PROLOG

221 Kata
“Pagi sayang,” sapa seorang perempuan paruh baya sambil membuka hordeng kamar milik perempuan yang kini tengah berbaring di tempat tidur dengan selang infus yang ada di tangannya. “Pagi, Ma.” “Makan dulu, yuk!” Wanita itu sudah membawa semangkok bubur untuknya. Meskipun rasanya hambar, tapi ini wajib disyukuri. Dia masih bisa merasakan makanan buatan mamanya daripada dia berada di rumah sakit dengan makanan yang berbau obat. “Nanti malam Mama jadi kan ke acara keluarganya dia?” tanya gadis bersurai hitam itu menatap lekat mata sang Mama. Dewi tersenyum. “Iya, jadi. Tapi Jingga gak bisa ikut.” Jingga Reula. Gadis itu hanya mengangguk paham. Sudah beberapa minggu ini dia tidak bisa masuk sekolah karena sakitnya yang tak kunjung sembuh. Penyakit yang harus mematahkan impiannya. Jingga mengerti. Penyakitnya ini yang menjadi penghalang baginya untuk menemui seseorang yang sudah lama dia ingin temui. “Besok jadwalnya cuci darah. Baru habis itu kamu masuk sekolah ya.” Jingga hanya mengangguk. Seenggaknya dia bisa menemuinya nanti saat dirinya benar-benar sembuh dan terlihat baik-baik saja. Setidaknya ini lebih baik daripada dia tahu penyakitnya dan merasa kasihan padanya. Dia tidak suka dikasihani. “Sampaikan salam aku buat dia, Mah.” "Tentu saja. Akan Mama sampaikan. Istirahat ya." Jingga tersenyum menatap ke arah Mamanya dan memeluknya erat. Aku kangen kamu teman kecil. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN