Bertemu Jingga

1135 Kata
Seperti biasa, Aurora setiap hari selalu menyempatkan diri untuk pergi ke rumah sakit menemui teman-temannya. Bukan teman sekolah atau teman masa kecilnya. Teman di sini dalam artian teman Aurora yang tengah berjuang untuk melawan penyakit-penyakit yang mereka derita. Ada beberapa orang yang paling dekat dengan Aurora di antaranya Shafa dan Sania. Kedua orang itu masih berusia belia. Di umur mereka yang masih 8 tahun, mereka harus melepaskan impiannya untuk bersekolah seperti biasa karena penyakit Tumor Otak dan Kanker ganas stadium lanjut yang mereka derita dari beberapa tahun yang lalu. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk tetap semangat dalam menghadapi kehidupan selanjutnya. Dulu, awal Aurora bertemu dengan mereka, mereka sempat berkata, “kapan Tuhan akan mencabut nyawa aku, kak? Kami sudah berjuang supaya sembuh tapi nyatanya Tuhan masih tetap memberi kami cobaan berat seperti ini. Bukannya sembuh, jiwa kita semakin merasa kalau kita hanya menunggu waktu saja untuk dipanggil Tuhan.” Aurora tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun saat itu. Semua terasa berat dan tenggorokannya mengering. Memang benar, semua makhluk hidup meski tanpa sakit pun harus siap dengan kata kematian sewaktu-waktu datang tanpa terduga. Namun sebagai manusia juga, harusnya mereka sadar bahwa hidup juga butuh berjuang dan usaha agar saat kita sudah dipanggil Tuhan, kita bisa memiliki bekal sekecil apapun itu. Brukkk... Tanpa sengaja, Aurora menabrak bahu seseorang membuat seseorang yang dia tabrak tubuhnya limbung ke lantai dingin rumah sakit. “Eh, sorry,” ucap Aurora meminta maaf membantu seseorang itu kembali berdiri. “Gue gak sengaja. Maaf, ya.” “Gak apa-apa. Gue juga gak liat-liat jalan soalnya tadi.” Gadis itu tersenyum dengan wajah pucatnya yang terlihat seperti mayat hidup. Bibirnya memutih seperti orang yang memang memiliki penyakit yang parah. “Lo sakit?” tanya Aurora tiba-tiba. “Sorry, lancang ya?” Gadis itu menggeleng lalu tersenyum. “Enggak kok. Udah kelihatan dari wajah aku yang pucat. Siapa pun itu juga bakal mikir gue sakit.” Aurora mengangguk kikuk. “Gue Aurora. Lo siapa?” “Jingga.” “Lo ke sini mau ngapain?” “Mau berobat,” ucap Jingga. “Gue duluan ya.” Jingga pergi meninggalkan Aurora sendirian di lorong. Hingga pada langkah ketiganya, suara dari Aurora membuat Jingga berhenti. “Gue temenin lo, ya,” tawar Aurora membuat Jingga menggeleng. “Gak apa-apa. Gue bisa sendiri. Kalau kita mau ketemu 2 jam lagi gue tunggu lo di sini.” Setelah mengucapkan itu, Jingga melangkah pergi hingga punggungnya hilang dari belokan rumah sakit. Aurora menatap punggung lelah itu dalam diam. Ternyata dia masih dikatakan beruntung masih bisa hidup dengan sehat tanpa sedikitpun rasa sakit. Setidaknya, nikmat inilah yang diberikan oleh Tuhan untuknya. “Selamat sore?!” sapa Aurora ketika baru saja memasuki ruang rawat Sania dan Shafa di lantai dua. Kedua bocah perempuan itu tersenyum senang ketika mendapati kunjungan dari Aurora. “Wah kak Aurora?!” pekik Sania. “Hai kalian,” sapa Aurora. “Udah makan belum?” “Udah.” “Wah pinter sekali,” ucap Aurora mengelus rambut Shafa. Rambut bocah itu sudah menipis akibat kemoterapi setiap minggu. Kini hanya beberapa helai saja yang masih tersisa di kepalanya meski begitu Shafa tetap bisa ceria seperti sekarang. “Shafa sudah Kemoterapi belum?” tanya Aurora ke arah gadis belia itu. “Besok, kak.” “Wah, kak Aurora boleh ikut nemenin gak sih?” tanya Aurora mencoba menghibur mereka dengan cemberut. “Boleh. Asal kak Aurora di samping kami, kami juga akan semangat buat sembuh.” “Wah, hebat!” “Ngomong-ngomong, kalian orang tuanya kemana?” tanya Aurora menatap sekeliling yang tak mendapati kedua orang tua masing-masing dari mereka tak ada di ruangan ini. “Belum sampai kak. Mungkin nanti malam.” Orang tua mereka super sibuk. Mereka memiliki beberapa bisnis yang membuat mereka harus dirawat di rumah sakit agar memiliki teman. Mereka tidak masalah dengan berapa pun harga dan biaya rumah sakit yang akan mereka keluarkan demi anaknya tetap sembuh. Meski kemungkinannya kecil, setidaknya dia bisa berusaha dengan ini. Metode apapun akan mereka tempuh demi kesembuhan anak-anak mereka. Dan ya, Aurora menginginkan orang tua yang seperti itu. “Baiklah. Sudah malam. Kakak pulang dulu ya,” pamit Aurora. “Besok kakak janji akan ke sini lagi kalau tidak ada halangan.” “Janji, kak?” ujar Sania menunjukkan jari kelingkingnya. “Mana jari kakak?” Aurora tersenyum lalu menautkan jari kelingkingnya pada jari mungil Sania dan Shafa. “Pergi dulu, ya. Selamat malam.” ••• Sudah jam tujuh malam. Aurora menunggu Jingga yang berjanji akan menemuinya lagi setelah 2 jam. Namun sekarang sudah lewat dari 2 jam dan Jingga belum datang. Ke mana sebenarnya perempuan itu? “Lo baik-baik aja kan?” Beberapa menit kemudian, Jingga datang dengan membawa kantong obat yang dia bawa di tangan kirinya. “Sorry , lama ya.” “Enggak kok,” jawab Aurora. “Gue kira lo udah pulang.” “Sorry, tadi drop sebentar.” “Drop? Lo sakit apa emang?” tanya Aurora penasaran. Jingga tersenyum. Bukan saatnya semua orang tahu tentang penyakitnya. Dia hanya tidak ingin membuat semua orang mengasihani dirinya yang penyakitan. Dia harus bisa bangkit, menjalani hidup layaknya seseorang yang sehat. Mengeluh bukan caranya bertahan hidup. “Sakit—biasa,” jawab Jingga berbohong. “Lo yakin?” Aurora ragu ini akan baik-baik saja. Tapi entah mengapa Aurora merasa Jingga tengah membohonginya. Jingga mengangguk. “Iya, lo tenang aja.” ••• “Dari mana aja sih, sayang?” cerutu Biru ketika melihat Aurora baru saja memasuki rumahnya. Ketika Biru ke rumah Aurora, rumahnya terlihat sepi. Sudah pasti orang tua Aurora tidak akan ada di rumah karena bekerja di luar kota. Namun Aurora juga tidak ada di rumah sejak tadi siang. Biru sudah mencoba menelepon perempuan di depannya ini namun tidak ada jawaban. Ponselnya mati dan mampu membuat Biru frustasi. Aurora dengan sikap seenaknya inilah yang tidak dimengerti oleh Biru. Biru yang cemas dan Aurora yang merasa bodo amat. “Aku ke rumah sakit seperti biasa,” ucap Aurora terkekeh. “Ada apa? Tumben banget ke rumah.” “Aku sendirian di rumah makanya ke sini. Eh, tahunya kamu juga gak ada.” “Tumben nyariin,” sindir Aurora lalu tertawa. Biasanya, Biru tidak akan ke sini meskipun Aurora hilang kabar sekalipun.Biru pasti akan berpikir, jika Aurora hanya bermain ke luar sebentar bersama teman-temannya lalu akan pulang setelahnya. “Emang biasanya aku gak nyariin kamu gitu?” tanya Biru menautkan alisnya. “Aku selalu mengkhawatirkan keadaan kamu setiap waktu.” “Oh ya? Wah, berarti pacar aku udah mulai peka dong.” Aurora tertawa sedangkan Biru mendengus sebal. “Gak ada yang lucu ya, Aurora!” Biru berkata dengan nada dinginnya. Aurora terkekeh. “Oke, baiklah, Tuan Muda yang terhormat.” ••• Hello readers, kalian tak perlu khawatir. aku akan menulis cerita ini selalu kok meski tidak setiap hari hehe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN