Aurora berdiri di pinggir jalan untuk menunggu Angkot lewat dan membawanya pergi ke sekolah. Namun setelah beberapa lama menunggu, tak ada satu angkotpun yang masih bisa mengisi dirinya. Semuanya penuh dan Aurora hampir putus asa dan memilih untuk jalan kaki saja ke sekolah. Toh, takkan ada yang tahu juga rumahnya di mana dan alasannya jalan kaki. Setelah beberapa langkah ia pergi menjauh dari tempatnya tadi, tiba-tiba ada seseorang yang menghentikan langkahnya dengan menghadang di depanny dengan motor. “Lo sendiri? Kenapa nggak sama Biru?” tanya laki-laki memaki helm fullface itu. Aurora tahu dia siapa namun dia seolah tak tahu menahu saja soal ini. Lagipula, ngapain juga? Kalau Biru tahu dia bisa diamuk.
“Gue mau jalan sendiri aja emang.”
“Kalau gitu lo gue anter.”
“Nggak usah.”
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Takut cowok lo marah sama gue?” Aurora tak menggubrisnya. “Lo nggak usah sok tahu. Minggir!”
“Gue lagi nanya loh ini. Lo tega banget sama gue!”
Decakan dari orang itu membuat Aurora menghela napas kasar. Ia maju satu langkah menghampiri cowok itu dengan tatapan malasnya.
“Mau lo apa sih?” tanya Aurora kesal.
“Gue lagi buru-buru!”
“Ya gue mau nganter lo ke sekolah.”
“Gue gak butuh itu.”
“Tapi gue maksa.”
“Gak akan mempan buat gue. Paham?” tanya Aurora mendelik. “Sekarang lo minggir dan biarin gue jalan kaki. Sendirian.”
“Tapi gue nggak akan pernah izinin lo.”
“Lo siapa? Berhak banget ngatur gue?” tanya Aurora yang mulai kesal dengan tingkah yang tak sama sekali Aurora suka dari cowok itu.
“Gue Chiko.”
“Gue nggak nanya nama lo. Minggir!”
“Gue udah bilang kan sama lo, gue yang anterin lo. Nurut kek jadi cewek.”
Chiko turun dari motornya lalu menarik tangan Aurora untuk mendekat ke arah motornya. Chiko memasangkan helm untuk Aurora dan memberikan hoodienya untuk menutupi pahanya agar tak terlihat saat naik ke atas motor.
Aurora terhenyak. Kenapa dia bisa-bisa nurut seperti ini pada cowok yang bernama Chiko ini?
Tunggu, seingatnya, dia sahabat jingga. Tapi kenapa dia baik padanya? Apa ini karena Jingga yang pacaran sama Dewa-sahabat Jingga yang lain? Aurora naik ke jok belakang motor merah milik Chiko. Dengan tangannya yang memegang ke tas Chiko.
Chiko tersenyum tipis ke arah spionnya dibalik helm itu. Dia-bahagia.
Tentu saja. “Pegangannya meluk juga nggak apa-apa kali.”
Aurora dengan refleks memukul bahu Chiko.
“Gue milik orang.”
“Siapa yang peduli? Selama belum nikah, sah-sah aja kan?”
***
Aurora turun dari motor Chiko setelah motor itu berhenti di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi milik SMA miliknya. “Thanks.”
“Besok gue harap kita ketemu lagi dan–“ “Gue harap lo bisa paham kalau gue sudah punya cowok.”
“Dan cowok yang lo maksud adalah orang yang suka sama Jingga.”
Aurora terdiam. Dia benar, tapi bagaimanapun juga Aurora adalah pacarnya.
“Tapi gue pacarnya.”
“Tapi Biru nggak anggap lo ada. Gue yang akan gantiin posisi dia di hati lo.”
Aurora terkekeh. “Jangan harap. Gue sukanya sama Biru bukan lo.”
“Terus–“
“Udahlah, gue malas sama lo.”
Aurora meninggalkan Chiko sendirian dengan otak yang masih menerawang soal kenapa Aurora menjadi gadis yang galak dan ketus seperti itu.
Malam itu, Chiko dekat Jingga dan Aurora dengan sosok yang berbeda. Tak semanis sekarang. Dan Aurora itu orangnya lembut.
Satu buah pesan masuk membuat Aurora terkejut dan menghentikan langkahnya.
•••
Biru: Ke gudang sekarang!
Tiga kata yang membuat Aurora buru-buru pergi dari sana. Dan menemui Biru di gudang sekolah.
Krekk..
Pintu itu didorong kuat oleh Aurora dan mendapati Biru yang membelakanginya. Tangannya terlihat mengepal kuat. Dia tidak tahu ada apa. Yang pasti, Biru seperti marah sekali padanya. Ah, memangnya dia kenapa?
"Biru..."
Biru menoleh ke arah Aurora dan menendang bangku rusak di sampingnya itu dengan dorongan yang begitu kuat hingga terbalik.
Aurora bergetar. Dia benar-benar takut. Dia tidak pernah melihat aura kemarahan di diri Biru selama ini. Namun kali ini, di depan matanya sendiri, Biru marah dan menampakkan dirinya yang sebenarnya.
"Sudah sejak kapan lo jadi jalang?" tanya Biru tajam dan menusuk.
Aurora mengernyit. Tak memahami maksud dari ucapan Biru barusan. "Apa maksud kamu?"
"Nggak usah sok suci lo!"
Aurora tak mengerti. Dia masih seperti seseorang yang tak tahu arah dan tak mengerti apa-apa.
"Apa maksud kamu?" tanya Aurora lagi.
"Lo–" Biru menghela napasnya kasar.
Menghampiri Aurora yang berdiri ketakutan di sana. Aurora benar-benar seperti orang gila. Dan dituduh gila.
Jarak mereka sudah dekat hanya berjarak satu jengkal tangan anak kecil. Dan itu membuat Aurora refleks mundur dan Biru maju hingga punggung Aurora mentok pada tembok dekat pintu gudang.
Sial. Biru sudah menutup keras pintu itu membuat Aurora terkejut bukan main.
"Lo pergi sama siapa ke sekolah hari ini?" tanya Biru cepat. Mulutnya mengatup rapat menahan emosi yang membuncah dan menggebu di dadanya.
"Sama ..."
"Jawab!" Bentak Biru semakin marah ketika Aurora menjawabnya dengan rasa gugup yang menjalar di dirinya.
"Lo berani ya khianati gue? Lo berani main api di belakang gue? Atau lo emang mau kita selesai? Lo sengaja, hah?!"
"Biru! Kamu itu kenapa sih! Aku tidak sama sekali sedang berbohong padamu apalagi main api di belakang-"
"Bohong! Yang gue lihat tadi apa hah? Lo mau ngelak apalagi?"
Tunggu! Biru tahu kalau dia bersama Chiko? Kenapa Biru tidak menghampirinya?
"Aku sudah mau menolak, Biru. Tapi dia-"
"Nolak? Lo bilang udah nolak? Mana ada orang nolak tetap ikut dan meluk perut cowok lain hah?!" Marah Biru membuat Aurora yang sejak tadi menundukkan kepalanya menjadi semakin menunduk dan tak berani menatap ke arah Biru.
"Liat gue! Bodoh!"
"Kenapa lo nggak liat gue? Nggak bisa atau emang lo takut ketahuan?" tanya Biru melemah.
Biru mencekeram tangan Aurora. "Tatap gue!"
Aurora meringis menahan sakit ketika tangan Biru mencekeram kuat tangannya membuat Aurora harus bisa menahan isakan tangisnya. Air matanya sudah merembes dan meluncur bebas dari pelupuk matanya.
"Ma-maaf."
"Gue nggak butuh maaf lo. Gue mau lo tatap gue!"
Aurora mendongak. "Maaf."
"Basi."
Biru beralih mencekeram kedua bahu Aurora dengan keras. Dalam dan kejam.
Aurora meringis. "Sa-sakit."
"Emang itu yang gue mau. Lo tahu rasanya sakit dan lo tetap ngeyel jadi orang. Mau lo apa hah?!"
"Aku nggak mau apa-apa, Biru. Aku maunya kamu–"
"Aku apa?" tantang Biru. "Mencintai lo? Lo bahkan udah tahu apa jawabannya. Gue suka Jingga!"
"Aku tahu." Menghapus air matanya. "Tapi bisa kan kamu kasih aku celah dikit aja buat melakukan apa yang harus aku lakukan? Aku mau kamu bersikap layaknya kamu pacar aku."
Biru mendengus. "Gitu? Nggak usah mimpi lo."
Biru melepaskan cengkeramannya dari bahu Aurora. "Gue nggak akan melepaskan lo sama siapa pun. Dan gue nggak akan pernah berhenti juga buat yakinin Jingga."
"Dan aku juga nggak akan nyerah buat menjadi yang terbaik versi aku buat kamu."
"Mimpi lo!"
Setelah itu Biru keluar dari gudang bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
Di dalam, Aurora menangis sejadi-jadinya. Dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayang lagi untuk kesekian kalinya. Cukup dia kehilangan kakaknya dan dia tidak mau kehilangan orang yang sudah menjadi alasan Aurora bertahan di dunia ini.
"Kamu kuat Aurora!"
•••
TBC!