Bantu Gue

1119 Kata
Dewa dan Jingga kini tengah berjalan berisisian menuju ke kantin sekolah ini. Kantin yang berada di lantai dua ini memang banyak siswa maupun siswi yang memilih berbelanja atau jajan di sini. Entahlah apa alasannya tapi menurut Jingga, mie yang ada di sini lebih enak dan lebih banyak porsinya. “Lo mau beli apa?” tanya Dewa. “Biar gue yang beliin lo makan hari ini. Mumpung baik.” Jingga sudah menduga ini. Alasan Dewa ini adalah mumpung baik. Tidak mungkin kalau tidak baik Dewa mau-mau saja seperti ini berarti Dewa tengah kejedot. “Iya lo emang enggak pernah baik tulus ke gue.” “s****n lo. Gue udah baik woi kemaren masih aja dbilang jahat.” “Itu karena ada Chiko kan?” tanya Jingga tapi memang benar kalau bukan karena suruhan Chiko, mana mungkin Dew akan mau saja seperti ini. Dew dengan tingkat sombong dan harga diri tinggi itu pasti tidak akan mau kalah apalagi mau mengalah kalau bukan disuruh Chiko. Chiko adalah orang pertama yang mampu merendahkan harga diri Dewa. Sialan memang. “Iya tapi itu juga karena gue masih sayang lo.” “Modus!” cibir Jingga menoyor kepala Dewa yang membuat cowok dengan hoodie abu-abu itu terdiam. Tapi tetap mencak-mencak. “Jahat banget lo sama gue, s**l!” “Halah, jangan sok marah. Lo nggak pantes marah ke gue. Kesannya gue itu enek sendiri mau ngakak,” cibir Jingga lagi membuat Dewa mendengus. “Sana beliin gue makanan!” “Mau apa dulu lo?” tanya Dewa lagi. “Sosis deh.” “Itu doang?” tanya Dewa agak kaget. Pasalnya tidak biasanya Jingga makan hanya sebungkus sosis. Biasanya Jingga makan apalagi dibayarin Dewa pasti akan membeli makanan yang harganya mahal apalagi kalau diajak ke kafe mahal. Meledaklah mata jajan Jingga. Semua menu yang enak pasti Jingga beli dan tak memperdulikan Dewa yang melotot karena kantongnya akan terkuras habis. “Iya. Emangnya kenapa?” tanya Jingga mengernyit. .”Tumben banget lo makannya dikit.” “Serba salah emang kalau sama lo.” “Apa-apaan!” dengus Dewa. “Maksud gue, kenapa lo mesennya cuma sosis doang? Menu yang lain kan banyak.” “Iya emang. Tapi gue maunya sosis doang.” “Sosis gak bikin lo kenyang!” “Terus gue harus makan apa biar kenyang?” tanya Jingga lagi. Sungguh! Entah kenapa selera makannya hari ini hilang karena Biru yang tetap peduli padanya itu terlintas. Padahal dia sudah maki-maki cowok itu, tapi kenapa malah laki-laki itu tetap peduli padanya? Apa kurang kerasa makiannya atau memang Biru yang bebal? “Makan angin aja gimana?” tanya Dewa dengan seringai yang memang selalu dikeluarkan oleh Dewa ketika Jingga bersikap menyebalkan. “Jahat bange sih lo!” Jingga meninju perut Dewa membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. “Lo tuh kok nyebelin banget sih!” “Ya lonya juga nggak jelas.” “Gue nggak jelas dari mananya coba?” tanya Dewa menaikkan sebelah alisnya menatap Jingga dengan sarkasnya. “Lo nggak usah sok polos! Cepet sana beliin gue sosis! Gue laper.” Dewa akhirnya mengangguk. Pergi dari hadapan Jingg yang memilih duduk di bagian pojok Kantin di mana di bawah sana bisa ialihat lapagan basket dan di sana juga ada Biru dan Aurora. Meski ia merasa jika Biru seperti tengah menghindar dari Aurora tapi cewek itu kekeh untuk tetap di sana. Ini semua salahnya. Karena kehadiran Jingga dua orang itu akhirnya tak bisa bersama lagi dan bersikap seperti biasa. Dia tahu kalau ini Biru yang berusaha menghindar dari Aurora tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Biru atas sikapnya. Biru bersikap seperti itu mungkin masih terjebak di masa lalu mereka. Tentang es teh dan tentang mereka yang sempat berjanji buat selalu bersama sampai dewasa. Dan Jingga mengingkari janji itu. Belum sempat ia pamit pada Biru, dia sudah pergi ke Bandung untuk ikut orang tua asuhnya. “Maafin gue, Biru.” ••• “Biru! Kamu mau minum? Ini aku udah beliin kamu minum.” Aurora menyodorkan minuman dingin itu pada Biru yang duduk untuk istirahat di pinggir lapangan. Biru terdiam. Tak menerima minuman itu tapi tidak memaki cewek yang masih berstatus sebagai pacarnya itu. Diamnya membuat Aurora merasa asing pada Biru. “Kamu kenapa?” tanya Aurora lagi. “Kamu nggak bisa minum minuman yang aku beli? Apa perlu aku suruh Jingga buat beliin kamu minuman?” Biru menoleh cepat ke arah Aurora. Menatap matanya. “Nggak usah bawa-bawa Jingga.” “Dari pada kamu nggak minum?” Aurora menarik tangannya lagi. Menurunkan botol air mineral itu yang hampa. Percuma juga toh minuman ini tidak akan diambil juga oleh Biru. Aurora membencinya kan? Biru membuang muka. “Lo lagian ngapain di sini? Ke kantin sana! Makan!” “Itu sebuah perhatian?” tanya Aurora menggoda Biru membuat cowok itu terlihat terkejut. “Nggak apa-apa kali. Kan aku masih jadi pacar kamu.” “Kata siapa? Gue udah nggak peduli sama lo.” “Yakin? Setelah beberapa bulan bersama? Bahkan orang tua kamu saja sudah tahu aku dan menerima aku.” “Yakin mereka nerima lo gitu aja?” tanya Biru balik. “Iya. Di acara ulang tahun Putih salah satunya.” “Dia cuma menghargai gue. Bukan karena lo pacar gue.” Deg. Tiba-tiba saja Aurora merasakan sesak di dadanya. Perkataan Biru itu mampu membuat Aurora sakit hati. Jadi selama ini ... Tidak ada artinya? ••• “Lo kenapa liat Biru kayak gitu? Lo suka dia?” tanya Dewa ketika cowok itu melihat Jingga menatap ke arah lapangan basket dalam diam. Jingga mengerjap. “Sosis gue mana?” “Ini.” Menyodorkan sepiring makanan yang bernama sosis ke arah Jingga. “Lo mikirin Biru?” “Enggak.” “Terus kenapa lo liatin mereka kayak gitu?” tanya Dewa lagi. “Lo kenal sama ceweknya Biru?” “Temen gue sejak pertama kali gue masuk sini.” “Serius?” tanya Dewa. “Sekarang lo sama dia gimana?” “Iya gitu. Aurora nggak nyapa gue. Mungkin karena shock atau emang Biru sempat ngancem dia. Intinya Aurora diemin gue.” Jingga tak tahu harus bersikap apa pada Aurora apalagi pada Biru. Dia tidak mau jadi menjadi orang yang egois dengan tetap bersama Biru sedangkan Aurora juga butuh Biru sebagai kekasihnya. Kata orang, mencintai orang lain atau bersahabat dengan cowok lima puluh persen akan ada timbul suka di antara keduanya. Dan Jingga tidak mau itu. Makanya Jingga berusaha buat tidak dekat lagi dengan Biru apalagi mencintainya. Sebelum Jingga bertemu dengan Biru pun, Jingga memang sempat mencintai sahabatnya itu. “Wa...” “Apa?” tanya Dewa menatap manik mata Jingga. “Lo bisa bantu gue nggak?” pinta Jingga. “Ke-kenapa?” tanya Dewa lagi mengernyit. “Jadi pacar pura-pura gue.” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN