Brukkk...
Tanpa sengaja, Aurora menabrak bahu seseorang membuat seseorang yang dia tabrak tubuhnya limbung ke lantai dingin rumah sakit.
“Eh, sorry,” ucap Aurora meminta maaf membantu seseorang itu kembali berdiri. “Gue gak sengaja. Maaf, ya.”
“Gak apa-apa. Gue juga gak liat-liat jalan soalnya tadi.” Gadis itu tersenyum dengan wajah pucatnya yang terlihat seperti mayat hidup. Bibirnya memutih seperti orang yang memang memiliki penyakit yang parah.
“Lo sakit?” tanya Aurora tiba-tiba. “Sorry, lancang ya?”
Gadis itu menggeleng lalu tersenyum. “Enggak kok. Udah kelihatan dari wajah aku yang pucat. Siapa pun itu juga bakal mikir gue sakit.”
Aurora mengangguk kikuk. “Gue Aurora. Lo siapa?”
“Jingga.”
“Lo ke sini mau ngapain?”
“Mau berobat,” ucap Jingga. “Gue duluan ya.”
Jingga pergi meninggalkan Aurora sendirian di lorong. Hingga pada langkah ketiganya, suara dari Aurora membuat Jingga berhenti.
“Gue temenin lo, ya,” tawar Aurora membuat Jingga menggeleng.
“Gak apa-apa. Gue bisa sendiri. Kalau kita mau ketemu 2 jam lagi gue tunggu lo di sini.” Setelah mengucapkan itu, Jingga melangkah pergi hingga punggungnya hilang dari belokan rumah sakit.
Aurora menatap punggung lelah itu dalam diam. Ternyata dia masih dikatakan beruntung masih bisa hidup dengan sehat tanpa sedikitpun rasa sakit. Setidaknya, nikmat inilah yang diberikan oleh Tuhan untuknya.
Sudah jam tujuh malam. Aurora menunggu Jingga yang berjanji akan menemuinya lagi setelah 2 jam. Namun sekarang sudah lewat dari 2 jam dan Jingga belum datang. Ke mana sebenarnya perempuan itu?
“Lo baik-baik aja kan?”
Beberapa menit kemudian, Jingga datang dengan membawa kantong obat yang dia bawa di tangan kirinya.
“Sorry , lama ya.”
“Enggak kok,” jawab Aurora. “Gue kira lo udah pulang.”
“Sorry, tadi drop sebentar.”
“Drop? Lo sakit apa emang?” tanya Aurora penasaran.
Jingga tersenyum. Bukan saatnya semua orang tahu tentang penyakitnya. Dia hanya tidak ingin membuat semua orang mengasihani dirinya yang penyakitan. Dia harus bisa bangkit, menjalani hidup layaknya seseorang yang sehat. Mengeluh bukan caranya bertahan hidup.
“Sakit—biasa,” jawab Jingga berbohong.
“Lo yakin?” Aurora ragu ini akan baik-baik saja. Tapi entah mengapa Aurora merasa Jingga tengah membohonginya.
Jingga mengangguk. “Iya, lo tenang aja.”
Air mata Aurora terjatuh ketika mengingat betapa rapuhnya Jingga.
Tadi pagi niatnya Aurora hanya ingin memberitahukan pada Jingga soal ulangan mendadak untuk besok. Tapi matanya tak sengaja melihat kertas putih yang terjatuh dari dalam tas milik Jingga.
Ketika Aurora ingin mengembalikannya, tiba-tiba saja tangannya membuka kertas itu dan betapa terkejutnya dia atas apa apa yang ada ada di kertas itu.
Kertas putih seperti keterangan dari dokter menyatakan bahwa Jingga tengah menderita penyakit gagal ginjal yang mengharuskan Jingga Untuk cuci darah setiap 2 minggu sekali.
Hati Arora begitu hancur. Dia tidak tahu menahu soal ini namun pada kenyataannya, tinggal lebih jauh tersiksa daripada Aurora yang harus merelakan biru untuk dekat dengan sahabatnya sendiri sekaligus yang disukai oleh pacarnya sendiri.
"Sorry Jingga, gue nggak tahu soal ini."
Aurora berujar dengan lemah. Kertas itu masih ada di tangannya dan untungnya seisi kelas tidak ada di ruangan ini hanya ada dirinya dan kertas yang ada di tangannya itu. Sebagai saksi bisu seorang teman yang tahu tentang kenyataan hidup temannya sendiri.
Cepat-cepat Aurora merapikan kembali kertas itu lalu menyeka air matanya sendiri. Biru pasti belum tahu soal ini. Dan dia yakin juga bahwa Jingga melakukan ini hanya sekadar Biru tidak tahu soal penyakitnya.
"Sorry, Jingga. I don't know about this. I am sorry."
•••
Jika terkejut melihat Aurora yang tiba-tiba memeluknya erat.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak 5 menit yang lalu. Namun keduanya enggan untuk pulang apalagi Aurora yang memeluknya secara tiba-tiba dan menangis di pelukannya.
"Kenapa sih? Ada apa? Cerita dong dong Ini gue yang bingung loh ini."
Aurora tersenyum masam mencoba untuk menyunggingkan senyumnya namun hatinya benar-benar tidak bisa.
"Sorry. I don't know about you."
"Udah 5 kali loh lu minta maaf sama gue hari ini. Sebenarnya Kenapa sih? Apa yang lu tahu hari ini?" tanyanya lagi.
"Sorry."
"Aurora please! Gue bener-bener nggak ngerti maksud lo itu apa. Tolong jangan kayak gini."
"Gue udah tahu sekarang Jingga!"
Tahu? Apa maksud Aurora ini? Kenapa dia menangis dan meminta maaf padanya terus menerus?
"Lo itu tau apa sih?" tanyanya lagi.
"Gue udah tahu soal–"
"Soal apa?" tanya Jingga mendesak Aurora.
"Soal–"
"Kenapa lo selalu ke rumah sakit."
Deg. Dalam hati Jingga bukan soal tahu dari mana hanya saja di dalam hatinya muncul pertanyaan, Apakah biru tahu itu?
"Lu udah tahu ternyata."
"Dan lo jahat."
"Lo tau dari mana sih?"
"Kertas putih yang ada di tas lo."
Jingga hanya beroh ria. Dia lupa kalau kertas itu masih dia simpan di tasnya dan belum ia pindah ke kotak di kamarnya.
"Aurora!" Panggil Jingga. Menatap manik mata milik Arora dengan lekat.
"Kenapa?"
"Gue boleh minta tolong sesuatu nggak?" tanyanya lagi.
"Boleh. Mau minta tolong apa?"
"Rahasiakan ini dari Biru ya!"
•••
TBC!