Murid Baru

909 Kata
Suasana kelas Aurora sangat berisik di jam-jam sebelum masuk kelas tiba. Apalagi dengan jam pelajaran pertama yang diajar oleh Bu Chintya guru Biologi yang terkenal dengan keramahan guru itu dalam mengajar setiap jam pelajarannya. Selalu membimbing semua muridnya yang tidak paham dengan Bab yang sedang dijelaskan oleh guru ramah itu. Ramainya kelas Aurora sudah menjadi rahasia umum. Di saat jam kosong saja, kelas ini banyak berbuat ulah. Seperti bermain domino, bermain joker, bermain lompat tali di kelas, bermain raket ketika salah seorang teman membawanya karena ada ekstrakurikuler sore, bermain game online berjamaah, serta ke kantin saat sebelum jam istirahat di mulai. Semuanya benar-benar membuat Aurora pusing dengan tingkah teman-temannya. “GUYS! NANTI BU CHINTYA BAWA MURID BARU WOI!!!” Teriakan seorang ketua kelas IPA 1 itu membuat semua yang terlihat sibuk dengan urusan mereka menoleh ke arah Sandi sang ketua kelas koplaknya. “Yang bener aja, Njir!” sahut Reva yang masih sibuk dengan make-up di tangannya. “Lebih cantik dari gue gak, San?” “Woh jelas lebih cantik dia. Namanya aja cantik woi!” balas Sandi membuat Reva menggebrak meja. “Wah macam-macam mulu lo sama gue ya, San! Yang benar dong kalau ngomong,” ujar Reva menunjuk-nunjuk ke arah Sandi. “Tadi lo nanya, bambank! Itu benaran lebih cantik dari lo! Gue mau gebet!” “Gak bisa. Gak boleh ada yang lebih cantik dari gue di kelas ini. Tidak bisa!” Reva Angelina. Cewek dengan gaya kekinian dan perpaduan make up yang khas itu menatap tajam ke arah Sandi. “Lo benar-benar bikin gue emosi, San!” “Ini kenyataannya, woi. Dia lebih cantik daripada lo!” Sandi menekankan pernyataan itu sekali lagi. “Kalau gak percaya, kita liat aja.” Aurora hanya menggeleng. Menatap keduanya dengan tatapan heran. Kenapa harus ada cewek bar-bar dan cowok ngeselin di kelasnya? Seorang guru berpakaian seragam PNS beserta kacamata yang membingkai wajahnya berjalan masuk ke depan kelas IPA 1 membuat semua penghuninya terdiam dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Reva yang masih memegang bedaknya, dia letakkan ke dalam tas dan menatap ke arah depan. Sandi dan Evan yang meributkan sesuatu di tempat duduk mereka akhirnya terdiam ketika seorang siswi berpakaian seragam khas sekolah ini dengan rambut yang dia gerai dan pita pink yang berada di rambut sebelah kanannya. Wajahnya pucat. Ya, baru saja kemarin gadis itu melakukan cuci darah demi dirinya tidak drop saat masuk sekolah. Orang tuanya sudah memperbolehkan dia sekolah formal karena melihat keadaannya yang semakin memburuk jika tidak keluar rumah. Dia, Jingga Reula. Gadis ceria yang selalu ingin terlihat sempurna dan baik-baik saja. Namun kenyataannya tak seperti itu. Dia tidak suka belas kasihan. Aurora menatap orang yang ada di depannya itu dengan saksama lalu menganga. Jingga. Perempuan yang ternyata menjadi siswi baru di sekolahnya adalah Jingga. Gadis yang pernah dia tabrak kemarin. Dan yang pasti, Jingga masih dengan wajah pucatnya. Apakah Jingga memiliki penyakit yang serius? “Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu Chintya mengawali pembelajaran hari ini. “Pagi, Ibu.” “Hari ini kalian kedatangan teman baru di kelas ini. Namanya Jingga. Jingga ini dulunya home schooling jadi ini kali pertama dia masuk sekolah formal,” ujar Bu Chintya memperkenalkan diri. “Ayo, Nak, perkenalkan diri kamu.” Jingga mengangguk sebagai tanggapan. “Halo, namaku Jingga Reula bisa dipanggil Jingga. Semoga kita bisa berteman baik, ya.” “Hai Neng Jingga!” sapa Andre dengan nada menggodanya. “Neng Jingga mau gak sama Mas Revan. Kasihan jomlo terus Neng. Nih orangnya.” Revan mendelik ketika Andre dengan tidak ada malunya menunjuk dirinya. Hanya Revan yang bisa dibilang orang baik-baik. Maksud dari orang baik-baik di sini, tidak melenceng sifatnya seperti Andre, Sandi dan yang lain. Revan adalah siswa yang termasuk pintar. Terbukti, dia menjadi bintang kelas setiap semester. Jingga hanya tersenyum. “Jingga duduk sama Aurora ya.” Jingga menatap Aurora. Kemudian berjalan menuju ke arah Aurora yang masih terkejut dengan kehadirannya. “Kenapa? Kaget?” tanya Jingga tersenyum ke arah Aurora. “Udah gue duga lo bakal kaget sama kehadiran gue.” “Lo sekolah di sini?” tanya Aurora tak percaya. Jingga mengangguk. “Iya, seperti yang lo liat. Gimana? Udah cantik belum gue dandan kayak gini?” “Iya, lo gak kayak kemarin. Pucat banget. Udah sehat?” tanya Aurora. “Gue kalau sakit gak akan bisa diizinin sekolah formal woi.” “Kenapa?” tanya Aurora mengerutkan kening. “Panjang ceritanya,” ucap Jingga. “Sekarang, bisakah kita berteman?” Aurora mengangguk mengiyakan. "Baiklah. Kita berteman." ••• Jam istirahat sudah berbunyi. Akhirnya, Jingga dan Aurora pergi ke kantin. Hari ini, Biru latihan basket jadi ada waktu untuk Aurora pergi ke kantin sendirian. Meski begitu, Aurora sangat ingin sekali pergi ke tempat latihan basket Biru tapi cowok itu sudah mewanti-wantinya untuk tidak datang ke sana. Ada apa? Entahlah. Kali ini Aurora benar-benar tidak ingin tahu tentang hal yang ada dan yang sedang disembunyikan oleh Biru darinya.  "Kantin ada di mana? Masih jauh ya?" tanya Jingga membuyarkan lamunan Aurora.  "Ah, tidak. Sebentar lagi sampai. Bertahan ya!" "Santai aja! Aku tidak apa-apa." "Baiklah."  Mereka menuju ke arah Kantin. Ketika mereka berdua memasuki area kantin, semua mata tertuju pada mereka. Tepatnya menyoroti Jingga hingga membuatnya risih.  "Kalian kenapa liatin kita kayak gitu?" Semuanya terdiam. Hanya menatap tanpa menjawab pertanyaan Aurora.  "Bubar kalian!" Perintah dari Aurora membuat semua orang dikantin itu kembali menatap ke arah lain dan fokus pada kegiatannya masing-masing.  "Aku aneh ya? Sampai diliatin anak satu kantin gini." Aurora menggeleng. "Tidak! Kau begitu cantik." "Benarkah?"  "Ya, teman-temanku memuji kecantikan dan kenaturalanmu." "Ah, ya, aku natural karena aku sakit." "Tidak. Bukan itu." "Aku aneh, Au!" "Kau cantik." "Apa kau hanya menghiburku saja?" tanya Jingga tambah insecure saja.  Lihatlah! Betapa anehnya dirinya ketika semua mata tertuju pada penampilannya yang terlihat aneh ini. Bahkan tak ada satupun yang melihatnya kagum seperti yang dibicarakan oleh Aurora.  "Au!" "Kenapa?" "Kita makan di kelas saja, ya. Aku tidak berselera makan jika di liat seperti ini." "Baiklah!"  ••• To Be Continued... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN