Ketika Mereka Bertemu

1031 Kata
“Ke kantin, yuk, Ngga!” ajak Aurora menghampiri Jingga yang terdiam di bangkunya.  Jingga hanya mengangguk. Dia ingin sekali bertemu dengan Biru sebenarnya. Karena tujuannya ke sini hanya bertemu dengan Biru. Selama ini Jingga hanya melihatnya di sosial media yang mereka punya. Saling follback, lalu selesai. “Ngga, gue ada pacar. Lo mau ketemu?” tawar Aurora.  Gadis yang tengah meminum minumannya itu hanya mengangguk. Mengambil tisu lalu mengelap ujung bibirnya yang terlihat belepotan. Makanan yang dimakan Jingga hari ini hanyalah sebungkus roti dan es teh. “Lo tetap makan roti doang setiap hari?” tanya Aurora yang melihat Jingga terlihat kurus dan seperti orang sakit.  “Sebenarnya lo sakit apa emangnya? Apa itu parah?”  “Sedikit. Tapi it's oke. Gue baik-baik saja.” “Jangan sampai lo berpura-pura tidak ada apa-apa, ya, wajah lo udah kayak orang sakit parah.” “Gue enggak apa-apa. Lo jangan takut. Gue nggak akan repotin lo kok!”  “Bukan soal itu. Kita sudah temenan, jadi mau bagaimana pun lo, gue tetap jadi teman lo dan gue akan jadi teman yang baik buat lo.” Jingga terharu? Tentu saja. Dia tidak pernah memiliki teman sebenarnya. Hanya Biru teman masa kecilnya dan Aurora yang dengan begitu lapang menerima semua kelemahan dan kekurangannya.  “Oke, terima kasih. Gue kira waktu lo tahu gue sakit kayak gini, akan jauhin gue sama seperti dulu. Lo tahu kan, gue pernah sekolah cuma karena gue sakit semua orang yang bahkan tak begitu dekat sama gue aja pasti menjauh. Seakan gue itu hanya sebatas benalu di hidup mereka.” “Hush! Lo jangan kayak gitu. Semua orang berhak memiliki teman. Begitu juga sama lo. Jangan kayak gitu lagi, ya.” Jingga mengangguk. Dia baru sadar jika masih ada orang baik di dunia ini yang memang baik pada orang yang penyakitan seperti dirinya.  “Lo harus kuat. Meski gue belum tahu penyakit lo, tapi gue yakin semua penyakit bisa di sembuhin.” “Begitu?” tanya Jingga ragu.  Aurora mengangguk. “Gue yakin kok. Karena kan semua penyakit dari Tuhan dan akan banyak cara sembuhin semua itu.” “Tapi gue pikir, ini tidak akan sembuh sesuai keinginan gue dari dulu.” “Lo kenapa terus pesimis kayak gini? Harusnya lo bersyukur, Tuhan sayang lo dan gue yakin Tuhan sedang bersama lo terus.” Ha! Semua itu bulshit kan? Mana ada seseorang yang sakit disayang oleh sang pencipta? Bukankah ini sebuah kutukan keluarga? Hanya bisa menyusahkan orang tua dan orang lain.  Jingga saja malu memiliki penyakit seperti ini apalagi orang tuanya? Orang tua yang sudah baik sekali padanya. Sudah mengangkatnya anak itu harusnya bersyukur tapi sekarang dengan adanya penyakit bukankah orang tua Jingga akan menyesal?  “Gue–“ “Jingga! Lo jangan kayak gitu. Lo pikir dengan cara lo pesimis lo akan merasa Tuhan mengangkat penyakit lo gitu aja? Hei, lo orang yang termasuk beruntung di dunia ini. Sebuah penyakit adalah cara Tuhan agar semua orang sayang lo lebih dari sebelumnya.” Aurora kesal. Kenapa pesimis semua orang sama saja? Selalu benci dengan apa yang dikasih Tuhan seperti itu? Hei, dengar! Semua skenario Tuhan pasti akan indah.  Jangan pernah membenci Tuhan seperti kalian membenci yang ia ciptakan. Contohnya saja manusia. Semua yang diberikan Tuhan akan dikembalikan nanti. Jadi berhenti selalu menyalahkan Tuhan.  “Gue ke toilet dulu,” ujar Jingga.  “Lo tahu tempatnya kan?” Jingga mengangguk. “Iya, gue tahu.” ••• *** “Hai sayang.” Biru baru saja duduk di bangku kantin yang memang diduduki oleh Aurora dan temannya. Hanya saja yang Biru temui hanya Aurora yang duduk sendirian. “Teman kamu mana?” “Ke toilet. Kamu lagi latihan Basket?” tanya Aurora. Mencium baju seragam Biru yang begitu basah. “Bau.” Biru yang merasa dirinya tetap oke, ikut-ikutan mencium baju seragamnya yang memang sedikit menyedihkan. Apalagi dengan kaos hitam yang ia pakai sebagai dalaman.  “Aku bau ya?” tanya Biru seolah tak paham.  “Iya.” “Jahat banget sih kamu.” “Kan kamu nanya, sayang. Makanya aku jawab.” “Tapi jawabannya nggak kayak gitu juga dong sayang.” Biru jadi mendengus sebal dengan tingkah yang membuat Aurora ingin tertawa.  “Iya terus mau kayak gimana? Coba contohin.” “Mana bisa seperti itu? Kamu pikir aku pelawak apa bisa contohin yang manis-manis kayak gula aren?” Aurora terkekeh. Biru lebih sensitif darinya makanya dia kadang suka menggoda pacarnya itu dengan ini. Pokoknya Biru harus tampil perfect dan tidak ada satu orang pun yang bisa merecokinya dengan kata-kata seperti, bau, sok keren, sok cakep dan sebagainya.  Aurora itu orangnya suka becanda jadi kalau Biru dan Aurora berantem pasti Aurora yang mengalah. Pikiran Aurora selalu positif dan Biru pasti selalu berpikir “Ah aku jelek!”  Tapi di balik itu semua, Biru memiliki sikap dingin namun ketika orang lain bilang yang jelek tentangnya pasti sudah seperti orang gila ngomong sendiri.  Masih ingat kan Aurora ada teman-teman yang memiliki penyakit di masa kanak-kanaknya? Di rumah sakit yang sama dengan dirinya bertemu dengan Jingga. Dia merasa pasti Jingga akan merasa malu jika selalu mengeluh dan menyalahkan Tuhan ketika melihat orang yang sama seperti dirinya namun memiliki semangat hidup yang sama seperti orang yang normal.  “Lama sekali temanmu di Toilet. Lagi buang hajat?” tanya Biru. Memainkan ponselnya dengan salah satu tangannya mengaduk es teh yang ia pesan.  “Kamu suka es teh juga?” tanya Aurora.  “Tidak juga. Cuma lagi kangen sama orang yang minum ini bersamaku saat kita bertemu di Panti.” “Kamu punya teman kecil di Panti Asuhan?” tanya Aurora. Baru mengetahui soal dirinya yang sempat ada di Panti. “Jadi kamu anak–“ “Aku anak kandung orang tuaku. Cuma waktu itu aku lagi main aja sama orang di sana gara-gara nggak ada teman di rumah.” “Anak manja.” “Ngada-ngada kamu! Aku ini bukan manja, ya!” “Terus apa kalau bukan manja?” tanya Aurora terkekeh. “Anak tersayang? Kan cowok masak iya maunya dimanja.” “Jahat sekali omongannya Ibu Aurora yang terhormat!” sindir Biru membuat Aurora tertawa keras.  “Bukannya harus seperti itu ya Bapak? Harus seperti orang yang memiliki wibawa jangan seperti anak manja. Wajar kalau Putih manja karena adeknya dan dia anak perempuan. Tapi sekarang kan sudah beda. Biru seorang abang masa iya mau manja-manjaan sama orang tua? Malu kali.” Nyelekit. Emang suka nggak ada akhlak pacarnya Biru ini. Selalu merasa benar dan Biru salah. It’s okay.  “Ter–“ “Sorry, lama.” Jingga langsung memotong pembicaraan mereka dan menunduk menatap ke arah meja dan memakan rotinya lagi.  Biru mengernyit. Teman Aurora satu ini benar-benar membuatnya tak paham. Kenapa memakai kacamata dan masker? Apa dia sakit?  “Lo kenapa pakai masker?” tanya Biru tiba-tiba.  ••• To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN