Aurora kini sudah ada di rumahnya. Ia tidak ikut mengantar Jingga ke rumahnya karena tiba-tiba saja ada Biru yang menunggu mereka di depan rumah sakit. Aurora tidak tahu laki-laki itu datang menemuinya atau malah di suruh menjemput Jingga.
Ini memang bukan salah Jingga. Dia tahu perempuan itu baik, dia pasi tahu posisinya. Yang jadi masalah di sini adalah Biru yang sama sekali tak menghargainya sama sekali setelah dia tahu siapa Jingga sebenarnya.
“Kamu tadi diantar Biru kan?” tanya Ibunya pada Aurora yang dibalas dengan anggukan.
“Kok dia nggak mampir?” tanyanya lagi.
“Lagi mau nganter Jingga, Bu.”
“Jingga itu siapa?” tanya ibunya lagi.
“Sahabatnya Biru.”
“Cewek kan? Terus kamu nggak larang Biru? Minimal kamu ikut aja ke rumah Jingga itu biar Biru nggak berduaan sama Jingga di mobil.”
“Jingga sakit BU. Dia pasti langsung pulang kok soalnya udah ditelfon sama mamanya,” ujar Aurora memberikan pengertian pada Ibunya.
“Tapi Jingga itu cewek. Kamu yakin diantara mereka nggak ada yang punya rasa?” tanya ibunya mulai cemas.
“Ibu tenang aja. Mereka pure sahabatan. Kalau mereka ada rasa, mana mungkin Aurora bisa pacaran sama Biru?’ tanya balik Aurora. “Ibu percaya aja sama aku dan Biru. Kami baik-baik aja, kok.”
Ibunya menghela napas panjang. Menatap ke arah putrinya lalu berkata, “terserah kamu deh. Tapi awas ya kalau sampai Biru nyakitin hati kamu, habis Biru ditangan Ibu.”
***
“Lo ngapain sih ke sini?” tanya Jingga kesal.
Setelah mereka mengantar Aurora, Biru mengantar Jingga ke rumahnya.
Tadi Biru sempat ke rumah Jingga dan katanya Jingga pergi ke rumah sakit ikut temannya. Akhirnya Biru menyusul ke rumah sakit dan tahunya Jingga sudah mau pulang. Tadi sempat terhalang macet juga di jalan karena sudah banyak orang pulang kerja di jam-jam segitu makanya macet.
“Gue ngejemput lo.”
“Gue nggak nyuruh lo buat itu.”
“Senggaknya orang tua lo udah izinin gue. Menurut gue itu udah lebih dari cukup,” ucapnya.
“Gue bisa pulang sendiri.”
“Naik taksi?” tanya Biru lagi.
Jingga mengangguk.
“Macet. Yang ada acara istirahat lo jadi berkurang karena lo harus nunggu di dalam taksi.”
“Kalau sama lo kan sama aja.”
“Beda. Lo bisa istirahat lebih dulu di situ. Nanti gue bangunin lo.”
“Ha? Becanda? Di taksi juga gue bisa istirahat.”
“Lo mau diturunin di tengah jalan kalau misalkan sopirnya tiba-tiba orang suruhan preman buat ngerampok lo?” tanya Biru menakut-nakuti.
Sebenarnya ini adalah trauma sendiri bagi Biru. Beberapa bulan lalu, Aurora sempat mengalami hal ini makanya Biru tidak mau hal ini terjadi juga pada Jingga. Apalagi melihat kondisi Jingga yang begitu lemah. Dia takut semua itu terjadi pada orang-orang yang dia sayang.
“Ya tapi lo jangan nakut-nakutin gue juga kali.”
“Itu sering kejadian di jam-jam segini. Makanya jangan batu jadi orang,” ketusnya.
Ah s**l.
Jingga menatap ke arah depan dengan Biru yang masih tetap fokus ke arah jalan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sekitar lima menit lagi ia sudah sampai di rumah Jingga. Mereka sudah memasuki area kompleks tempat tinggal Jingga.
“Langsung tidur.”
Jingga hanya berdeham langsung keluar dari mobil Biru dan masuk ke dalam rumah. Tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Jujur perasaan Jingga merasa bersalah sekali. Aurora begitu baik dan dia tega harus diantar pulang Biru sedangkan pacarnya sendiri diantar lebih dulu? Pasti orang yang takut kehilangan pacarnya pasti mau ikut kemanapun juga. Tapi Aurora? Dengan lapang d**a dia mengatakan jika dia benar-benar ikhlas. Dia tidak masalah. Tapi rasanya tidak nyaman saja kalau ini terus-terusan terjadi.
Setelah menutup pintu rumahnya, ia disambut oleh orang tuanya dengan hangat.
“Sudah selesai cuci darahnya?” tanya mamanya.
Jingga mengangguk.
“Tadi Biru ke sini, mama bilang aja kalau kamu ke rumah sakit sama teman kamu. Dia tidak curiga kan?” tanyanya pada Jingga.
Syukurnya ada alasannya. Aurora. Biru pasti tahu kalau Aurora sering mengunjungi adik-adik kecilnya.
“Sejauh ini masih aman-aman aja.”
“Tapi jangan lama-lama ya kamu sembunyikan ini dari Biru. Mama yakin lambat laun dia pasti tahu entah dari Mama atau teman-teman kamu yang lain.”
Jingga menghela napasnya. Dia tahu hal seperti ini sebenarnya tidak baik dipendam. Tapi cara menjauhi Biru juga tidak mudah bagi Jingga. Biru seakan ingin mengejarnya layaknya Jingga adalah seekor kupu-kupu.
Sulit digapai bahkan sulit untuk mengimbanginya.
Terhalang oleh sebuah rahasia itu ternyata tidak semudah itu.
“Iya, ma. Nanti Jingga kalau udah siap bakal ngasih tahu yang sebenarnya kok sama Biru.”
“Kapan?” tanya Mamanya.
“Nanti kalau Jingga siap.”
“Kapan siapnya?” tanyanya lagi.
Jingga menggeleng.
“Kamu tahu, mamanya Biru bilang kalau Biru di kamarnya masih nyimpen foto-foto kalian. Nggak tahu apa sebenarnya perasaannya Biru ke kamu. Tapi kamu wajib merasa beruntung karena bisa dihargai oleh sahabat kamu. Kamu itu berharga, Nak.”
Dia beruntung kok. Bahkan Jingga masih tak percaya kalau ini terjadi.
“Jingga beruntung benar-benar sangat beruntung.”
“Jangan kecewain Biru ya Nak. Kasihan anak itu.”
Jingga mengangguk. Setelah itu Jingga pamit untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat.
Jujur saja sampai saat ini dia belum berani untuk mengatakan apapun pada Biru karena dia tahu ia akan dikasihani oleh semua orang dan dianggap cewek lemah. Sebenarnya itu yang sangat tidak bisa Jingga terima. Dia mau jadi gadis kuat, tidak lemah dan mencari kebahagiaan sendiri. Bukan seperti ini. Lemah dan selalu dikasihani banyak orang.
•••
To Be Continued