Hai Adik Kecil

642 Kata
Shafa menyapa Aurora ketika dua gadis itu berada di depan pintu kamar mereka. Perasaan senang tentu saja terukir di bibir indah mereka. “Kak Aurora?!” pekik seorang anak kecil yang duduk di atas kursi roda. “Hai, Shafa?” sapa Aurora tersenyum. “Kak Aurora sama siapa itu? Temannya kakak ya? Cantik banget.” Jingga hanya tersenyum pada beberapa anak yang tersenyum padanya. “Halo adik!” “Hai, kak.” Jingga dan Aurora akhirnya menghampiri semua teman-teman Shafa yang lain. “Kakak tanya, kalian udah minum obat belum?” tanya Aurora lagi. “Jangan lupa minum obatnya ya biar nggak sakit.” “Udah dong!” jawab mereka dengan serempak. “Tapi kak, Shafa sudah minum obat rutin kok nggak sembuh-sembuh sih?” tanya Shafa lagi dengan wajah yang murung. Jingga jadi teringat pada penyakitnya sendiri. Dia memang sudah tahu ending hidupnya tapi dia dipaksa untuk minum obat dan rutin cuci darah sama seperti Shafa yang selalu kemoterapi dan minum obat. Tapi bisakah mereka akan hidup layaknya manusia lain? Sembuh dan tak menahan sakit apa-apa lagi? Aurora tersenyum getir. Sesekali ia melirik ke arah Jingga yang ikut menundukkan kepalanya. Pasti Jingga teringat akan dirinya sendiri. “Shafa, kamu anak kuat dan pintar. Nanti kalau emang udah waktunya sembuh, Shafa bakal sembuh kok.” Shafa akhirnya mengangguk dengan ceria setelah mendengar penjelasan Aurora. Shafa melirik ke arah Jingga yang hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. “Terus kak Jingga ini kenapa sedih?” Mendengar pertanyaan itu, Jingga mendongakkan kepalanya lalu tersenyum ke arah Shafa. “Ah kakak nggak apa-apa kok.” “Kakak mukanya pucet. Kakak nggak apa-apa kan?” tanyanya lagi. “Kalau kakak sakit, nggak apa-apa kakak ke dokter aja sama Kak Aurora.” Jingga menunduk. Mensejajarkan tubuhnya dengan Shafa yang ada di atas kursi roda. “Sayang, kakak nggak apa-apa kok. Kamu tenang aja.” “Tapi wajah kakak itu kelihatan lagi sakit.” “Iya, nanti kakak bakal ke dokter. Habis ini ya,” ujar Jingga pada Shafa lagi. “Shafa jangan sedih ya. Soalnya mulai saat ini, kakak janji bakal sering-sering ke sini.” “Seriusan kak?” tanya Shafa dengan mata yang berbinar. Jingga dan Aurora mengangguk dengan serempak. Ia berjanji akan tetap mengunjungi anak-anak di sini. Karena nasib Jingga dan adik-adik ini sama. Ya, sama-sama bergantung pada pengobatan dokter dan obat sebagai pereda sakit. “Kakak mau pulang dulu ya? Soalnya mau ikut kak Jingga berobat.” ••• Setelah Jingga selesai cuci darah, akhirnya mereka pulang. Dalam perjalanan pulang keduanya sama-sama diam. Namun sesekali Jingga mengingatkan pada Aurora untuk jangan mengatakan hal ini pada Biru apalagi sama keluarganya Biru yang lain. “Jingga, kalau sampai lo nggak absen cuci darah lagi habis ini, gue nggak akan segan-segan buat kasih tahu Biru soal ini.” “Ih jangan!” Jingga merengek seperti orang yang meminta permen pada orang tuanya. “Kenapa? Kasihan Biru kalau tahu soal ini dari orang lain.” “Yang tahu soal ini cuma beberapa orang termasuk lo.” “Tapi lama-lama juga bakal tahu semua soal ini, Ga.” “Iya gue tahu. Tapi seenggaknya jangan sekarang.” “Lo mau sampai kapan? Lo tahu, semua orang emang punya banyak rahasia tapi lama-lama bakal ketahuan juga.” Jingga tahu soal ini. Tapi setidaknya bagi dia, Biru akan tahu jika waktunya sudah tepat. Selama dia bisa melakukan apapun seperti biasa, semua orang tak perlu merasa kasihan padanya. Dia tidak perlu itu. Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Aurora lalu kemudian gadis itu pamit dan akhirnya turun. Jingga melanjutkan perjalanannya sendiri di taksi online ini untuk pulang ke rumah. “Iya, Ma?” Jingga mengangkat telfon dari mamanya yang menanyakan keberadaan dirinya sebenarnya. “Ini Jingga mau pulang. Lagi di jalan.” ‘...’ “Iya, Jingga udah cuci darah.” ‘...’ “See you mom.” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN