Bersama Biru

1023 Kata
"Nih makan!" Jingga memberikan nasi goreng pada Dewa. Cowok itu hanya mendengus. "Lo mau nyogok gue?" "Dih, pede lu!" Jingga berujar dengan ketus. Siapa juga yang mau nyogok? Hih, dasar! "Udah basi tahu nggak lo nyogok gue kayak gini." "Gue lagi nggak nyogok lo!" "Terus? Ini apa?" "Itu bukan sogokan tahu! gue itu lagi kasihan sama lo. Lo itu udah cungkring, nggak ada yang merhatiin, masa iya gue sebagai sahabat lo kayak gini tega bikin lu tersiksa seperti ini?" "k*****t emang lu!" Dewa mendengus mengambil makanan dari tangan Jingga dan memakannya. Lumayan juga. di lain sisi Aurora berjalan ke arah kantin untuk membeli kan Biru makanan. Biru kini masih ada di dalam gudang dan Aurora pergi keluar hanya untuk membelikan makanan untuk Biru. Biru sepertinya sedang memikirkan sesuatu. susahlah Aurora juga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan yang jelas biru sepertinya setengah rapuh dengan keadaannya. Soal menanyakan ada apa Aurora rasa itu bukan ranahnya. "Bu, nasi goreng dua ya. Dibungkus." Aurora tersenyum setelah mengatakan apa yang akan ia berpesan kepada ibu kantin. Aurora pergi duduk untuk menunggu makanannya siap. Tidak ada bangku kosong di sini yang ada hanya Jingga dan Dewa yang tengah memakan makanan yang ia pesan. "Aurora?!" Jingga terkejut ketika Aurora menghampirinya dan Dewa di saat mereka Tengah menikmati makanan yang mereka pesan. "Hai. Gue mau numpang duduk doang." Jingga mengangguk. "Silakan." Aurora duduk di samping Jingga dengan Dewa yang ada di seberang mereka. "Lo mau beli makanan juga?" Aurora mengangguk. "Buat Biru." "Biru? Emangnya Biru ke mana?" "Biru lagi sakit. dia tadi pagi nggak makan sama sekali makanya aku belikan makanan sekarang." "Ah, begitu. Kau-kenapa tidak masuk kelas tadi?" Ah iya. Hampir saja dia lupa kalau tasnya masih di gudang. "Gue kira lo gak masuk." "Gue di gudang." "Gudang. Ngapain?" tanya Aurora. "Niatnya gue cuma mau ngerjain tugas eh taunya ketiduran ya udah bolos." "Begitu? Lain kali kalau lu mau izin bisa minta tolong ke gue aja." Aurora mengangguk bersamaan dengan pesanannya selesai dibuat. Berpamitan pada Jingga dan Dewa lalu meninggalkan kantin dan menemui Biru di gudang. Selama menyusuri koridor sekolah menuju gudang ia tak sengaja melihat teman-teman Biru yang ramai bertanya perihal keberadaan Biru. Aurora tak berniat untuk memberitahunya. Mungkin saja Biru tengah tidak mau diganggu oleh siapapun. Biru mungkin tengah menenangkan diri dan tidak mau orang lain mengganggu waktunya. "Aurora!" panggilan dari teman biru membuat Aurora yang berjalan cepat ke arah koridor kosong itu berhenti. Aurora menoleh ke belakang. "Kenapa?" "Lo mau ke mana?" "Ke-belakang." "Ngapain?" "Makanlah." "Kenapa ga di kantin?" tanyanya lagi. Sial. Kenapa dia harus keceplosan seperti ini? "Lagi pengen suasana baru." cepat-cepat Aurora pergi meninggalkan mereka tanpa harus menatap mereka lagi ke belakang. Sial. Kalau seperti ini terus dia bisa tahu kalau Biru tengah ada di gudang bersamanya. Aurora membuka pintu gudang dengan Biru yang terlihat tengah merentangkan tangannya dan menempelkan punggungnya di lantai. Jika dipikir-pikir kasihan juga biru. dia pasti memikirkan yang aneh-aneh tentang apa yang dia lihat antara Aurora dan Chiko. "Biru! Bangun dulu. Kita makan dulu." Biru bangun dari tidurnya. mulai membuka matanya walaupun hanya sedikit sepertinya matanya masih begitu berat. Apa memang semalam biru tidak tidur? "Nih aku beliin nasi goreng buat kamu." Aurora memberikan satu kotak nasi goreng beserta air mineral ke arah Biru. "Bisa makan sendiri kan?" Biru mendengus. "Lo pikir gue nggak ada tangan?" Aurora terkekeh. Niatnya hanya bercanda, malah dianggap serius oleh cowok dengan seragam putih yang bagian bawahnya sudah ada di luar. Dasinya ia ikat di kepala dengan sabuk yang iya biarkan di lantai begitu saja. "Urakan." Komentar dari Aurora membuat biru yang tengah menikmati makanannya menoleh ke arah cewek itu. "Makanya lu rapiin dong." "Itu kode atau emang perintah?" tanya Aurora menggoda Biru. "Menurut lo gimana?" Aurora menggeleng. "Nggak tahu." "Itu sebuah perintah Aurora. paham gak sih?! punya cewek dodol banget sih!" "Terus kalau aku dodol, kamu apa?" "Berani ya ngatain gue?" Seketika itu Aurora tergagap. Dia tak berniat untuk mengatai Biru namun jadi salah paham seperti ini. "Sorry." Mereka sama-sama sibuk dengan makanannya masing-masing. Beberapa menit kemudian, Aurora telah selesai dengan makanannya lalu minum air mineral yang telah ia beli tadi di kantin. "Bel masuk mau bunyi. Kita ke kelas aja ya!" pinta Aurora. "Sini aku bantu kamu rapiin seragamnya." Biru menurut. Dia pikir ini memang harusnya yang dilakukan oleh Aurora meski perasaan Biru saja tak tahu akan berlabuh pada siapa. Jingga atau Aurora? Setelah Biru memasukkan seragam bagian bawahnya ke dalam celana, Aurora membantu memasangkan sabuk dan dasi Biru dengan rapi. "Selesai." Aurora tersenyum setelah melakukan pekerjaannya dengan baik. lalu ia membereskan beberapa buku-buku yang ia keluarkan sejak tadi untuk belajar karena sehabis bel masuk akan ada kuis dan ulangan matematika di kelasnya. "Aku ke kelas dulu ya." Aurora pamit pada biru membuat biru yang tengah berada di hadapan Aurora refleks mengangguk. "Belajar yang bener jangan main api!" Peringat Biru sebelum Aurora benar-benar pergi dari hadapannya. "Siapa sih yang main api? Aku sama dia itu–we just friend." "Alasan!" "Sumpah!" "Hilih. Sana cepat pergi!" Aurora mengangguk. "Iya. Selamat belajar Mas Biru." Aurora meninggalkan gudang dan biru sendirian di sana. Ia berjalan pergi meninggalkan gudang dan masuk ke dalam kelas. Dan benar saja baru saja ia masuk kelas, bel masuk sudah berbunyi. Untung saja dia sempat belajar sedikit tadi. Kalau tidak, sudah pasti Aurora tidak bisa menjawab apapun yang ditanyakan guru hari ini. Ah, bodoh sekali kalau begitu. Jingga menghampiri Aurora yang masih terbengong ditempat duduknya. "Lo udah belajar kan?" tanya Jingga hati-hati. "Ya gue udah belajar semua kok." "Syukur deh. Semangat ya!" Jingga tersenyum kearah Aurora lalu pergi meninggalkan cewek itu sendirian untuk mengumpulkan buku tugas miliknya dan Dewa ke depan kelas. "Aurora! Mana tugasmu!" Naura mengangguk lalu menghampiri guru itu dan memberikan hasil kerjanya kepada guru paruh baya itu ke depan kelas. "Ini pak." "Kamu bapak lihat kamu tidak ada di kelas pagi ini. Kamu ada di mana?" tanya guru itu menatap nanar ke arah Aurora. "Saya ada di UKS, pak. Kebetulan saya sedang tidak enak badan tadi." "Oh ya udah. Sekarang kamu sudah mendingan kan? Bisa ikut kuis kan hari ini?" tanyanya lagi. Aurora mengangguk. "Bisa Pak." ••• TBC!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN