Pulang sekolah namun Jingga masih setia berada di halte Bus dekat sekolahnya untuk menunggu jemputannya datang. Katanya mobilnya tengah di bengkel untuk di perbaiki bannya karena bocor.
Sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu ia menunggu mobil jemputannya datang namun sampai sekarang tak ada nampak dia akan datang. Sekarang apa yang harus Jingga lakukan?
Lama menunggu ia pikir akan membuang-buang waktunya. Baiklah, jika memang ini yang terbaik sebaiknya dia harus pulang menggunakan taksi saja. Namun belum juga Jingga memberhentikan taksi yang lewat, sebuah motor ninja berwarna hitam dan turunlah seorang cowok dengan hoodie berwarna navy menghampirinya.
“Chiko?” kaget Jingga ketika cowok itu berhenti dan menghampirinya.
“Iya ini gue. Bagus banget lo ya! Udah tahu masih ada tanggungan buat jadi asisten gue lo malah pindah sekolah umum. Udah bosen home schooling?” tanya Chiko. “Gue nggak mau tahu! Nanti malam lo harus ke tempat gue dan teman-teman gue balapan.”
“Nggak mau. Siapa elo?” ucap Jingga membuat cowok dengan hoodie yang kini sudah ia buka dan menyisakan kaos polos hitam itu mengernyit.
“Jadi lo nggak mau?” tanya Chiko lagi. “Jadi lo lebih milih Dewa yang gue habisin?”
“Lo apa-apaan sih! Dewa nggak punya salah apa-apa sama lo.”
“Menurut lo gitu? Tapi menurut gue, Dewa salah besar!”
“Lo yang harusnya sadar Chik! Dewa saudara lo!”
“Saudara? Sejak kapan dia jadi saudara gue? Lucu lo!”
Chiko beralih ke arah rok seragam yang dipakai Jingga. Benar-benar pendek. Sebadboy apapun Chiko tapi dia juga tidak suka pakaian yang terlalu ketat apalagi kependekan seperti yang dipakai Jingga. Selain menguji nafsu lelaki juga banyak dosa yang harus dia tanggung nantinya.
Chiko beralih menutupi paha Jingga dengan hoodienya. “Gue nggak suka cewek pakai pakaian yang kekurangan bahan kayak yang lo pakai. Gunanya lo banyak duit apaan kalau rok aja gak bisa beli yang lebih baik.”
“Tumben perhatian. Biasanya suka bentak-bentak kayak babu.”
Chiko diam ketika Jingga menggodanya. Ia memang jarang memperhatikan seseorang di sekitarnya. Yang dia tahu adalah bagaimana Chiko dan Jingga bisa bersama seperti dulu. Dulu sebelum Dewa datang dan mengacaukan semuanya.
“Iya kan lo emang babu gue.”
“Tapi gue babynya Dewa. Tak masalah,” ujar Jingga membuat Chiko menggeplak kepalanya.
“Gak usah halu lo!”
•••
Akhirnya Jingga sampai di rumah meski dia harus memohon pada Chiko untuk mengantarkannya pulang.
Cowok itu memang orangnya rada gila. Dingin, cuek tapi jauh dari semua itu Chiko orangnya baik. Dia adalah sahabatnya sejak mereka sempat bertemu di saat Les waktu SMP. Chiko orangnya yang suka bereksplorasi namun tidak suka dikekang makanya dia suka sekali cemburu dengan Dewa yang orangnya memang humble dan lebih pintar dari Chiko.
Meskipun mereka bersaudara, Chiko dan Dewa dua orang yang tidak bisa dikatakan mereka berteman diluar keluarga. Mereka selalu merasa bersaing di luar keluarga. Tidak ada yang mau ngalah namun Dewa selalu kalah saat dia dan Chiko adu jotos.
Dewa suka mengalah. Namun Chiko tidak suka lawannya mengalah dan berdamai sebelum memulai. Rasanya kurang afdol dan itu tidak enak sendiri.
“Ko, anterin gue pulang dong.” Jingga meminta antar pulang pada Chiko yang memang sebenarnya akan sia-sia. Chiko orangnya malas antar cewek apalagi sahabatnya sendiri. Dia merasa itu tidak enak dan tidak nyaman. Meski memelas pun, Chiko ya tetap tidak akan mau.
“Ogah!”
“Lo jadi cowok jahat banget sih heran gue!” ucap Jingga kesal. “Kali ini aja lo jadi orang jangan kayak orang gak ada akhlaknya. Gue butuh banget bantuan dari lo.”
“Gue nggak mau. Lo pikir gue babu lo? Harusnya lo kan yang jadi babu gue?” ucap Chiko balik.
“Chiko, please!” rengek Jingga.
Chiko menatap manik mata Jingga dengan senyuman yang begitu penuh rasa iba. Jika dilihat-lihat, wajah Jingga seperti orang sakit. Pucat dan seperti orang yang kelelahan.
“Lo sakit ya?” tanya Chiko membuat Jingga terkejut.
Dari mana Chiko tahu kalau dia sakit? Jangan sampai ada yang tahu soal dirinya. Soal Jingga yang sakit apalagi tahu kalau di sekolah ini ada Biru sahabat Jingga sejak dia masih di panti asuhan.
“Sakit? Gue nggak apa-apa.”
“Oh, gak apa-apa. Ya udah gue pulang.”
“Kok gitu sih lo, Chik!” seru Jingga tak terima. Ini sebuah jebakankah? Ah, bukankah memang dari dulu Chiko menjadi orang yang benar-benar menyebalkan? Jadi ini sudah bukan hal baru lagi kan bagi Jingga?
“Kamu sudah pulang?” tanya Mamanya ketika Jingga baru saja masuk ke area dapur.
Mamanya terlihat tengah memasak sesuatu. “Maaf ya gara-gara ban kempes kamu jadi pulang telat. Kamu capek ya? Istirahat dulu ya. Jangan sampai drop lagi.”
Sebenarnya dia mau memasak juga. Namun dia juga bosan membuat semua orang khawatir dan susah karenanya. Mungkin istirahat adalah hal yang membuat Mamanya bahagia. Setidaknya untuk beberapa hari ini. Karena dia tahu sewaktu-waktu penyakitnya itu akan kembali kambuh apalagi kalau dia bolos cuci darah.
“Oke, Ma.”
Jingga pergi dari sana. Dia sudah mulai menyadari betapa pentingnya senyuman orang yang dia sayang mengharapkan dirinya kembali sehat. Bukan seperti ini yang terasa begitu menyakitkan dan menyedihkan.
Harusnya Jingga bersyukur. Karena dengan penyakit inilah Tuhan memberikan bentuk cinta yang lebih baik pada dirinya. Tuhan sayang padanya. Semua orang wajib tahu itu. Tuhan sayang pada hamba-hambaNya yang bersyukur dan merespon apa yang dia dapatkan dengan baik.
Aurora: Nanti malam gue mau ke Biru di tempat balapan liar. Gue takut banget sebenarnya. Tolong ya lo ikut gue juga. Lo nggak apa-apa kan?
Biru mau ke tempat balap juga? Ah, kenapa harus ada kata seperti ini?
Balapan adalah hal yang tidak ia suka dari Chiko maupun Dewa. Tapi sepertinya anak laki-laki tidak akan mau kalah jika dia belum mencoba yang namanya balapan. Hanya demi gaya, mereka mau ditukar nyawanya dengan popularitas.
“Halo, Ra.”
Membaca pesan Aurora mampu memang membuat Jingga terlonjak. Ia pikir Biru tidak akan sebodoh itu nongkrong di sana. Ternyata sama saja. Cowok manapun juga akan sama.
“Lo bisa ikut gue kan nanti malam?”
“Bisa, kok.”
“Gue sayang Biru makanya gue nggak mau Biru kenapa-napa.”
Deg. Curhatan sebuah perasaan seorang Aurora padanya memang begitu menamparnya. Biru sudah milik orang lain. Harusnya Jingga sadar diri untuk jauhi Biru kan? Apa harus Jingga pindah sekolah lagi? Namun, dia juga tidak mau sekolah dengan Chiko.
Pada akhirnya aku tahu jika kau memang bukan untukku lagi.
•••
TBC