Aurora kini tengah menunggu angkot di tempat seperti biasa. Dia sendirian dan memang ini kesiangan sehingga angkot-angkot yang lewat sudah penuh dan berkali-kali ditolak oleh angkot-angkot itu.
“Parah. Kalau gue nyampe ke sekolah telat gimana,” gumam Aurora mondar mandir di halte. Sendirian.
"Lo kenapa?" tanya seseorang yang tiba-tiba berhenti di depannya dengan menggunakan motor dan helm fullface yang belum di buka oleh cowok itu.
Aurora dari suaranya saja merasa tidak asing dengan cowok ini. Tapi, di mana? Dan dia siapa?
"Lo siapa? Gue pernah kenal?" tanya Aurora menunjuk ke arah cowok itu.
"Lo nggak tahu gue?" tanyanya lalu membuka helmnya membuat Aurora mendengus ketika tahu siapa cowok itu.
"Calon masa depan lo. Udah kenal?" tanyanya tersenyum ke arah gadis yang berdecak sedari tadi.
"Lo lagi, lo lagi. Terakhir gue sama lo, gue kena omel sama Biru. Mending, lo jangan ke sini dan jangan deketin gue lagi."
Chiko terkekeh. Rasanya seru juga kalau membuat Aurora kesal seperti ini.
"Gue nggak tega sama lo. Naik! Gue anter lo ke sekolah."
"Nggak!" Aurora langsung menolak mentah-mentah.
"Kalau gitu, gue tunggu aja lo di sini sampai angkot yang lo inginkan datang," ucapnya. "Tapi gue bisa jamin kalau lo itu akan telat masuk kelas."
Aurora langsung melirik ke arah jam tangannya. Benar. Sudah jam setengah tujuh lewat sepuluh menit. Itu artinya dua puluh menit lagi akan ditutup pintu gerbangnya.
Tapi... Angkot daritadi belum keliatan.
"Lo mau telat?" tanya Chiko lagi. "Kalau gue jadi lo, mending naik ke atas motor daripada keliling lapangan."
Tidak. Dengan sekuat tenaga, ia membulatkan tekadnya untuk biasa saja dan terlihat tenang.
"Lima menit lagi paling angkot datang."
"Oke," putus Chiko. "Selamat menunggu angkot sendirian Tuan Putri."
Chiko memasang lagi helmnya dan berlalu meninggalkan cewek itu sendirian.
Aurora bisa bernapas dengan lega sekarang. Ya, setidaknya tidak ada alasan lagi Biru marah-marah.
Aurora kembali duduk sambil melirik ke arah kanan dan kirinya. Namun sudah sepuluh menit berlalu, angkot itu belum juga ada yang datang dan berhenti untuk membawanya ke sekolah. Sepuluh menit lagi, pintu gerbangnya akan ditutup.
Sial. Habislah riwayatnya.
Gelar siswi paling rajin di sekolah akan tercoreng hanya karena satu kesalahan. Telat.
Aurora benar-benar tidak bisa bersikap dan berkata apa-apa lagi kalau ini benar-benar terjadi.
Pertama kalinya, Aurora telat datang ke sekolah.
Motor itu berhenti lagi tepat dihadapan Aurora.
Chiko dengan sikap songongnya membula sedikit helmnya dan berkata, "apa gue bilang. Lo nggak percaya sih. Sini gue anter."
"Nggak usah. Gue bisa jalan kaki, lagian lo kan harus sekolah juga."
"Kelas gue nggak ada guru. Jadi, gue bisa antar lo ke sekolah."
"Tapi, gue—"
"Lima menit lagi masuk. Telat atau bolos, terserah lo."
Chiko menutup lagi kaca helm fullfacenya bersiap untuk pergi dari sana.
"Eh, eh, iya iya gue ikut!"
Dengan terpaksa, Aurora melakukan ini daripada dia tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Dia takut ibunya tahu dan mengkhawatirkannya.
"Nah." Chiko tersenyum senang. "Nih helmnya dipake!"
"Sabar!"
Aurora menerima uluran helm itu dari tangan Chiko lalu ia memasangnya kemudian ikut naik ke jok belakang motor Chiko.
"Awas hati-hati!"
"Tenang aja."
"Chiko?! Lo bisa biasa aja nggak sih?!" teriak Aurora ketika kecepatan motor yang dikendarai oleh Chiko benar-benar memacu detak jantungnya. "Kalau mau mati, jangan ajak gue bisa nggak?!"
"Katanya mau nggak telat. Gimana sih!"
"Udah telat mending nggak usah ngajak mati."
"Yaudah." Benar saja, Chiko menurunkan kecepatannya hingga 20km/jam membuat Aurora berdecak kesal.
"Nggak gini juga." Aurora memukul helm yang dipakai oleh Chiko dengan kesal. "Maksud gue biasa aja bukan lambat kayak gini. Lo paham kan?!"
Chiko terkekeh dibalik helmnya. Lucu juga kalau menggoda Aurora seperti ini.
"Makanya diem aja. Banyak omong!"
"Gimana nggak banyak omong kalau orang yang gue ajak lemotnya kayak siput," decak Aurora lagi.
Chiko mendengarnya samar-samar. Karena suara Aurora mau sekeras apapun akan terasa kecil di pendengarannya akibat bertabrakan dengan suara angin.
"Udah, ya, cantik. Lo tinggal diam aja. Bentar lagi juga nyampek."
Aurora hanya berdehem.
Jam 07.10 mereka sampai di depan gerbang Aurora.
Dengan cepat Aurora turun dari motor Chiko dan mengembalikan helmnya pada Chiko.
"Nih."
Aurora balik setelah helm itu diterima oleh Chiko.
"Eh, tunggu-tunggu!"
Berdecak. Memutar balik badannya. "Apa lagi?"
"Semua pertolongan gue, itu nggak gratis."
"Terus? Lo mau apa?"
"Jalan sama gue."
"Nggak bisa."
"Kalau gitu, liat aja nanti sore."
Setelah itu, Chiko pergi dari sana. Aurora hanya bisa mematung dengan sikap Chiko yang benar-benar aneh dan tak masuk di akal.
Mau cowok itu sebenarnya apa?!
Tak ingin berpikir soal Chiko yang benar-benar aneh hari ini, Aurora menghampiri gerbang sekolah yang sudah ditutup sejak tadi.
"Pak, bukain dong, Pak!" pinta gadis itu memohon pada seorang satpam yang berjaga di gerbang itu.
"Neng Aurora kenapa telat?" tanya Satpam yang berjaga itu. Beliau sudah kenal dengan Aurora. Murid berprestasi di sekolah ini, siapa yang tidak kenal?
Hanya cowok aneh saja yang rela membuang berlian seperti Aurora.
Ya, itu Biru.
"Panjang deh pak ceritanya."
"Sepanjang apa?"
Bukan satpam itu yang bertanya melainkan orang yang tiba-tiba saja berdiri di samping satpam dengan tatapan dinginnya.
"Biru?!"
Biru tak menghiraukannya.
Jujur, Aurora kaget. Kenapa bisa Biru ada di tempat ini? Bukankah kelas sedang berlangsung?
Biru menatap ke arah Aurora. Lalu matanya beralih pada satpam yang sejak tadi berdiri di balik gerbang ini.
"Bukain aja, Pak. Disuruh guru piket ke lapangan setelah ini."
Setelah mengucapkan itu, Biru pergi meninggalkan gerbang sendirian.
Biru sudah berganti seragam menjadi olahraga.
Sial. Dia baru ingat jika Biru hari ini ada jam olahraga. Pantas saja Biru ada di luar kelas.
Satpam itu akhirnya memberikan izin untuk Aurora masuk ke area sekolah. Dengan cepat dia masuk dan mengejar Biru yang berjalan ke arah koridor.
"Biru, tunggu!"
"Biru!"
"Biru, please!"
"Biru?"
Dapat! Aurora berhasil mengejar Biru namun sialnya Biru masih tetap berjalan lurus menghiraukan Aurora.
"Biru? Kamu kenapa?" tanya Aurora mensejajarkan langkahnya dengan langkah Biru.
"Kamu marah?"
"Biru?!"
"Aku ada salah apa sama kamu? Kan semalam kita baik-baik aja."
"Biru. Tolong!"
"Biru?!"
"Bisa diem?" kata Biru dingin.
"Kamu kenapa dulu? Aku ada salah apa sama kamu?"
"Menurut lo, lo ada salah nggak sama gue?"
Aurora menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu ada apa.
"Aku nggak tahu."
"Kalau lo merasa nggak ada salah, kenapa lo nanya?!"
"Tapi kenapa kamu diemin aku?"
"Emangnya gue harus apa?" tanya Biru balik. "Gue mau ke toilet. Bentar lagi ada jam olahraga."
"Biru?" panggil Aurora lagi. "Aku benar-benar ada salah sama kamu?"
"Menurut lo gimana?" tanyanya lagi. Kali ini lebih dingin.
"Aku—nggak tahu."
"Ya udah."
•••
TBC!