Dia–masih tidak siap bertemu dengan Aurora di waktu yang sepagi ini. Dia tidak bisa. Perasaannya saat semalam Aurora menghampirinya saja sudah membuatnya jengkel apalagi harus bertemu dengannya di kelasnya.
Dia yakin Aurora akan tetap ke kelasnya seperti biasa.
Motornya melaju menembus jalanan kota ini dengan cepat. Jalanan sudah mulai padat di daerah ini. Sudah banyak kendaraan yang melintasi jalan ini untuk pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Motor Biru berhenti ketika melihat seorang gadis berpakaian lengkap tengah dipasangkan helm oleh pria dengan seragam yang berbeda dengan yang dipakai oleh gadis itu. Dari arah samping dan belakang, Biru mengenal siapa sosok itu. Gadis itu adalah Aurora.
Dia kenal dengan gaya berpakaiannya yang tertutup dengan rok yang dipakai sebatas lutut, jaket denim dan rambut digerai dengan jepit rambut sebagai pemanis. Jangan lupakan tas yang dibelikan oleh Biru beberapa bulan lalu sebagai kado monthsarry mereka yang ke lima bulan.
Sial. Kenapa bisa Aurora dengan cowok? Baru tidak dianggap seminggu saja sikap Aurora sudah mau jadi jalang di mana-mana.
Tanpa menghampiri mereka, Biru melajukan motornya ke arah sekolah dan menunggu Aurora tiba di sana. Sebelumnya, dia sudah mengiriminya pesan pada Aurora untuk menemuinya di gudang sekolah.
Sepuluh menit setelah itu, Aurora datang dan menyunggingkan senyumnya ke arah Biru. Namun Biru sudah terlanjur marah padanya.
Biasanya Biru akan luluh dengan senyuman yang diperlihatkan oleh Aurora pada cowok itu. Tapi kali ini, amarahnya yang menggebu mengalahkan semuanya.
“Hai.” Aurora menyapa Biru dan menutup pintu gudang membuat Aurora terkejut ketika Biru memukul keras dan menendang kursi yang ada di dekatnya.
“Biru? Ad-ada apa?” tanya Aurora takut-takut.
“Sudah berapa lama kau jadi jalang?”
•••
TBC!