"Kita mau ke mana?" tanya seorang gadis cantik dengan pakaian SMA berjalan di samping cowok memakai hoodie hitam bermerek store terkenal di negara ini.
Biru Atmajaya. Laki-laki itu berjalan beriringan dengan Aurora Sabrina. Gadis itu adalah kekasihnya sejak beberapa bulan yang lalu. Gadis ceria yang mampu membuat Biru kembali jatuh cinta setelah sekian lama menutupi luka oleh sang masa lalu.
Biru pernah jatuh cinta. Tetapi rasanya, jatuh cinta pertama kalinya itu benar-benar tidak membuatnya bahagia.
"Beli kado buat Putih."
"Putih? Adik kamu ulang tahun?" tanya Aurora berjalan mundur di depan Biru.
"Awas nabrak," peringat Biru menarik tangan Aurora dan mendekapnya ketika cewek itu hampir saja menabrak sebuah tiang di parkiran Mall ini.
"Ceroboh!" Biru melepas dekapannya dan berjalan mendahului Aurora.
Gadis itu hanya mematung. Benarkah itu Biru yang memeluknya? Kenapa rasanya jantungnya tak bisa diam? Aurora menggigit bibir tipisnya pelan.
"Ayo!" Biru menarik tangan Aurora untuk cepat berjalan masuk ke dalam Mall.
"Mau beli apa?" tanya Aurora melihat ke arah sekitar. "Putih suka apa?"
Biru terlihat berpikir. Dia bahkan tidak tahu kesukaan Putih. Karena setiap Biru memberikan sesuatu pada adiknya, gadis itu bahkan tidak pernah menolak.
“Aku gak tahu dia suka apa, karena dia gak pernah bilang dia gak suka kalau aku kasih sesuatu,” jawab Biru pada Aurora.
“Gitu, ya?”
Aurora berjalan mengitari Mall sambil melihat sekeliling. Dan matanya bertemu pada sesuatu barang yang mungkin di sukai oleh semua gadis perempuan di hari ulang tahunnya.
“Kayaknya aku tahu dia suka apa,” ujar Aurora menarik tangan Biru.
Cowok itu hanya menurut saja. Lalu mereka memasuki sebuah toko pernak-pernik perempuan. Mulai dari anting, kalung, tas sampai sepatu.
Toko bermerek terkenal itu sangat ramai diminati oleh semua gadis usia seperti Putih.
“Mbak, bisa lihat model gelang di toko ini?” ujar Aurora pada seorang pelayanan wanita di toko itu. Biru berdiri di belakangnya.
“Tunggu sebentar ya, Dek,” ucap pelayan itu lalu pergi.
Beberapa detik kemudian pelayan itu datang sambil membawa beberapa model gelang ditangannya. “Nah, ini beberapa model yang sering soldout di toko kami.”
Pelayan itu memberikan beberapa model-model gelang. Aurora melihatnya. Banyak model di sana namun matanya tetap tertuju pada model gelang berwarna putih dengan rantai berbentuk Mickey mouse. Setahu Aurora, Putih sangat menyukai kartun itu. Jadi tidak ada salahnya jika gelang berbentuk kartun kesukaannya itu dia berikan sebagai hadiah darinya dan Biru.
“Kayaknya ini bagus deh,” ucap Aurora memperlihatkan gelang itu pada Biru.
“Bagus. Beli aja.” Belum sempat Biru mengeluarkan kartu kreditnya pada pelayan itu, Aurora sudah lebih dulu memberikan kartu kreditnya pada pelayan.
“Pakai kartu aku aja.”
“Loh, gak bisa gitu dong sayang. Putih kan Adik aku.”
“Iya, memang. Tapi adik kamu udah aku anggap adik aku juga,” ujar Aurora lembut mengelus punggung tangan cowok itu.
•••
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga...”
“Sekarang juga...”
Putih meniup lilin berbentuk angka satu dan lima itu dan beberapa lilin kecil lainnya. Tak lupa, gadis remaja itu juga memanjatkan doa sebelum lilinnya benar-benar dia tiup.
“Happy Birthday, sayang,” bisik Mamanya yang berada di samping kirinya. Mengecup lama kening Putih dengan sayang. “semoga tahun ini kamu menjadi pribadi yang lebih baik ya, cantik, anaknya Mama.”
“Terima kasih, Mah.”
“Happy Birthday, Putih anak Papa Arya.” Arya Atmajaya —Orang tua Biru dan Putih tersenyum ke arah Putih yang terlihat berkaca-kaca. “Semoga tetap menjadi kebanggaan Mamah Papah ya, Nak.”
“Terima kasih, Pah.”
Biru yang dari tadi ada di samping Mamanya maju satu langkah diikuti oleh Aurora di belakangnya.
“Selamat Ulang Tahun, adik Abang.” Biru tersenyum membuat Putih malu. “Semoga gak ngeselin lagi ya.”
“Nyebelin, ah, Abang.” Putih mendengus membuat Biru terkekeh.
“Nih kado buat lo.” Biru mengulurkan tangannya ke arah Putih. “Dari abang sama Kak Aurora.”
“Eh?!”
“Happy Birthday, Putih,” ucap Aurora tersenyum. “Semoga suka sama kadonya ya.”
Putih membuka kado dari tangan Biru. Betapa terkejutnya Putih ketika tahu isi kado yang diberikan oleh Biru untuknya. Sebuah gelang motif Mickey Mouse kesukaannya.
“Ini kak Aurora yang pilih ya?” tanya Putih medelikkan matanya ke arah Biru. “Soalnya Bang Biru mana paham soal kesukaan Putih.”
“Kok lo ngeselin sih. Ini beneran dari Abang, Dek.”
“Bohong, ah.”
“Coba tanya aja sana ke Aurora. Itu dari Abang.”
“Bener kak?” tanya Putih beralih pada Aurora.
Aurora hanya terkekeh. “Pilihan kita bersama.”
•••
Acara pesta ulang tahun Putih berjalan dengan lancar. Kini, tibalah diujung acara. Sebagian tamu undangan sudah mulai keluar dari ruangan yang di dekor dengan warna hitam putih itu.
Biru dan Aurora kini tengah berada di taman belakang rumah Biru. Menatap bintang yang bertaburan di langit yang gelap.
“Bintangnya bagus ya?” ujar Biru menatap Aurora yang diam menatap ke arah langit.
“Lebih bagus lagi matahari,” ucap Aurora.
Biru menoleh. “Kenapa?”
“Karena banyak manfaat bagi orang banyak.”
“Kamu suka matahari?” tanya Biru lagi.
Aurora mengangguk. “Iya. Soalnya panasnya matahari bikin semua pasien di rumah sakit bahagia. Mereka yang sakit bisa sembuh karena paparan dan hangatnya matahari. Makanya, jangan membenci dia, ya.”
Aurora adalah gadis yang baik. Selama ini, dia sering ke rumah sakit Papanya untuk menghibur anak-anak penderita kanker di sana. Baginya, membuat anak-anak kembali tersenyum adalah suatu kebahagiaan yang nyata bagi gadis dengan dress hitam ini. Bagi mereka, kehadiran Aurora memberikan semangat baru untuk bertahan hidup.
•••