Kalian mau tahu apa yang Aurora lakukan ketika Biru mengatakan hal itu padanya? Marah? Tentu saja tidak.
Memangnya ada yang salah? Jingga kan memang sahabt Biru jadi hal itu wajar-wajar saja kan?
Kini Aurora sudah sampai di depan ruang rawat teman-temannya yang selama ini sering Aurora kunjungi-sendirian.
Bukan tidak mau mengajak Biru namun dia memang malas sekali kalau mengajak Biru dan alasan cowok itu pasti banyak untuk menolak.
“Hai, adik-adik?” sapa Aurora pada beberapa anak yang kini tengah ada di depannya termasuk Shafa.
“Halo Shafa,” sapa Aurora menghampiri anak itu di mana wajah anak usia delapan tahun itu memperlihatkan wajah yang cemberut. “Loh kamu kenapa sayang?”
“Kak Aurora sudah lama gak ke sini. Sudah bosan ya liat Shafa?” tanya anak kecil itu membuat Aurora tersenyum.
“Tidak, kok. Kak Aurora tidak bosan. Tapi kak Aurora jarang ke sini karena kakak lagi sibuk sekolah. Banyak tugas.” Aurora menunduk mensejajarkan tingginya dengan Shafa.
“Iyakah?”
“Tentu sayang. Kakak lagi nggak bisa terus-terusan ke sini karena kakak kan masih sekolah,” ucap Aurora memberi pengertian pada anak kecil itu. “Gimana kemoterapinya? Lancar?”
Shafa mengangguk. “Lancar dong. Kan Shafa anak baik.”
Aurora terkekeh. Melihat anak sekecil ini memiliki semangat hidup tinggi malah membuatnya tertampar sendiri. Dia tidak ada rasa syukurnya sama sekali terhadap apa yang tengah terjadi pada hubungannya.
Baik Aurora maupun Biru seolah menjadi orang asing ketika Jingga hadir dan Biru tahu semuanya. Tapi Aurora juga tidak bisa menyalahkan Jingga atas ini. Semua hl yang terjadi ini adalah baik. Baik dan cobaan terindah.
“Kak Biru mana?” tanya Shafa lagi.
Aurora bingung ingin menjawab apa. Namun mengingat Biru yang tak akan mau diajak ke sini, membuat Aurora harus berpikir ulang bagaimana cara dia untuk bersikap pada Shafa.
“Ajak kak Biru, dong.”
“Iya nanti, ya.” Aurora tersenyum lalu menyisir rambut tipis milik Shafa. Hasil kemo membuat rambut anak itu kian menipis bahkan sudah tak ada.
“Rambut Shafa tipis ya kak.”
Aurora tersenyum lembut.
“Rambut Shafa tak seindah yang dulu lagi,” ucap Shafa merenung.
“Nanti bakal tumbuh lagi kok sayang,” ucap Aurora mencoba menghibur.
“Kapan, kak?” tanya Shafa lagi. “Aku bosan.”
***
Hari ini Jingga sudah bisa pulang ditemani oleh Chiko dan Mamanya. Namun saat di Lobi, ternyata ia berpapasan dengan Biru yang kali ini katanya mau menjenguknya lagi.
“Lo?” Jingga mengernyit. “Ngapain lo ke sini?”
“Mau jenguk lo.”
“Jingga lagi sakit, mending lo pulang,” sanggah Chiko membuat kedua orang itu menoleh.
“Apa bedanya sama lo?” tanya Biru sarkas ke arah Chiko.
Chiko maju satu langkah. Berniat untuk menarik kerah baju Biru namun cepat-cepat Jingga melerainya. “Udah jangan berantem di sini. Balik sana!”
“Lo ngusir gue juga?” tanya Chiko merasa tak terima. “Udah syukur gue ke sini bantuin lo!”
“Gue nggak nyuruh lo buat itu.”
Ck! Chiko berdecak. Benar-benar biadab Jingga ini. Sudah tahu lagi sakit masih saja sok kuat dan tegar di depan Biru.
Jingga masuk mobil begitu pula dengan Chiko yang masuk di bagian kemudi. Mamanya Jingga masih ada di dalam dan Biru bertemu dengan Mama Jingga di sana.
“Nak Biru?” sapa Mama Jingga pada Biru yang hendak turun dari Lobi untuk pulang.
“Tante?”
Biru mencium punggung tangan Mamanya Jingga lalu tersenyum. “Apa kabar?”
“Baik. Bagaimana dengan Mama Papa kamu?”
“Alhamdulillah baik, tante.”
“Syukurlah. Mari pulang. Mau ketemu Jingga kan?” tanya Mama Jingga lagi. “Kebetulan besok sudah bisa sekolah dia. Jadi kamu bisa bantu tante buat jaga dia kan?”
Biru mengangguk mantap. Tentu saja ini yang dia mau. Tapi soal ucapan Jingga soal pacarnya, apa mungkin ini benar?
Ingin rasanya Biru bertanya soal ini tapi bukankah ini sebuah privasi?
“Tante pulang dulu, ya. Jangan lupa mampir ke rumah kapan-kapan, ya. Tante tunggu.”
Lalu Mama Jingga pergi. Masuk ke dalam mobil bersama Jingga dan Chiko.
Biru ingin pulang. Namun panggilan dari seseorang membuat cowok itu menoleh.
“BIRU!”
“Aurora? Lo ngapain di sini?” tanya Biru mengernyit. “Lo nemuin Jingga? Lo ngomong apa aja ke dia? Jangan macam-macam lo ya!”
Aurora mengernyit. Tuduhan apalagi ini? Dia bahkan tidak bertemu Jingga di sini. Kenapa malah Biru merasa dirinya bertemu Jingga di sini?
“Kamu gak perlu nuduh. Aku aja gak tahu kalau Jingga di rawat di sini.”
“Nggak usah bohong.”
“Aku benaran gak tahu apa-apa.”
Biru menatap Aurora tajam. “Lo-“
“Biru! Aku nggak tahu apa-apa sumpah. Kamu kenapa jadi tukang nuduh sih?”
“Gue nggak nuduh lo. Gue cuma khawatir sama Jingga. Di nggak tahu apa-apa malah dibilang yang nggak-nggak sama lo.”
Aurora yang mendengar itu hanya menggeleng pelan. Kenapa lelaki ini selalu bersikap seolah dia salah?
“Kamu kemarin bilang sama aku buat jaga dia dan jangan jauhi dia kan? Oke, aku akan lakuin itu. Aku anggap semua tidak ada apa-apa. Itu kan mau kamu?’
Biru tak menjawab. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana cara Biru mendapat lampu hijau dari Jingga untuk ia dekati lagi tanpa ada kata Jingga takut Aurora akan menjauhinya.
“Terserah, gue bahkan nggak peduli.”
Biru pergi meninggalkan Aurora sendirian. Ya, dia sudah tak peduli dengan status jika dia masih ada hubungan dengan Aurora.
“Semudah itu ya Biru lupain gue karena sahabatnya?”
Kemudian Aurora tersenyum miris.
***
“Thank you atas tumpangannya,” ucap Jingga ketika mereka sudah berada di depan rumah Jingga. “Sekarang, lo balik gih!”
Mamanya sudah masuk duluan. Meninggalkan mereka sendirian.
“Lo ngusir gue?” tanya Chiko dengan mata yang membulat sempurna. Merasa tak terima atas pengusiran yang tak layak itu oleh Jingga.
Benar-benar manusia tak tahu menghargai orang lain.
“Emangnya lo ke sini lama-lama mau ngapain? Mau jadi satpam gue?”
“Lo-“
“Kenapa lagi sih Chik?” tanya Jingga mulai jengah. “Gue mau istirahat. Besok lo ke sini lagi, anterin gue.”
“Dikira gue sopir lo apa?!” dengus Chiko lagi.
“Lah lo juga di sini mau jadi satpam gue?”
“s****n!”