Aurora mulai membuka matanya setelah cahaya lampu ruangan ini memaksa masuk ke retinanya.
Aurora memegang kepalanya yang terasa berat. Tubuhnya benar-benar masih lemas dan seolah tak ada tenaga sama sekali.
"Lo udah sadar?" tanya seseorang terdengar di telinganya membuat Aurora menoleh ke samping.
Biru.
Cowok itu ada di sini. Menemaninya.
"Biru? Kamu Biru kan? Kamu udah nggak marah lagi sama aku?" tanya Aurora lalu langsung memeluk erat cowok itu. "Aku minta maaf."
Tidak. Aurora salah. Harusnya Biru yang meminta maaf pada cewek ini karena dia terlalu lama duduk menemani Jingga padahal niatnya ingin membelikannya makanan, Aurora jadi pingsan dan harus istirahat sampai jam pulang sekolah hari ini.
"Ini gue."
"Aku minta maaf."
"Buat apa?" tanya Biru masih dingin.
Biru sebenarnya masih marah karena Aurora yang tidak izin padanya untuk berangkat bersama Chiko. Walau Biru pasti tahu jawabannya Aurora sempat menolak, tetap saja itu namanya sudah melanggar janji.
"Karena ... Kamu pasti udah liat kan?"
"Liat apa?"
Biru berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Soal aku yang diantar Chiko—"
"Lo langgar perjanjian kita."
Seketika wajah Aurora berubah ketakutan. Dia tahu, dia memang salah dan dia pantas disalahkan.
"Iya, ma-maaf."
"Dengan cara maaf, memangnya gue bakal maafin lo?" tanya Biru ketus. "Lo tahu kan ini nggak akan semudah itu?"
Aurora mengangguk. "Aku tahu. Tapi—i'm so sorry about it. Aku sama Chiko cuma sebatas—"
"Temenan?" potong Biru. "Chiko sahabat Jingga. Dia juga yang selalu halangin gue deketin Jingga. Sekarang lo bikin ulah deket sama rival gue sendiri. Lo pikir gue nggak sakit hati?"
"I know. Tapi—"
"Nggak mudah buat gue deket sama Jingga. Dan lo juga tahu kan segimana berjuangnya gue buat dapat kesempatan deket sama dia? Dan lo sekarang menghancurkan semuanya. Lo deket sama Chiko, gue dilarang deket sama Jingga. Itu nggak adil buat gue, tahu nggak sih lo!"
"Aku nggak pernah larang kamu sama Jingga! Aku juga nggak pernah melawan apapun keputusan kamu! Sekarang kenapa kamu seolah merasa berada di pihak yang tersakiti banget? Playing victim tahu nggak!" ujar Aurora membela diri.
"Yang larang kamu sama Jingga itu Chiko bukan aku. Kenapa kamu jadi nyalah-nyalahin aku? Kalau kamu cuma merasa aku nggak suka lagi sama kamu, nggak cinta lagi sama kamu, bilang! Jangan playing victim kayak gini seolah kamu paling merasa sakit di sini!"
Aurora menyingkap selimut yang menutupi roknya dan turun dari brankar membuat Biru yang semula hanya menatap nanar ke arah Aurora menjadi menahan lengan gadis itu.
"Mau ke mana?"
"Bukan urusan kamu."
•••
"Ra!"
Biru memanggil gadis itu saat mereka berpapasan ketika jam pelajaran selesai dan Biru yang hendak menemui Jingga tiba-tiba terhenti karena tatapan dingin Aurora yang baru saja keluar dari kelasnya.
"Kamu mau ketemu Jingga kan? Jingga ada di dalam. Tunggu aja."
"Nggak, gue mau ketemu lo."
"Itu cuma alasan kamu aja kan? Coba kalau Jingga yang keluar duluan, pasti kamu tetap pilih Jingga kan?" tanya Aurora dingin. "Aku nggak masalah kok untuk hal ini."
"Tapi gue emang nggak lagi nyari Jingga."
"Terus kamu nyari aku? Buat apa? Buat nutupi kekecewaan kamu karena ditolak terus sama Jingga? Dan aku jadikan Chiko alasan yang larang kamu sama Jingga deket?" tanya Aurora. "Pantes Chiko bersikap kayak gitu. Karena emang Jingga perlu dijaga dari orang-orang yang nggak pernah pakai perasaannya deketin dia."
Suasana koridor kelas Aurora sudah mulai sepi karena sudah semua murid pulang termasuk Jingga yang hanya menatap ke arah Biru lalu melenggang pergi saat Jingga baru saja keluar kelas.
"Maksud lo?"
"Chiko benar emang. Jagain Jingga dari kamu. Jingga juga bilang kalau dia nggak mau berurusan sama kamu di saat kamu aja belum bisa nentuin siapa yang sebenarnya ada di hati kamu. Kamu masih suka aku atau kamu menyukai Jingga aja rasanya masih abu-abu. Sikap kamu yang bikin kita aneh dan merasa bingung."
Aurora berjalan meninggalkan Biru. Dia tidak tahu lagi dengan apa mau Biru sebenarnya.
Satu sisi, dia masih merasa kalau Biru masih mencintainya tapi di sisi lain Aurora merasa ada rasa untuk Jingga yang memang Biru simpan dan dia baru tahu sekarang.
Aurora menunggu angkot di halte ini. Bersama beberapa teman-teman yang lain. Tapi rasanya, Aurora merasa kesepian.
Entah. Hatinya yang merasa kosong atau memang dia benar-benar tidak bisa merasakan bentuk cinta apapun dari mereka.
Tit...
Bunyi klakson motor membuat lamunan Aurora buyar. Tepat di depannya. Sebuah motor berhenti dan cowok yang mengendarai motor itu mulai membuka helmnya ketika tatapan Aurora yang semula kosong menjadi kernyitan.
"Lo lagi. Ngapain sih lo?!"
"Mau antar lo pulang. Salah?" tanyanya.
"Gue nunggu angkot bukan nunggu lo."
"Angkotnya nggak ada."
"Sok tahu lo."
"Ya udah gue tungguin aja lo di sini."
"Ngapain? Gue nggak butuh."
"Gue juga nggak berharap lo liat perjuangan gue sih."
"Perjuangan apaan sih? Ngaco lo ya!" Aurora berujar dengan ketus. Dia benar-benar tidak paham maksud laki-laki ini.
Chiko duduk di samping Aurora membuat gadis itu otomatis bergeser menjauh dari Chiko. Dia tidak mau hal aneh yang tak dia inginkan terjadi.
Secara, di sekolah Aurora dikenal sebagai pacar Biru. Walau Biru masih tetap menganggap Aurora abu-abu karena kehadiran Jingga, tapi Aurora adalah pacar sah di mata publik.
"Ngapain lo masih di sini? Udah setengah jam loh ya lo di sini ngikut gue terus."
"Gue udah bilang. Gue mau nunggu lo aja di sini. Salah emang?" tanya Chiko. "Lagian tempat ini kan umum bukan tempat nenek moyang lo."
"Gue tahu. Tapi kenapa harus lo ngikutin gue? Gue nggak nyuruh lo sama sekali."
"Gue juga nggak ngerasa lo nyuruh gue. Jadi santai aja."
"Lo nggak ada kerjaan ya selain gangguin hidup gue?" tanya Aurora kesal. "Gue pusing liat lo."
"Terus? Perlu kita ke rumah sakit?" tanya Chiko dengan santainya. "Gue siap antar lo kok."
"Gue yang nggak mau dan nggak akan mau. Bagi gue, kejadian tadi pagi adalah hal terakhir gue bisa mau nerima tawaran lo."
"Dan gue pastiin lo akan nerima tawaran gue selanjutnya. Termasuk kali ini," ucap Chiko sembari tersenyum ke arah Aurora.
"Sinting lo ya? Gue kan udah bilang nggak mau. Lo masih punya telinga kan? Dan masih berfungsi juga kan?" tanya Aurora.
"Of course."
Tak mau berlama-lama, akhirnya Aurora memutuskan untuk memesan taksi online saja. Dia tidak mau berurusan dengan Chiko lagi. Lebih baik dia mengeluarkan uang lebih besar untuk ongkos taksi daripada berurusan dengan cowok ini lebih lama.
"Bye! Gue mau pulang!"
•••