Memutuskan Hubungan

1011 Kata
Jingga mulai membuka matanya ketika a merasa ada cahaya yang masuk ke sela-sela kelopak matanya. Keningnya berkerut merasakan pusing yang sangat luar biasa. Tanganya terasa sakit dan berat oleh beberapa alat-alat medis seperti infus dan di hidungnya pun terlihat tengah di pasang sesuatu. Memangnya Jingga kenapa? “Jingga sudah sadar, Nak?” tanya seseorang dari arah samping. Ketika gadis itu hendak menoleh, kepalanya tiba-tiba pusing. “Aws...” ringis Jingga memegang kepalaya. “Jangan banyak gerak dulu, Nak!” suara itu adalah suara Mamanya. Ya, Jingga ingat persis suara itu. “Jingga di mana?” tanya Jingga masih dengan tangannya yang menempel di dahinya. “Kenapa Jingga bisa di sini?” “Kamu kecelakaan.” Itu bukan jawaban dari Ibunya. Tapi, Chiko? “Lo?” tunjuk Jingga kaget. “Ngapain lo di sini?” “Bantuin lo. Lo pikir siapa yang bantu lo dan bawa lo ke Rumah Sakit kalau bukan gue sama Dewa?” tanya Chiko berdecak. “Harusnya lo berterima kasih sama gue.” “Ogah.” Jingga bangkit dari tidurnya sambil di bantu oleh Ibunya. “Ini juga gara-gara lo.” “Kok gue?” tanya Chiko melototkan matanya ke arah Jingga. “Kan gue ke sana gara-gara lo. Dan gue nyesel ada di sana kalau tahu lo yang ngasih tahu Biru soal gue.” “Harusnya lo seneng. Kenapa lo yang tak terima? Biru tahu lo itu karena gue.” “Iya karena lo. Dan hidup gue hancur di mata Biru juga karena lo!” “Ck! Dasar cewek tak tahu terima kasih.” “Mohon maaf. Itu salah lo! Kenapa jadi gue yang suruh terima kasih?” tanya Jingga. “Ya itu karena-“ “Eh, sudah, sudah!” lerai Mama Jingga pada mereka berdua. “Ini di Rumah Sakit kenapa kalian jadi bertengkar?” “Iya itu salah Chiko dong.” “Apaan sih! Kenapa jadi gue?” ketus Chiko sewot. “Ya, kan, memang lo yang salah.” “Apaan!” “Selamat pagi kalian semua!” sapa seseorang dari arah pintu kamar rawat Jingga. Di sana sudah ada Dewa dengan setelan kaos abu-abu dan hoodie hitamnya. Berjalan ke arah mereka yang tengah menenteng sesuatu di tangan kanannya dan tangan kirinya ia masukkan ke saku hoodie. “Dewa?” tanya Mama Jingga sedikit mengingat. Sudah satu tahun tak bertemu tentu saja perempuan paruh baya itu tak mengenal sosok Dewa yang kali ini sudah lebih tiinggi dan tampan daripada yang sebelumnya. “Iya tante, ini Dewa.” “Kamu ganteng sekali sekarang, Nak.” Mendengar pujian dari Mama Jingga membuat Chiko yang berdiri di depannya ini mengernyit. “Padahal lebih ganteng Chiko.” “Dih. Pede gila anda.” “Emang gue ganteng.” “Sejak kapan modelan kayak lo itu ganteng? Tidak terima gue kalau model kayak lo itu ganteng.” “Lo kan emang gak bisa bedain antara orang ganteng sama orang buluk kayak Dewa.” Mendengar itu, Dewa yang mendengar percakapan itu dan menyebut-nyebut namanya mendengus. “Apa-apaan kalian! Gue diam dikata buluk.” “Lah kan, emang.” “Mana ada kayak gitu heh!” Dewa merasa tak terima. Selama dirinya ada di sini, Dewa sudah tahu jika dia akan menjadi bualan dua orang ini. Dasar tukang gosip! “Ada, Wa!” “No. Udahlah gue mau balik. Liat kalian nafsu makan gue hilang gitu aja. Dasar anak-anak monyet!” Dewa berbalik badan. Namun sebelum dia pulang, Dewa menyampaikan salam dari seseorang untuk Jingga. “Oh, iya, lupa.” “Kenapa?” “Dapat salam dari Biru.” *** “Lo nggak apa-apa?” tanya Biru ketika cowok itu terlihat menghampiri Jingga ke Rumah Sakit sehabis pulang sekolah. “Lo–“ “Gue tahu semuanya.” Biru tahu semuanya? Yang dipikiran Jingga bukan soal Biru tahu soal ini. Tentu saja Biru akan tahu mengingat Chiko s****n itu yang selalu mengacaukan hidupnya. Tapi ini soal Aurora. Gadis itu pasti sudah tahu soal ini kan? Lalu bagaimana dengan pertemanannya dengan Aurora selanjutnya? “Gue udah duga itu dari sebelumnya.” “Terus, kenapa lo kemarin ngehindar dari gue? Salah gue apa emangnya?” tanya Biru lembut. “Lo gak salah. Guenya aja yang tahu diri kalau lo udah ada yang miliki.” “Ada tidak adanya seseorang di hidup gue, lo adalah sahabat gue. Paham nggak sih lo?” tanya Biru kesal. “Gue akuin emang gue udah ada Aurora. Tapi dia pacar gue. Nggak ada yang bisa gantiin posisi lo sebagai orang yang gue sayang selama ini.” “Justru itu yang bikin gue kesel sama lo.” Biru mengernyit. Bukankah harusnya Jingga senang. Kenapa jadi seperti ini? “Gue temenan sama Aurora. Gue nggak mau Aurora merasa kalau gue adalah perusak hubungan kalian. Gue nggak mau. Jadi lebih baik lo mendimg putusin hubungan persahabatan kita. Daripada gue haus sakit hati dan Aurora menjadi korban dari hubungan persahabatan tidak sehat ini.” Apa katanya? Putusin hubungan persahabatan? Apa dia sudah gila! “Gak bisa. Bertahun-tahun gue cari lo. Dan setelah kita bertemu, lo minta kita jauh? Lo gila?!” “Gue nggak gila. Tapi hubungan ini yang akan membuat kita gila.” “Lo takut Aurora marah sama lo?” tanya Biru lagi. Ya, tentu saja. Aurora adalah alasan Jingga mau mengalah dan menjauhi Biru. Demi gadis itu. “Bukan, gue takut cowok gue marah sama lo.” *** Biru jadi termenung. setelah kemarin Jingga bilang ada cowok yang harus ia jaga hatinya, kenapa rasanya hati Biru jadi tidak tenang seperti ini? memangnya ada apa ini? 'Kamu kenapa?" tanya Aurora ketika ia baru saja keluar dari kelasnya dan mendapati Biru di depan kelas. "Jingga ngga masuk sekolah hari ini." "Gue tahu." Gue?  Panggilan 'gue' dari Biru mampu membuat Aurora terperanjat. Dia tidak tahu seberharga apa Jingga bagi Biru tapi percaya atau tidak, Biru langsung bersikap dingin padanya karena Jingga. Setelah malam itu terjadi. "Kamu kenapa jadi berubah seperti ini?" tanya Aurora lembut. "Ada yang ganggu pikiran kamu?" Biru menoleh. "Gue boleh minta satu hal?" "A-apa?" Tiba-tiba perasaan Aurora tidak enak. "Jangan jauhi Jingga dan jangan benci dia." *** T. B. C.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN