Aurora masih tetap ada di gudang itu. Menangis sejadi-jadinya dengan beberapa bulir air mata yang menjadi saksi betapa rapuhnya dia.
Hingga jam istirahat berbunyi membuat Aurora mendongakkan kepalanya. Merapikan penampilannya dan siap untuk keluar dari sana. Namun pintu itu tiba-tiba didorong dari luar membuat Aurora kaget dan takut.
"Masih di sini?"
Itu Biru. Ternyata cowok itu kembali lagi ke sini. Apa dia mengkhawatirkan dirinya? Tapi bagaimana mungkin dia khawatir padanya setelah apa yang sudah dia lakukan? Ah, rasanya itu tidak mungkin.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aurora cepat.
Biru duduk di sebelahnya. Mengeluarkan bungkus rokok dan korek yang ada di sakunya dan menyalakan rokok itu hingga mengepul di udara.
"Rokok."
"Sejak kapan kamu rokok kayak gini?" tanya Aurora tak percaya. "Kamu jangan biasakan kayak gini. Aku sayang sama kamu jadi kamu juga harus sayang sama tubuh kamu."
"Nggak usah ngajarin gue."
"Ta-"
"Berisik!"
Diam. Keduanya saling diam namun Maya Aurora masih tetap menghadap ke arah Biru yang sudah membakar rokok keduanya.
"Biru! Udah cukup!"
"Diem lo!"
"Tapi–"
"Bisa diem?"
Akhirnya, Aurora diam saja. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aurora benar-benar sudah tak mengenal Biru yang urakan, pembangkang dan liar seperti sekarang. Seberharga itukah kehadiran Jingga di hidup Aurora?
"Kamu kayak gini karena Jingga ya?" Tanya Aurora memberanikan diri bertanya kepada Biru.
Biru menoleh. Mengepulkan asap dari rokok yang ia sesap ke depan Aurora membuat cewek itu terbatuk.
"Bukan urusan lo."
"Biru! Sampai kapan sih kamu mau kayak gini sama aku? Aku ini pacar kamu loh."
"Terus? Lo berhak atas gue? Lo bukan Mami!"
"Tapi seenggaknya kamu nurut apa yang terbaik buat kamu."
"Yang terbaik bagi lo bukan yang terbaik bagi gue."
Aurora diam. Dia benar-benar tak percaya semenyeramkan ini ternyata jatuh cinta pada orang yang ternyata belum sepenuhnya merelakan masa lalunya dan melupakan kenangan itu.
"Tapi mami kamu pasti sedih liat kamu kayak gini," ucap Aurora lagi.
Sedih? Biru terkekeh. Dia baru tahu kalau maminya akan sedih melihat ini. Bukannya maminya hanya ingin apa yang terbaik untuk Putih? Semenjak beberapa minggu yang lalu di mana dia tahu satu hal yang membuat batinnya terluka dia sudah merasakan mati rasa pada kasih sayang maminya itu. Dia tidak tahu tapi rasanya semuanya basi dan semua kenangan indah itu hilang begitu saja.
Aurora menatap manik mata Biru. Biru sedang hancur?
Terakhir mereka merasakan bahagia itu saat memilih kado untuk putih dan malam di mana perayaan ulang tahun Putih, adiknya Biru. Saat itu semuanya terasa begitu indah dan ingin sekali Aurora kembalikan waktu itu.
Tapi bisakah semua kenangan itu kembali hadir di hidupnya? Kenapa hidupnya semenyedihkan ini?
Kenapa rasanya hidupnya tak pernah bahagia sampai akhir cerita cinta yang dibuat sang penulis untuk melengkapi kisah cinta semanis gulali?
"Biru? Kamu sudah makan? Kita makan yuk!" Ajak Aurora membuat Biru menggeleng.
"Gue kenyang."
"Tapi kata putih kamu ngga makan loh tadi. Kenapa?" Tanya Aurora lagi. Tadi Putih-adik Biru menelponnya saat Aurora ada di jalan bersama Chiko.
"Gue nggak laper."
"Tap–"
"Jangan maksa tolong ya!"
Aurora mengangguk pasrah. Ia pasrah dengan keadaan yang tak sama sekali memberinya izin untuk bahagia sebentar saja.
"Yuk makan!"
•••
TBC!