Jingga berkali-kali mengusap air matanya dengan tangannya yang terus-menerus mengalir deras di pipinya.
Dia malas sekali rasanya menangis di tempat umum seperti ini. Selain malu karena takut banyak orang lain melihatnya tengah menangis seperti ini. Dia malu jika dicap cewek cengeng apalagi statusnya adalah anak baru.
“Gue harus kuat.”
Jingga membasuh wajahnya dengan ar kran yang mengalir. Setelah mengeringkannya dengan tisu, Jingga mengambil bedak yang sengaja ia bawa disakunya untuk menutupi pucat yang ada di wajahnya. Setelah itu Jingga pkeluar dari toilet untuk kembali ke Aurora.
Namun ketika baru saja sampai di pintu kantin, kakinya berhenti melangkah dan terdiam. Ada Biru di sana. Apa jangan-jangan Biru adalah pacar Aurora?
Ini sebuah kebetulan atau memang takdirnya secepat ini bertemu dengan Biru? Jujur dia benar-benar belum siap sama sekali untuk bertemu Biru. Baginya, Biru sudah maasa lalunya yang harusnya sudah ia lupakan sejak dulu. Toh Biru sudah ada Aurora jadi untuk apa juga mereka bertemu?
“Gue bener-bener belum siap ketemu Biru.”
Jingga memutar otaknya untuk berpikir bagaimana caranya ia bisa lepas dari Biru minimal hari ini.
Ah, dia bisa memakai masker kan? Dia juga punya kacamata untuk menutupi matanya dan juga wajahnya.
Jingga berlari dari Kantin ke arah kelas untuk mengambil masker. Lalu ia pergi menemui Aurora.
“Sorry, lama,” ucap Jingga. Lalu kembali duduk dan memakan rotinya lagi.
Biru terlihat mengernyit ke arah Jingga. Dari sudut ekor matanya, Jingga bisa melihat ekspresi wajah Biru.
“Lo kenapa pakai masker?” tanya Biru tiba-tiba.
Jingga terkesiap. Semakin menundukkan kepalanya. Jangan sampai Biru tahu ini dirinya. Biru memang tahu wajah Jingga pasti dari i********: pribadi milik Jingga.
“Sakit.”
“Sakit?” tanya Biru seolah tak percaya. “Coba gue liat.” Biru ingin meraih dahi milik Jingga namun perempuan dengan rambut panjang yang tergerai itu menjauhkan diri dari jangkauan tangan Biru.
“Lo siapa sih?” kesal Jingga berusaha marah. “Nggak usah sok peduli sama gue!”
“Gue pacar Aurora. Memangnya lo siapa? Anak baru kan? Jangan sok iya, deh!”
Biru balik marah. Siapa memangnya cewek ini?
Mata Biru beralih ke arah Aurora yang terlihat hanya menggelengkan kepalanya. “Kenal di mana memangnya kamu sama cewek bar-bar seperti ini?”
“Dia teman sekelasku.”
“Memangnya kamu tidak punya teman lagi apa buat diajak ke Kantin. Songong sekali dia,” ujar Biru menatap sinis ke arah Jingga.
Sakit? Tentu saja itu sangat sakit. Dia pikir akan baik-baik saja harinya jika harus bertemu dengan seseorang yang memang ia rindukan keberadaannya.
Jingga menatap ke arah meja. Biru minum es teh? Bukankah Biru tidak terlalu suka dengan es teh dari dulu?
~Flashback On~
“Kamu kenapa? Mau minum nggak?” tanya seorang gadis kecil duduk di ayunan yang juga diduduki oleh seorang anak laki-laki yang terdiam dengan sebelah tangan memegang balon.
Anak laki-laki itu menggeleng. “Aku enggak suka Es Teh.”
“Kenapa?” tanyanya lagi. “Enak tahu.”
“Enak? Lebih enak mana dengan es krim itu?” Biru menunjuk ke arah abang tukang es krim di seberang sana.
“Hm, lebih enak ini. Kan sama pakai es. Cobain deh,” tawar Jingga kecil pada Biru.
Biru yang memang tidak pernah minum es teh hanya menatap Jingga dalam diam. “Gimana rasanya?”
“Mau?”
“Boleh.”
Akhirnya Biru yang penasaran dengan rasanya es teh mengangguk dan meminumnya. Rasanya memang enak. Ini tidak bohong. Dia benar-benar ketagihan.
“Bagaimana?” tanya Jingga menatap ke arah Biru.
“Enak.”
“Memang.” Jingga terkekeh. “Mau lagi?”
“Memangnya boleh?”
“Boleh, kok.”
“Beli di mana?” tanya Biru.
“Aku bisa buatnya. Mau tidak?” tanya Jingga.
“Boleh.”
“Besok kau ke sini lagi aku akan buatkanmu minuman ini,” ucap Jingga.
Biru dengan polosnya mengangguk dan tersenyum senang. “Baik. Aku tunggu di sini besok.”
Dan keesokan harinya memang benar-benar datang dan minum es teh berdua di taman bermain ini. Setelah itu, Biru sempat mengatakan jika dia suka sekali dengan es teh dan meminumnya jika dia merasa rindu dengan Jingga.
~Flashback Off~
Oh Tuhan! Apakah biru tengah merindukannya? Jadi dia salah sudah memaki-makinya? Astaga! Dia takut ketika Biru tahu itu adalah dirinya, semua ketakutan yang selama ini ia rasakan benar-benar terjadi.
“Kenapa diam?” tanya Biru ketus.
“Eh udah gak usah berantem.” Aurora akhirnya buka bicara.
“Dengar! Urusan lo sama gue belum kelar ya!” ujar Biru lalu pergi meninggalkan Kantin.
“Dia suka es teh?” tanya Jingga masih penasaran. Dia benar-benar masih shock dengan Biru yang tiba-tiba langsung care padanya meskipun Biru belum tahu namanya.
“Dia kangen sahabat kecilnya katanya,” jawab Aurora kembali duduk.
“Sahabat kecil? Memangnya ke mana?” tanya Jingga pura-pura tidak tahu. Padahal di dalam diri Jingga sudah sangat senang. Ternyata Biru masih ingat dengannya. Dengan kisah es teh mereka.
“Sejak pindah rumah dan dia ganti ponsel. Lost contact!”
“Ha? Tidak ada sama sekali?” tanya Jingga lagi.
“Dia hanya bisa like postingan instagramnya katanya.”
Aurora terdiam. Sebenarnya dia ingin sekali bertemu dengan Biru waktu itu. Namun karena dia takut penyakitnya akan muncul lagi secara tiba-tiba dia jadi ragu untuk bertemu.
“Jadi, lo tidak marah?” tanya Jingga. “Dia sepertinya sayang sekali pada sahabat kecilnya.”
“Tidak. Selagi dia bahagia buat apa gue marah?” Aurora benar-benar polos dan berbesar hati.
“Tapi dia kan perempuan.”
“Tahu. Gue memang mencintai Biru tapi gue juga tidak bisa mengekangnya begitu saja kan?”
“Iya. Memang.”
“Jadi berhenti untuk memanas-manasi gue soal ini. Itu juga tidak begitu penting.”
Benar. Jingga tidak penting. Memangnya dia siapa? Dia hanyalah bekas sahabat Biru tapi dia tidak berhak untuk memiliki Biru karena Biru sudah milik Aurora. Harusnya Jingga tahu soal ini.
Jingga harus menjauh dari kehidupan Biru. Lebih baik saja Biru jangan bertemu dengannya lagi. Takutnya Biru benar-benar masih menganggap dirinya lebih dari seorang sahabat seperti saat Biru DM dirinya.
Memangnya seharusnya Hingga menjauh. Makanya sadar diri!
•••
To Be Continued