Pesona Dewa

1065 Kata
“Pulang sekolah gue jemput,” ucap Chiko ketika Jingga baru saja turun dari atas motornya tepat di depan gerbang sekolah Jingga yang baru. “Hm.” Hanya deheman yang menjadi balasan untuk Chiko. Ya, hanya itu. Menyebalkan sekali bukan? “Lo nggak ada jawaban lain apa selain 'hm' doang?” tanya Chiko berdecak kesal. Dia benar-benar malas kalau seperti ini. Sudah capek-capek mengantar hanya dijadikan sopir. “Ya terus lo maunya kayak gimana?” tanya Jingga. “Gue mau masuk. Lo jangan lupa sekolah jangan bolos mulu. Malu gue punya sahabat pemalas kayak lo. Mau jadi apa Lo nanti?” “Kenapa lo jadi ngatur gue?” desis Chiko tak mau kalah. “Ya karena lo sahabat gue. Jadi gue ada kewajiban ngatur lo bahkan–“ “Bahkan apa? Gue udah gede jangan pernah lo atur hidup gue lagi. Paham?” desis Chiko lagi. “Terserah lo deh. Males gue.” ••• Biru sudah menunggu Jingga di depan kelasnya. Namun dengan cara Jingga memakai masker, ia pikir Biru tak mengenalinya lagi. Namun dugaannya salah. Biru seakan kenal, ingat seakan mereka sudah bersama sejak dulu. Padahal mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu. “Jingga...” “Maaf, gue mau masuk kelas.” “Gue mau bicara sama lo sebentar.” “Gue nggak bisa. Lain kali aja,” ucap Jingga menolak Biru dengan nada ketusnya. “Oh iya, gue juga minta sama lo jangan pernah temui gue lagi. Anggap aja kita nggak pernah kenal.” Jingga masuk ke kelas tanpa ba-bi-bu lagi. Seolah tidak kenal dan jangan dekati Jingga lagi? Sandiwara apa lagi ini? Apa karena Aurora lagi? Ck! Biru berdecak kesal. Kenapa semua hal yang terjadi di antara hubungannya dengan Jingga karena dia masih ada hubungan dengan Aurora? Haruskah ia memutuskan hubungan dengan Aurora membuat Jingga mau untuk ia dekati seperti dulu? “Biru? Kamu ngapain di sini pagi-pagi?” tanya Aurora yang melihat Biru masih berdiri di depan kelasnya. Sedangkan di dalam kelas, Jingga masih bisa melihat Biru dan Aurora dari dalam. Jingga juga sudah tahu kalau tatapan lembut Biru sudah hilang semenjak malam itu. Tatapan Biru pada Aurora yang di kantin begitu lembut kini berubah menjadi tatapan dingin nan tajam. Apa itu juga karena Jingga? Apa semenyebalkan itu kehadirannya di sini? “Bukan urusan lo,” jawab Biru ketus lalu beranjak untuk pergi. Namun tangan Aurora menahannya. “Kamu kenapa sih? Aku merasa nggak punya salah kenapa kamu jadi marah-marah ke aku?” tanya Aurora agak kesal. Mungkin dia sudah muak dengan sikap Biru seharian ini. “Karena gue malas sama lo.” “Memangnya salah aku apa?” tanya Aurora lagi. Ck! Biru berdecak. Dia malas ngomong sama Aurora jadi unmood karena Aurora memaksanya untuk ngomong. “Gue sibuk.” “Tunggu, Biru!” “Apalagi sih?!” decak Biru menepis tangan Aurora yang menyentuh lengannya. “Jangan pegang-pegang gue!” “Jawab dulu pertanyaanku! Aku salah apa?” tanya Aurora mengulang pertanyaannya lagi. “Masih nanya soal itu? Bukannya lo udah tahu?” tanya Biru sarkas. “Itu karena lo Jingga jadi tidak mau nemuin gue sama sekali.” *** Biru bilang ini adalah salahnya? Sejak kapan dia menyuruh Jingga untuk menjauhi Biru? Bahkan Aurora saja belum bertemu Jingga semenjak kejadian malam itu. Aurora masuk ke dalam kelas dan matanya menubruk dengan mata Jingga. Aurora memutuskan pandangan mereka lalu duduk di dekat Jingga tanpa kata. Sedangkan Jingga hanya diam saja. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Menyapa Aurora? Apakah gadis itu masih mau berteman dengannya setelah kejadian malam itu? Baru ingin mengatakan sesuatu pada Aurora, dering ponselnya membuyarkan Jingga. “Ada apa?” ‘...’ “Serius?” tanya Jingga kaget lalu pergi sambil berlari menuju luar kelas dengan buru-buru membuat Aurora yang melihatnya mengernyit. Jingga mau ke mana? Jingga masuk ke ruang kepala sekolah yang sudah ada kepala sekolah, wali kelasnya, orang tua murid itu dan Dewa. Dewa sekolah di sini juga? “Loh? Dewa? Lo sekolah di sini?” Jingga kaget. Dewa mengangguk lalu tersenyum pada Jingga. “Iya. Buat jaga lo.” “Jaga gue?” tanya Jingga terkekeh. “Gue baik-baik aja di sini.” “Iya, tapi ini si Chiko yang maksa gue pindah. Gila banget kan orang itu,” ujar Dewa ikut terkekeh. Sedangkan ketiga orang yang ada di depan mereka hanya mengernyit. Sepertinya mereka sudah saling kenal ya? “Dewa kenal Jingga?” tanya Kepala Sekolah itu membuat Jingga dan Dewa mengangguk. “Baiklah. Biar kalian ke kelas. Kebetulan kalian di kelas yang sama.” Dewa mengangguk. “Baik, Bu.” Mereka berjalan beriringan di koridor sambil tersenyum satu sama lain. Wali kelas mereka ada di belakang mengikuti langkah kaki kedua remaja yang tengah menggunakan seragam putih abu-abu itu. Ketika mereka sudah ada di dalam kelas, teman-teman Jingga tiba-tiba diam menatap ke arah Jingga dan Dewa dengan tatapan berkerut. “Wah, habis cowok di depan gerbang tadi sekarang sama anak baru juga ya, Ga.” Jingga mendelik. Apa-apaan ini? “Dia sahabat gue.” “Oh, sahabat lo. Ganteng juga ya. Nggak kalah sama pacarnya Aurora si Biru.” Jingga diam. Menatap ke arah Aurora yang hanya menundukkan kepalanya seolah tak peduli. “Oh, ya, by the way guys, kenalin ini Dewa teman baru kalian di kelas ini.” “Hai, Dewa. Gue Andin!” “Gue Deva!” “Gue Ela.” Dan masih banyak lagi dari sebagian teman perempuan Jingga di sini menyapa Dewa dengan tatapan penuh memuja. “Oke. Baiklah. Dewa bisa duduk di belakang Aurora dan Jingga ya.” Perintah dari Bu Mawar membuat Jingga dan Dewa mengangguk. Iya. Dia malas sekali berurusan dengan para cewek di sini yang dengan cara murahan mengajak kenalan sedangkan mereka tahu ini bukan saatnya untuk saling kenalan. Masih ada waktu istirahat untuk bertemu Dewa, kenapa harus berbondong-bondong ke sini? “Wa, nanti bisa makan bareng ngga?” tanya Andin menggeser tempat duduknya ke arah Dewa membuat cowok itu risi dan muak sendiri. Jadi cewek kok ngga ada harga dirinya sih. “Gue ada janji sama Jingga. Sorry.” Andin mendengus. Cueknya sama seperti Biru waktu Aurora memperkenalkan Biru ke teman-temannya ya ternyata. Tapi–ini justru bagus. “Tapi istirahat ke dua bisa kan?” Dewa diam tak menjawab. Jingga menoleh. Menatap Andin yang mengernyitkan keningnya seolah bertanya, ‘apa’? “Dewa harus belajar. Banyak pelajaran yang dia nggak ikuti.” “Gue nanyanya ke Dewa bukan lo Jingga.” “Tapi kan emang kenyataannya gitu. Tanya aja langsung ke Dewa.” Andin menoleh lagi ke arah Dewa. “Gimana Dewa?” Dewa menatap tajam ke arah Jingga. Seolah meminta tolong agar Andin tak mengganggunya nanti siang. Jingga mengangguk sebagai kode. “Ah, iya, gue mau belajar nanti siang.” “Belajar? Mau gue ajarin?” “Oh enggak usah. Gue udah ada Jingga buat ajarin gue.” “Jingga kan sama-sama anak baru.” “Tap–“ “Tapi kan gue ada les. Jadinya gue tahu meski jadi anak baru.” Jingga memotong ucapan Dewa dengan cepat. Barulah pada akhirnya Dewa bisa bernapas dengan lega. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN