Aurora dihukum oleh guru piket. Hormat ke bendera di tengah lapangan sampai jam istirahat berbunyi.
Ini memang salahnya tadi malam lupa menyalakan alarm sebelum tidur makanya bangun kesiangan dan alamat Ibunya sudah berangkat ke pasar pagi-pagi sekali.
Sudah dua jam Aurora di sini, menghadap ke bendera dan dibawah teriknya matahari.
Aurora menatap ke arah lapangan lain di mana teman-teman kelas Biru tengah olahraga dan bermain futsal dengan teman perempuan Biru duduk di pinggir lapangan.
Aurora tidak melihat Biru ada di sana. Ke mana cowok itu?
Aurora memegang perutnya. Lapar.
Tadi pagi Aurora memang belum makan dan tak sempat juga dia membuat bekal untuknya. Kesialan pagi ini benar-benar paket komplit.
Harus berapa lama lagi dia ada di sini? Kepalanya pusing, pemandangannya lama-lama mengabur dan—gelap.
Aurora pingsan dan cewek itu tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya setelah ia jatuh pingsan.
•••
Biru menatap ke arah lapangan sebelah. Lapangan upacara yang hanya dihuni oleh satu orang cewek berambut panjang tengah menatap ke arah bendera dengan posisi hormat.
Setelah pemanasan, mereka di suruh lari keliling lapangan tiga putaran barulah setelah itu mereka diperbolehkan untuk istirahat dan bermain futsal bagi yang ingin.
'Dia itu anak berprestasi itu kan? Tumben banget dia telat.'
'Oh dia yang habis diantar anak sekolah sebelah bukan sih tadi?'
'Itu bukannya pacarnya Biru juga ya?'
"Biru, pacar lo kenapa tuh?!" tanya salah satu teman ceweknya.
Biru hanya menatap ke arah mereka. Lalu mengendikkan pundaknya tanda tak tahu dan tak peduli.
"Oh iya gue lupa. Lo lagi pdkt sama Jingga."
Biru memutar bola matanya jengah. Dia lupa kalau hari ini dia tidak menemui Jingga sama sekali. Apa kabar dia?
Biru berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan lapangan.
Jika dilihat-lihat, kasihan juga Aurora. Dia pasti belum makan. Mungkin setelah dia memberikan sebuah roti dan air, Aurora akan baik-baik saja sampai jam hukumannya selesai.
Ketika Biru masih di ambang pintu kantin, dia melihat Jingga dan Dewa di sana. Memakan sarapannya berdua. Sepertinya tidak ada gurunya di kelas Jingga dan Aurora karena beberapa teman Jingga juga ada di sini.
Terlihat di sana, Jingga tengah menyuapi makanan ke arah Dewa dan ditolak oleh Dewa namun dengan senyuman renyahnya.
Sepertinya mereka terlihat bahagia. Apa memang benar jika Jingga memiliki hubungan spesial dengan Dewa?
Apa orang itu adalah Dewa?
Biru tersenyum kecut. Hatinya rasanya tak nyaman ketika melihat pemandangan itu ada di depan matanya langsung. Jujur saja, dia sakit.
Ya, dia sakit dan patah.
Ternyata dia tak mudah untuk mendapat hati Jingga. Hati gadis itu benar-benar batu dan membeku.
Apakah perasannya salah selama ini?
"Eh Biru? Lo di sini?" Dewa menyapa Biru ketika cowok itu mau ke kasir untuk membeli roti dan air untuk Aurora.
"Sini, duduk!" ajak Dewa kemudian membuat Jingga dan Biru sama-sama saling menatap dan terdiam.
Jingga sepertinya tidak nyaman.
"Ngg—"
"Udah, sini duduk! Gapapa kan, Ngga?" tanya Dewa pada cewek yang tengah minum es jeruknya.
Jingga mengangguk ragu. "Iya, gapapa. Duduk aja di sini, Ru."
Biru menurut. Soal roti dan air Aurora nyatanya terlupakan begitu saja.
Biru duduk di dekat Jingga yang masih berusaha mengabaikan Biru di dekatnya.
"Lo lagi olah raga?" tanya Dewa basa-basi.
"Ya, habis istirahat."
"Lo mau beli apa ke sini?"
"Gue—"
Tidak mungkin kan kalau dia bilang mau beli makanan buat Aurora? Di sini ada Jingga. Pasti cewek itu semakin menjauhinya kalau tahu soal ini.
"Beli minum. Gue haus," alibinya kemudian.
Bohong, batin Jingga.
Jingga tahu niat Biru kesini tak lain dan tak bukan untuk membeli sesuatu untuk Aurora. Sadar diri saja. Jingga tidak akan pernah mendapat perhatian lebih dari sebatas teman walau Biru meyakininya sekalipun jika dia benar-benar menyukai Jingga.
Mulut bisa bilang ini dan itu, tapi masalah mata, dia tidak bisa berbohong.
"Oh, ya udah. Lo nggak ada apa-apa lagi kan habis ini?" tanya Dewa. "Gue mau balik kelas ngerjain tugas."
Jingga melotot. s****n anak ini! Chiko sudah memperingatinya untuk tidak mendekatkan Jingga dengan Biru kenapa malah sebaliknya?
"Wa! Lo apa-apaan sih! Gue belum selesai makan."
"Ya, gue tahu. Kan udah ada Biru yang nemenin lo."
"Tapi gue maunya lo."
"Masa depan gue lebih penting daripada cuma nemenin lo makan doang."
Astaga! Dewa benar-benar kurang ajar lama-lama.
"Ya udah gue berhenti makan."
"Lo bisa sakit," ujarnya pelan. "Lo nggak mau kambuh lagi kan?"
Jingga menggeleng.
Kambuh? Memangnya Jingga punya sakit apa?
"Lo ada sakit apa?" tanya Biru akhirnya membuka suara.
"Bukan urusan lo."
"Jingga!"
"Dewa!" Jingga memanggil cowok itu yang kini sudah pergi meninggalkan kantin.
Jingga berdecak.
"Jingga?!"
Jingga hendak pergi dari sana namun tangannya sudah dicengkeram lebih kuat oleh Biru.
"Jingga, jawab aku!"
"Apa?"
"Kamu sakit apa?"
"Nggak sakit apa-apa."
"Kamu bohong."
Jingga tak menjawab. Dia memilih melanjutkan makannya dengan Biru yang masih tetap menatap Jingga dengan serius.
"Jingga!"
"AURORA!!!"
Teriakan dari luar kantin membuat cowok dengan seragam olahraga menatap ke arah luar dan sedetik kemudian barulah dia menyadari sesuatu.
Jingga sedang tidak baik-baik saja!
•••
TBC!