Jingga baru saja sampai di rumah. Dia begitu lega sekarang. Beberapa hari ini tidak akan ada lagi Biru di hidupnya, di hari-harinya karena sekolah mulai libur. Rasanya, ingin sekali dia tetap di rumah namun dia juga butuh teman.
“Udah datang?” tanya Mamanya ketika melihat Jingga berjalan tak semangat menuju ke arah wanita dan pria paruh baya itu.
Jingga mengangguk sebagai jawaban.
“Kebetulan sekali kamu di sini, Nak.”
“Ada apa emangnya, pah?” tanya Jingga mengernyitkan keningnya.
“Ada sesuatu yang papa sama Mama ingin sampaikan.”
Pria paruh baya itu menatap serius ke arah Jingga membuat gadis itu semakin memperdalam kernyitannya.
“Ada apa ini?”
“Kamu sudah mulai libur kan sekolahnya?” tanya wanita paruh baya itu bergantian.
Jingga mengangguk sekali lagi.
“Papa akan melanjutkan proyek ke Singapura. Jadi, sebelum papa berangkat, kita liburan dulu yuk!” Papa Jingga mengajak Jingga dengan begitu antusias. “Papa tahu ini terlalu cepat karena kamu masih perlu beberapa hari istirahat setelah sekolah beberapa bulan ini menyita waktu istirahat kamu.”
“Tapi papa janji, papa cuma mau kamu bahagia aja kok, Nak.”
Jingga tersenyum. Ada benarnya juga. Dia sudah berkali-kali mau drop karena kurang istirahat namun karena Papanya akan pergi ke luar negeri, kapan lagi dia akan liburan dengannya?
Papanya kalau sudah bekerja di luar, lupa untuk pulang dan langsung melanjutkan dengan proyek yang lain. Biar sekalian kalau pulang dia bisa dengan tenang bersantai-santai dalam waktu yang lama.
“Papanya ke luar negeri dua bulan minimal loh, Nak. Kamu nggak kasihan sama Papa? Kalau kamu kangen Papa, kan kita nggak bisa dengan gampangnya nyusul. Kondisi kamu belum bisa dipastikan baik-baik aja. Kamu perlu istirahat dalam jangka waktu yang lama. Nggak lama kok liburannya. Deket juga dari sini. Kita ke Puncak aja tiga hari cukup kan?” tanya Mamanya menjelaskan.
Jingga akhirnya mengangguk. “Boleh, deh.”
“Kamu nggak ada kegiatan lain kan?” tanya Mamanya memastikan.
Jingga menggeleng. “Nggak ada kok, Ma.”
Ada benarnya juga mamanya. Kalau dia tidak di sini, pasti Biru tidak akan ke sini menemuinya. Biru tidak harus tahu kalau dia ke Puncak kan?
Dia juga butuh waktu untuk dirinya menenangkan hatinya dan juga pikirannya. Dia itu manusia yang butuh waktu sendiri.
“Kamu ajak Chiko sama Dewa deh ke sini. Kalau perlu. Bi—“
“Kalau mama juga ngajak Biru, Jingga nggak mau ya!” ancamnya. “Jingga butuh waktu buat memenangkan diri. Biru akhir-akhir ini makin gencar deketin Jingga dan Jingga bukan orang yang terlalu ‘menerima orang’ apalagi Biru udah ada pacar. Tahu emang kalau Biru sahabat Jingga. Tapi kan Jingga udah masa lalunya. Biru deketin Jingga yang penyakitan ini. Jingga pasti akan jadi pembawa s**l bagi Biru nanti makanya Jingga—“
“Jingga! Jaga bicaranya!” ujar papanya. “Kamu ngomong apa sih? Nggak ada yang pembawa s**l di sini. Kamu cuma dapat keistimewaan karena Allah sayang kamu bukan pembawa sial.”
Jingga baru sadar. Orang tuanya benar-benar tidak suka ucapan-ucapan Jingga yang ngawur dan ngaco seperti ini. Mereka sangat menerima Jingga apa adanya.
Meskipun selama Jingga diasuh oleh mereka Jingga selalu menyusahkan bahkan beberapa anggota keluarga mereka tak menerima Jingga, tapi benar Jingga selalu dapat apa yang dia mau dari mereka. Kasih sayang, pembelaan, fasilitas yang selama ini Jingga inginkan saat dia masih di panti asuhan.
Jingga benar-benar bersyukur memiliki mereka dalam hidup Jingga yang sudah berantakan. Tidak tahu siapa orang tuanya, hasil hubungan gelap atau memang mereka tak menginginkan Jingga ada di hidup mereka. Tapi Tuhan menggantikan semuanya dengan kehadiran mereka. Mereka yang selalu mengajarkan Jingga untuk tetap bersyukur, selalu bahagia walau memiliki banyak kekurangan, harus bersikap baik pada orang yang jika dia ingat-ingat sudah menyakiti hatinya. Ah, semuanya masih dia ingat sampai sekarang.
Jingga bahkan sempat berjanji akan menjadi orang sukses demi membahagiakan mereka. Membahagiakan dua orang asing yang dulu sudah mau menampung dan membesarkannya. Mereka orang tua yang hebat.
“Ya udah. Tapi janji ya jangan ada Biru.”
Jingga memohon. Bukan apa-apa. Dia tidak mau Aurora jadi salah paham lagi padanya.
“Karena Aurora?” tanya Mamanya. “kamu tenang aja. Chiko juga mau ajak Aurora ke Puncak. Tadi mama udah telfon Chiko. Kamu tinggal kabarin Dewa aja.”
“Oke.”
•••
Aurora baru saja sampai di rumahnya. Suasana rumah sedang sepi karena jam segini ibunya pasti belum pulang kerja.
Aurora langsung mandi dan siap-siap untuk istirahat. Makan malam sudah di sediakan oleh ibunya seperti biasa.
Baru saja Aurora mau merebahkan dirinya, pintu rumah terdengar sedang di ketok oleh seseorang. Entah siapa yang berani mengganggu acara tidurnya kali ini.
Dengan langkah kasar, Aurora berjalan keluar kamar dan membuka pintu rumah.
Aurora terkejut. Chiko sudah tiba-tiba ada di sini dengan memasang wajah yang tak berdosa. Tersenyum ke arahnya dan membawakannya sekotak pizza.
Huh. Laki-laki ini kenapa selalu datang di hidupnya sih?
“Lo lagi. Belum cukup hari ini lo ganggu gue? Mau nambah lagi dengan lo ke sini? Mau ngapain sih lo sebenarnya, hah?!” kesal Aurora.
“Ini gue baru datang loh. Nggak ditawarin masuk dulu gitu?” tanya Chiko menghiraukan kekesalannya.
“Gak ada orang di sini.”
“Lah, lo bukan orang?”
Aurora berdecak. “Maksud gue, gak ada orang lagi selain gue.”
“Oh. Mama lo kemana?"
“Ibu gue lagi kerja.”
“Gue juga butuh bicara sama Mama lo.”
Aurora cepat-cepat menoleh. “Apa? Mau apa lo ke ibu gue?”
“Santai dong. Gue cuma mau minta izin doang.”
Tak lama kemudian, setelah mereka berdua beralih duduk di depan teras rumah. Seorang wanita paruh baya datang dan terkejut.
“Loh, Nak Chiko?”
Ibu Aurora langsung menyapa Chiko yang duduk di samping Aurora dan membalasnya dengan senyuman.
“Loh? Ibu tahu ini orang?” tanya Aurora.
“Anaknya bos ibu di catering.”
Ibu Aurora bekerja sebagai pegawai catering dan ternyata yang punya catering itu adalah mamanya Chiko. Ah, kenapa dunia sempit seperti ini?
“Udah lama di sini? Loh? Aurora kenapa gak bikinin minum buat tamu?” tanya Ibunya.
“Nggak penting, Bu. Dia juga mau balik. Ya kan, ko?” tanya Aurora pada Chiko membuat Chiko menoleh.
“Kapan gue—“
Aurora mencubit pinggang Chiko dengan keras membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
“Gini Bu, saya kan ke sini mau ketemu Ibu. Jadi, saya diutus oleh temen saya yang nyebelinnya melebihi anak ibu yang ini untuk minta izin bawa Aurora ke Puncak buat liburan. Teman saya yang ini emang manja banget. Ibu pasti belum liat orangnya tapi meskipun nyebelin dia baik kok, cantik pula. Jadi Ibu izinin nggak?” tanya Chiko to the point. “Tenang aja Bu. Ada Dewa juga sepupu saya yang paling ganteng tapi ya sebelas dua belas kayak Chiko otaknya suka geser. Ibu pasti tahu kan ya sama sifat Dewa Chiko di rumah.”
Ibu Aurora terkekeh. “Jadi maksud Nak Chiko cuma minta izin bawa Aurora? Boleh dong. Ada ceweknya juga kan?”
“Ada kok, Bu. Ada orang tua teman saya juga. Jadi Chiko, Aurora, Dewa sama Jingga beserta kedua orang tua Jingga kok Bu. Aman pokoknya.”
“Boleh. Asal jaga anak ibu baik-baik ya Chiko.”
•••
To Be Continued